
Keesokan harinya aku melanjutkan aktivitas ku di kantor seperti biasa. Setelah melewati hari-hari penuh kesibukan dan lemburan full seminggu penuh.
Akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega karena pekerjaan ku tidak sebanyak minggu lalu.
Atas kekompakan dan kerjasama seluruh tim 1 divisi keuangan ini akhirnya kami bisa melewati badai yang datang.
Suasana kembali kondusif, dan rencananya hari ini adalah hari dimana kepala divisi keuangan yang baru akan mulai bekerja.
ada 4 orang di tim 1 ini, yaitu aku sendiri, Alana, Radit dan Dafa. Pagi ini aku pun datang lebih awal di bandingkan yang lain.
Setelah kencan pertama kami kemarin Akmal terus saja mengirimiku banyak pesan setiap saat.
Sungguh sepertinya dia orang yang cukup posesif terhadap sesuatu. Semoga saja yang aku pikirkan tidak benar karena aku adalah tipikal orang yang paling tidak suka di batasi.
Entahlah, di satu sisi Akmal adalah pria pertama yang bisa mendekatiku dan membuatku tertarik.
Sejauh ini aku tidak pernah merasa tertarik terhadap seseorang seperti kepada seseorang di masa lalu.
Aku hanya bisa mengaguminya dalam angan yang jauh terbang di angkasa karena dia sudah mempunyai kekasih.
Ketika aku baru saja duduk kemudian datang mbak Alana dan mas Dafa yang berjalan memasuki ruangan secara beriringan.
Mereka sudah berpacaran selama 1 tahun belakangan ini. Mas Dafa sudah 6 tahun bekerja di perusahaan ini sedangkan mbak Alana hanya selisih sekitar 1 tahun denganku mulai bekerja disini.
Sedangkan Radit, ia masuk di perusahaan ini di tahun yang sama denganku. Ia 2 tahun lebih tua dariku, dan dari semua anggota tim 1 akulah yang termuda di sini dan radit yang paling belum lama bekerja.
"Pagi Fika" mas Dafa dan mbak Alana menyapaku bersamaan sambil tersenyum.
“Pagi mba Alana, pagi mas dafa. " sapaku kembali dengan ramah.
Mereka pun segera duduk di tempat masing-masing, dan menaruh tasnya di atas meja .
"Duh pagi-pagi udah pamer kompakan aja sih? bikin Jones ngiri. " ucapku menggoda mereka seperti biasa.
"Kamu itu Fik, makanya pacaran jangan jadi Jones aja. Biar gak ngiri mulu liat kita." jawab mas Dafa mengejekku dengan sengaja.
__ADS_1
"Tahu nih Fik, kamu tuh udah 3 taun kerja disini belum pernah sekalipun mbak tuh liat kamu deket ama cowo heran. “ ucap Alana menimpali
“Apa perlu aku carikan cowok ya buat kamu? Kamu tuh cantik loh Fik masa iya gada yang mau? " tambah mbak Alana kemudian
"Ih, mbak kok gitu ngomongnya sih. ucapan itu doa tau mbak, harusnya jangan bilang yang jelek-jelek dong buat aku." ucapku sambil mengerutkan bibirku kesal.
"Yee, ngapain susah-susah sih yang nyari cowok buat Fika kalau di tim kita aja masih ada Radit yang masih betah juga menjomblo. " ucap mas Dafa kembali sambil tertawa puas.
"Ih, mas Dafa resek ! " ucapku sambil melempar kertas tak terpakai yang sudah ku remas membentuk bola
Dafa pun hanya tertawa semakin puas karena bisa membuatku kesal di pagi hari. Sementara mbak Alana hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkahku dan mas Dafa jika sudah menyangkut urusan pribadi.
Tak lama kemudian Radit pun datang, ekspresinya selalu datar padaku tapi aku selalu melihat jika dia bisa bersikap sedikit ramah kepada orang lain selain dari tim kami.
Entah kenapa aku dan Radit seperti dua kutub yang berseberangan, bahkan kami selalu menunjukkan rasa ketidaksukaan kami diluar pekerjaan terhadap satu sama lain.
Karena jika sudah menyangkut pekerjaan, bisa di jamin semua orang di tim kami selalu bisa bersikap profesional satu sama lain termasuk Dafa dan Alana.
“Pagi semua." ucapnya datar sambil mendudukkan dirinya di kursi.
"Tahu nih, malah si Fika yang udah standby dari tadi. Jangan-jangan kalian tukeran posisi yaa " ucap mbak Alana meledekku dan radit
Seperti biasa Radit selalu bersikap acuh tak acuh jika menyangkut semua hal yang berhubungan denganku.
Sementara Radit yang tengah mempersiapkan laptopnya untuk mulai bekerja hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mbak Alana.
"*D*asar nyebelin !! “ umpatku dalam hati.
"mas Dafa, mba Alana makanya jangan jodoh-jodohin aku sama dia ya. Dia kan alergi berat sama aku, suka sensi sendiri!" ucapku sebal
Radit yang telah mulai mengetik di layar laptopnya pun langsung menghentikan aktivitasnya sesaat menatap tajam padaku.
"Elo kok gitu ngomongnya? seakan-akan gue yang selalu musuhin lo? bukannya memang kita sama-sama tidak saling menyukai yaa! “ucapnya menohok hatiku.
" *Arr*rgghhh, kesel ! Kenapa sih harus satu ruangan dan satu tim sama manusia kutub utara ini? “ rengek ku dalam hati.
__ADS_1
"Sudah, sebaiknya kita mulai bekerja saja. Pekerjaan kita masih banyak okee " ucap mbak Alana menengahi
Akhirnya kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Tak lama kemudian ada 1 pesan masuk di ponselku. Ketika ku buka ternyata dari akmal yang menyemangati ku untuk bekerja.
"Seperti inikah rasanya ada seseorang yang memperhatikan kita setiap waktu. " pikirku
Aku pun langsung membalas pesan dari Akmal dan menyemangatinya balik agar ia juga bisa bersemangat menjalani hari ini.
Dan 1 fakta yang berhasil mengejutkanku kemarin dalam perjalanan pulang dari kencan, bahwa ternyata sebelum di pesta kami memang pernah bertemu sebelumnya .
Akmal pun menjelaskan detailnya kapan dan dimana aku hanya tercengang mengetahui fakta tersebut bahwa ia juga kuliah di kampus yang sama denganku dan berada 2 tingkat dibawah ku.
Kami pernah bertemu di lapangan basket ketika hendak sama-sama bermain basket.
"Ahh, sungguh penuh kejutan hidupku ini. " gumamku dalam hati mengingat yang Akmal ceritakan itu.
Jangankan mengingat wajah Akmal, yang ternyata adik tingkatku di kampus sementara wajah semua teman yang 1 kelas denganku saja aku tak mengingatnya semua dengan jelas. Masih bisa ku hitung tidak sampai dengan kedua tanganku.
Siang ini Akmal mengajakku untuk makan siang bersama dan dia akan menjemputku ke kantor. Kami akan makan siang di cafe yang terletak tak jauh dari kantor agar aku tidak terlambat masuk kembali nanti setelah jam makan siang usai .
Akhirnya hidupku berjalan cukup berbeda akhir-akhir ini terasa lebih berwarna dan ceria walaupun sempat di sibukkan dengan pekerjaan namun aktivitas kami sekarang sudah mulai normal kembali.
Penyemangat baru dalam hidupku kini tlah hadir, sepertinya Allah sedang mulai menjawab doa-doa ibuku untukku. Semenjak nayla menikah, ibuku semakin menggila setiap hari ia terus saja menceramahiku untuk buang sial lah atau apalah.
Ia beranggapan mungkin setelah melakukan ritual buang sial aku bisa bertemu dengan jodohku. Mengenai Akmal, aku pun belum berani untuk memperkenalkannya pada keluargaku terutama ibu. Karena aku tidak ingin beliau terlalu berharap denganku dan Akmal jika mengetahui kedekatan kami.
Aku melanjutkan aktivitas pekerjaanku karena ingin cepat selesai, agar aku bisa makan siang tepat waktu dengan Akmal. Tak lama kemudian datanglah staff HRD yang mengantarkan kepala divisi keuangan yang baru ke ruangan kami dan memperkenalkannya.
Kami pun langsung berdiri berbaris bersama anggota tim yang lain sementara mas Dafa sudah berbincang dengan kepala divisi yang baru.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai ketua tim 1 dan juga memperkenalkan seluruh anggota satu persatu , sedangkan aku masih menundukkan kepalaku dan ketika namaku yang di sebutkan aku pun sedikit menengadah menerima uluran tangan kepala divisi yang baru.
Degg,
Seketika jantungku hampir terhenti melihat kepala divisi yang baru tengah tersenyum dengan ramah menatapku memperkenalkan dirinya.
__ADS_1