
Akhtar tiba di rumah utama tepat sebelum ayah Rendra hendak pergi keluar. Ayah Rendra yang melihat kedatangan putra sulungnya tersebut pun tersenyum senang.
Ia mengira jika putranya itu datang untuk kembali padanya. Ia sudah cukup merasa frustasi dengan kekacauan yang di ciptakan oleh papa Randi.
Selain telah memutuskan semua kerjasama antara perusahaan mereka yang sudah berjalan selama hampir 20 tahun, papa Randi pun tak lupa menyerang perusahaannya secara terang-terangan.
Bahkan malam setibanya ia di Jakarta, papa Randi langsung pergi menemui ayah Rendra. Bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan mereka, papa Randi pun berjanji akan menghancurkan ayah Rendra.
Ia akan menghancurkan kekuasaan dan kekayaan yang ayah Rendra miliki. Satu-satunya hal yang menjadi kebanggaan dan hal berharga dalam hidupnya hanyalah tentang harta dan kuasa.
Maka dari itu papa Randi bertekad untuk menghancurkan semua itu. Di banding rasa kecewa dan sakit hatinya sebenarnya papa Randi ingin membuat sahabatnya itu bisa menyadari kesalahannya.
"Lihat, siapa yang datang. Sepertinya putraku sudah benar-benar bosan bermain-main diluar sana." ucap Rendra dengan angkuh.
"Anda jangan senang dulu tuan, saya datang kemari untuk memberikan peringatan untuk anda." jawab Akhtar dengan santai berjalan menghampiri sang ayah.
"Dasar anak kurang ajar! Apa kamu ingin aku menghancurkanmu seperti aku menghancurkan tikus-tikus jalanan itu." sungut ayah Rendra dengan penuh emosi mencengkram kerah kemeja yang di kenakan oleh Akhtar.
"Saya tidak pernah takut dengan ancaman anda. Dan saya peringatkan anda kali ini, jangan pernah mencoba lagi untuk mencelakai Fika ataupun mencoba mengganggu keluarganya. Selagi Akmal tidak tahu tentang ini, jika anda tidak mau mengindahkan peringatan saya lihat saja jika kami berdua yang akan berada di garis paling depan untuk melawan anda!" ancam Akhtar lalu melepaskan dengan kasar cengkraman sang ayah dan berbalik kembali ke mobilnya.
Rendra sedikit terkejut, mengingat Akhtar lebih pendiam dan selalu bersikap dingin sejak dulu. Ini adalah kali pertama Akhtar terlihat seserius itu dengan ancamannya.
Akhtar memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat dimana Fika mendapatkan perawatan di Jakarta, bagaimanapun juga ia harus memastikan keadaan Fika dulu baik-baik saja.
Jika tidak, ia akan benar-benar merasa bersalah karena tidak memberitahukan tentang masalah tersebut pada Akmal.
**
Setelah hampir 40 menit mengemudikan mobilnya akhirnya Akhtar sampai di Mahendra hospital. Setelah memarkirkan mobilnya ia langsung berjalan menuju ke lobby rumah sakit.
Baru ia masuk di lobby rumah sakit, ia melihat Akmal terlihat keluar dari lift dengan wajah yang begitu muram. Ia benar-benar terkejut karena mendapati adiknya berada disana.
__ADS_1
"Akmal.." panggil Akhtar membuat Akmal menyadari kehadiran sang kakak disana.
"Lu kok disini sih? Pesawat lu harusnya udah boarding sejam lalu." tanya Akhtar sembari melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Kenapa bang? kenapa lu tega banget sama gue. Kenapa lu gak cerita ke gue soal Fika." jawab Akmal menarik kasar baju Akhtar penuh emosi.
"Sorry mal, gue bener-bener gak ada maksud apa-apa. Gue cuma gak mau liat lu hancur lagi. Karena gue tau kalau gue kasih tahu masalah ini pasti lu gak akan tinggal diem kan soal bokap." jelas Akhtar dengan jujur.
"Gue pikir dengan gue gak kasih tahu lu, lu bisa lanjutin hidup lu dan memperbaiki masa depan lu. Tolong lu pikirin juga perasaan bunda kalau sampai ngeliat lu hancur lagi !" sambungnya lagi membuat cengkraman tangannya melemah seketika.
Akhtar pun langsung menarik Akmal keluar dari rumah sakit menuju ke taman yang ada di halaman samping rumah sakit tersebut.
Ia tidak ingin lebih lama lagi menjadi tontonan banyak orang yang sedang melihat pertengkaran mereka sejak tadi.
Selama beberapa lama mereka hanya duduk terdiam di sebuah bangku taman. Mereka tidak lagi bertengkar hanya Akmal yang terlihat benar-benar terluka.
Kedua bahunya perlahan bergetar naik dan turun seiring tangisnya yang pecah. Ini pertama kalinya Akhtar melihat dengan mata kepalanya sendiri adik laki-lakinya itu menangis.
Setelah beberapa lama dan Akmal mulai terlihat tenang, akhirnya ia bangkit dari kursi dan mengajak Akhtar untuk pergi dari sana.
Akhtar pun berjalan menyusul adiknya yang sudah lebih dulu berada di depannya. Bahkan Akmal meminta kunci mobil Akhtar untuk ia kemudikan sendiri.
"Kunci bang." ucap Akmal setelah ia berdiri di depan mobil Akhtar.
"Lu mau nyetir sendiri?" tanya Akhtar merasa ragu.
"Udah sini ah, bawel lu kayak cewek aja." ujar Akmal sembari merebut kunci mobil yang sedang di pegang oleh Akhtar.
Akmal pun langsung mengambil alih kemudi milik Akhtar, sementara Akhtar masih berdiri mematung. Ia bingung dengan sikap adiknya yang tiba-tiba bisa tenang kembali.
Tiiiiiin !
__ADS_1
Bunyi klakson mobil yang terdengar nyaring pun akhirnya memecah lamunan Akhtar. Ia pun segera masuk ke mobil dan duduk di samping adiknya.
"Kita mau kemana? apa kita langsung balik ke Bandung?" tanya Akhtar penasaran.
"Bandung? enggak. Gue mau seneng-seneng dulu. Gue butuh waktu dan gue butuh hiburan." ucapnya sembari tersenyum penuh makna.
Perasaan Akhtar mendadak berubah jadi tidak enak melihat gelagat adiknya itu yang tampak mencurigakan sejak tadi.
Dan setelah hampir satu jam akhirnya mereka sampai di sebuah club yang merupakan tempat hiburan malam yang cukup terkenal di Jakarta.
Akhtar dibuat melongo, karena ternyata yang adiknya maksud dengan hiburan adalah club yang dulu sering ia datangi bersama Adrian dan teman-temannya dulu.
Sudah sejak lama ia tidak menginjakkan kaki disana. Dan begitu tersadar Akmal sudah meninggalkannya dan memasuki tempat tersebut seorang diri.
Akhtar pun langsung bergegas untuk menyusul adiknya karena ia merasa khawatir dengan keadaan Akmal.
Begitu masuk ia langsung di suguhi pemandangan gemerlapnya lantai dansa yang dipenuhi lautan manusia yang tengah bersenang-senang untuk melepas penatnya.
Akhtar pun mulai memicingkan matanya mencoba menyisir setiap sudut untuk melihat dimana keberadaan Akmal. Hingga akhirnya ia melihat Akmal sedang duduk di bar dan sedang minum minuman keras.
Dengan santai Akhtar pun menghampiri Akmal yang sedang meneguk minuman dari gelas yang sudah ia tuangkan dari botol.
"Lu kenapa sih bisa kayak gini? Apa keadaan Fika seburuk itu? Terus kenapa lu malah dateng ke tempat ini? bukannya nungguin dia di rumah sakit." tanya Akhtar yang dengan sengaja merebut gelas Akmal.
Akmal pun hanya tertawa penuh kepedihan. Ia pun langsung meneguk vodka dari botolnya secara langsung membuat Akhtar semakin geleng-geleng kepala.
Akhtar pun akhirnya menyerah dan membiarkan Akmal untuk minum kembali tanpa mengganggunya. Mungkin Akmal memang membutuhkannya saat ini, pikir Akhtar.
"Gue telat bang. Gue nyesel ! Harusnya gue gak pernah ninggalin dia dulu. Gue, gue cinta banget sama dia bang. Fika tuh segalanya buat gue." ucapnya Akmal yang sudah mulai mabuk.
Terkadang ia tertawa dan beberapa saat kemudian ia menangis dan bahkan meraung-raung. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar terkalahkan dengan dentuman suara musik yang memekakkan telinga.
__ADS_1