
Walaupun hanya 1 hari kami sangat menikmati liburan kami tersebut. Tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kami sesuai kesepakatan kami hanya pergi berlibur.
Kami pun mulai belajar untuk saling membiasakan diri terhadap satu sama lain. Tidak terasa sudah 1 malam kami menginap di resort ini.
Dan artinya pagi hari itu juga kami harus segera kembali ke rumah orangtuaku. Karena sore nanti kami akan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan ku dan mas Radit yang akan berlangsung 2 hari lagi.
Tepat setelah adzan shalat dzuhur berkumandang, kami sampai di rumah. Sudah ada ayah, ibu dan nenek yang menunggu kami di rumah.
Sementara Icha pergi untuk mengurus cafe yang setelah ini akan ku berikan padanya untuk di kelola. Karena aku tidak mungkin lagi bisa mengurusnya mengingat setelah ini aku akan tinggal dan menetap di Jakarta.
Dan lagipula mas Radit sudah mengatakan jika ia ingin memiliki istri yang akan mengantarnya sampai ke mobil ketika ia akan berangkat bekerja, dan juga menyambutnya ketika ia pulang.
Walaupun secara langsung mas Radit tidak melarang ku untuk bekerja, atau memulai suatu usaha di Jakarta nanti tapi aku rasa akan lebih baik jika aku bisa mewujudkan keinginannya.
Sore ini pukul 5 kami akan terbang menuju Jakarta. Karena itu setelah merasa cukup berisitirahat, aku bergegas mempersiapkan barang-barang ku yang akan aku bawa ke Jakarta.
Ada beberapa barang penting yang ingin aku bawa, sebagai kenang-kenangan. Mas Radit pun turut membantuku berkemas. Ia tidak terlihat lelah sekalipun pagi tadi sudah berkendaraan selama 3 jam lamanya.
Pukul 4 sore kami telah di jemput oleh Sandy dan juga anak buahnya untuk pergi ke Bandara. Karena pesawat kami akan berangkat pukul 5 sore ke Jakarta.
Pukul 7 malam kami sudah sampai di Jakarta, dan mas Radit membawa keluarga ku untuk tinggal di hotel tempat dimana pesta akan di gelar.
Sementara aku dan mas Radit di minta untuk tinggal di rumah utama atas permintaan mama Sarah. Awalnya mas Radit sendiri yang menolak dan merasa keberatan namun atas permintaan ku akhirnya ia bersedia.
Aku dan keluargaku berpisah di Bandara. Anak buah Sandy langsung membawa keluargaku menuju hotel sedangkan aku dan mas Radit di antarkan langsung menuju rumah utama.
Papa dan mamanya menyambut kami dengan hangat dan penuh sukacita. Begitu juga dengan Hana dan Devan. Karena melihat wajah ku yang sedikit pucat, mas Radit langsung membawaku ke kamarnya.
Ia meminta ijin pada papa dan mamanya untuk berisitirahat lebih awal. Mas Radit begitu mencemaskan aku, ia takut jika aku akan kelelahan.
Bahkan kami tidak sempat makan bersama keluarganya. Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak, tapi aku juga yakin jika keluarganya bisa mengerti bagaimana watak mas Radit yang keras kepala.
"Sayang, kamu langsung istirahat aja. Barang-barang kamu nanti aku yang beresin aja." Ucapnya sambil membawakan tubuhku untuk di rebahkan di atas ranjang king size miliknya.
__ADS_1
"Mas, aku gak apa-apa kok. Kita kan belum sempat mengobrol dengan papa dan mama kamu, gimana kalau nanti kita ikut makan malam dibawah?" tanyaku mencoba membujuknya.
"Kami udah pucet banget sayang, kamu tuh capek. Udah , kamu istirahat aja, nanti biar aku yang urus semuanya. Nanti aku juga akan bicara sama mama dan papa. Kamu gak usah khawatir, tenang saja." ujarnya begitu santai.
Aku pun memilih untuk mengalah dan tidak memperdebatkannya lagi. Sebelum aku memejamkan mataku, mas Radit lebih dulu memberikan kecupan manis di dahi ku.
"Aku keluar dulu ya, satu jam lagi aku bakal bawain kamu makan malam. Jadi kamu gak usah kemana-mana, istirahat okay." jelas mas Radit terdengar masih lembut namun tidak ingin di bantah.
"Iya."jawabku singkat.
Tubuhku memang sudah sangat lelah hari itu dan tanpa sadar aku terlelap begitu cepat. Entah berapa lama aku tertidur, ketika aku terbangun ku lihat mas Radit sedang sibuk dengan laptopnya di sudut kamar.
Ku lihat wajahnya tampak serius sembari membolak-balik halaman sebuah berkas sembari fokus melihat ke dalam layar laptopnya.
"Mas." panggilku yang seketika membuatnya menoleh ke arahku.
"Sayang, kamu bangun?" tanyanya sambil meletakkan berkas di tangannya dan beranjak menghampiri ku.
"Apa kamu lapar? Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk kamu." ucap mas Radit begitu duduk di pinggir ranjang sambil mengusap-usap puncak kepalaku dengan lembut.
Ku lihat jam digital yang ada di atas nakas telah menunjukkan pukul 11 malam.
"Beneran?"tanya mas Radit sekali lagi.
"Bener mas, aku gak laper." ucap ku lagi meyakinkan.
"Ya sudah, sekarang sudah hampir tengah malam lebih baik kamu lanjut tidur lagi ya." ucap mas Radit membantuku berbaring kembali
"Tadinya aku mau bangunin kamu tadi, tapi ngelihat muka kamu kayaknya kamu capek banget. Jadi aku gak bangunin kamu." ucapnya sembari merapikan selimutku.
"Tapi kami juga temani aku tidur, sudah malam mas sebaiknya pekerjaan kamu di lanjutkan lagi besok." ucapku menasihati.
"Baiklah, sesuai keinginanmu Ratuku." ujarnya sembari tertawa kecil.
__ADS_1
Ia pun kembali ke sofa untuk merapikan berkas-berkasnya dan menutup layar laptopnya. Setelah itu ia kembali naik ke atas ranjang dan berbaring di samping ku.
Kini kami tidak lagi merasa canggung satu sama lain. Walaupun kami belum benar-benar menjadi suami istri, hubungan kami kini jauh lebih baik.
"Sayang." panggilnya.
"Hem." jawabku.
"Setelah pesta pernikahan nanti, kita tidak akan tinggal disini." ucapnya tiba-tiba.
"Baiklah, aku akan tinggal dimana pun suamiku menghendakinya." jawabku yang langsung di sambut senyuman hangat olehnya.
"Kamu masih ingat, apartemen ku dulu ? Kamu pernah datang ke sana." jelasnya membuatku mencoba mengingat-ingat.
"Ah, ya aku ingat." ucapku.
"Sementara kiita akan tinggal disana. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri di apartemen sejak dulu. Apa kamu keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan? Aku akan pergi kemanapun suami ku membawaku. Tapi kenapa cuma sementara?" tanyaku sedikit heran.
"Karena kita akan tinggal di rumah kita sendiri suatu hari nanti. Dan aku ingin membangunnya dengan uang hasil keringat kera kerasku sendiri." jelasnya membuatku mengerti.
"Ya sudah, ayo kita tidur sudah malam." ujarnya.
"Ya, selamat malam mas." ucapku
"Selamat malam sayang." jawabnya.
Kami pun akhirnya terlelap ke dalam mimpi dan terbangun kembali pukul 4.30 pagi. Suami ku adalah orang yang sangat disiplin terhadap segala hal apalagi waktu.
Selama beberapa hari menikah pun rasanya aku hampir tidak pernah di repotkan olehnya. Karena ada suatu proyek penting yang sedang di tanganinya, 2 hari sebelum pesta ini mas Radit terpaksa harus pergi ke kantor.
Bahkan setelah pulang dari kantor, ia bisa melanjutkan pekerjaannya hingga larut. Dan karena esok adalah hari pesta pernikahan kami, aku meminta mas Radit untuk tidak terlalu lelah.
__ADS_1
Ia pun menuruti ku dengan tidak membawa pekerjaannya lagi pulang ke rumah.