
Setelah hampir 1 jam di perjalanan akhirnya kami sampai di rumahku. Sepanjang jalan kami tidak berbicara sama sekali, sikapnya yang selalu dingin itu membuatku sangat malas.
Pikiranku tidak lepas dari akmal yang sejak seharian ini entah kenapa ia menghilang. Terkadang sikap posesifnya. membuatku sedikit tidak nyaman, namun ketika dia menghilang seperti ini rasanya jauh lebih dari sekedar tidak nyaman.
Aku sangat terbiasa tanpa akmal, setiap hari walaupun kami selalu di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing tapi akmal tidak pernah berhenti untuk mengajariku lewat telpon.
Bahkan hampir setiap jam ia mengirimkan chat padaku terkadang ia menggodaku bahkan sampai memperingati ku. Dia sangat mudah cemburu bahkan dengan mas radit sekalipun yang sebenarnya tidak pernah bersikap cukup baik padaku.
Ketika kami sudah sampai di depan rumah aku bergegas untuk turun dari mobil sambil mengucapkan terimakasih pada radit.
Seperti biasa dia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi datarnya, hingga berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun ia ucapkan.
"dasarrr balok es " ucapku geram menahan kesal
Sungguh alangkah baiknya jika akmal bisa datang menjemputku tadi. Tapi sudahlah semua sudah berlalu, jangankan menjemputku bahkan tidak satu pun panggilan telpon ku lolos di angkat olehnya. Kehadirannya bagai hilang di telan bumi saja, sangat tidak biasanya bahkan tidak satu pun pesan chat ku yang ia balas.
Ketika memasuki halaman rumah, ku lihat suasananya sangat sepi dan beberapa lampu ruangan sudah di matikan. Karena waktu memang sudah menunjukan hampir pkl 12 malam.
Aku pun memasuki rumah dengan mudah tanpa perlu membangunkan orangtuaku atau adikku karena membawa kunci cadangan. Jadi jika aku lembur atau ada acara yang membuatku pulang terlambat seperti ini, aku tidak perlu membangunkan atau pun merepotkan orang rumah.
Begitu sampai di dalam, aku perlahan melangkah menuju kamarku yang terletak di lantai 2. Rasanya tubuhku terasa sangat lemas dan tidak bertenaga, entah karena aku memang lelah atau mungkin hatiku yang sedang kelelahan menunggu kabar darinya.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku sedikit merasa aneh karena tidak biasanya kamarku gelap gulita seperti itu.
Walaupun aku pulang terlambat, biasanya ibu tidak pernah lupa untuk menyalakan lampu di kamarku ketika malam mulai datang.
Namun sesaat ku tepis perasaan aneh yang hinggap di hatiku. Ku berpikir mungkin saja ibuku lupa menyalakannya. Perlahan aku menuju ranjang untuk meletakan tas dan mantelku, sebelum menyalakan lampu yang stop kontaknya berada di dekat lemari buku di kamarku.
Namun sedetik kemudian tiba-tiba lampu menyala dan aku di kejutkan dengan suara serempak Orang-orang yang terlihat begitu heboh.
__ADS_1
“Surprise!!! " seru keluargaku, juga seseorang yang seharian ini tengah ku rindukan keberadaannya
Membuatku terpaku dengan pemandangan yang ada di hadapanku. Adikku tengah memegang sebuah kue ulang tahun yang indah berhiaskan banyak sekali lilin kecil disana tidak lupa juga dengan ucapan selamat ulang tahun. Sementara di sampingnya ada akmal dengan sebuket bunga mawar merah yang besar tengah tersenyum lebar menatapku. Juga kedua orangtuaku yang terlihat tengah mengumbar senyuman yang tak kalah lebar.
Hampir saja aku menangis karena haru namun bercampur kesal karena seharian ini tidak mendapat kabar dari pacarku yang paling posesif di dunia itu. Mereka berempat langsung mengelilingiku sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku pun meniup lilinnya yang sangat banyak itu, dengan perasaan yang sangat bahagia.
“Selamat ulang tahun nak. Doa ibu dan ayah menyertaimu selalu. Semoga selalu bahagia sayang" ucap Ibu yang ku sambut dengan pelukan hangat.
Rasanya tidak ada hari ulang tahun yang paling membahagiakan dalam hidupku selama ini kecuali hari ini. Biasanya setiap tahun aku merayakannya di meja makan dengan ayah dan ibu juga icha setiap pagi harinya sebelum aku berangkat ke kantor. Namun kali ini berbeda, tentu saja ini juga pasti karena yang merayakannya pun berbeda.
“makasih ibu, Fika sayang sama ibu. " ucapku yang masih memeluk ibuku dengan bahagia
“Selamat ulang tahun juga yaa anak ayah, waah ternyata kamu sudah sedewasa ini. Mungkin saja ini ulang tahun terakhir kamu yang kita rayakan bersama-sama nak." ucap ayah sambil memelukku dan mencium puncak kepalaku sayang
"loh yah? kok ayah bilang terakhir sih? memang kenapa? aku kan pengen panjang umur yah kalau bisa sampe jadi nenek. kenapa harus jadi ulang tahun terakhir?" tanyaku bingung dengan ucapan ayahku
"Bukan begitu sayang, tanpa kamu minta pun ayah selalu mendoakan kamu agar panjang umur nak. Maksud ayah, jika kamu menikah sebelum ulang tahunmu di tahun depan maka mungkin ini bisa jadi kita akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama seperti sekarang ini." jelas ayahku dengan penuh kelembutan sambil mengelus rambutku
"mbak Fika, cepetan dong ptong kuenya. Icha udah pegel nih." ucap adikku dengan gayanya yang selalu membuatku sebal
"iyaa, iyaaa sabar dong. " jawabku santai sambil mengacak-acak rambutnya gemas
Aku pun langsung memotong kuenya dan seperti biasa suapan pertama akan ku berikan pada ibuku, lalu ayahku dan terakhir icha.
Walaupun ada akmal di sampingmu sekarang namun hubungan kami belum pada tahap dimana aku harus lebih memprioritaskannya. Ia pun hanya tersenyum menatapku sejak tadi namun belum mengeluarkan 1 patah katapun.
Setelah acara suap menyuapi mereka bertiga keluar dari kamarku dan icha pun meletakkan kue tersebut di meja riasku yang tidak jauh dari situ.
Hanya akmal yang belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku, dan setelah orangtuaku keluar akmal pun langsung menghampiri ku dan menyerahkan sebuket besar mawar merah yang terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Happy birthday sayang, semoga semua harapanmu menjadi nyata. Semoga selalu mencintaiku, i love you." ucap akmal sambil memelukku erat dan membuatku hangat juga nyaman.
Malam ini dia terlihat sangat tampan dengan setelan baju kemeja dan celana jeans yang santai namun tetap terlihat rapi. Aku pun hanya menikmati pelukan yang dia berikan tanpa berminat untuk menjawabnya. Ah, wanginya sangat menyegarkan seperti biasanya aroma maskulin dari tubuhnya terasa memabukkan membuatku betah berlama-lama dalam dekapannya.
"sayaaang." panggilnya dengan lembut
“ya? " jawabku singkat
“maaf." ucapnya terdengar sedikit menyesal
"ya." jawabku kembali singkat yang membuatnya melepaskan pelukannya dari tubuhku
"Kamu marah? " tanyanya sambil menatap mataku
“enggak." jawabku sedikit menunduk sejak tadi karena aku sedikit merasa gugup berada di kamar dan hanya berdua dengannya.
Walaupun pintu kamarnya di biarkan terbuka, tetap saja kami hanya berdua saja saat ini.
Namun ia salah mengartikan kegugupanku dan berpikir jika mungkin aku sedikit marah ataupun kesal padanya.
Walaupun sebenarnya iya, aku merasa sedikit kesal dengannya karena telah mengabaikan puluhan panggilan telpon dariku selama hari ini .
“Aku nyiapin ini sayang buat kamu, please jangan marah. Aku juga pengen bikin surprise buat kamu makanya aku ngilang seharian ini. Maaf yaa sayang please." jelasnya dengan sungguh-sungguh
"iyaa, aku nggak marah kok." jawabku meyakinkannya
"beneran? tapi kok diem aja daritadi sama aku." tanyanya
“gak apa-apa, cuma aga canggung aja yank kita kan lagi di kamar aku. cuma berdua lagi. " jelasku yang langsung di tanggapi dengan kekehan pelannya
__ADS_1
"kamu tuh, pasti mikirnya udah kemana-mana yaa. hemm tapi emang sih aku lagi pengen cium kamu sayang." jawab akmal menggodaku
Malam itu menjadi salah satu hari ulang tahun terspesial yang pernah terjadi dalam hidupku. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang hangat di balkon kamarku. Ibu dan ayahku meminta akmal untuk menginap di rumah kami karena tidak baik untuk berkendara pada dini hari.