
Sudah 3 bulan lamanya Akmal pergi dan belum kembali. Bunda Rania kini menetap kembali dan menempati apartemen Akmal di temani salah seorang pembantu yang dulu pernah bekerja di rumah lamanya.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar kabar dari mantan suaminya yang di kabarkan bangkrut itu. Dan bunda Rania sendiri pun tidak pernah mencoba untuk mencarinya atau menanyakannya pada kedua putranya.
Ia kini sudah hidup dengan tenang dan nyaman bersama anak-anaknya. Setiap hari bunda menghabiskan waktu dengan melukis agar ia tidak cepat bosan.
Sesekali ia akan pergi keluar untuk berbelanja ke supermarket ataupun mall. Dan Hana lah yang akan menemaninya, saat itu. Sejak pertemuan mereka yang terakhir mereka menjadi lebih akrab.
Baik Hana maupun bunda Rania merasa cocok satu sama lain. Hana kini sudah bekerja di perusahaan papanya atas permintaan kedua orangtuanya.
Meski begitu, sama seperti Radit dulu Hana pun mengikuti seleksi dengan melamar secara langsung. Ia bahkan mengikuti beberapa tes hingga akhirnya ia di nyatakan di Terima di perusahaan tersebut.
Dan itu jauh lebih membanggakan untuknya karena ia bisa bekerja tanpa mengandalkan embel-embel keluarganya. Tak banyak yang tahu selain orang-orang penting di perusahaan tentang siapa Hana.
Hana bekerja seperti karyawan lain pada umumnya. Seperti Radit ia merintis dari nol dan berusaha untuk berkembang dengan kemampuannya sendiri.
Radit kini sudah mempunyai perusahaan sendiri yang sedang ia jalankan. Walaupun masih perusahaan kecil, Radit tidak berkecil hati dan ia sangat bangga dengan pencapaiannya sendiri.
Tentu saja Fika pun turut membantu dan ikut andil dalam membesarkan perusahaan suaminya. Sementara Devan dengan terpaksa harus menggantikan sementara posisi Direktur Utama yang telah Radit tinggalkan.
Papanya sudah tidak bisa menjalankan perusahaan lagi di karenakan mengidap penyakit jantung baru-baru ini. Beliau bahkan harus menjalani pengobatan di luar negeri di temani oleh mama Sarah.
Suara dering ponsel bunda Rania tidak berhenti berbunyi dan bergetar. Akmal sedang menghubunginya, untuk mengabarkan waktu kepulangannya yang akan di percepat menjadi 3 hari lagi.
Semua urusan pekerjaannya di beberapa negara di Eropa dan Amerika telah selesai. Ia berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya karena mengkhawatirkan bundanya yang kini menetap di Jakarta.
Karena tak kunjung di angkat, Akmal pun memberi kabar melalui sebuah pesan. Ia meminta Bunda untuk menunggu di apartemen saja dan tidak perlu menjemputnya ke Bandara.
***
Hari kepulangan Akmal pun tiba. Akhirnya pesawat yang ia tumpangi mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan selamat. Sesuai dengan pesannya, bunda tidak menjemputnya dan hanya menunggu di apartemen.
Ia memilih untuk memasakkan makanan kesukaan putra bungsu nya itu sebagai cara penyambutan nya. Bunda Rania juga tidak lupa mengundang Hana, karena kebetulan mereka bertemu di Supermarket ketika sedang berbelanja.
Akmal pun bergegas mencari taksi untuk mengantarnya pulang. Tidak lupa, sebelum pulang Akmal mampir ke sebuah toko bunga untuk membelikan bunda sebuket bunga lili putih kesukaannya.
__ADS_1
Sementara Hana dan bunda Rania kini sedang asik memasak di dapur. Sementara Mbak Hera yang biasa membantu bunda mengurus rumah sengaja di liburkan. Ia ingin suasana di apartemen ketika Akmal kembali bisa lebih intim.
Ia sudah tidak sabar untuk memperkenalkan Hana kepada putranya. Bunda sangat berharap jika Akmal akan menyukai pilihannya kali ini. Hana adalah gadis yang baik, pintar, dan juga pekerja keras menurutnya.
Pukul 8 malam, akhirnya bel pun berbunyi ketika bunda dan Hana sedang sibuk menata hidangan makan malam di meja makan. Bunda pun pamit untuk membukakan pintu, karena yakin jika puteranya itu sudah datang.
"Assalamu'alaikum bunda." ujar Akmal mencium punggung tangan bunda lalu memeluknya.
"Waalaikum salam."
"Bunda apa kabar? apa bunda sehat dan betah disini?" tanya Akmal.
"Alhamdulillah nak, bunda sangat sehat dan bunda sangat suka tinggal disini." ujar bunda.
"Ayo nak kita masuk, kebetulan bunda baru selesai masak." ujar bunda menuntun putranya menuju ruang makan.
Ibu sedikit celingukan melihat ruang makan yang tiba-tiba saja menjadi kosong. Padahal tadi Hana masih berada di sana.
"Loh bunda cari apa?"
"Hana? Siapa itu bunda? "
Belum sempat bunda menjawab Hana pun keluar dari kamar kecil yang terletak di sebelah kanan ruang makan.
Degg,
Keduanya dibuat sangat terkejut dengan pertemuan tak di sengaja itu.
"Ini loh nak, yang bunda cari sejak tadi. Perkenalkan, Akmal ini Hana. Dia ini yang selalu menemani bunda saat bepergian disini selama beberapa bulan ini." jelas bunda Rania.
"Dan Hana perkenalkan ini Akmal, anak bungsu tante yang sering tante ceritakan." sambungnya lagi.
Bunda Rania menjadi kebingungan karena keduanya hanya terdiam sejak tadi dan tidak bersuara sedikit pun.
"Eh, saya Akmal." ujar Akmal akhirnya memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Hana, Farhanah." jawab Hana dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
Jauh di lubuk hatinya, ia begitu kegirangan hingga ingin melompat-lompat setinggi mungkin. Tapi kali ini ia tidak akan membiarkan Akmal lolos begitu saja.
Jadi ia akan bersikap manis dan berusaha untuk tidak terlihat konyol di hadapan calon ibu mertuanya itu. Ya, semenjak mengetahui jika Akmal adalah anak bunda Rania, ia sudah memantapkan hatinya untuk merebut hati Akmal dan ibunya sampai berhasil.
Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan untuknya saat ini. Setelah perkenalan mengejutkan itu mereka bertiga duduk di meja makan dan mencoba menikmati setiap hasil masakan bunda Rania dan juga Hana.
Tidak banyak yang mereka katakan di meja makan menyisakan suara denting sendok dan garpu yang beradu. Setelah selesai makan malam, Hana membantu bunda Rania untuk membereskan bekas makan mereka dan mencucinya.
Sementara Akmal memilih untuk membawa kopernya ke kamar sambil mencoba merapikan beberapa barang bawaannya. Pikiran Akmal kembali terusik mengingat bagaimana tiba-tiba ia bisa bertemu dengan Hana di Australia dan akhirnya di Jakarta.
"Bagaimana mungkin kami bisa bertemu kembali bahkan tanpa di sengaja seperti ini." gumamnya lalu ia terduduk di tepi ranjangnya dengan lemas.
Sebenarnya Akmal sangat lelah malam itu. Bukan hanya perjalanannya yang melelahkan, tapi juga semua pekerjaan yang menggunung selama 3 bulan terakhir.
Ia bahkan rela tidak mengambil hari libur agar ia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Dan ia bisa segera kembali ke tanah air untuk menemui keluarganya.
Perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size tersebut. Ia tatapi langit-langit kamar yang bernuansa putih gading itu. Tanpa sadar kedua matanya tertutup perlahan meredup karena kantuk yang tak lagi bisa ia tahan.
Tubuhnya benar-benar lelah dan menginginkan pembaringan yang nyaman dan hangat. Bunda pun yang berniat mencarinya ke kamar, hanya bisa tersenyum dengan wajah yang mengiba.
"Kamu pasti sangat lelah." gumamnya sembari kembali menutup pintu kamar putranya.
Dan begitu kembali ke ruangan, Hana sudah terlihat rapi dan ia ingin berpamitan untuk pulang.
"Loh mau kemana han?" tanya bunda.
"Tante, aku pamit ya soalnya udah malem. Besok aku masih harus kerja." ujar Hana jujur.
"Oh, ya sudah. Kamu hati-hati bawa mobilnya ya. "
"Akmal mana tante? "
"Oh dia ketiduran di kamarnya. Kayaknya capek banget, maklum habis perjalanan jauh."
__ADS_1
"Oh, iya gak apa-apa kalau gitu aku pergi ya tante. Assalamu'alaikum." ujarnya sambil mencium punggung tangan bunda Rania.