
Di Surabaya,
Radit yang telah membersihkan dirinya dan berganti pakaian pun bergegas menuju halaman belakang, dimana Fika sudah menunggunya.
"Lama ya?" Tanya Radit sedikit mengejutkan Fika yang tengah menyesap teh hangat yang ada di tangannya.
"Enggak kok."Jawab Fika tersenyum.
"Yang lain pada kemana? Kok sepi banget?" tanya Radit sembari duduk di kursi kayu yang berada di sebelah Fika.
"Ayah dan ibu sedang istirahat di kamarnya, dan Icha tadi pergi di jemput sama pacarnya." jelas Fika.
"Oh begitu." Radit sedikit salah tingkah.
"Minum mas, teh nya." ucap Fika mempersilahkan Radit minum teh yang telah ia siapkan.
"I..iyaa, makasih ya." ucap Radit sedikit gugup.
"Kamu tuh mas, lebay deh. Udah sih gak usah gugup begitu." cibir Fika melihat wajah Radit yang begitu tegang.
"Ya, soalnya udah lama kita gak ngobrol berdua sesantai ini." jelas Radit di selingi tawa mencoba mencairkan suasana.
"Hem, terakhir 3 minggu lalu bukan? Sebelum kita kecelakaan." tutur Fika meremang sedikit menghembuskan nafas berat.
"Jangan bahas itu lagi, aku malu karena gak bisa jagain kamu dengan baik. Sampai kamu seperti ini sekarang. Apa masih sakit?" tanya Radit sedikit ngilu.
"Pertanyaan konyol, ia saja masih merasakan sakit bagaimana mungkin Fika tidak?" batin Radit.
"Sedikit." jawabnya tertawa garing.
"Maaf, karena gak bisa jagain kamu." ucap Radit masih merasa bersalah.
"Udah ah, katanya gak mau bahas itu." ujar Fika mengalihkan pembicaraan yang langsung di setujui Radit.
Sesekali mereka membicarakan masa lalu mereka, dan kenangan mereka dulu bersama Dafa dan Alana yang kini sudah menjadi keluarga bahagia.
Alana baru saja memiliki seorang bayi berjenis kelamin perempuan. Ia tidak lagi bekerja di kantor Radit, kini ia hanya menjadi ibu rumah tangga biasa.
Radit pun menceritakan tentang Dafa a
yang kini menjadi salah satu orang kepercayaannya. Selama Fika di rumah sakit mereka tidak pernah datang karena Fika yang melarang Radit untuk mengabari mereka.
Fika mungkin memang merindukan mereka berdua, namun ia tidak ingin bertemu di situasi seperti itu. Tidak ada orang yang mengunjunginya kecuali mama Sarah dan juga Hana.
__ADS_1
Mereka menjadi dekat dalam waktu yang singkat. Hana bukan gadis yang mudah untuk dekat dengan seseorang, tapi karena ia tahu jika kakaknya sangat mencintai Fika karena itulah dia tidak mau mempersulitnya.
Dan setelah mereka saling mengenal, ternyata Hana pun merasa nyaman dengan sifat Fika yang dewasa. Ia seperti mempunyai seorang kakak perempuan, dan Hana pun menyukainya.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Radit hati-hati.
"Tanya apa mas?" jawab Fika dengan dahi mengkerut heran.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Radit sedikit ragu sekaligus penasaran.
Fika pun tampak tertegun dan tidak menyangka jika hal tersebut yang akan di pertanyakan oleh Radit.
"Maaf gak seharusnya, aku tanya ini sama kamu." ucap Radit merasa bersalah dan takut menyinggung hati Fika.
"Gak apa-apa mas, kamu mengajukan pertanyaan yang sangat wajar. Aku akan mencoba menjawabnya." jelas Fika dengan wajah yang mencoba untuk tetap menampilkan senyuman.
"Aku gak tahu apakah aku sendiri masih mencintainya atau tidak. Hanya saja, yang aku tahu hubungan kami sudah berakhir 1,5 tahun lalu. Selama masa itu, aku menghabiskan waktuku sendiri begitu juga dengannya tanpa terlibat komunikasi sama sekali. Pertemuan kami tempo hari hanya sebagai bentuk salam perpisahan yang tidak pernah kami ucapkan satu sama lain. Dan yang aku rasa, ada kelegaan tersendiri di hatiku setelah itu. Jika saat ini aku masih mengingatnya, adalah melupakan seseorang yang pertama kali kita cintai memang tidak semudah membalikkan telapak tangan." jelas Fika di akhiri senyum getir di wajahnya.
"Aku, aku benar-benar minta maaf." ujar Radit menunduk sedih tanpa berani menatap wajah Fika.
"Ya ampun mas, gak apa-apa kali. Kamu memang berhak menanyakan itu terlebih aku meminta kamu untuk menunggu." ucap Fika membuat Radit menoleh dengan cepat ke arahnya.
"Aku percaya, sebesar apa kamu mencintaiku. Dan aku tidak mungkin melewatkan kamu karena seseorang yang bahkan sudah menjadi masa laluku." lanjutnya lagi membuat senyuman mengembang di wajah Radit dengan cepat.
"Dan aku harap, suatu hari nanti kamu bisa mencintai aku seperti aku mencintai kamu saat ini. Aku akan menunggu sampai kapanpun itu. Aku tidak akan mengeluh untuk hal apapun." sambungnya lagi meyakinkan, membuat Fika sedikit terharu.
Radit pun mencium lembut tangan Fika yang berada dalam genggamannya. Fika pun menjadi sedikit gugup dengan pipi yang sudah merona merah.
"Terimakasih, untuk mengijinkan aku tetap mencintai kamu." ucap Radit dengan binar bahagia di kedua matanya.
Mereka pun berbincang-bincang sampai larut mengenang kekonyolan mereka berdua di masa lalu. Betapa seringnya mereka bertengkar, dan Radit yang selalu bersikap dingin padanya.
Pagi hari, tibalah saatnya Radit untuk kembali ke Jakarta. Mereka berlima menikmati sarapan pagi di meja makan dengan riuh canda tawa.
Karena kondisi Fika yang masih memerlukan banyak waktu untuk beristirahat, maka ia tidak bisa mengantarkan Radit ke Bandara.
Icha dan ayah akan pergi untuk mengurus cafe dan ibu yang akan menemani Fika di rumah. Ayah dan Icha pun berpamitan pada Radit karena harus berangkat lebih dulu.
"Mas Radit, aku sama ayah harus ke cafe jadi gak bisa antar ke bandara gak apa-apa kan?" ujar Icha sambil beranjak berdiri setelah menyelesaikan sarapan paginya.
"Iya, nak Radit. Apa benar kamu tidak perlu kami antar ke Bandara?" tanya ayah menimpali.
"Gak usah om, asisten saya sudah datang sejak pagi untuk menjemput. Lagi pula saya udah gak apa-apa kok om." jelas Radit meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu om, sama Icha pamit ya. Assalamualaikum, bu jangan lupa Fika obatnya di minum teratur." ucap ayah pamit .
"Waalaikum salam." jawab Radit, ibu, dan Fika serempak.
Setelah ayah dan Icha pergi, Sandy pun segera menghubungi Radit yang masih sedang mengobrol dengan Fika dan ibu di ruang keluarga .
Sandy memberitahukan bahwa Radit harus berangkat ke bandara 30 menit lagi. Ia dan para pengawal sudah siap di depan rumah.
Radit juga tidak lupa menugaskan beberapa pengawal untuk tinggal dan menjaga Fika.
Namun agar Fika merasa nyaman, mereka di haruskan menyamar ataupun bersembunyi dari keluarga Fika agar mereka bisa merasa nyaman dengan penjagaan yang Radit berikan.
Jangan sampai ada keluarga Fika yang menyadari kehadiran mereka nanti setelah Radit kembali ke Jakarta. Ia akan sering datang ke Surabaya ketika ia sedang lengang.
Radit pun akhirnya pamit pada ibu dan Fika, jika ia harus segera kembali ke Jakarta. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin kembali, namun ia harus karena pekerjaan sudah menantinya setelah lama ia tinggalkan.
"Kamu yakin, gak mau ikut aku ke Jakarta?" tanya Radit untuk ke sekian kalinya.
"Mas, please. Aku bosan jawab pertanyaan kamu dengan kalimat yang sama." jawab Fika gemas dengan tingkah Radit yang seperti anak kecil yang menginginkan balon.
"Makanya kamu jawabnya, harus beda jangan nolak terus." rengek nya membuat Fika berdecak sebal.
"Mas Sandy udah nungguin kamu dari tadi, cepetan sana kamu berangkat."ujar Fika mendorong tubuh Radit yang masih bertahan di ambang pintu.
Sedangkan ibu yang tidak ingin lagi berlama-lama menyaksikan drama kebucinan Radit pun memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Mereka bisa menunggu kalau kamu mau ikut aku." ujar Radit masih berusaha membujuk.
"Mas Radit!" sentak Fika kesal yang hanya di tanggapi tawa renyah dari Radit.
"Baiklah, baiklah. Aku akan segera pergi untuk mencari nafkah dan kembali melamar kamu." ujar Radit masih menggoda Fika yang sudah sangat kesal.
"Terserah!" ucap Fika sambil menutup pintu rumahnya di depan wajah Radit begitu saja.
Sontak saja hal tersebut menjadi bahan tertawaan Sandy dan anak buahnya. Radit pun langsung memberikan tatapan tajamnya pada mereka yang langsung membuat semuanya terdiam dengan kepala yang menunduk.
"Baiklah, aku berangkat ya. Nanti aku telpon kalau sudah sampai di Jakarta. Assalamualaikum." teriak Radit sambil tersenyum.
"Waalaikum salam." jawab Fika di balik pintu. Nyatanya ia masih menunggui Radit sampai benar-benar pergi dari sana.
Ia hanya tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap Radit yang seperti tadi, menggodanya terus menerus.
Radit pun tersenyum senang, mendengar Fika menjawab salamnya. Yang berarti Fika masih menungguinya dari balik pintu.
__ADS_1
"Setidaknya aku sudah bisa maju 1 langkah dalam hubungan kita untuk bisa lebih dekat denganmu." batin Radit