
Akmal POV
Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang benar dengan meninggalkannya? Apakah aku tidak akan pernah menyesal untuk benar-benar berpisah dengannya?
Apakah aku akan benar-benar bisa menjalani hidupku tanpanya?
Sepanjang perjalanan menuju sebuah club malam paling terkenal di Jakarta aku terus mempertanyakan hal tersebut. Aku hanya butuh sesuatu untuk melepaskan sesak dan sakit di hatiku.
Tidak pernah terpikirkan olehku, jika suatu hari aku akan kembali ke tempat seperti ini. Dulu aku pernah begitu menyukai tempat ini, lalu tiba-tiba aku berhenti datang ketika bertemu kembali dengannya cinta pertamaku.
Aku berjanji padanya, jika aku akan merubah diriku agar pantas untuk bersamanya. Aku akan menjadi laki-laki dewasa yang pantas bersanding bersamanya.
Aku mulai menata hidupku, meninggalkan teman-teman yang masih menghabiskan waktu dengan nyaman di gemerlapnya dunia malam.
Ketika mengingat waktu jauh ke belakang, saat itu bukanlah hal mudah untuk mendapatkannya ketika pertama kami bertemu. Tidak mudah untuk menjadi laki-laki yang di inginkannya.
Tidak mudah untuk menjadi baik, tidak mudah untuk menjadi dewasa, dan tidak mudah untuk menjadi laki-laki yang pantas.
Aku bekerja sangat keras untuk mencapainya, aku berusaha dengan keras untuknya. Aku menyembunyikan banyak sisi lain dari diriku.
Aku merubah diriku sendiri menjadi sosok yang berbeda. Aku selalu memprioritaskan nya sebagai tujuan hidupku.
Aku tidak akan marah bahkan ketika ia membuatku begitu kesal. Aku selalu merendahkan egoku, ketika kami berdebat. Aku selalu menjaga agar kami tidak perlu bertengkar tentang hal yang tidak penting.
Aku selalu berusaha memberikan seluruh hidupku untuknya. Bahkan ketika ia yang melakukan kesalahan pun, aku yang akan terlebih dulu meminta maaf padanya.
Seperti itulah aku berusaha begitu keras. Aku tidak pernah ingin membuat dia memiliki satu hal pun yang bisa ia keluhkan. Semua egoku tak lagi penting di bandingkan dengan semua kebahagiaan yang aku dapatkan bersamanya.
Fika adalah perempuan pertama yang membuatku ingin menjadi seseorang yang bisa di banggakan. Bahkan hanya menjadi baik tidak membuatku puas.
Orang bilang, cinta itu buta. Bersamanya itu adalah kalimat pertama yang bisa ku pahami. Aku begitu mencintainya hingga terlalu takut untuk kehilangannya.
Ketika kami bersama, aku begitu menjaganya seolah ia seperti sesuatu yang mudah rapuh jika aku tidak menjaganya dengan baik.
Dia adalah perempuan pertama yang membuatku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamanya dengan bahagia.
Dia adalah alasan yang membuatku berani menghadapi kenyataan terpahit tentang keluarga ku sendiri.
__ADS_1
Dia adalah salah satu alasan terbesarku untuk kembali bertemu dengan keluarga yang sudah lama aku tinggalkan.
Bagiku, dia sudah seperti matahari yang benar-benar membuat hidupku yang gelap dan kelabu menjadi terang dan penuh warna.
Dia sudah seperti oksigen untuk ku bernafas, dia adalah seluruh nafasku, hidup ku dan duniaku.
Dan saat inilah aku harus kembali pada kenyataan pahit dimana aku kehilangannya. Aku kehilangan seluruh duniaku ketika kami saling mengucapkan salam perpisahan.
Aku hanya bisa meneguk minuman yang memabukkan itu sebanyak mungkin. Agar aku bisa melupakan kenyataan yang begitu menyakitkan ini.
Awalnya aku pikir dengan seperti ini akan membuatku melupakannya sesaat saja. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
Aku semakin merasakan hatiku yang sakit, aku semakin merindukannya dan itu semakin membuat hatiku sesak.
Aku tidak bisa menemukan jalan untuk kembali padanya, aku hanya menjadi semakin putus asa dan patah hati.
Aku pun benar-benar menghabiskan minuman-minuman itu sampai aku tak bisa meminumnya lagi dan kehilangan kesadaranku.
Sampai pagi harinya aku bangun di sebuah tempat asing yang tak lain adalah sebuah kamar hotel.
Setelah itu, ia pun membawaku kembali ke Bandung dan pulang ke rumah.
Sejak sampai di rumah, aku langsung merebahkan tubuhku di samping bunda. Aku hanya bisa meletakkan kepalaku di pangkuannya dan memejamkan mataku selama beberapa saat.
"Tidurlah nak, tinggalkan semua beban pikiran kamu dan hanya berisitirahatlah." ucap bunda membuat kedua mataku mulai terpejam.
Aku menangis di pangkuannya tanpa suara, dan bunda tidak menanyakan apapun. Ia hanya membiarkan aku menangis sampai puas.
"Bunda, apakah aku sudah mengambil keputusan yang tepat?" tanyaku yang masih bersandar di pangkuannya.
"Kamu sudah melakukan hal yang besar nak, bunda tidak bisa mengatakan itu tepat. Tapi bunda rasa dengan kamu melepaskan Fika saat ini adalah jalan terbaik yang bisa kamu lakukan." jawabnya sambil mengusap lembut rambut ku.
"Bukankah aku terlihat menyedihkan?" tanyaku lagi.
"Tidak ada yang begitu menyedihkan tentang perpisahan, kecuali kita di tinggalkan orang yang sudah berhenti mencintai kita."
"Kamu tahu, jodoh itu sudah di tuliskan dari sebelum kita terlahir di dunia ini. Jika memang, kalian memang di takdirkan untuk berjodoh, bunda yakin suatu hari nanti takdir itu sendiri yang akan menuntun kalian untuk bersama." nasehat bunda terasa sedikit menenangkan hati dan pikiranku.
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam berusaha mencerna makna dari apa yang bunda sampaikan padaku. Satu-satunya alasan aku melepaskannya adalah karena aku terlalu mencintainya.
Aku tidak mungkin tetap bersikap egois menahannya di sisiku sementara bahaya akan mengelilinginya. Untuk bisa melindunginya aku harus memiliki kekuatan untuk mengalahkan tua bangka itu.
Untuk saat ini aku hanya berharap jika setelah aku melepaskannya, ia akan benar-benar hidup dengan bahagia. Entah ia akan melupakan aku atau tidak.
Jika memang suatu hari nanti takdir tidak membawa kami untuk tidak bersama, aku harap dia sudah melupakan aku dan melanjutkan hidupnya dengan seorang yang ia cintai.
Aku hanya akan berdoa untuk kebahagiaan dan kebaikannya seumur hidupku. Aku tidak berharap akan mencintai perempuan lain untuk menggantikannya dalam hatiku.
**
...*Aku akan mencintai kamu hari ini seperti aku mencintai kamu kemarin....
...Aku akan merindukan kamu hari ini seperti aku merindukan kamu kemarin....
...Aku akan mengingat kamu seumur hidupku, sampai aku tidak akan bisa mengingat diriku sendiri....
...Ketika aku melihat langit biru yang cerah,...
...aku akan merindukan kamu....
...Ketika aku merasakan angin yang berhembus, aku akan merindukan kamu....
...Ketika aku melihat hujan turun membasahi bumi, aku akan merindukan kamu....
...Semesta akan membuat aku terus mengingat dan merindukan kamu....
...Semesta juga yang akan berkerja untuk mempertemukan kita kembali suatu hari nanti....
...Atau setidaknya, memberiku kesempatan untuk melihat kebahagiaan kamu....
...Aku akan menunggu sampai semesta berbaik hati memberikanmu, untukku....
...Bagian paling menyakitkan dalam hidupku baru saja di mulai, dimana aku ada tanpa kamu di sisiku....
...Tanpa aku bisa melihatmu bahkan dari jauh sekalipun*....
__ADS_1