My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Pukulan


__ADS_3

Author POV


Sementara Fika di temani oleh Radit, di jalan Akmal tampak sangat cemas karena sedari siang setelah mereka makan siang Akmal tidak bisa menghubunginya.


Ia sudah pergi ke kantor Fika untuk menjemputnya namun Dafa bilang jika Fika sudah pulang lebih awal sekitar pukul 2.30 karena ijin sedang tidak enak badan


Tapi sebelum Akmal benar-benar pulang Alana menceritakan tingkah Fika yang aneh setelah pulang dari makan siang dengan Akmal.


Alana bertanya apakah Akmal bertengkar dengan Fika? Karena sepulang dari makan siang Fika tiba-tiba menangis dengan tersedu-sedu.


Ketika Semuanya bertanya Fika malah beralasan kalau dia hanya sedang tidak enak badan.


Tapi Alana tidak semudah itu bisa mempercayai ucapan Fika karena sepanjang lebih dari 3 tahun mereka saling mengenal tidak pernah Fika terlihat seperti itu.


Terang saja apa yang di katakan Alana padanya membuat Akmal semakin cemas. Dan benar saja ketika Akmal sampai di rumah Fika, ibunya malah bertanya Fika dimana.


Akmal pun langsung bergegas untuk mencari Fika ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi namun tetap saja Fika tidak ada disana.


Hari sudah berganti malam dan jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam. Akmal benar-benar merasa sudah hampir gila memikirkan apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.


Karena tidak biasanya Fika menghilang seperti itu. Selain Nayla dan teman-teman di kantornya, Fika tidak dekat dengan siapapun.


Ia sudah ke kantor Fika dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Akmal pun dengan putus asa mencoba menghubungi Nayla.


Walaupun tidak mungkin Nayla ada bersamanya karena setelah menikah Nayla pindah ke luar daerah. Tapi Akmal pikir mungkin saja Nayla tahu Fika akan ada dimana.


Kebetulan Akmal memiliki kontak Nayla maupun suaminya. Ia sudah menyalin semua kontak orang-orang yang sekiranya berhubungan dengan Fika dari ponselnya.


Akmal pun memutuskan untuk langsung menghubungi Nayla saat itu. Tidak sampai 10 detik panggilannya langsung di angkat oleh Nayla.


"Hallo nay." sapa Akmal


"Ya, maaf dengan siapa ?" tanya Nayla


"Ini, Akmal pacarnya Fika nay." jawab Akmal lalu menceritakan tujuannya menelpon Nayla


Sebelumnya Fika memang sudah memperkenalkan mereka melalui sambungan video call. Bahkan Fika selalu bercerita tentang hubungannya dengan Akmal pada Nayla walaupun mereka kini tinggal di kota yang berbeda.


Fika selalu memberi kabar pada Nayla hampir setiap hari melalui telepon.

__ADS_1


Bagaimanapun Nayla sudah menemaninya selama bertahun-tahun dan satu-satunya sahabat yang Fika miliki.


Nayla tampak terdiam sesaat mendengar penuturan Akmal.


"Kalian lagi ada masalah atau berantem tadi siang?" tanya Nayla penasaran


"nggak nay, sumpah ! makanya gue bingung banget ini harus cari Fika kemana lagi. hpnya sama sekali gak aktif dari siang" keluh Akmal yang sudah sangat frustasi memikirkannya


"emh, Fika gak pernah kayak gini. Tapi coba deh lu datengin tempat yang biasa gue sama Fika datengin kalau lagi suntuk dulu."jelas Nayla


"kemana nay?" tanya Akmal yang langsung memasang tubuh siapnya untuk segera melajukan mobilnya kembali


"Tempatnya ada di pinggiran Jakarta, danau. Coba lu ke danau itu siapa tahu Fika ada disana." ucap Nayla sambil mengatakan dimana alamat pasti danau tersebut


Akmal pun segera melajukan mobilnya ke alamat yang Nayla sebutkan di telepon. Akmal pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan mengucapkan terimakasih yang sangat tulus pada Nayla.


Akmal benar-benar berharap Fika akan ada disana. Ia sudah tidak tahu lagi kemana ia harus pergi saat ini mencari Fika jika saja Nayla tidak memberikan petunjuk.


Setelah hampir 1 jam berkendara akhirnya Akmal sampai di tempat yang di maksud oleh Nayla. Ia perlahan berjalan menyusuri danau yang terdapat beberapa anak muda yang sedang nongkrong ataupun berpacaran disana.


Banyak terdapat kursi panjang di sepanjang pinggiran danau dengan lampu-lampu hias yang membuat suasana terlihat cukup romantis.


Senyumnya memudar melihat saat itu ada seseorang di samping Fika yang tengah terlihat berbicara padanya.


Mereka bahkan terlihat seperti sedang tertawa dan bercanda yang membuat Akmal seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Darahnya terasa mendadak panas dan mendidih, melihat gadis yang sudah ia cari sejak tadi mengelilingi kota Jakarta.


Ia sudah merasa sangat cemas namun ia malah bersama pria lain dan tertawa dengan bahagia.


Akmal pun melangkah dengan cepat ke arah Fika dan Radit tanpa basa-basi ia langsung menghadiahkan bogem mentah dengan sekuat tenaga ke wajah Radit.


Fika pun menjerit terkejut melihat Akmal yang tiba-tiba datang dan langsung menghajar Radit tanpa ampun.


Bugg,


Bugg,


Bugg,

__ADS_1


Berkali-kali Akmal memberikan pukulan di wajah dan tubuh Radit hingga Radit terjatuh di tanah tanpa bisa melawan.


"Akmal please stop ! apa-apaan kamu tuh ?!" teriak Fika sambil berusaha menarik tubuh Akmal agar menjauh dari Radit


Namun seakan-akan sia-sia tenaga Akmal ternyata sangat kuat ketika sedang marah seperti itu. Sampai akhirnya Fika pun menampar Akmal sekuat tenaga agar ia bisa berhenti.


Plaakk,


1 tamparan keras mendarat di pipi Akmal membuatnya membeku karena terkejut.


Perlahan ia melepas cengkraman tangannya di kerah baju Radit.


Fika pun segera menghampiri Radit dan menanyakan keadaan Radit. Hampir seluruh wajahnya penuh memar dan ujung bibirnya terlihat sedikit sobek dan berdarah.


Begitu juga dengan hidungnya yang mengucurkan darah segar karena pukulan yang di layangkan Akmal berkali-kali dengan sekuat tenaga.


Hati Akmal berdenyut sakit melihat Fika malah mengkhawatirkan Radit yang sudah babak belur di buatnya.


Apalagi Fika sampai menamparnya dengan sangat keras untuk menghentikannya menghajar Radit.


Tanpa berkata apa-apa lagi Akmal langsung menarik Fika dan menyeretnya dengan sedikit kasar ke arah mobil.


Akmal benar-benar sedang di kuasai emosi tidak menghiraukan teriakan Fika yang terus menerus minta di lepaskan.


Setelah memaksanya masuk ke dalam mobil Akmal langsung tancap gas meninggalkan danau tersebut.


Beberapa orang yang sejak tadi hanya bisa jadi penonton saja akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Radit dan menolongnya setelah kepergian Akmal.


Fika mencoba menenangkan dirinya di dalam mobil karena sejak pergi dari danau Akmal benar-benar menulikan pendengarannya dan tak mempedulikan apapun yang Fika katakan.


30 menit telah berlalu, tiba-tiba saja Akmal menepikan mobilnya di pinggir jalan dengan tiba-tiba.


Ia menghembuskan nafas kasar sambil menatap lurus ke depan. Sementara Fika memilih bungkam, dan menolehkan pandangannya ke samping.


Akmal pun membalikkan tubuh Fika agar bisa menghadapnya. Dengan lekat Akmal menatap wajah kekasihnya yang tengah meneteskan air matanya dalam diam tanpa bersuara.


Akmal mengusap lembut kedua pipinya menghapus air mata yang seakan tidak akan berhenti mengalir.


"Apa yang kamu tangisi? apa laki-laki tadi yang kamu tangisi dan khawatirkan sekarang?" tanya Akmal dengan suara paraunya

__ADS_1


Kedua matanya sudah terlihat memerah menahan semua perasaan yang sudah bercampur aduk tak menentu.


__ADS_2