
Akmal POV
Hari berjalan dengan sangat lambat, bagiku.
Rasanya hampa, rasanya ada yang hilang dari diriku. Setengah dari jiwaku seperti terbang entah kemana.
Beberapa hari ini aku sibuk ke luar kota untuk mempromosikan komik terbaruku yang telah terbit. Antusiasme para penggemar dan pembaca komik ku sedikit menghibur hatiku yang sendu.
Namun tetap tidak menghilangkan rasa kesepian dan hampa di dalam hatiku. Rasanya rindu terasa menyesakkan memenuhi setiap relung hatiku.
*Tidak melihatmu, tidak bicara denganmu membuatku hampir gila karena rindu .
Rasa sakit menahan rindu, menjadi sesak yang menyusup dan perlahan menghancurkan ku.
Aku benci hari-hari dimana kamu enggan menatap mataku.
Aku benci hari-hari dimana kamu enggan bicara padaku*.
Aku benci ketika aku rindu dan kamu tidak menginginkan ku.
Sejak hari itu, aku hanya bisa menatap foto-fotonya yang tersimpan di galeri ponselku.
Aku tidak lagi berani untuk menghampirinya atau pun menghubunginya .
Aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lebih dulu dan menyibukkan diriku dengan pekerjaan.
1 Minggu, 10 hari akhirnya berlalu tanpa merasakan kehadirannya dalam hidupku.
Semua pemikiran buruk terus berkelebat di dalam kepalaku.
Bagaimana jika ia benar-benar pergi,
Bagaimana jika aku tidak bisa kembali ke sisinya,
Bagaimana jika ia benar-benar hilang dari hidupku,
Bagaimana jika seseorang telah mengisi tempatku di sisinya .
Pemikiran ku berubah menjadi ketakutan yang menjadi sumber dari segala rasa sakit ku.
10 hari tanpanya begitu sangat menyiksa. Tidak pernah aku merasa sejatuh ini seperti padanya.
Kemana pun aku pergi, kemanapun aku melangkah hanya ia yang selalu terlihat nyata.
__ADS_1
Aku begitu merindukannya, sampai mataku melihatnya dimana-mana.
Mungkin Tuhan sedang memberikan karmanya padaku. Dulu, aku sering melukai hati para gadis yang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada 1 pun gadis yang aku pacari karena benar-benar aku mencintainya. Semua hanya untuk kesenangan semata.
Ketika melihatmu hatiku merasa berbeda. Mataku tidak pernah bosan menatapmu, bibirku tidak pernah berhenti tersenyum melihatmu.
Hatiku berdebar sangat kencang hanya saat melihat kau ada di sekitarku.
Denganmu, aku tahu apa itu gugup, apa itu khawatir, apa itu takut, apa itu cemburu. Yang tidak pernah ku rasakan ketika bersama dengan gadis lain.
Sejak dulu, aku hanya pernah tertarik dengan 1 nama yaitu Afika Sasi Kirana . Aku hanya pernah 1 kali jatuh cinta dalam pandangan pertama yaitu Afika Sasi Kirana.
Hari ini aku baru pulang setelah melakukan beberapa tour ke beberapa kota besar. Rasanya sangat melelahkan, aku ingin segera cepat sampai di apartemen ku.
Jam sudah menunjukkan pkl 5 sore hari, akhirnya aku sampai di apartemen ku. Ku rebahkan tubuhku di sofa, sejenak meluruhkan rasa lelahku setelah perjalanan beberapa jam dari luar kota.
Tidak ada rasa lapar, walaupun sejak pagi hanya memakan sepotong roti. Setelah hari itu, tidak ada makanan yang benar-benar bisa membuatku berselera.
Tanpa sadar aku terlelap begitu saja disana. Setelah beberapa waktu akhirnya aku terbangun, wajah yang pertama kali ku lihat adalah sosok yang sangat aku rindukan.
Tanpa sadar tubuhku bergerak menghampirinya yang duduk di depanku . Ku tatap wajahnya yang begitu ku rindukan.
Ku sentuh dengan lembut setiap inchi wajahnya yang selalu terekam nyata di kepalaku.
Ketika kita sangat merindukan seseorang bayang-bayang nya pun menjadi sangat nyata.
Ku tarik lembut tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukanku. Ku hirup aroma tubuhnya yang khas dan menenangkan.
Ku kecup lembut puncak kepalanya, keningnya kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya , hingga beralih ke bibir tipis berwarna merah muda yang selalu menggodaku.
Ku benamkan bibirku disana dengan lembut ********** perlahan, dan ia pun membalasnya. Membuat kami terbuai dalam ciuman penuh kerinduan yang memabukkan.
Sesaat aku pun tersadar, jika ini lebih dari sekedar nyata. Aku pun langsung menyudahi ciuman kami dan ku tatap kedua manik matanya dengan dalam.
"Mungkinkah ini hanya mimpi? kenapa terasa sangat nyata. Jika hanya mimpi, biarlah aku tidak akan bangun untuk waktu yang lama." batinku
Kami masih saling menatap cukup lama, hingga akhirnya aku mendengar suara dari gadis yang paling aku rindukan itu.
"Aku rindu kamu." ucapnya sambil menyematkan senyuman paling menawannya
"Aku lebih merindukanmu sampai rasanya mau mati." ucapku tersenyum dengan air mata yang mulai tumpah
__ADS_1
"Kenapa kamu terasa benar-benar nyata? Aku terlalu merindukanmu hingga melihatmu dimana pun ketika aku pergi." ucapku lagi sambil merebahkan tubuh lelahku di pangkuannya
Ia hanya diam sambil mengusap lembut wajahku kemudian rambutku.
Ku pejamkan mataku kembali dengan air mata yang belum ingin berhenti untuk terus mengalir.
"Aku rindu, aku sangat ingin bertemu denganmu sayang." ucapku lagi masih terpejam
"Maafkan aku untuk kata-kata ku tempo hari." ucapnya setelah beberapa saat terdiam
"Kenapa bayangan ini terasa sangat nyata?" batinku
Aku memutuskan untuk bangkit, ku tatap lagi dengan seksama wajah yang paling ingin aku temui selama 10 hari ini.
"Rasanya benar-benar gila, bayangan kamu saja tampak nyata. Aku pasti sudah gila." ucapku tersenyum sarkas
Fika pun terlihat mengernyitkan dahinya seperti merasa bingung akan sesuatu. Namun aku memilih untuk menghiraukannya dan berjalan menuju mini bar di dekat dapur.
Aku mengambil gelas dan mengambil air dingin di kulkas. Sepertinya aku butuh minum untuk benar-benar tersadar. Aku takut jika sebentar lagi aku bisa jadi gila.
1 gelas, 2 gelas, hingga 3 gelas aku minum tapi bayangannya tetap ada dan tidak menghilang.
Ketika hendak minum lagi tiba-tiba saja ia sudah ada di hadapanku dan menahan tanganku untuk kembali minum.
"Apa kamu benar-benar merasa haus? Kenapa banyak sekali yang kamu minum?" ucapnya lembut dengan wajah polosnya
"Aku harus minum agar aku sadar dan tidak berhalusinasi terus menerus dan menjadi gila. entahlah, aku hanya ingin bertemu dengan Fika !" ucapku sedikit menyentak
"Apa maksudmu? kamu pikir aku ini apa?" jawabnya dengan kesal
"baiklah jika kamu memang enggak mau aku disini, aku akan pulang." ucapnya tiba-tiba berjalan ke sofa mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu
"Jika memang ini halusinasi, kenapa dia harus pergi melalui pintu?" pikirku dengan cepat
"tidak mungkin ini nyata kan?" ucapku pelan
"Baiklah, anggap saja aku memang tidak nyata." ucapnya sarkas berbalik sebentar mendelik sebal
Deg,
Aku pun tersadar jika ini benar-benar nyata, aku pun langsung berlari menghambur padanya. Ku peluk tubuhnya dari belakang sesaat sebelum ia membuka pintu apartemen ku.
"Jangan pergi" lirihku
__ADS_1
"Aku mohon jangan pergi lagi, aku sangat merindukanmu sayang." ucapku masih sambil memeluknya sambil mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Aku sangat merindukanmu." ucapku lagi dengan rindu yang membuncah di hatiku