
FIKA POV
Saat itu juga aku langsung mematikan ponselku dan berjalan keluar dari taman tersebut.
Aku langsung menghentikan taksi yang lewat untuk ku naiki pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan air mataku tak bisa berhenti mengalir.
Setelah sampai di rumah aku langsung bergegas masuk ke rumah. Aku memanggil ayah dan ibuku untuk membicarakan keputusan yang hendak ku ambil.
"Nak, ada apa ini? Kenapa wajah kamu seperti ini?" tanya ayah menatapku dengan penuh pertanyaan
"Iyaa sayang, kamu kenapa mengumpulkan kami disini. Tadi Akmal telpon ibu katanya handphone kamu gak bisa di hubungi dan minta ibu kabari jika kamu sudah sampai rumah." timpal ibu yang sudah mulai memikirkan beberapa hal buruk.
Tangis ku pecah begitu saja mendapati pertanyaan tersebut. Ibu langsung berpindah duduk di sebelahku dan menarik ku ke dalam dekapannya.
Rasanya begitu menenangkan ketika kita ada dalam dekapan seorang ibu. Setelah beberapa saat aku pun langsung menceritakan semua masalah yang menimpaku dengan Akmal tanpa terlewat sedikitpun.
Kedua orangtuaku pun akhirnya mengerti dan memberikanku nasihat untuk segera menghubungi Akmal dan memastikan untuk mengakhirinya dengan baik.
"Bagaimanapun hubungan keluarga kita dengan Akmal sudah sangat dekat. Pastikan untuk membicarakannya dengan baik. Dan kamu juga yang sabar ya nduk, mungkin Akmal bukan jodoh kamu ." ucap ibu sambil memelukku dengan penuh kehangatan.
Hari itu rasanya dunia ku seperti akan runtuh namun di sisi lain aku merasa lega setelah mengambil keputusan ini.
Mungkin inilah jalan terbaik bagi hubungan kami saat itu. Dan ada 1 hal yang orangtuaku katakan pada saat itu untuk membuatku tidak menyesali keputusan ku.
"Karena kamu sudah memutuskan mungkin ini saatnya ayah bicarain ini sama kamu." ucap ayah tiba-tiba.
"Ayah, jangan sekarang."pinta ibuku melepaskan ku dan menghampiri ayah.
"Bu, cepat atau lambat putri kita tetap harus tahu masalah ini." ucap ayah berusaha memberikan pengertian.
"Ibu, ayah kalau memang sekiranya Fika harus tahu lebih baik kita bicarakan ini sekarang." ucapku menengahi.
Ayah dan ibu menatapku dengan helaan nafas yang terdengar cukup berat. Aku pun langsung berpindah duduk di dekat ayah dan ibuku.
__ADS_1
"Nak, sebenarnya ayah sudah mengetahui perihal keluarga Akmal terutama tentang ayahnya yang tidak merestui hubungan kalian." ucap ayah yang membuatku terkejut setengah mati.
"Ayah tahu dari mana?" tanya ku penasaran.
"Tuan Rendra sudah menemui ayah sekitar 2 Minggu yang lalu. Ia meminta ayah untuk membuat kamu dan Akmal berpisah. Tapi ayah tidak sampai hati memberitahukannya padamu." ucap ayahku terlihat masih ragu menceritakannya.
"Pasti beliau tidak hanya menemui ayah, tapi juga mengancam ayah kan?" tanyaku mulai curiga dengan sikap ayah.
Ayah pun menoleh kepada ibu seperti menunggu persetujuan dari ibuku. Akhirnya setelah ibu mengangguk kecil ayah pun mulai menceritakan semuanya.
Rasanya hatiku seperti di remas-remas mendengar setiap kata yang ayahku ucapkan. Ia menceritakan semuanya dengan tenang tanpa kemarahan atau kebencian di setiap kata-katanya.
Ya, beliau bukan hanya mengancam ayahku namun beliau membuat ayahku kehilangan pekerjaannya. Padahal sudah hampir 30 tahun ayah bekerja di perusahaan tersebut dan tidak pernah membuat masalah.
Pimpinan perusahaan tersebut pun mengaku jika ia terpaksa menuruti permintaan dari tuan Rendra Hutama untuk memecat ayahku.
Karena jika tidak, maka tuan Rendra akan membuat perusahaan di tutup dengan segala cara. Beliau orang yang berpengaruh dan berkuasa dan akan sanggup melakukan apa saja.
Pemilik gedung tidak mau lagi menyewakan rukonya untuk disewa oleh ibuku. Karena akan segera menjualnya pada seorang pengusaha.
Dan ibu pun sudah tahu pasti siapa yang bisa melakukan hal seperti itu pada mereka. Aku semakin merasa bersalah karena tanpa sadar telah membuat keluarga ku dalam kesulitan.
"Ayah, ibu maafin Fika ya. Ini semua gara-gara aku, kalau bukan karena aku pasti semuanya akan baik-baik saja sekarang." ucapku dengan air mata yang kembali mengalir.
Ternyata ia sungguh-sungguh melakukan ancamannya. Aku sangat menyesal, seharusnya sejak awal aku tidak pernah berharap untuk mempertahankan hubungan yang mustahil akan bertahan.
Aku terlalu percaya diri dan percaya bahwa dunia ini lebih banyak di tinggali oleh orang-orang yang baik daripada orang jahat.
Dan ternyata keyakinan ku hanyalah sebuah kesalahan yang membawa keluargaku ikut terjatuh dalam keterpurukan.
Ayah dan ibu terus menerus memberikanku nasihat dan semangat agar aku bisa lebih kuat. Mereka tidak menyalahkanku atau Akmal sekalipun.
Sore harinya, ayah dan ibuku meminta aku dan Icha untuk berkumpul di ruang keluarga setelah Icha pulang. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah pamit untuk pergi bersama teman-teman kuliahnya.
__ADS_1
"Fika, Icha kalian pasti bertanya-tanya dalam hati kenapa kami mengumpulkan kalian sekarang." ucap ayah dengan tenang
"Ayah dan ibu akan membicarakan suatu masalah penting yang sudah menjadi keputusan dan kesepakatan kami saat ini." sambungnya lagi.
"Ada apa yah, bu? kok serius banget kayaknya."ucap Icha terheran melihat ekspresi semua orang tampak serius.
"Ayah dan ibu sudah sepakat bahwa kita akan pulang ke Surabaya dan mulai membuka usaha disana dengan uang pesangon yang ayah punya saat ini." ucap ibu yang membuat ku dan Icha tersentak kaget.
"Apa? ibu sama ayah gak bercanda kan?" tanya Icha yang benar-benar terkejut mendengarnya.
Sementara aku hanya bisa terdiam dan menyesali semua yang terjadi karena keegoisan ku sejak awal.
Andai saja aku tak pernah membantah dan menantang ayah Akmal saat itu, mungkin tidak akan seperti ini.
"Icha sayang, dengarkan ucapan kami sampai selesai baru kamu boleh bicara." ucap ayah memberi pengertian yang seketika di patuhi oleh Icha.
"Ayah dan ibu tidak akan memaksa kalian untuk ikut. Jika kalian ingin melanjutkan pekerjaan dan kuliah kalian di kota ini maka ayah tidak akan menjual rumah ini. Namun jika kalian ingin ikut dengan kami maka ayah dan ibu tidak akan menjual rumah ini. Semua keputusan akan kami kembalikan pada kalian." ucap ayah menjelaskan.
Untuk beberapa saat baik aku dan Icha tidak langsung menjawab.
"Kalian tidak perlu jawab sekarang, nanti setelah makan malam kita bisa bicarakan ini lagi." ucap ibu menyadarkan kami.
Kami pun menyetujuinya dan memutuskan untuk membicarakannya di kamar setelah itu.
Aku pun menceritakan semuanya tanpa menutupi apapun dari adikku. Bagaimana pun ia sudah cukup dewasa dan sudah bisa memahami situasi kami.
"Apa kamu gak marah dek sama mbak?" tanyaku
"Kenapa aku harus marah sama mbak, yang salah itu bukan mbak tapi om Rendra itu. Udah mbak gak usah nangis dan merasa bersalah lagi, ini bukan salah mbak kok." ucapnya menenangkan ku dan memberikan aku sebuah pelukan yang saat ini benar-benar ku butuhkan.
"Tapi mbak, hubungan mbak sama mas Akmal gimana ?" tanya Icha sedikit ragu.
Tangis ku kembali pecah mengingat kembali nama yang sangat inginkan aku lupakan selama beberapa saat ini.
__ADS_1