
Setelah kepergian Sandy dari ruangannya Radit tampak sedikit merenung memikirkan hubungannya Devan yang tak kunjung membaik sejak 10 tahun belakangan ini.
Mereka bertiga bersahabat sejak kecil, bahkan hubungan mereka sudah layaknya saudara. Dulu rumah Radit dan Devan bersebelahan. Jika Radit di tinggal oleh ibunya sejak bayi lain halnya dengan Devan.
Ayah Devan meninggal dalam kecelakaan saat usia Devan belum genap 7 tahun. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi lebih dekat.
Radit sangat tidak menyukai figur seorang ibu apalagi ibu tiri. Ia pikir, ibu kandungnya sendiri pun bisa sejahat itu meninggalkannya sejak bayi.
Lalu bagaimana mungkin, ia bisa mempunyai ibu tiri. Bisa saja ia di siksa dan di bunuhnya suatu hari nanti. Karena Radit tidak mengenal kasih sayang seorang ibu sejak kecil ia menjadi takut.
Setiap ayahnya dekat dengan seorang wanita dan mengenalkannya pada Radit, dengan keras Radit selalu menolak. Ia tidak ingin memiliki ibu tiri, baginya dia dan ayahnya berdua saja sudah cukup.
Sandy dan Devan pun memahami hal tersebut. Suatu hari mama Devan yang tak lain adalah mama Sarah menikah dengan seseorang.
Hingga akhirnya Devan memiliki Hana sebagai adiknya, namun Radit tidak pernah mengetahui siapa yang menjadi ayah tiri Devan.
Karena Devan tidak pernah mau mengungkapkannya. Sampai suatu hari ketika mereka berada di sekolah menengah atas, Radit pun mengetahui segalanya.
Jika yang menjadi ayah tiri sang sahabat adalah papanya sendiri. Papanya menikah secara diam-diam dengan mama Sarah tanpa ia ketahui.
Pantas saja ia tidak pernah melihat sekalipun siapa ayah tiri Devan dan ternyata itu adalah papanya sendiri. Karena Hana semakin hari semakin besar, papa Randi akhirnya memberitahukan segalanya pada Radit.
Sejak itulah hubungan mereka menjadi tidak pernah baik. Walaupun ia tak pernah menentang pernikahan diam-diam sang papa namun ia selalu bersikap dingin pada mama Sarah.
Hanya Hana yang bisa membuat Radit sedikit luluh. Karena sebelum mengetahui kebenaran tersebut, Radit sudah sangat menyukai Hana. Dan sudah menganggap Hana sebagai adiknya sendiri.
Karena itulah, Radit tidak bisa membenci Hana. Tapi ia sangat membenci Devan yang telah dengan sengaja membohonginya.
Ia tidak pernah mau memaafkan Devan sekalipun. Bahkan setelah lulus SMA, Radit memilih untuk kuliah di luar negeri demi menjauhi keluarga barunya tersebut.
Dan setelah 4 tahun tinggal di luar negeri akhirnya Radit kembali ke Jakarta dan memutuskan untuk melamar pekerjaan di kantor papanya yang membawanya bertemu Fika lagi setelah sekian tahun.
Dengan penampilan yang baru, sontak saja Fika tidak mengenalinya. Dan hal itulah yang membuat Radit selalu kesal dan bersikap dingin terhadap Fika.
Semua itu karena dia benar-benar menyukai Fika sejak dulu. Hanya saja baik ketika dulu ia masih berpenampilan buruk ataupun sudah merubah penampilannya pun Fika tetap tidak pernah melihat padanya.
Hingga bertahun-tahun terlewati begitu saja dan Fika memiliki seseorang di sampingnya. Hal tersebut membuat Radit semakin terbakar api cemburu.
Baik di masa lalu ataupun di masa sekarang, ia tidak pernah menjadi pilihan bagi Fika. Apa yang sebenarnya kurang dari dirinya? pikir Radit frustasi.
Radit pun tersadar ia telah termenung cukup lama mengingat masa lalunya. Ia pun kembali memfokuskan dirinya pada berkas-berkas yang telah menunggunya.
Tak lupa ia menghubungi Dafa untuk datang ke ruangannya. Tidak sampai 5 menit Dafa pun datang dan mengetuk pintu ruangan Radit.
"Masuk." ucap Radit fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Siang pak." sapa Dafa dengan profesional.
Ketika bekerja, Dafa cukup tahu diri untuk bersikap sopan dengan Radit yang kini menjadi orang nomor 1 di perusahaan.
Radit pun memberi isyarat agar Devan segera duduk di depannya. Dafa pun menghampiri meja Radit dan segera duduk di kursi tepat di depan Radit.
"Daf, gue minta nomor Alana." ucap Radit setelah ia menutup salah satu mapnya menatap Dafa yang sedikit tercengang.
"Ada apa dit? tumben lu minta nomor bini gue." ujar Dafa merubah dirinya menjadi mode santai.
"Bukan buat gue." ujarnya membuat Dafa semakin bertanya-tanya.
" Terus kalau bukan buat lu, buat siapa? tumbenan amat ada yang nyariin bini gue." tanya Dafa penasaran.
"Buat Fika." jelas Radit singkat sambil membolak-balik lembar berkas yang harus ia tanda tangani.
"Apa?! Fika? Ketemu dimana lu? Mana nomernya gue minta dong." tanya Dafa kelewat antusias memancing jiwa posesifnya menguar.
Ah ya tuhan, padahal Fika belum jelas menjadi siapa untuk dirinya. Namun Radit sudah mulai menjiwai perannya dengan begitu posesif.
"Kirimin aja nomor Alana sekarang ke nomor gue." ucap Radit tidak menghiraukan permintaan Dafa.
"Ah dit, gak asik banget sih lu !" cibir Dafa membuat Radit memberikan tatapan horornya pada Dafa.
Ting,
Bunyi 1 pesan masuk di ponsel Radit membuat Radit mengulum senyum kecil di sudut bibirnya.
"Udah." ucap Radit memberikan isyarat pada Dafa untuk pergi.
"Astaga Radit! Sumpah ya lu, gue buru-buru kesini pengen ketemu lu, pengen tahu kabar lu abis kecelakaan malah kayak gini lu !" gerutu Dafa yang sebal dengan sikap Radit.
"Ngomong apa ?" tanya Radit berpura-pura tidak mendengar gerutuan sahabatnya itu.
"Gak." balas Dafa tak kalah menyebalkan.
"Terus mana nomer Fika ? Gue minta." sambungnya lagi teringat dengan Fika.
"Enggak ada." jawab Radit semakin menyebalkan membuat Dafa hanya bisa menggeram kesal dalam hati.
Lantas ia pun langsung pergi meninggalkan ruangan Radit tanpa pamit. Dan jangan lupa jika Dafa sempat-sempatnya membanting pintu ruangan Radit dengan kencang.
Membuat semua mata tertuju padanya karena heran dengan sikap Dafa. Karena begitu berani ia membuat kegaduhan dengan membanting pintu ruangan CEO perusahaan tersebut.
Hanya Sandy yang menunjukan wajah datarnya. Ia tidak heran dengan sikap Dafa yang terlihat begitu kesal. Mengingat Radit memang lah orang yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
Ia saja sering hampir tidak tahan untuk tidak meneriakinya ketika Radit benar-benar membuatnya kesal. Beruntungnya ruangan Radit itu kedap suara, sehingga orang-orang diluar tidak akan mendengarnya.
"Ngapain liat-liat? Kerjain aja tugas masing-masing." ucap Dafa tak bisa menahan kesal melihat tatapan aneh dari sekretaris Radit dan juga karyawan lainnya.
"Aargh." teriaknya frustasi sembari mengacak-acak rambutnya, berjalan cepat menjauhi ruangan CEO.
"Bos menyebalkan." umpatnya dalam hati.
Sementara Radit hanya tertawa puas melihat reaksi Dafa. Ia memang sengaja ingin membuat Dafa kesal. Sejak dulu, di bandingkan dengan Alana istrinya. Dafa cenderung lebih sensitif.
Setelah puas menertawakan Dafa , Radit pun teringat dengan Fika. Ia belum mengabari Fika sejak pagi padahal ia sudah berjanji akan segera menghubungi Fika sesampainya di Jakarta.
Radit pun segera menelpon Fika dan tak perlu menunggu lama Fika pun menjawabnya.
"Ya, mas." jawab Fika
"Maaf, aku baru sempat ngabarin. Tadi pas sampe aku langsung ada meeting soalnya diluar kantor." jelas Radit
"Ya, gak apa-apa." ucap Fika.
"Kamu udah makan?" tanya Radit.
"Udah kok." jawab Fika.
"Kamu gak mau tanya aku gitu?" tanya Radit lagi.
"Kamu kan udah makan, ngapain aku tanya." jawab Fika .
"Kok kamu tahu aku udah makan?" tanya Radit.
"Kan kamu bilang tadi meeting diluar kantor. Jam makan siang lagi, waktunya meeting tuh. Pasti kamu udah makan kan?" jelas Fika.
"Iya sih." lirihnya sedikit kecewa.
Tak lama kemudian terdengar suara Fika tertawa memecah hening.
"Kenapa seneng banget gitu sih kamu tuh ketawanya? apa yang di ketawain?" tanya Radit penasaran.
"Aku lagi bayangin ekspresi muka bete kamu sekarang." ujar Fika .
"Aku gak bete." kilah Radit.
"Mas, aku kenal kamu ya." ujar Fika tak percaya.
"Iyaa." pasrah Radit menjadi bahan tertawaan Fika.
__ADS_1