My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Sedikit harapan Akmal


__ADS_3

Tidak seperti dugaannya, malam itu Akmal tidak mengejarnya yang telah pulang ke rumah.


Fika mengurung dirinya di kamar semenjak sampai di rumah. Bahkan ia tidak berselera untuk makan walaupun perutnya yang sebenarnya merasakan lapar.


Hatinya di selimuti kegamangan, ada sedikit sesal yang menyeruak dalam hatinya karena telah mengucapkan kata pisah dengan Akmal.


Namun ia juga tidak tahu lagi harus membawa kemana hubungan mereka. Apalagi ayahnya sendiri sudah dengan jelas menyatakan jika Akmal sudah mempunyai calon istri yang di siapkan oleh ayahnya.


Fika tidak ingin berharap terlalu tinggi untuk hubungan mereka dengan situasi yang tidak mendukung seperti itu.


Sampai pukul 1 dini hari matanya tidak kunjung terpejam. Fika memutuskan untuk menghirup udara segar sebentar sebelum memutuskan untuk berisitirahat dari semua pikiran yang membebaninya saat itu.


Perlahan ia berjalan menuju balkon rumahnya yang menghadap ke jalan depan rumahnya.


Rumah orang tua Fika memang tidak semewah dan sebesar rumah keluarga Akmal namun cukup nyaman untuk di tinggali.


Kamar Fika dan Icha adiknya berlawanan, jika kamar Fika menghadap ke jalan komplek maka kamar Icha adiknya menghadap ke taman belakang.


Terdapat kebun bunga mini dan ada kolam ikan kecil serta sebuah gazebo yang cukup sejuk untuk bersantai.


Bagian depan dan belakang rumah orangtua Fika memang di penuhi banyak tanaman dan bunga-bunga yang indah.


Tentu saja karena ayah Fika sangat senang berkebun dan memelihara ikan. Bahkan ia yang sejak awal mendesain setiap inchi rumahnya.


Bagi ayah Fika walaupun sederhana, rumah itu adalah rumah impiannya yang sudah berhasil terealisasikan.


Sebelum membuka pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon tersebut Fika mengambil sebuah sweater untuk di pakainya.


Karena sudah lewat waktu tengah malam pasti udara akan terasa dingin pikirnya.


Sesaat di pandanginya langit malam yang terlihat cerah. Bulan berbentuk bulat dengan cahaya terang namun tanpa bintang yang mengiringinya.


Hawa dingin seakan menusuk kulit karena sedang musim kemarau, udara biasanya jauh terasa lebih dingin apalagi di malam hari.


Ketika ia menjatuhkan pandangannya kebawah tanpa sengaja ia melihat sebuah mobil yang tidak asing tengah terparkir di depan pintu gerbang rumahnya.


Ia pun sudah sangat hapal siapa pemilik mobil tersebut. Tampak pula seorang laki-laki mengenakan kemeja panjang berwarna putih yang tengah duduk bersandar di bagian depan mobil.

__ADS_1


Ia terlihat menundukkan kepalanya dalam, 1 tangannya terlihat memegang bagian depan kepalanya dan 1 tangannya lagi melingkar memeluk tubuhnya sendiri.


Hati Fika sedikit terenyuh melihat Akmal sampai melakukan hal seperti itu. Entah sejak kapan ia berada disana.


Cuaca begitu dingin, tiba-tiba saja Fika merasa cemas jika Akmal sudah duduk disana selama berjam-jam dan tak akan langsung pulang.


Bagaimana jika sampai Akmal kedinginan di luar sana dan jatuh sakit. Ia akan merasa sangat bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri untuk itu .


Tanpa berpikir panjang Fika langsung berlari turun untuk ke depan rumahnya. Sebelum membuka pintu gerbangnya ia menghembuskan nafas panjang untuk memenangkan dirinya sekaligus meyakinkan diri jika itu adalah keputusan yang tepat.


Ia tidak akan memikirkan masalah tentang hubungan mereka lebih dulu. Ia harus mengesampingkan semua permasalahan mereka untuk sementara.


Ketika membuka pintu gerbang yang sedikit berisik karena bunyi antar besi yang bergesekan Akmal bahkan tidak mendengarnya.


Pikirannya melayang jauh menyesali semua hal yang telah terjadi di hidupnya. Selama ini tidak ada kebahagiaan yang bisa bertahan lama di hatinya seperti ketika ia mencintai Fika.


Namun kini semua itu tidak ada lagi, Fikanya memilih untuk pergi darinya. Dan itu karena orang lain dan bodohnya ia tidak mengetahui apa-apa dan malah menuduhkan hal yang menyakitkan untuk Fika.


Ia telah menuduh Fika telah mengkhianati dirinya, padahal Fika sedang benar-benar kacau saat itu. Tak henti Akmal merutuki kebodohan yang telah ia lakukan.


Akmal larut dalam kesedihannya sendiri sampai tak bisa menyadari kehadiran Fika di dekatnya saat itu.


Akmal yang semula tengah melamunkan banyak hal tiba-tiba saja melihat sepasang kaki mengenakan sandal rumahan tengah berdiri di hadapannya.


Dengan perlahan ia pun mengangkat pandangannya untuk melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini di jam seperti itu.


Kedua sudut bibirnya tertarik tanpa sadar membentuk sebuah lengkungan sebuah senyuman namun air mata terlihat sudah hampir meluncur bebas di pipinya.


Fika hanya terdiam mengamati setiap inci wajah sang kekasih yang ketika beberapa saat lalu sangat ia hindari.


Penampilannya sangat kacau dan berantakan tidak seperti biasanya yang selalu terlihat rapi dan segar.


Akmal adalah laki-laki yang sangat mengutamakan kerapian dan penampilannya di setiap kesempatan.


Apalagi di depan kekasihnya ia tidak menginginkan jika kekasihnya itu akan melihat kekurangannya barang sedikitpun.


Ia selalu ingin terlihat sempurna dalam segala hal. Ia ingin terlihat pantas untuk kekasihnya dan membuatnya tak mampu berpaling dari nya.

__ADS_1


Namun yang di lihat Fika kini sangat jauh dari seorang Akmal yang ia kenal. Wajahnya terlihat sangat sedih dan putus asa.


Tentu saja melihat Akmal seperti itu saja sudah membuatnya sangat sakit bagaimana mungkin ia bisa melupakan Akmal pikirnya.


Fika mencoba untuk bertahan dengan sikap tenangnya dan tak menunjukkan emosi apapun di wajahnya.


Walaupun sebenarnya hatinya tidak begitu.


Flashback,


Akmal sudah sejak pukul 11 malam, namun ia bukan orang yang tak tahu sopan santun untuk bertamu di rumah Fika di jam seperti itu.


Ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Fika dan menjelaskan semuanya, karena ia juga tidak mau mengganggu istirahatnya.


Tapi langkahnya terhenti ketika ia memutuskan untuk pulang. Kakinya merasa berat dan tak rela jika harus pergi saat itu juga.


"Mungkin lebih baik aku menunggunya disini sampai pagi. Agar dia tak punya waktu untuk menghindari ku." gumam Akmal ketika hendak membuka pintu mobil


Ia pun memutuskan untuk duduk bersandar di depan mobilnya. Menikmati dinginnya angin malam yang terasa sedikit menghibur dan menyejukkan hatinya.


Cukup lama ia dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Fika sendiri yang tiba-tiba datang menghampirinya.


Setitik kebahagiaan muncul di tengah gersangnya hati dan pikirannya yang kacau sejak beberapa jam sebelumnya.


Sedikit rasa takutnya memudar melihat seseorang yang begitu membuatnya hatinya di penuhi ketakutan akan rasa kehilangan.


"*Bisakah kamu akan memberikan ku satu kesempatan lagi sayang?" batin Akmal


Banyak hal yang ingin Akmal ucapkan di depan Fika namun hanya tertahan di hatinya.


Mengetahui ayahnya menjadi penyebab semua kesedihan Fika hari ini membuat setumpuk keberanian untuknya bicara menyusut.


"Maaf." lirih Akmal dengan lelehan air mata yang sudah tak tertahan lagi


Ia sungguh takut akan kehilangan cintanya, sesuatu yang untuk pertama kalinya ia miliki dalam hidupnya.


Sesuatu yang membawa kebahagiaan dalam hatinya untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Seseorang yang sanggup menggetarkan hatinya setelah bundanya*.


"Mungkinkah ini akan menjadi akhirnya?" batin Akmal


__ADS_2