
Keesokan paginya Akmal bergegas ke rumah Fika untuk menjemputnya seperti biasa. Ia semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak, sejak ia meninggalkan rumah Fika setelah mengantarnya Fika mematikan ponselnya.
Akmal sangat takut jika kemarahan Fika tidak akan menguap begitu saja. Ketika Akmal sampai ibu Fika yang membukakan pintu pun terkejut karena melihat Akmal datang.
"Assalamualaikum calon ibu mertua. " sapa Akmal dengan hangat
"Waalaikum salam calon mantu ibu yang ganteng, loh kok kamu dateng sih?" jawab ibu lalu mempertanyakan kedatangan Akmal pagi itu
"lah, kan aku tiap pagi juga kesini mau jemput Fika bu." jelas Akmal melihat ibunya Fika yang terheran akan kedatangannya
"Iya ibu juga tahu, tapi Fika bilang tadi kamu gak bisa jemput dia. Jadi dia berangkat tadi pagi-pagi sekali bawa mobil sendiri." ucap ibu menjelaskan
"Yah, aku lupa bu tadi gak kasih kabar lagi jadi mau jemput. Kirain belum berangkat Fika nya?" jelas Akmal pura-pura lupa mengabari Fika
Bagaimanapun juga ia tidak bisa mengatakan kepada calon ibu mertuanya itu jika mereka sedang bertengkar. Akmal pun berpura-pura lupa jika acaranya batal dan belum memberitahu Fika jika ia akan menjemputnya.
Akmal pun segera pamit undur diri dan kembali mengendarai mobilnya menuju kantor Fika. Itu masih terlalu pagi dan jam masuk kantornya masih lama, pasti Fika sengaja ingin menghindari Akmal.
Sementara Fika telah sampai di kantornya sejak tadi. Ia duduk sambil menelengkupkan kepalanya ke atas meja. Sebenarnya ia masih mengantuk karena ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Ia sengaja berangkat lebih pagi agar bisa menghindari Akmal.
Entah kenapa perasaan kesal dan cemburunya tak juga menguap setelah satu malam. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tidak ingin menemui Akmal.
Walaupun tidak bisa di pungkiri ia juga merindukan sosok laki-laki yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Ia sudah terbiasa tidak bertemu dengan kekasihnya itu.
Namun rasa kecewa, kesal, juga cemburu mengalahkan rasa rindunya. Egonya membuatnya menahan diri untuk bisa menemui Akmal.
Tentu saja tidak adil rasanya jika Fika memaafkannya dengan mudah. Karena tentu saja melihat sebegitu posesifnya Akmal terhadapnya.
Jangankan bisa berbicara dengan laki-laki lain, mereka yang menatap fika lebih dari 5 detik saja sudah berubah menjadi tanda bencana baginya.
__ADS_1
Fika masih mencoba berpikir bagaimana ia harus bersikap selanjutnya. Haruskah ia memaafkan Akmal dengan mudah atau memberinya sedikit pelajaran. Ia benar-benar kesal jika mengingat tatapan mengejek Risa.
Seakan ia sangat tidak pantas untuk menjadi kekasih Akmal. Tatapan mata dan kata yang keluar dari mulutnya mempunyai arti berbanding terbalik.
Dan Fika tahu sikapnya itu seakan menunjukkan jika Fika tidak ada apa-apanya di bandingkan dengannya. Padahal awal pertemuan mereka di toilet itu cukup terlihat sebagai gadis yang menyenangkan.
Fika masih sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari kedatangan Radit disana. Ia masih mengetuk-ngetukan dengan pelan kepalanya di meja.
Radit yang baru datang pun merasa aneh dengan apa yang sedang Fika lakukan. Ia pun langsung menaruh tas kerjanya di meja dan beralih mendekati meja Fika.
Ia mulai bimbang, apakah harus menyapanya dan menanyakan keadaannya atau tidak. Karena tidak biasanya Fika datang pagi-pagi sekali. Dan ia tampak sedang ada masalah, namun peduli pada urusan orang lain bukanlah gayanya.
Sejurus kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk kembali ke mejanya. Namun Fika yang mulai berhenti mengetuk-ngetukan kepalanya di meja dan mulai menegakkan kepalanya pun terkejut melihat Radit ada di depannya.
"Mas Radit loh kapan datang?" tanya Fika nampak kaget
"Sejak kau kelihatan seperti orang tidak waras." jawabnya santai dengan wajah datar
Namun Radit hanya tersenyum kecil melihat ekspresi kesal di wajah Fika begitu menggemaskan pikirnya.
"ngapain lihat-lihat gue nanti jatuh cinta baru tahu rasa lo." ucap Fika asal sambil berdiri melangkah keluar ruangan
"aku memang sudah jatuh cinta sama kamu sejak lama.. Afika" gumamnya dalam hati
Sebenarnya sudah sejak lama Radit menyukai Fika namun karena kepribadiannya yang tertutup ia seolah merasa kesulitan untuk bisa dekat dengan Fika .
Flashback,
Fika adalah gadis yang ceria dan suka ceplas-ceplos, sementara ia sangat datar dan dingin. Ia tidak tahu bagaimana caranya harus mendekati Fika walaupun ia sangat menyukainya.
__ADS_1
Radit menyimpan perasaannya dalam diam. Tak jarang Radit menunggui Fika ketika Fika harus lembur dan beralasan jika pekerjaannya pun belum selesai. Namun yang sebenarnya, ia sengaja ingin berlama-lama dengan Fika di kantor.
Setelah Fika pulang ia pun langsung bergegas pulang namun ia akan mengantarkan Fika diam-diam dengan mengikuti mobilnya. Setelah memastikan Fika tiba di rumah dengan selamat ia akan pulang ke rumahnya.
Radit bukanlah tipe laki-laki yang mudah menunjukkan perasaannya. Setiap kali ia berusaha mendekatkan dirinya dengan Fika yang terjadi justru sebaliknya.
Ia akan berakhir dengan membuat Fika berdecak kesal karenanya. Baginya Fika itu berbeda, ia adalah satu-satunya gadis yang berhasil masuk di hatinya.
Sampai suatu hari ia melihat Fika di antar oleh seorang laki-laki yang akhirnya menjadi kekasihnya. Hatinya seperti tertimpa batu besar, dan di tusuk ribuan belati. Ia patah hati, sebelum bisa menunjukkannya.
Radit sangat kesal dengan dirinya sendiri, ia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan gadis yang selama 3 tahun terakhir ini mengikat hatinya.
Ia telah kalah sebelum sempat untuk berjuang. Melihat hubungan Fika yang semakin hari semakin dekat dengan kekasihnya membuat hatinya sakit dan sesak.
Ia berusaha melupakan Fika dan semakin tinggi tembok yang ia pasang antara dirinya dan Fika. Ia berusaha untuk menjauh dan tidak selalu memikirkannya.
Namun lagi-lagi ia gagal, ia tak mampu melupakannya. Bayang-bayangnya semakin melekat di hati dan pikirannya. Hingga akhirnya pak Aksa mengadakan acara makan malam bersama 1 divisi.
Akhirnya Radit memiliki kesempatan untuk melihat Fika lebih dekat. Bahkan ia sendiri yang mengantarkan Fika pulang. Walaupun bibirnya mencoba menolak namun hatinya merasa sangat senang.
Untuk pertama kali ia mempunyai kesempatan mengantarkan gadis yang sangat ia cintai itu. Sepanjang perjalanan ia mencuri pandang pada Fika yang terlihat tampak murung.
Wajahnya menunjukkan kecemasan yang sudah aku tahu untuk siapa. Namun berada dekat dengannya seperti itu saja sudah membuat hatinya cukup bahagia.
Aku berpura-pura langsung pergi setelah ia turun, namun ketika ia sudah masuk ke rumahnya aku kembali. Aku memandang rumahnya cukup lama.
Ku buka tas kerjaku di kursi belakang dan ku ambil sesuatu di dalamnya. Sebuah kado yang sudah aku siapkan sejak lama. selama 3 tahun, setiap Fika ulang tahun aku menyiapkan kado untuknya.
Namun aku tak pernah cukup punya keberanian untuk memberikannya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Afika Sasi Kirana. I love you."