My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Lamaran part 2


__ADS_3

Icha menuntun Fika menuju halaman belakang yang di ikuti tatapan kagum semua orang melihat Fika yang tampil sangat cantik mengenakan sebuah gaun semi kebaya berwarna peach.


Ayah dan ibu begitu terharu melihat putri sulung mereka yang dulu selalu berpenampilan tomboy tersebut kini terlihat begitu cantik dan anggun.


Ia sudah begitu dewasa dan tak terasa sebentar lagi akan di pinang oleh laki-laki yang mereka ketahui pun sangat mencintai putri mereka.


Kini mereka berdua duduk berhadapan di dampingi orangtua masing-masing setelah menyapa kedua orangtua Radit dan juga kedua saudaranya.


Devan merasa tidak asing dengan wajah Fika, ia merasa pernah melihat Fika di suatu tempat. Lain halnya dengan Fika yang tidak mengenali Devan sama sekali.


Hanya saja Radit sudah mengatakan jika ia memiliki saudara tiri laki-laki yang sebaya dengannya. Jadi Fika sudah bisa menebak jika Devan adalah saudara tirinya Radit.


"De, pantes aja cinta mati. Cakep juga calon ipar kita." Cetus Devan berbisik di telinga Hana yang hanya menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan sifat Devan yang cerewet.


Hana hanya mengabaikannya, karena ketika Devan sudah memulai pembicaraan akan sulit untuk mengakhirinya dengan cepat.


Ia hanya ingin fokus pada acara melihat bagaimana acara lamaran tersebut akan berlangsung dan berjalan lancar.


"Garing ah." cibir Devan yang tidak mendapatkan respon dari sang adik.


"Selamat malam, pak Angga dan keluarga. Terimakasih sebelumnya karena sudah menyambut kedatangan kami dengan sangat baik di rumah ini."


"Seperti yang sudah bapak dan ibu ketahui, malam ini saya datang membawa keluarga untuk bersilaturahmi dan juga mempererat hubungan keluarga di antara kita. Tentunya dengan melamar nak Afika putri bapak dan ibu, untuk putra saya Radit."


"Kami sangat berharap niat baik dari putra kami yaitu Radit yang ingin mempersunting nak Afika untuk menjadi istrinya bisa diterima dengan baik." ucap papa Randi.


"Selamat malam, bapak dan ibu beserta keluarga. Terimakasih dan selamat datang di rumah kami yang sederhana ini. Ketika pertama kali saya mendengar tentang niat baik nak Radit untuk datang kemari beserta keluarga, untuk melamar putri kami tentu kami sangat bahagia."


"Bagi seorang ayah, seorang putri adalah seperti permata yang berharga yang selalu ia jaga dengan sepenuh hatinya. Tidak mudah untuk memberikannya kepada orang lain, begitu juga dengan saya. Tidak mudah, untuk melepaskan putri saya ini untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak." Ujar ayah sambil menatap putrinya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Namun saat ini saya merasa sangat bahagia, bisa mempercayakan putri saya pada nak Radit. Kami bisa melihat betapa besar nak Radit mencintai putri kami. Nak Radit, om dan tante sangat merestui niat baik kamu. Kami hanya meminta tolong jaga, dan bahagiakan putri kami selamanya." sambung ayah membuat suasana haru begitu terasa di sana.


"Sebagai orangtua, kami hanya bisa memberikan restu kami untuk nak Radit dan juga Fika putri kesayangan kami. Tapi semua kembali pada jawaban dan keinginan Fika sendiri. Bagaimana nak, apakah kamu bersedia menerima lamaran dari nak Radit dan juga keluarga?" tanya ayah pada putrinya yang masih tertunduk diam disana.


Fika merasa sedikit gugup dengan acara lamaran tersebut. Meskipun saat ini ia belum bisa memastikan apakah ia mencintai Radit atau tidak, namun ia masih percaya jika Radit adalah pilihan terbaiknya saat ini.

__ADS_1


"Fika bersedia ayah, untuk menerima lamaran dari mas Radit." jawab Fika dengan tersenyum lembut, setelah terdiam selama beberapa saat menetralisir kegugupannya.


"Alhamdulillah." ucap semua orang secara serentak.


Semua orang terlihat sangat bergembira begitu pun juga dengan Radit. Ia sangat bahagia dan masih sedikit tidak percaya jika akhirnya Fika bisa menerimanya.


Ini adalah hal yang sudah ia tunggu-tunggu sejak dulu, akhirnya ia bisa mendapatkan satu-satunya perempuan yang ia cintai sejak lama.


Setelah mendengar jawaban Fika yang menerima lamaran Radit, acara di lanjutan dengan mama Sarah yang memakaikan satu set perhiasan berupa cincin, gelang dan juga sebuah kalung yang sangat indah pada Fika.


Ia sengaja memesan perhiasan yang khusus ia desain sendiri untuk acara lamaran Radit ini. Walaupun dalam waktu yang singkat, akhirnya perhiasan tersebut bisa di selesaikan dengan cepat.


Semua orang tampak bahagia dalam acara tersebut. Dan telah di putuskan, jika pernikahan akan di laksanakan dalam waktu 1 bulan.


Pernikahan akan di laksanakan di Surabaya karena kini Fika dan keluarga sudah menetap disana. Segala sesuatu tentang pernikahan akan di bicarakan lebih lanjut dalam acara makan siang bersama esok harinya.


Setelah menyelesaikan prosesi lamaran tersebut, mereka pun tampak berfoto bersama. Setelah selesai, mereka pun makan bersama di meja yang telah di sediakan.


Tidak lupa juga papa Randi pun memperkenalkan Devan pada semua orang sebagai putranya juga. Karena hanya Devan yang belum di kenal oleh keluarga Fika.


"Fika, terimakasih. Terimakasih untuk kesempatan yang kamu berikan. Aku janji, aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan kamu." ucap Radit sambil menggenggam lembut tangan Fika dan menatapnya dalam.


"Aku juga berharap suatu hari nanti, kamu bisa mencintai aku seperti aku sangat mencintai kamu." sambungnya terdengar sedikit sedih.


"Aku akan berusaha mencintai kamu mas, dan aku sudah memulainya sejak sebelum malam ini." jelas Fika membuat Radit begitu bahagia.


"Aku sangat bahagia malam ini." ujar Radit sambil menarik Fika ke dalam pelukannya.


Fika pun hanya bisa menerima perlakuan Radit walaupun rasanya sedikit canggung. Fika berusaha untuk membiasakan dirinya dengan Radit.


Apalagi dalam 1 bulan mereka akan menikah, dan Fika harus mulai terbiasa dengan Radit. Namun tiba-tiba saja Icha dan Hana datang menghampiri mereka.


"Ehem, ehem. Duh kak Icha tenggorokan Hana kok tiba-tiba gatel ya?" cetus Hana membuat Fika dan Radit sedikit terkejut dan salah tingkah.


"Iyah nih Han, kakak juga jadi gatal tenggorokannya. Apalagi liat ada yang lagi mesra-mesraan disini." sindir Icha ingin menggoda kedua calon pengantin.

__ADS_1


Fika hanya bisa tersipu malu menanggapi kedua orang gadis yang tiba-tiba saja sudah terlihat begitu akrab.


"Sudah, sudah. Kalian tuh ganggu aja tahu gak? Mereka kan lagi kangen-kangenan." ujar Devan yang tiba-tiba saja sudah berada disana entah sejak kapan.


"Mas Devan juga disini, kalau bukan mau gangguin kayak kita mau apalagi coba ?" cibir Hana yang sangat mengenal betul siapa kakaknya itu.


Devan itu sangat jahil, ia juga sangat suka mengganggu orang lain. Walaupun karakternya bertolakbelakang dengan Radit namun dulu mereka sangat dekat.


"Han, ya sudah lebih baik kita nyari spot yang bagus buat foto yuk. Kak Devan benar, kita harusnya kasih waktu buat mbak Fika sama mas Radit buat berdua." ajak Icha menarik Hana menjauh dari sana.


"Ya udah bro, gue cabut dulu. Selamat melepas rindu, eh inget tapi jangan sampai berlebihan ya bukan muhrim." ejek Devan berbisik di telinga Radit.


Terang saja Radit di buatnya kesal namun ia menahannya di depan Fika. Ia tidak ingin calon istrinya tersebut berpikiran buruk tentang hubungannya dengan Devan.


Devan pun langsung bergegas meninggalkan Fika dan Radit dengan gelak tawa yang tertahan.


.


.


.


.


.


.


.


**Mohon maaf readers, karena kesibukan di dunia nyata membuat author baru sempat untuk up.


Jangan lupa dukung terus karya author ini dengan like, komen dan jangan lupa untuk di favoritkan yaa biar bisa dpet notif tiap update perbab nya .


Hatur thankyouu 😍**

__ADS_1


__ADS_2