My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Pernikahan part 1


__ADS_3

Fika POV


Setelah penantian yang panjang akhirnya tiba hari dimana ada seseorang yang akan mempersunting aku sebagai istrinya. Gunung es itu akhirnya mencair dan menghangat.


Acara akad nikah dan pesta kecil-kecilan akan di adakan di aula outdoor cafe milik ku dengan tema pesta kebun. Hanya pesta kecil-kecilan atau anggaplah sebagai syukuran.


Semua keluarga, kerabat dan sahabatku sudah berkumpul di tempat acara sejak 1 jam sebelum akad di mulai.


Menjelang 45 menit sebelum akad, mas Radit beserta keluarga pun datang dan langsung di sambut dengan baik oleh keluarga besarku.


Saat itu aku baru saja selesai di rias, aku mengenakan set kebaya modern berwarna putih yang menjuntai ke lantai bermotif bunga dengan payet yang tidak terlalu mencolok.


Baju ini merupakan pemberian dari mama Sarah yang khusus ia pesan dari salah satu desainer kenamaan di ibukota. Dengan riasan untuk pengantin adat Jawa timur, aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.


Semua orang yang melihatku setelah selesai di make over benar-benar berdecak kagum dan memuji ku yang terlihat cantik dan berbeda.


Pantas saja, lagi-lagi mama Sarah yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku itu sengaja mengirimkan seorang MUA profesional yang tentunya terbiasa di gunakan jasanya oleh orang-orang kalangan atas.


Di ruang kerjaku yang sudah di sulap menjadi sebuah ruang make up kini, aku hanya bisa menunggu dalam kegugupan yang setiap detiknya terasa seperti sedang akan berperang.


Lebih gugup daripada perasaan ketika sedang sidang skripsi menghadapi para dosen pembimbing yang sangat susah di buat puas oleh kerja keras kita.


Suara ketukan pintu menyadarkan aku dari lamunan yang sudah entah berantah membawaku kemana. Kemudian pintu terbuka membawa kedua sahabat ku ke dalam.


"Arrgghh, Fikaa gue masih gak percaya lo bakal nikah hari ini sih." ujar Nayla berseloroh heboh sembari menuntun putranya menghampiri ku.


"Iyah Fik, kamu cantik banget hari ini. Selamat ya, akhirnya kamu berhasil mencairkan gunung es yang kaku itu." timpal Alana yang membuat kami semua tertawa.


"Wow, gunung es? kayaknya ada romansa yang menarik nih disini." ujar Nayla menggodaku.


"Apaan sih Nay? kayak belum tahu aja kisah gue sama Radit gimana ?" ujar ku.

__ADS_1


"Ya kan gue tahunya pas lo udah disini, waktu kalian kerja bareng kan gue gak tahu. Nah itu yang lagi gue kepoin." ujarnya.


"Ya nanti deh ya, em ini gue udah rapi bener kan?" tanyaku sekali lagi memastikan.


"Cieee, yang mau jadi penganten segugup itu ya?" ujar Dafa tiba-tiba menghampiri ku.


Entah sejak kapan dia ada disana, kami bertiga tidak menyadarinya. Ia menghampiri ku dan memberikanku sebuah kertas yang sudah di lipat-lipat kecil.


"Nih, dari calon suami." ujar Dafa.


Aku pun mengambil kertas tersebut dan a tersenyum ketika membukanya.


*Aku ingin melihat pengantin ku yang cantik. Berfoto lah bersama sahabat-sahabat kamu, biarkan aku melihatnya melalui mereka. Tersenyumlah secantik mungkin, jangan terlalu gugup. Semuanya akan berjalan lancar.


Sebentar lagi kita akan bertemu.


I Love you*,


"Biar lebih romantis dong sayang." jelas Dafa berbisik di telinga Alana membuatnya mengangguk mengerti.


"Apaan sih Fik, isi suratnya? Gue jadi kepo juga deh." tanya Nayla penasaran.


"Em, mas Radit minta kita foto bareng aja kok." jelasku sambil tersenyum.


"Yaelahhhh gak di suruh juga kita pasti bakal foto kan?" ujar Nayla memutar bola matanya jengah.


"Tau nih Radit tuh jurang romantis banget sih gini hari masih aja kirim surat-suratan." timpal Alana.


"Udah, gak usah debat. Gue yang fotoin kalian bertiga sekarang ayo." ujar Dafa yang langsung di setujui semuanya.


Aku berdiri di antara Nayla dan mbak Alana yang menggendong anak mereka masing-masing. Sesaat hatiku mulai merasakan bahagia dalam momen ini.

__ADS_1


"Mungkinkah aku sudah mulai mencintai kamu mas? Aku tidak tahu ini bernama apa, tapi hari ini aku benar-benar merasa bahagia dan beruntung bisa di cintai oleh laki-laki seperti kamu." batinku


Setelah berfoto mereka semua keluar dari ruangan dan kini aku hanya di temani oleh Icha dan Hana.


Karena acara akan segera di mulai mas Dafa, mbak Alana, dan Nayla pamit keluar untuk menyaksikan akad yang akan di laksanakan di halaman belakang cafe.


Detak jantungku semakin terpacu manakala Hana melakukan video call bersama Devan. Ia sengaja meminta bantuan Devan untuk memperlihatkan bagaimana keadaan diluar.


Seperti biasa mas Radit terlihat tenang walaupun aku bisa menangkap sedikit kegugupan di wajahnya. Tapi ia bisa menyembunyikan itu dengan baik di hadapan semua orang.


Dan akhirnya momen yang di tunggu pun tiba, ketika acara di mulai. Radit sudah duduk berhadapan dengan ayahku dan juga pak penghulu.


Sementara di kedua sisi ada para saksi pernikahan yang tidak lain adalah pamanku dan juga Radit. Seluruh tamu undangan yang tak lain hanya dari pihak keluarga tidak lebih dari 100 orang.


Meskipun tidak seramai pesta pada umurnya, namun suasana khidmat dan sakral benar-benar terasa di sini. Tak lama, ibu datang untuk menjemput ku.


Ia terlihat begitu bahagia, sebelum keluar dari ruangan ibu ku memelukku berkali-kali sambil mengucap syukur dan rasa bahagianya. Akhirnya pernikahan yang aku impikan akan segera terjadi.


"Sayang, kamu terlihat cantik sekali sampai ibu kamu ini tidak bisa mengenali kamu." ujarnya.


"Ibu sangat bersyukur karena kamu bisa menikah dengan laki-laki sebaik Radit. Sayang, ibu sangat berharap kamu bisa mencintai dan menghormati Radit seperti dia mencintai dan menghormati kamu."


"Jadilah istri yang baik dan berbakti pada suami kamu, lebih dari apa yang kamu lakukan kepada ibu dan ayah. Ingat nak, setelah kamu sah menjadi istri Radit maka saat itu juga dia yang harus kamu nomor satukan lebih dari siapapun."


"Berbahagialah sayang, ibu dan ayah akan selalu berdoa untuk kehidupan kamu yang hanya akan di isi oleh kebahagiaan." nasihat ibu membuatku benar-benar luruh bersama derasnya air mata yang mengalir tanpa bisa ku tahan.


"Sudah sayang, kamu jangan menangis. Ini hari bahagia kamu, tuh nanti luntur make up kamu." ucap ibu sambil menyeka air mataku.


Aku pun hanya bisa menumpahkan semua perasaan ku dengan memeluknya. Tidak lupa, aku mengucapkan terimakasih karena ibu dan ayah telah membesarkan ku dengan baik selama ini.


"Fika sayang ibu." ujar ku masih dalam dekapannya.

__ADS_1


"Ibu sangat menyayangi kamu sayang. Sudah, jangan menangis lagi. Ini adalah hari yang membahagiakan, tersenyum lah dan berbahagialah." ucapnya sambil merapikan ku kemudian mengajakku untuk segera keluar karena acara akan segera di mulai.


__ADS_2