My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Dukungan untuk Radit


__ADS_3

Setelah makan malam Radit langsung pamit pulang karena sudah larut ia tidak enak jika harus berlama-lama lagi disana. Bukan tidak ingin, hanya saja ia ingin memulai hubungan yang baik dengan Fika.


Ia tidak ingin terlalu terburu-buru dan berakhir dengan Fika yang akan menjauhinya karena merasa tidak nyaman.


Walaupun semua anggota keluarga Fika sudah memberikannya lampu hijau tapi Radit ingin bisa membuat Fika mencintainya secara perlahan-lahan.


"Fika, aku pulang." ucap Radit dengan berat hati.


"Baiklah, hati-hati di jalan." ucap Fika mengantar Radit ke depan rumahnya.


"Oia, bolehkah besok aku berkunjung ke cafe mu lagi?" tanya Radit ragu.


"Tentu saja, kenapa tidak? Mas Radit bisa datang kapanpun mas Radit mau selama mas Radit ada di kota ini." jawab Fika sambil terkekeh merasa lucu melihat ekspresi muka Radit.


"Ya, aku akan menghabiskan waktuku untuk menjadi pelanggan setiamu selama disini." Jawab Radit ikut tertawa kecil.


Radit pikir, ia akan menemukan sedikit kesulitan untuk mencari alasan agar bisa menemui Fika dengan mudah.


Ternyata Fika bisa bersikap jauh lebih santai dari pada biasanya. Radit pun merasa lega di buatnya.


Ketika Radit sudah pergi mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Fika ia tidak sengaja melihat sebuah mobil berwarna hitam sedang terparkir di dekat rumah Fika.


Betapa terkejutnya Radit melihat siapa yang duduk di kursi kemudi mobil tersebut.


"Akmal." gumam Radit pelan sambil melewati mobil Akmal.


Begitupun Akmal, ia menatap Radit ketika melihat ke arahnya. Akmal dengan sengaja memberikan senyuman remeh pada Radit.


Dari tatapan matanya, Akmal seolah berbicara jika ia akan merebut Fika kembali dan tidak akan membiarkan Radit mendekatinya.


Radit tidak menghentikan mobilnya dan memilih melewatinya begitu saja. Ia tidak ingin membuat Fika curiga jika ia berhenti disana.


Radit sudah mengetahui apa yang terjadi dengan keluarga Hutama selama ini. Karena ia selalu menyuruh seseorang untuk mengawasi mereka.


Akmal kini terjun ke dunia bisnis bersama kakaknya Akhtar. Dalam waktu singkat perusahaan mereka di Bandung mengalami kemajuan yang cukup besar.


Tentu saja Radit menjadi semakin waspada, ia juga semakin berusaha keras untuk bisa tetap berada di atas Akmal.


Kali ini ia tak akan kalah dari Akmal, apalagi menyangkut Fika. Radit akan berusaha keras untuk mendapatkan Fika, dan membuatnya melupakan Akmal.

__ADS_1


Ia tidak akan diam lagi dan hanya melihat gadis yang ia cintai di miliki oleh laki-laki lain. Aroma permusuhan pun tercium sangat pekat antara mereka.


Baik Radit dan Akmal akan sama-sama berusaha mengejar Fika dan mendapatkannya.


Setelah Radit pergi, Fika segera masuk ke rumahnya. Icha dan kedua orangtuanya sudah menunggunya sejak tadi di ruang keluarga.


"Loh kalian ngapain?" tanya Fika terheran melihat ketiganya seperti sedang menunggu sesuatu.


"Gimana mbak, mas Radit sudah pulang?" tanya Icha segera menghampiri Fika .


"Sudah, kenapa dek?" tanya Fika.


"Besok kesini lagi gak ?" tanya Icha sambil menggandeng tangan lengan Fika menariknya ke hadapan orangtuanya.


"Betul itu, mbak. Besok ajak aja nak Radit makan disini lagi. Ibu akan masakin makanan yang enak dan spesial."saran ibu begitu bersemangat.


"Kalau ayah sih, setuju sama ibu. Nak Radit pemuda yang baik dan ayah cocok sama dia." Timpal ayah membuat Fika menatap ketiganya secara bergantian dengan terheran-heran.


"Kalian ngomong apa sih? Kenapa aku harus ngajak mas Radit kesini lagi? Ayah juga, apanya yang cocok coba bikin mbak bingung aja." cerocos Fika melihat keanehan keluarganya.


"Yah mbak, mbak Fika tuh gimana sih? Kita kan lagi kasih dukungan buat mbak pdkt sama mas Radit."jelas Icha gemas


"Tunggu dulu, jadi kalian pikir aku dan mas Radit ada apa-apanya gitu? Ya ampun" tanya Fika lalu tertawa keras mendengar dugaan keluarganya tersebut.


"Ayah, ibu ini tuh kita yang bodoh apa emang mbak Fika sih yang telmi ?" tanya Icha gemas.


"Ibu juga heran ini sama mbak mu, bisa-bisanya dia tidak sadar jika Radit itu sedang mendekatinya. Dasar payah !" ucap ibu menepuk jidatnya melihat putrinya dan memilih beranjak pergi ke kamarnya.


"Ayah, no comment!" ujar ayah mengikuti langkah ibu.


"Kamu juga, mau ikut-ikutan lagi?" tanya Fika sambil menarik Icha kembali duduk ketika ia hendak berdiri.


"Ih, mbak ! gak usah tarik-tarik dong." keluh Icha menggelembungkan pipinya kesal.


"Lagian, kalian tuh pada gak jelas. Udah tahu mas Radit ini tuh cuma teman lama mbak. Yang kebetulan lagi liburan aja disini, dia gak kenal siapapun disini makanya dia minta mbak temenin dia." jelas Fika tidak ingin membuat keluarganya terlalu berharap.


Walaupun sebenarnya memang ia merasa ada banyak hal yang mengganjal dihatinya, namun ia tidak bisa mengatakan apapun sebelum semuanya benar-benar jelas.


Dan kalaupun ke depannya apa yang di ucapkan oleh Icha mungkin benar, ia rasa tidak mungkin ia bisa bersama dengan Radit.

__ADS_1


Bukan hanya karena ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Radit, tapi ia juga sudah tahu siapa sebenarnya Radit sejak di pertemuan mereka di danau dulu.


Ia tidak bisa berurusan kembali dengan seseorang yang suatu hari nanti akan menjadi seorang pewaris dari perusahaan besar.


Walaupun kepribadian tuan Mahendra sangat berbeda dengan tuan Hutama namun mereka tetaplah terlalu berbeda dan tidak pantas. Kedudukan mereka berdua bagaikan bumi dan langit yang tidak mungkin bersatu.


Fika tidak akan pernah berani berharap untuk kedua kalinya pada hal yang terlalu tidak mungkin ia gapai.


Sudah cukup tuan Hutama menghancurkan keluarganya beberapa waktu lalu. Ia tidak mungkin membiarkannya mengulang kejadian yang sama terulang kembali.


"Tolong, jangan pernah bahas masalah ini lagi. Radit itu gak seperti yang kita bayangkan, mbak gak mungkin sama dia." jelas Fika lagi.


"Baiklah." jawab Icha dengan sedikit kecewa.


Ia tidak ingin terlalu memaksa Fika untuk segera menikah, bagaimanapun semua hal yang sudah mereka lewati saat ini bukanlah sesuatu yang mudah.


Mungkin Fika belum siap untuk kembali memulai sebuah hubungan, pikir Icha. Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing dan berisitirahat.


Fika tidak bisa langsung memejamkan matanya karena banyak hal yang saat ini berkeliaran bebas di kepalanya.


Ia pun mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas nakas. Terlihat beberapa pesan singkat dari nomor Radit, ketika mereka jalan-jalan siang tadi Radit meminta nomor handphone Fika yang baru.


Radit


Selamat malam dan selamat berisitirahat. Terimakasih untuk hari ini, sampai jumpa besok.


Fika hanya tersenyum kecil membaca pesan yang Radit kirimkan. Sesungguhnya ia sedikit takut jika yang Icha katakan padanya menjadi sebuah kebenaran.


"Mungkinkah?" batin Fika.


Radit adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, hanya saja Radit terlalu sempurna untuknya.


"Tidak, tidak mungkin. Aku berpikir terlalu jauh."gumam Fika dalam hati segera mengenyahkan segala prasangka dihatinya.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia pun memutuskan untuk membalasnya.


Fika


Selamat malam, ya sampai jumpa lagi.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Fika membalas pesannya. Radit sangat senang walaupun hanya mendapatkan balasan kalimat yang sederhana.


Baginya dengan Fika membalas pesan tersebut, itu sudah cukup istimewa.


__ADS_2