
Sementara kedua keluarga Fika dan Radit tengah berbahagia dengan acara lamaran sekaligus pertunangan yang di adakan tertutup lain halnya dengan Rendra Hutama.
Setelah ia berhasil membuat marah sahabatnya itu, ia dibuat benar-benar kerepotan dengan balasan yang di berikan oleh Randi .
Randi menarik semua investasinya dari perusahaan Rendra. Bahkan ia juga telah membatalkan banyak kerjasama antara kedua perusahaan yang sudah berjalan sejak hampir 20 tahun .
Jika Randi memulai bisnisnya dari nol, lain halnya dengan Rendra. Sejak dulu keluarganya sudah menjadi pengusaha cukup besar di pulau Jawa.
Ia hanya melanjutkan bisnis keluarga dan kerajaan bisnis yang telah kakeknya bangun dari nol sejak ia masih muda.
Karena itulah ia menjadi sangat sombong, sejak kecil ia sudah hidup dengan bergelimang harta. Ia tidak pernah merasakan susah dan jatuh bangunnya membangun bisnisnya.
Karena itu Randi memberikan peringatan keras pada Rendra melalui perusahaannya. Ia sengaja membuat Rendra menanggung kerugian yang teramat besar dalam bisnisnya.
Randi sudah sangat mengenal Rendra sejak lama, ia sangat tahu jika Rendra adalah orang yang tamak yang mampu menghalalkan segala cara untuk menghasilkan uang.
Dari pada menyakitinya secara langsung, lebih baik jika Randi membuatnya kehilangan banyak uang yang sangat ia cintai. Randi benar-benar muak pada sahabatnya itu, ia bahkan bisa melukai Radit walaupun mereka bersahabat sangat lama.
Sementara di Bandung, kini hidup Akmal dan juga ibunya menjadi sangat baik. Akhtar berusaha memfokuskan dirinya untuk membangun perusahaan peninggalan sang kakek agar bisa mengungguli perusahaan ayahnya suatu hari nanti.
Ia sudah bertekad untuk menjadi lebih sukses dari sang ayah dan membuatnya menyesal telah menyia-nyiakan keluarganya sendiri. Ia akan membuat ayahnya menyesal karena lebih mencintai uang dari pada istri dan anak-anaknya.
Kini keluarga mereka baik-baik saja dan selalu bahagia. Begitupun dengan Zahra, ia tidak pernah membuka akses komunikasi dengan ayahnya itu sekalipun.
Baginya kini, hanya bunda Rania lah yang akan menjadi satu-satunya orangtua yang ia miliki.
Setelah menolong Hana dari jurang beberapa waktu lalu, Akmal memutuskan untuk pergi ke beberapa tempat di daerah untuk mendapatkan gambar yang bagus.
Ia akan memulai karirnya dari nol sebagai seorang fotografer profesional. Akmal akan melanjutkan kuliahnyadi luar negeri untuk menjadi seorang fotografer profesional yang terbaik.
Namun sebelum pergi, ia ingin berkeliling ke beberapa daerah untuk mendapatkan foto yang bagus. Kini ia bisa lebih menikmati waktunya tanpa terlalu mengingat Fika.
Sesekali ia akan merindukannya, namun ia tidak ingin berlarut memikirkan masa lalu. Ia sudah mengambil keputusan untuk membiarkan Fika bahagia dengan melepaskannya.
Terkadang seberapa besar pun kita mencintai seseorang, jika bersamanya hanya mendatangkan kesulitan akan lebih baik bagi kita untuk melepaskannya.
Mencintai tidak berarti selalu harus memilikinya.
__ADS_1
Mencintai bisa jadi merelakan dan melepaskan.
Ketika kita benar-benar merasakan cinta yang tulus untuk seseorang, maka tidak ada cara paling sempurna untuk mencintai seseorang selain meninggalkan demi kebaikannya.
Hari di mana Fika dan Radit melaksanakan acara lamaran sekaligus pertunangan mereka, Akmal sedang mendaki sebuah gunung di Nusa Tenggara Barat.
Selama hampir 10 hari ini ia hanya menghabiskan waktu berpetualang menjelajahi beberapa tempat. Ia sengaja pergi mendaki untuk mencari objek yang akan ia foto.
Ketika ia melakukan perjalanan di alam bebas, ada ketenangan tersendiri bagi hatinya. Ia bisa melupakan banyak hal yang terus menerus menghantui pikirannya sepanjang waktu.
Ia ingin menikmati saat-saat terakhirnya di Indonesia dengan mendaki beberapa gunung di beberapa pulau. Setelah itu ia akan melanjutkan pendidikannya dengan tenang.
Selama perjalanannya ia tidak pernah menghubungi siapapun termasuk keluarganya. Ia ingin menikmati perjalanannya tanpa memikirkan hal apapun.
~~
Keesokan paginya, Radit terbangun di kamar apartemennya bersama seseorang di ranjangnya. Dalam keadaan setengah sadar dengan mata terpejam, Radit memeluk mesra seseorang di sampingnya.
Ia rasa ia sedang bermimpi jika ia bangun tidur dengan Fika yang sudah berada di sampingnya. Senyumnya mengembang dengan sempurna menyadari hal tersebut.
Sementara Devan yang sedang tertidur di samping Radit pun mulai membuka matanya perlahan. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan dekapan seseorang di sampingnya yang semakin menguat.
Begitu ia membuka matanya, hal yang pertama ia lihat adalah wajah Radit yang tengah tersenyum dengan mata tertutup. Spontan saja Devan pun berteriak membuat Radit terlonjak kaget dan terbangun.
Radit pun berteriak kesal menyadari jika yang ia alami tadi bukanlah sebuah mimpi melainkan kenyataan yang buruk. Bagaimana tidak? Ia memeluk Devan erat dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Lo ngapain di kamar gue ?" bentak Radit kesal.
"Elo yang ngapain di kamar gue ?" balas Devan tak kalah garang.
Namun beberapa saat kemudian ia pun tersadar jika ia salah. Itu memanglah kamar Radit, dan apartemen miliknya juga. Devan pun memasang wajah tanpa dosa sambil tersenyum lebar.
"Iya, sorry gue lupa." jelas Devan cengengesan menyadari kesalahannya.
"Lagian, di apartemen lo ini cuma ada 3 kamar dit. Gue bingung mau tidur dimana? Masa iya gue tidur sama Hana? Jadi tengah malam tadi gue pindah kesini. Gue gak nyaman tidur di sofa dit." sambungnya lagi kemudian berjalan turun dari ranjang menuju sofa di pojok kanan kamar tersebut.
Radit yang malas berdebat dengan Radit di pagi hari memilih mengabaikannya setelah mendengar penjelasannya. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhir Radit keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat jauh lebih segar. Ketika ia lihat sekeliling kamarnya sudah tidak ada Devan disana.
Radit pun langsung berganti pakaian setelah memastikan mengunci pintu kamarnya dengan benar. Setelah berpakaian ia raih ponsel kesayangannya yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.
Hal yang pertama ia buka adalah aplikasi pesan chatting yang selalu ia gunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia terus menerus menscroll layar ponselnya ke atas dan ke bawah.
Namun tidak nampak juga satu pesan pun yang Fika kirimkan untuknya bahkan setelah mereka baru saja mengadakan acara pertunangan.
Ada sedikit rasa kecewa yang tiba-tiba menelusup ke dalam hati Radit, pikirannya mulai berterbangan memikirkan tentang mungkin saja jika Fika tidak akan pernah bisa mencintainya.
Beberapa saat ia terpaku dalam lamunan sampai akhirnya tersadar dengan bunyi dering telpon masuk di ponselnya.
Wajah Radit seketika berubah cerah, melihat nama penelpon di layar yang sedang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
"Selamat pagi, calon istri." sapa Radit dengan semangat.
"Selamat pagi mas." jawab Afika tersenyum di sebrang telpon.
"Kamu sudah selesai mandi mas?" tanya Fika.
"Kok kamu tahu aku habis mandi?" tanya Radit sedikit heran.
"Kan tadi aku udah telpon kamu, cuma mas Devan yang angkat katanya kamu lagi mandi." jelas Fika membuat Radit sedikit lega.
Ternyata Fika benar-benar mencoba untuk membuka hati untuknya. Ternyata Fika sudah mulai memberikan perhatian padanya. Radit sedikit menyesal telah berpikiran buruk mengenai Fika walaupun sesaat.
"Mas, halo mas.. kamu dengar aku kan?" tanya Fika membuat Radit kembali tersadar.
"Oh iyaa, aku denger kok. Kamu udah sarapan?" tanya Radit mengalihkan.
"Udah mas, ini udah hampir jam 8 loh. Kalau kamu pasti belum kan? Lebih baik kamu cepat sarapan sekarang. Jam 10 nanti kan kita ada pertemuan keluarga lagi buat bahas rencana pernikahan." ujar Fika membuat Radit sangat bahagia.
Jangankan mendengar Fika mengucapkan kata pernikahan, memikirkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia.
"Ya sudah, aku tutup dulu ya telponnya. Bye." Ujar Radit hendak mengakhiri telponnya.
"Bye." jawab Fika .
__ADS_1