My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Kamu, kemana?


__ADS_3

Malam harinya pkl. 19.00 wib kami semua sudah berkumpul di restoran yang telah di booking oleh pak Aksa. Dan bahkan sampai saat itu Akmal belum membalas pesanku sama sekali.


Aku sedikit khawatir karena tidak biasanya dia seperti ini. Semua karyawan dari divisi keuangan telah berkumpul di sebuah meja yang memang sudah di pesan untuk 10 orang .


Selama beberapa tahun bekerja, ini adalah pertama kalinya team 1 dan team 2 mengadakan acara makan malam bersama.


Karena memang kami tidak sedekat ini dengan manager keuangan yang sebelumnya. Walaupun begitu, tidak ada kecanggungan di antara kami karena memang sudah lama bekerja bersama.


Sebelum acara di mulai, aku memilih untuk mencari tempat untuk menelpon Akmal. Tidak biasanya dia seperti ini, tentu saja aku sangat merasa khawatir.


Sesibuk apapun dia, setidaknya ia akan tetap mengabariku setiap beberapa jam. Namun sudah sejak pagi dia tak menghubungiku sama sekali bahkan tidak membalas satu pun pesan yang aku kirimkan.


Aku langsung menelponnya, namun sampai panggilan ke 3 masih belum di jawab olehnya. Aku menjadi semakin khawatir, karena tidak biasanya Akmal hilang tanpa kabar seperti ini.


Tapi aku bingung harus menghubungi siapa lagi, karena aku memang tidak mengenal satu pun temannya ataupun orang-orang yang bekerja dengannya.


Walaupun dia memang sudah bilang jika seharian ini dia akan sangat sibuk namun tidak pernah sampai seperti ini.


Aku pun mencoba menelponnya kembali berharap dia akan mengangkatnya. Namun sudah lebih dari 5 kali tetap saja tidak ada jawaban darinya.


"Kamu kemana sih? kenapa gak di angkat sih?" gumamku pelan sambil terus mencoba menelponnya.


"Ah, ya ampun saya kaget banget pak, saya kira siapa?" ucapku sambil memalingkan tubuhku menghadap pak Aksa yang tiba-tiba datang menghampiri ku.


"Kenapa kamu masih disini? semua orang sudah nunggu di meja. Mari kita mulai dulu acaranya." ajak pak Aksa.


"Baik pak, silahkan bapak duluan saya nyusul di belakang " ucapku sopan.


"Loh, kenapa ? ayok kita sama-sama aja kenapa kamu harus nyusul ?" ucapnya terheran.


"Maaf pak, saya mau ke toilet dulu sebentar" kilah ku.


"Oh, baiklah kalau begitu. Saya duluan yaa Fika jangan lama-lama." ucapnya kembali menepuk bahuku sambil tersenyum lebar.


Entah kenapa sikap pak Aksa belakangan ini terasa semakin aneh. Jika kami berpapasan di kantor pun dia selalu bersikap sangat ramah padaku.


Lama tidak pernah bertemu, dia sudah sangat berubah dari yang ku tahu dulu. Kini ia lebih terlihat santai dan ramah terhadap semua orang.

__ADS_1


Karena dulu, selain tampan dia itu sangat irit bicara dan terlihat sangat dingin. Kecuali dengan Cintya pacarnya semasa kuliah dulu.


Pak Aksa terlihat sangat mencintai kekasihnya itu, senyumnya yang hangat perhatiannya dan segala hal yang dia lakukan selalu terlihat manis.


Bahkan mereka di juluki sebagai the most favourite couple di kampusku. Pasangannya paling serasi, paling hangat, dan pasangan paling romantis.


Dulu aku sempat sangat menyukainya, walaupun hanya bisa sebatas mengaguminya dalam diam karena aku sangat menyadari siapa diriku.


Bahkan sampai sekarang dia tidak mengingat jika kami pernah satu kampus bahkan satu jurusan.


Kami hanya beda 1 tingkat saja, tapi kami sama-sama menekuni olahraga yang sama yaitu basket.


"Ahh, kenapa jadi flashback masa lalu ya? sudahlah." ucapku menyadari hal konyol yang malah ku ingat sampai sekarang.


Ketika aku kembali semua orang sudah berkumpul di meja dan dan akan mulai menyantap makan malam mereka.


Makanan telah tersaji di meja ketika aku datang dan semua orang pun akhirnya makan setelah pak Aksa meminta semua orang untuk bersulang menikmati wine yang telah ia pesan.


Hanya aku dan beberapa dari kami yang mengganti wine dengan orange jus. Sejujurnya aku sangat tidak menyukai minuman seperti itu, dan aku juga takut jika nanti aku akan pulang dalam keadaan mabuk jika meminumnya.


Bisa-bisa ayahku akan membuang ku ke tong sampah di jalanan dan tidak memberiku ijin masuk ke rumah ketika pulang.


Pak Aksa walaupun tidak terlihat bertingkah konyol namun dia terlihat cukup mabuk karena selain wine dia juga memesan beberapa botol minuman beralkohol.


Mas Dafa sengaja hanya minum sedikit karena ia pikir ia harus menyetir untuk mengantarkan kekasihnya pulang.


Dan Nindy sudah memesankan beberapa taksi online untuk teman-temannya yang sudah mabuk pulang ke rumahnya masing-masing.


Ia sengaja tidak minum karena ia tau jika semua orang mabuk maka mereka semua tidak akan bisa sampai ke rumah.


Karena itu memastikan dirinya benar-benar sadar demi mengatur kepulangan 3 orang rekannya dari tim 2 .


Karena bagaimanapun ia merasa bertanggung jawab sebagai leader dari tim 2.


Sementara pak Aksa di jemput oleh asisten pribadinya yang juga kekasih dari sekretarisnya yang sudah terlihat mabuk berat.


Hanya tinggal kami berempat yang belum pulang, mas Dafa bertanya bagaimana aku akan pulang.

__ADS_1


Sementara Radit, entahlah apa yang ia tunggu sejak tadi ia hanya diam mematung menunggui kami bertiga.


"Fika kamu mau sekalian di Anter sama mas Dafa?" tanya mas Dafa.


"Enggak usah mas, Fika biar naik taksi aja." ucapku menolak dengan halus.


"Udah malem Fik, emang Akmal gak jemput kamu? biasanya dia tuh protect banget sama kamu?" cerocos mas Dafa merasa heran dengan sikap Akmal yang tidak seperti biasanya.


"Gak apa-apa mas, dia lagi ada project soalnya jadi lagi sibuk banget. biarin Fika nanti naik taksi aja." jelas ku.


"Radit, lu aja deh anterin Fika. kasian dia udah malem gini masa pulang sendiri naik taksi?" usul mas Dafa meminta mas Radit untuk mengantarkan ku .


"Lohh gak apa-apa mas Dafa aku udah pesen taksi kok beneran gak apa-apa pulang sendiri aja." kilahku.


"Tuh kan, lu denger sendiri orangnya aja gak mau gue anter, udah ah gue balik bye." ucapnya sinis sembari melirik tajam padaku.


Belum sampai 2 langkah, mas Dafa langsung menarik tangannya menghentikan mas Radit.


"Dit, please deh sekali ini aja gue minta tolong. Gue gak bakal tenang pulang kalau Fika harus naik taksi. Tega banget lu ah." hardik mas Dafa kesal


"Kan bukan gue yang nolak, dia sendiri yang gak mau gue anter." ucapnya sambil melirik kesal


Membuatku menunduk tidak enak hati, entah kenapa selama ini Radit rasanya tidak pernah menyukai ku.


Dia selalu bersikap dingin padaku, entah kenapa. Karena itu aku merasa cukup segan untuk merepotkannya .


"Please , Dit " ucap Dafa membujuk dengan lembut


"Arrggghh, ya sudahlah ayo cepetan ikut ! " ucapnya kesal sambil menarik tanganku menuju parkiran mobilnya.


Mas Dafa pun menganggukkan kepalanya memintaku untuk ikut dengan Radit.


" Baiklah." lirihku pelan.


Aku pun berjalan mengikuti Radit menuju parkiran dimana tempat mobil Radit terparkir rapi.


Akhirnya aku harus pulang dengan si Radit yang menyebalkan itu, dia bahkan tidak berbicara padaku sama sekali setelah itu.

__ADS_1


Ia hanya menanyakan alamat rumahku lalu kami tidak saling bicara selama perjalanan sampai ke rumah ku.


Aku hanya bisa menatap jalanan dari kaca mobil di sampingku itu, cuacanya sangat cerah, langit malam terlihat indah dengan taburan bintang-bintang yang terlihat bersinar terang.


__ADS_2