My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Extra part 4


__ADS_3

Setelah pertemuan terakhir itu mereka tidak pernah lagi bertemu. Karena Akmal memilih untuk mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Semenjak malam itu, Hana beberapa kali menelponnya dan mengirimkan beberapa pesan teks.


Akmal tidak pernah membalasnya dan hanya membiarkannya. Ia akui ada sedikit ketertarikan terhadap diri Hana. Tapi entah kenapa hatinya merasa belum siap untuk memulai sebuah hubungan yang baru.


Bukan karena ia tidak bisa melupakan cinta pertamanya, hanya saja tahun-tahun penuh kesendirian yang ia lewati membuatnya terlanjur nyaman. Dan tidak mudah baginya untuk kembali membuka hatinya dengan begitu mudah untuk orang lain.


Lain halnya dengan Akmal yang mempercepat kepulangannya, justru Hana malah menunda-nunda kepulangannya dan beralasan jika ada sesuatu yang harus ia selesaikan sebelum ia pulang ke Indonesia.


Ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah ia bisa tetap mempertahankan harapannya selama bertahun-tahun. Hana begitu yakin, jika tidak ada pertemuan hanya untuk sebuah kebetulan.


Pasti ada alasan kenapa ia di pertemukan kembali dengan laki-laki yang terus mengisi khayalannya selama bertahun-tahun. Tapi tiba-tiba saja nomor Akmal tidak bisa ia hubungi.


Ia bahkan berkeliling setiap hari menjelajahi Sidney untuk menemukan Akmal. Namun tidak ada yang ia dapatkan selain kekecewaan. Setelah hampir 1 minggu menunda kepulangannya, akhirnya Hana dan Devan pulang ke tanah air bersama.


Mama dan papanya sudah menunggu di Bandara dengan tidak sabar. Mereka begitu antusias ketika melihat putri kecilnya dulu sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Devan berjalan di samping adiknya dengan senyum mempesona membuat setiap pasang mata kaum hawa tak jenuh menatapnya.


Di usianya yang sudah begitu matang, Devan belum juga menikah. Mama sarah sudah berupaya untuk menjodohkan putranya itu dengan putri teman ataupun koleganya. Namun Devan selalu menolak dan memiliki cara untuk membatalkan perjodohan tersebut.


Di usianya yang kian matang, Devan terlihat begitu santai menjalani hidupnya. Ia bahkan bisa berpindah-pindah ke beberapa negara dalam 2 tahun. Semua keluarga sudah mencoba membujuknya, tapi Devan selalu beralasan jika ia hanya belum menemukan pasangan yang tepat.


Mama Sarah dan papa Randi pun langsung memboyong keduanya ke rumah utama. Radit dan Fika sudah menunggu mereka di rumah. Mereka tidak ikut menjemput Hana dan Devan karena mereka sendiri pun baru tiba 1 hari sebelumnya di Jakarta.


Mereka menghabiskan waktu 1 minggu lamanya untuk honeymoon di Kanada. Dan begitu pulang, tentu saja putri kecil mereka sudah menunggu dengan kesal karena terlalu merindukan kedua orangtuanya.


Begitu sampai di rumah utama, Radit dan keluarga kecilnya sudah menunggu untuk menyambut mereka semua. Kali ini bukan lagi kakak atau kakak iparnya yang Hana temui pertama kali.


Melainkan keponakan kecilnya yang lucu dan menggemaskan menjadi pilihan pertama untuk ia peluk dan dekap dengan erat.

__ADS_1


"Aaahhh, sayangnya Aunty kenapa cantik sekali??" ujar Hana memeluk tubuh mungil gadis kecil itu dan tak lupa mendaratkan kecupan di kedua pipi bulatnya.


Gadis kecil tersebut nampak sebal dengan perlakuan Hana yang selalu menciumi dan memeluknya secara berlebihan.


"Aunty, stop! Aku sudah besar, dan bukan bayi lagi." rengek Nasyilla dengan wajah sebal membuat semua orang tertawa gemas dengan tingkahnya.


"Hei, hei hei. Katakan sayang, siapa yang menganggap mu seperti bayi? Uncle akan memberi tahunya jika putri cantik kesayangan uncle David adalah seorang gadis yang menawan." ujar David setelah menghampiri Nasyilla lalu menggendongnya.


"Uncle menggendong ku, itu artinya uncle juga menganggap aku adalah bayi seperti mereka semua." ujarnya sambil merengek kesal melihat reaksi semua orang di sana semakin tertawa ketika melihatnya.


"Sudah, sudah. Syilla sayang, bukankah kau adalah gadis pintar?" ujar Fika berjalan mendekat.


Nasyilla yang sejak awal merengek dan menangis di depan semua orang pun langsung menghentikan tingkahnya begitu mendengar suara bundanya.


"Turunlah sayang, uncle Devan dan juga Aunty Hana masih sangat lelah. Mereka baru saja tiba, jadilah anak baik oke." ujar Fika yang langsung di angguki oleh putri kecilnya itu.


Dengan cepat ia langsung turun dari pangkuan Devan. Fika pun memanggil seorang pelayan untuk mengajak putrinya bermain sebentar ke halaman belakang.


"Sekali lagi, selamat sayang untuk kelulusanmu." ujar Fika membelai lembut rambut adik iparnya.


"Apa kalian hanya akan menyambut Hana? Kalian tidak merindukanku huh? apakah begitu?" tanya Devan berpura-pura kesal membuat Radit menghampirinya.


Mereka pun berpelukan selama beberapa saat. Dan Radit pun membisikkan sebuah kelimat yang membuat Devan seketika menjauhkan dirinya dari Radit.


"Tidak ada lagi alasan bagimu untuk terus berkeliaran. Pekerjaan sudah menunggumu." ucap Radit dengan suara lebih keras sehingga semua orang bisa mendengarnya.


Sementara Devan masih belum berkutik di buatnya dan hanya membulatkan kedua matanya menatap tajam ke arah Radit.

__ADS_1


"Itu benar nak, kini papa sudah tua. Radit sudah menjalankan perusahaannya sendiri, papa rasa sudah saatnya kamu dan Hana untuk turut mengurusnya mengganti papa." ujar papa Randi membuat Devan kembali tersadar pada dunia nyata.


Pikirannya mendadak kosong selama beberapa saat setelah mendengar kalimat yang Radit bisikan di telinganya. Ia masih tidak menyangka jika hal yang sudah ia coba tutupi setengah mati bisa di ketahui oleh saudara tirinya.


Semua orang tampak larut dalam suasana kebersamaan. Malam harinya, Radit dan Fika pun berpamitan kepada semua orang untuk pulang setelah mereka selesai makan malam bersama.


Radit tampak menggendong putri kecilnya itu yang kini sudah berusia hampir 4 tahun. Walaupun begitu ia adalah gadis yang sangat cerewet dan juga pemberani. Ia sangat pandai bicara dan pandai memikat hati setiap orang yang melihatnya.


***


Begitu sampai di apartemen, Radit dan Fika langsung membawa putri kecilnya yang tertidur di pangkuan papanya itu untuk ke kamarnya. Sudah 1 tahun sejak akhirnya Nasyilla tidur di kamarnya sendiri.


Fika dan Radit tidak terlalu memanjakan putri mereka itu karena ingin agar putrinya bisa tumbuh sebagai gadis yang mandiri. Bahkan sejak menikah, Fika tidak pernah mau memperkerjakan seorang asisten rumah tangga di apartemen mereka.


Hanya ketika Fika tengah hamil, Radit memaksa untuk memperkerjakan salah seorang pelayan di rumah orangtuanya un5bisa bekerja di rumah mereka sampai Fika melahirkn.


Karena itulah, Nasyilla tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan juga sangat cerdas. Fika tidak suka melihat ada orang lain di apartemen mereka. Ia lebih suka mengurus semuanya sendiri, karena ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang padat.


Setelah menidurkan putri kecil mereka, Radit langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style begitu mereka berada di depan kamar Nasyilla.


"Mas, kamu apaan sih? Turunin aku gak sejarang?" ujar Fika memprotes sikap suaminya itu.


Tanpa memberikan jawaban Radit langsung mencium gemas bibir ranum istrinya itu sembari menggendongnya ke arah ruang keluarga. Itulah kenapa Radit menyetujui istrinya untuk tidak memperkerjakan orang lain di rumah mereka.


Agar ia bisa bebas bermesraan dengan istrinya dimana pun di setiap sudut rumah mereka dengan nyaman. Fika pun hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan suaminya itu yang sudah di bakar kabut gairah.


Selama ini ia tidak pernah keberatan dengan keinginan suaminya itu tentang dimana mereka bisa bermesraan atau berhubungan sekali pun. Asalkan putri kecil mereka sudah tertidur pulas dk kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, misi kita selanjutnya adalah menyiapkan seorang adik laki-laki yang tampan untuk Nasyilla." ujar Radit dengan suara terdengar lebih berat sembari mengecup setiap jengkal leher istrinya.


Fika hanya bisa tersipu malu mendengarkan perkataan Radit. Meskipun mereka sudah berjalan selama 5 tahun, tetapi Radit selalu memperlakukan Fika dengan baik. Tidak pernah sedikit pun ia berani melukai hati istri yang begitu ia cintai.


__ADS_2