
Dalam suasana yang sunyi dan romantis keduanya memulai hubungannya yang baru sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.
Walaupun awalnya Fika merasa ragu, tapi kini Radit sudah bisa membuatnya begitu yakin jika ia akan menjadi suami terbaik untuknya.
Di bawah cahaya rembulan, dan di tengah terpaan angin laut yang begitu sejuk mereka saling bercumbu mengikis dahaga masing-masing yang seperti sedang kehausan di tengah Padang gurun yang kering.
Beberapa lama bibir mereka saling bertautan dan saling menyesap dengan begitu lembut. Perlahan bibir Radit mulai berpindah ke leher jenjang istrinya itu, menyesapinya dan memberikannya sebuah tanda disana.
Satu tangannya sudah mulai berkeliaran menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya yang ia sentuh dengan begitu lembut dan sangat hati-hati layaknya sebuah porselen yang begitu berharga.
Fika mulai merasakan tubuhnya seperti terkena sengatan nikmat yang membuainya secara tidak sadar dan membuatnya mengeluarkan desahan yang tertahan di tenggorokannya itu.
Radit terus menciumi setiap inci kulit tubuh istrinya itu hingga ia tidak menyadari jika ia sudah polos tanpa sehelai benangpun. Fika hanya merasakan suatu kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia hanya bisa mendesah nikmat manakala suaminya itu memainkan kedua benda sintalnya dengan begitu bergairah. Setelah puas meremas dan memilin kuncup berwarna merah jambu milik istrinya itu, menyesapinya dan menghisapnya seperti bayi yang tengah kelaparan.
Setelah puas bermain dengan kedua gunung kembar milik istrinya itu, satu tangannya ia gunakan untuk bermain di area bawah istrinya yang itu yang semakin membuat Fika menggelinjang penuh nikmat.
"Welcome to the new world sweety." bisiknya di telinga Fika dengan suara paraunya itu.
Setelah ia puas bermain dengan kedua bukit kembar milik istrinya itu, akhirnya ia berpindah pada area inti sang istri yang sejak tadi ia biarkan.
Sambil ******* bibir istrinya dengan penuh gairah, satu tangan Radit kini sudah bermain dengan pusat tubuh sang istri dengan begitu lembut. Yang tentu saja semakin meluluh lantakkan tubuh Fika merasakan kenikmatan.
Rasa malu pun sudah tertutup dengan gairah penuh kenikmatan membuat suasana semakin memanas ketika bibir sensual Radit sudah berpindah pada area inti milik istrinya. Memberikan *******-******* kecil dan sesekali menyesapnya lalu menelusupkan lidahnya untuk ke dalam.
Dan saat itu, Fika sudah tidak bisa menahan lagi erangan dan desahan yang sejak tadi berusaha ia coba tahan dan tercekat di tenggorokannya.
"Keluarin sayang, jangan di tahan."bisik Radit kembali di telinga istrinya.
Radit terus bermain di pusat tubuh istrinya itu sampai akhirnya untuk pertama kalinya Fika bisa mencapai puncak kenikmatan bernama klimaks yang tentu saja yang membuatnya basah.
Walaupun ini sama-sama untuk pertama kalinya mereka melakukan sebuah hubungan intim tapi keduanya sudah cukup dewasa dan tahu dengan apa saja yang akan mereka lakukan.
Setelah puas membuat istrinya mengeluarkan cairan penuh kenikmatan, yang membuat istrinya itu menggila. Radit kembali bermain dengan tubuh istrinya itu dan menariknya kembali dalam sebuah gairah yang menginginkan lebih dari apa yang sejak tadi mereka lakukan.
__ADS_1
Sampai saatnya tiba untuk penyatuan keduanya, Fika sedikit takut karena sebelum pernikahan Nayla terus menakut-nakuti dirinya dengan bayangan mengerikan tentang malam pertama.
"Sweety, i want you." bisik Radit kembali di telinga istrinya yang hanya bisa di jawab dengan anggukan kecil oleh istrinya.
"Ini akan sedikit sakit, kamu boleh menggigit ku ataupun mencakar punggungku tapi aku akan berusaha selembut mungkin." ucapnya lagi membuat seketika pipi istrinya merona merah.
Dengan penuh kelembutan ia mencoba untuk memasuki istrinya yang tentu saja terasa begitu menyakitkan bagi Fika. Radit pun langsung ******* bibir istrinya itu untuk sedikit mengurai rasa sakit yang istrinya rasakan.
Radit menepati ucapannya dan melakukannya dengan penuh kelembutan. Bagaimanapun ini adalah kali pertama untuk keduanya. Radit tidak ingin memberikan kesan yang buruk, untuk malam pertama mereka berdua.
Fika hanya bisa mengeluarkan air matanya dengan jerit yang tertahan antara rasa nikmat dan perih yang datang secara bersamaan.
Setelah miliknya bisa menembus selaput dara sang istri yang akhirnya robek, selama beberapa saat Radit bermain disana sampai akhirnya ia pun bisa mencapai klimaks dan menyemburkan benih di rahim istrinya itu.
"Terimakasih sudah membuat ku menjadi yang pertama, i love you." ucap Radit tersenyum lembut lalu ia berikan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.
Radit pun merengkuh tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya. Ia kecup bahu terbuka sang istri dan menempatkan kepalanya di ceruk lehernya.
Bagaimanapun juga ia begitu bangga pada istrinya itu yang bisa menjaga diri di tengah gaya hidup kekinian yang banyak menuntut adanya free sex dalam suatu hubungan.
"Masih sakit?" tanya Radit sambil mengelus lembut milik istrinya tersebut.
"Maafin aku sayang, aku sudah berusaha untuk selembut mungkin tapi karena ini yang pertama untuk kita jadi rasanya akan sakit. Tapi setelah kamu terbiasa, ini tidak akan sakit lagi. Kamu hanya akan merasakan kenikmatan dalam permainan kita." ucap Radit membuat kedua pipi istrinya seketika merah merona.
Radit pun mengajak istrinya untuk tidur dan berisitirahat karena jika tidak, ia akan kembali tergoda dengan kemolekan istrinya itu dan menjajahnya lagi untuk kedua kalinya sampai keduanya bisa mencapai puncaknya bersama.
"Ya sudah, sebaiknya kita istirahat dulu
kamu pasti lelah kan sayang?" ujar Radit yang hanya di angguki oleh Fika.
Tidak butuh waktu lama bagi Fika untuk terlelap, sementara Radit tak juga kunjung memejamkan matanya karena sangat bahagia. Ia tidak berhenti tersenyum sambil memandangi tubuh polos sang istri yang sedang terlelap memunggunginya.
Dengan tubuh yang masih polos Radit memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia mengambil celana yang ia kenakan tadi, untuk ia pakai kembali. Radit mengambil sekotak rokok yang ia taruh di atas nakas dan berjalan ke arah balkon.
Dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana santai ia pun mengambil satu batang rokok untuk ia hisap. Hampir 1 jam lamanya Radit terus menghisap batang rokok sambil menatap kosong air laut yang bergelombang di gulung ombak.
__ADS_1
Fika pun yang menyadari suaminya tidak ada di atas ranjang menjadi terbangun. Matanya sudah sangat mengantuk tapi ia juga penasaran kemana suaminya pergi. Di liriknya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 dinihari.
"Mas.. mas Radit." panggil Fika dari atas ranjang.
Radit pun yang mendengar teriakkan sang istri segera mematikan batang rokok miliknya dan berlari menghampiri sang istri kembali ke dalam.
"Ada apa sayang? ini masih jam 3 pagi, tidur lagi ya." ujar Radit yang sudah duduk di atas ranjang sembari membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Aku ke bangun, terus kamu gak ada. Aku pikir kemana?" ujar Fika mengutarakan isi pikirannya.
"Aku di balkon sayang gak bisa tidur, jadi aku merokok sebentar disana." jelas Radit sembari memperlihatkan sekotak rokok yang ia miliki.
"Kamu merokok mas? " tanya Fika sedikit terkejut.
Pasalnya selama bertahun-tahun mereka bekerja bersama menjadi 1 tim, ia tidak pernah melihat Radit merokok.
"Belum lama sih, semenjak kamu pindah ke Surabaya aku mulai mencoba rokok ketika aku tidak bisa tidur ataupun banyak hal yang sedang aku pikirkan dan membuat aku sedikit stress." jelas Radit membuat Fika mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Memang sekarang kamu sedang memikirkan apa sampai kamu gak bisa tidur?" tanya Fika penasaran.
"Aku memikirkan bagaimana cara membuat kamu bertahan selamanya di sisiku. Aku takut suatu hari nanti, kamu akan pergi meninggalkan aku." jawab Radit ingin menggoda istrinya.
"Kamu tuh mas, aku nanya serius kok malah bercanda sih." protes Fika dengan bibir mengerucut.
"Jangan cemberut, dan jangan menggodaku." ucap Radit sambil membelai lembut bibir istrinya.
Radit pun langsung mencium bibir istrinya
dengan lembut dan **********.
"Tidurlah sayang, kecuali jika kamu masih ingin kita bercinta lagi sampai pagi buta." bisik Radit langsung di telinga istrinya.
Blussh, kedua pipinya mendadak merona kemerahan mendengar godaan sang suami.
"Mas, ini aku masih sakit. Nanti aja ya." ucap Fika sedikit malu-malu.
__ADS_1
"Hem, ya sudah makanya kamu langsung tidur sekarang." ucap Radit sembari kembali mengecup singkat bibir sang istri.
"Manis." ujarnya menatap wajah istrinya yang masih dalam keterkejutan.