
Sebenarnya Fika merasa terheran dengan Radit yang lebih banyak diam dalam pembicaraan mereka. Dan perlahan suaranya terdengar begitu sedih dan putus asa.
"Kalau begitu mari kita akhiri hubungan kita sampai disini sebagai rekan yang saling mendukung." ucap Fika lagi seketika menyentak hati Radit yang sejak tadi begitu patah hati.
"Maksud kamu?" tanya Radit dengan suara yang sedikit bergetar.
"Untuk memulai sebuah hubungan bukankah aku harusnya tidak menganggap kamu sebagai rekan ataupun saudara lagi bagiku?" tanya Fika balik sebagai bentuk kejelasan.
Dadanya bergemuruh hebat mendengar ucapan Fika berikutnya. Apakah itu berarti mereka bisa memulai hubungan mereka sebagai pasangan? Apa artinya Fika akan mulai mencoba mencintainya? Semua pertanyaan itu langsung berkelebat di dalam pikirannya.
Perasaannya begitu campur aduk dengan kebahagiaan dan kebingungan yang bergantian mengisi kepalanya.
"Tolong jelasin maksud kamu yang sebenarnya, aku takut kalau aku salah mengerti dengan apa yang kamu ucapkan sejak tadi." ucap Radit menahan hatinya untuk tidak terlalu bahagia sebelum ada kejelasan.
"Artinya, mulai saat ini aku akan mencoba memandang kamu sebagai laki-laki dan bukan rekan atau seorang sahabat. Aku akan mulai mencoba untuk mencintai kamu mas." jelas Fika membuat Radit begitu meledak karena bahagia.
Akhirnya penantiannya selama bertahun-tahun ini tidak akan sia-sia. Radit tidak akan lagi menjadi pungguk yang merindukan bulan.
Fika memberikan Radit kesempatan untuk merasakan babak baru dalam hubungan mereka.
"Apa kamu serius? Kamu benar-benar akan melakukannya?" tanya Radit masih tak percaya.
"Aku serius mas, tapi aku punya 1 permintaan." ucapnya setelah menghela nafas cukup panjang.
"Apa ? Apapun yang kamu mau katakan saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin." ucap Radit dengan mata yang sudah berkaca-kaca bercampur haru.
"Aku ingin kita menikah secepatnya." ucap Fika membuat Radit bak tersambar petir mendengarnya.
Degg,
"A, apa? Me..menikah? Apa aku nggak salah dengar? Apa kamu benar-benar mau kita segera menikah? Sungguh?" tanya Radit begitu gugup sekaligus bahagia dengan apa yang Fika ucapkan.
"Ya, tentu saja aku serius. Aku ingin kita segera menikah, dan memulai hubungan kita yang baru dalam ikatan yang suci mas." jelas Fika .
"Fika, aku sangat bahagia mendengar permintaan kamu ini. Bahkan tanpa kamu minta pun aku sangat ingin melakukannya." ucap Radit.
__ADS_1
"Aku akan ke Surabaya secepatnya bersama keluarga aku untuk melamar kamu. Oh iya, papa, aku harus bilang papa mama dulu. Nabati aku telpon lagi, dah sayang." ucap Radit begitu tergesa-gesa mematikan telponnya sambil berlarian menuruni tangga.
Klik, telpon di tutup begitu saja tanpa Fika sempat berbicara. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat membayangkan tingkah konyol yang sedang Radit lakukan.
Dari suaranya yang terengah-engah saja Fika bisa tahu jika Radit sedang berlarian entah dimana.
"Semoga ini menjadi keputusan yang tepat." gumam Fika kembali menatap langit malam.
Sementara di kediaman Mahendra, Radit sedang membuat keributan di malam hari dengan berteriak-teriak memanggil kedua orangtuanya.
"Papa, ma.. papa dimana?" teriak Radit sambil berlarian di tangga.
Devan dan Hana yang tengah menonton film berdua di ruang mini bioskop yang ada di rumah tersebut sangat terganggu mendengar teriakan Radit yang terdengar seperti orang gila.
"Ah, shit! gue gak bisa konek sama alurnya denger suara teriakan si Ice man!" umpat Devan bergemerutuk suara giginya yang beradu menahan kesal.
"Haha, sabar ih mas Dev. Gitu aja kok kesal sekali. Gak sadar ya di rumah ini siapa yang suka bikin suara ribut?" Sindir Hana membuat Devan sedikit malu.
"Kamu tuh gitu banget sih sama mas." protes Devan sembari mengacak-acak rambut adik perempuannya itu gemas.
"Mas Devan! rambut aku jadi berantakan!" Hana merajuk kesal sementara Devan berlari keluar hendak menghampiri biang keributan.
Papa Randi dan mama Sarah pun langsung berlarian menghampiri sumber suara keributan dimana Radit tengah mencari mereka.
"Dit, sudah malam ! Kamu kenapa teriak-teriak begitu sih? Macam di hutan saja." ucap mama Sarah menghentikan Radit yang hendak kembali bersuara.
"Abis, mama sama papa susah banget di carinya dari tadi. Aku ke kamar gak ada, ruang kerja papa juga gak ada." ucap Radit berseloroh dengan senyuman yang tak hentinya mengembang.
Devan dan Hana yang ingin ikut mengomeli Radit pun mengurungkan niat mereka melihat senyuman yang begitu manis terus ia perlihatkan pada semua orang.
Dimana biasanya ia adalah orang yang begitu kaku. Jangankan bicara, tertawa saja sepertinya ia tidak bisa, pikir semua orang memandang aneh pada Radit.
"Mas Radit kenapa? Sakit ya?" tanya Hana polos langsung menempelkan punggung tangannya di kening Radit dengan sedikit berjinjit.
"Kamu apaan sih de?" kesal Radit menyentak tangan Hana agar menjauh.
__ADS_1
"Ya lagian mas Radit aneh banget dari tadi senyum-senyum terus sampe kering tuh gigi." ujar Hana meledek yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
"Sudah Hana, Radit jangan bertengkar." lerai papa Randi yang langsung membuat keduanya bungkam seketika.
"Ada apa nak, kamu mencari papa dan mama sejak tadi?" tanya mama Sarah.
"Ada hal penting yang pengen Radit bicarain sama papa dan mama. Bisa kita bicara?" jelas Radit, lalu meminta waktu kedua orangtuanya sebentar.
"Bertiga aja." ucap Radit membuat langkah Devan dan Hana yang mengikuti mereka terhenti.
"Gak asik Lo dit. Main rahasia-rahasiaan sama kita. Oke ! Gue sama Hana gak akan kepo ! Ayok de balik lagi nonton." ajak Devan yang langsung di angguki oleh Hana.
Sementara Radit dan kedua orangtuanya memutuskan untuk bicara di ruang kerja papa Randi. Setelah mereka bertiga masuk, Devan dan Hana pun dengan langkah yang begitu hati-hati mulai menempelkan telinga di pintu.
Mereka hanya berpura-pura pergi agar mereka tidak perlu berdebat dengan Radit lagi. Tapi mereka juga tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk menguping pembicaraan jika memang di perlukan.
Sementara di dalam ruang kerja papa Randi, Radit pun mulai menjelaskan mengenai rencananya untuk melamar Fika. Papa Randi pun sedikit terkejut mendengar keinginan putranya tersebut.
Walaupun ia sudah mengetahui dengan pasti bagaimana besarnya Radit mencintai Fika, tapi papa Randi juga tahu jika Fika tidak mencintai putranya tersebut.
Lain dengan reaksi mama Sarah yang begitu gembira mendengar keinginan putra sambungnya tersebut. Ia sudah sangat merasa cocok dengan Fika, dan mama Sarah pun tahu jika Radit begitu mencintai Fika.
"Kamu yakin?" tanya papa Randi sedikit ragu.
"Papa kok nanya nya begitu sih? Udah dit, gak usah dengerin papa kamu. Mama akan segera membuat persiapan untuk acara lamaran kamu. Mama seneng banget akhirnya Fika jadi mantu mama." ujar mama Sarah dengan penuh sukacita.
Radit pun tersenyum lembut mengerti kekhawatiran papa Randi yang memang beralasan.
"Pa, aku udah bicarain hal ini sama Fika dan kita sudah sepakat untuk menikah dalam waktu dekat." jelas Radit mencoba meyakinkan papanya.
"Baiklah jika memang hal tersebut sudah menjadi keputusan kalian berdua." ucap papa Randi setelah diam beberapa saat tampak memikirkan beberapa hal.
"Pokonya mama sama papa akan suport kamu terus dit. Mama tahu, mungkin Fika belum mencintai kamu tapi mama sangat yakin dia akan menjadi istri yang sangat baik untuk kamu. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." nasihat mama Sarah membuat hati Radit sedikit tersentuh.
Dulu sebelum ia tahu papanya menikah dengan mama Sarah, mereka sangat dekat. Radit benar-benar menganggap mama Sarah sebagai ibunya.
__ADS_1
Tapi karena rasa kecewanya yang telah di bohongi selama beberapa tahun, Radit memasang tembok yang begitu tinggi dengan mama Sarah.
"Mungkin ini waktu yang tepat untuk melupakan masa lalu." batin Radit menatap mama Sarah dengan tatapan yang sulit di artikan.