My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Fika POV part 1


__ADS_3

Fika POV


Hari itu di ruang ICU yang terasa sangat dingin dan menusuk kulitku, aku hanya bisa menatapinya yang terbaring dengan tubuh yang di penuhi oleh peralatan medis yang berfungsi untuk tetap menunjang hidupnya.


Tidak ada lagi Radit yang terlihat tampan dan penuh kharisma. Matanya benar-benar terpejam rapat seolah ia menikmati mimpi indahnya dalam tidur.


Cukup lama aku hanya bisa terpaku memandangi tubuh pria yang sejak beberapa hari ini selalu mengganggu hari-hari ku dan bersamaku hampir setiap waktu.


Awalnya aku hanya tahu jika kedatangannya ke kota ini beberapa hari lalu hanyalah untuk berlibur dan menikmati keindahan kota ini.


Tidak pernah terpikir hal lain di benakku tentangnya. Dulu, hubungan kami tidak terlalu dekat dan sering berselisih paham dalam pekerjaan.


Tapi terkadang dia juga yang selalu menolong ku pada akhirnya ketika aku benar-benar dalam kesulitan.


"Hei, gunung es.. Kenapa kamu terus tidur ? Apa kamu tidak rindu bertengkar denganku?" ucapku mulai mengajaknya berbicara.


"Papa kamu bilang, kamu bisa denger aku. Jadi aku bakal terus ngomong sama kamu, sampai kamu bosan dengerin aku." ucapku lagi mencoba sedikit tersenyum walau airmata tak bisa aku hentikan untuk tidak terjatuh.


"Mas Radit, bangun. Apa mas Radit gak mau bicara lagi sama aku?" lanjut ku mencoba menggenggam tangannya lagi.


"Maafin aku mas, maafin aku. Kalau aja aku gak ajak kamu pergi ke bukit itu dan nurutin saran kamu buat langsung pulang, pasti kamu sekarang masih baik-baik aja."ucapku lagi sambil menelungkupkan kepalaku di samping tubuhnya yang terasa sangat dingin.


Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya di samping tubuhnya tanpa ia hiraukan sedikit pun sampai kepalaku terasa berat dan sangat sakit.


"Mas Radit, aku akan sangat membenci kamu jika kamu tidak juga membuka mata kamu lagi sekarang. Aku gak akan pernah datang lagi kesini dan ketemu kamu lagi." ucapku sedikit mengancamnya.


Namun ia tetap hanya diam dan memejamkan matanya tanpa peduli padaku. Setelah beberapa saat aku merasakan jari jemarinya mulai bergerak dalam genggaman tanganku.


Dan terlihat airmata mengalir dari sudut matanya yang masih terpejam. Aku yakin dalam tidurnya ini, dia masih bisa mendengarkan aku dengan baik.


Hatiku merasa sedikit lega ketika ia bereaksi dengan caraku yang mengajaknya berbicara.


Aku pun memberi isyarat kepada om Randi agar ia masuk ke dalam.


Tak lama kemudian beliau pun masuk kembali dan menghampiri ku. Dan aku pun menceritakan tentang reaksi dari yang mas Radit tunjukkan ketika aku bicara padanya.


"Om, tadi aku yakin banget liat jari tangannya mas Radit gerak-gerak dikit. Dan om lihat, sudut mata mas Radit mengeluarkan air mata. Aku yakin om, mas Radit denger aku om."ucapku dengan sedikit antusias.


"Benarkah? Alhamdulillah ya Allah. Om akan segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Radit sekarang." jawab om Randi tak kalah antusias.

__ADS_1


Sesaat aku melupakan rasa sakit di tubuhku, dan merasa senang melihat perkembangan pada mas Radit.


Setelah itu ia pun membantuku untuk keluar dari ruangan yang lebih seperti lemari pendingin bagiku.


"Fika, om sangat berterimakasih karena kamu mau menemui Radit walaupun keadaan kamu masih seperti ini." ucap om Randi sambil berjongkok di depan ku yang masih terduduk di kursi roda.


Tiba-tiba saja kepala ku terasa semakin berdenyut sakit hingga tanpa sadar mencengkram tangan om Randi yang sedang menggenggam tanganku.


"Fika, kamu kenapa?" terdengar sayup-sayup suara om Randi terdengar panik dan mencoba memastikan keadaan ku.


Namun aku sudah tak bisa menahan lagi rasa sakit di kepalaku hingga pandanganku mengabur dan menggelap.


Entah apa yang terjadi setelah itu karena begitu tersadar hari sudah berubah menjadi malam.


Tapi aku memutuskan untuk kembali memejamkan mataku untuk mendengarkan percakapan ayah dan ibu mengenai kecelakaan ku.


***


Aku bangun kembali ketika waktu hampir menunjukkan pukul 11 malam di temani ayah yang tertidur di sebuah kursi di samping ranjang ku.


Kepalaku masih terasa sedikit pusing dan berat walaupun tidak separah tadi siang. Aku pun mencoba menerawang melihati seisi ruangan.


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya ayah sedikit terkejut.


"Iya yah, maaf yaa aku jadi bangunin ayah."jawabku merasa tak enak hati.


"Gak apa-apa sayang, ayah justru sangat senang melihat kamu sudah sadar." jelas ayah sambil mengelus lembut pipiku.


"Yah, gimana keadaan mas Radit sekarang?" tanyaku teringat jika hal terakhir yang aku ingat ketika aku keluar dari ruangannya.


"Radit sudah melewati masa kritisnya sayang. Tapi.." ucap ayah tidak melanjutkan perkataannya seperti orang yang penuh kebingungan.


"Tapi kenapa yah?" tanya ku menjadi sedikit takut.


"Radit masih koma, dia belum sadar sampai sekarang."jelas ayah membuat ku seketika merasa sesak.


"Kamu jangan sedih sayang, ayah yakin Radit akan segera sadar. Kita do'akan saja semoga Radit bisa cepat pulih." ucap ayah lagi membuat mataku kembali perih dan tanpa sadar meneteskan bulir air mata ku kembali.


Setelah hampir semalaman terjaga, pagi harinya ibuku membangunkan aku untuk sarapan pagi dan kebetulan ada dokter jaga yang berkunjung untuk memeriksa ku.

__ADS_1


Setelah selesai di periksa, ibu menyuapi ku semangkuk bubur yang terasa sangat hambar di lidahku. Aku sangat tidak berselera untuk makan, tapi ibu tetap memaksaku.


Walaupun tidak sampai 5 suapan, tapi itu sudah cukup untuk membuat perutku terasa penuh dan terisi.


"Bu, ayah kemana?" tanyaku yang tidak melihat ayah tidak ada di manapun.


"Ayah sedang pulang sebentar untuk mengambilkan pakaian ganti. Sebentar lagi juga pasti ayah kamu kembali." jelas ibu sambil merapikan mangkuk bekas makan ku.


Setelah makan, ibu membawaku ke kamar kecil untuk membantu membersihkan tubuhku. Rasanya aku sedikit malu, karena aku harus di bantu ibu untuk membersihkan diri karena tangan kiri ku yang patah.


Setelah selesai dan keluar dari kamar kecil, terlihat ayah sudah sedang duduk di sofa bersama om Randi yang langsung memberikan senyuman teduhnya padaku.


"Loh, ada ayah sama om Randi." sapa ku sambil di papah oleh ibu menuju bed pasien.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang ?" tanya om Randi.


"Baik om, sekarang Fika sudah baik-baik saja. Bagaimana kondisi mas Radit sekarang?" tanya ku balik padanya.


"Justru karena itulah om datang kesini, ada hal yang ingin om bicarakan."jelasnya membuat hatiku mendadak gelisah kembali.


"Mas Radit kenapa om? Apa kondisinya menurun lagi? Apa mas Radit masih di ICU ?" tanyaku mulai cemas.


"Tidak, tidak bukan seperti itu. Kondisi Radit sekarang sudah melewati masa kritis tapi dia masih belum sadar."jelas om Randi sedikit membuat hatiku lega.


"Dan om datang kesini untuk memberitahukan jika om dan tante Sarah sudah memutuskan untuk memindahkan Radit ke rumah sakit milik kami Jakarta."sambung om Radit yang entah kenapa membuat hatiku sedikit kecewa.


Jakarta dan Surabaya terlalu jauh untuk di tempuh, sudah pasti aku tidak bisa menjenguknya dalam waktu dekat ini sampai kondisiku sendiri benar-benar pulih. .


Aku hanya bisa menghela nafas pelan mencoba untuk terlihat lebih tenang. Sampai om Randi yang tiba-tiba saja menghampiri ku dan duduk di samping ku.


"Dan karena Radit tidak akan mau berada jauh darimu, maka itulah om ingin membawa dan memindahkan kamu juga ke rumah sakit kami. Karena jika Radit sudah siuman nanti, dia pasti akan sangat marah karena tak bisa melihat keadaan kamu dengan mata kepalanya sendiri." jelas om Randi lagi tiba-tiba membuat hatiku sedikit tenang.


"Apa kamu bersedia untuk di pindahkan bersama Radit nak?" tanya om Randi membuatku terpaku.


Bagaimana ini, aku sangat ingin mendampingi mas Radit ketika aku sudah pulih nanti. Tapi bagaimana jika om Rendra tahu aku kembali ke Jakarta.


Aku sudah mengetahui semuanya, jika kecelakaan ini bukanlah sebuah kecelakaan biasa melainkan karena di sengaja.


Sebenarnya semalam aku sudah sadar dan mendengar percakapan ayah dan ibuku. Jika kecelakaan ini adalah ulah om Rendra.

__ADS_1


__ADS_2