
Pagi hari Akmal terbangun di sebuah kamar yang asing. Ia pun mengerjakan matanya perlahan untuk mengumpulkan kesadarannya .
Kepalanya terasa berat dan ia kebingungan dengan apa yang terjadi padanya sebelumnya. Gemercik suara air terdengar dari kamar mandi menandakan ada seseorang disana.
Ia pun bangun perlahan mendudukan dirinya di atas ranjang yang asing. Setelah ia amati beberapa saat, ia pun berpikir jika mungkin sekarang ia tengah berada di hotel.
Di atas nakas telah tersedia segelas air jeruk hangat dan ia pun meminumnya. Setelah itu ia mulai mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Ia ingat jika ia pergi ke sebuah club malam bersama Akhtar. Ia menghabiskan beberapa botol minuman keras dan berakhir dengan mabuk.
Tak lama kemudian Akhtar pun keluar dari kamar mandi mengenakan lilitan handuk di pinggangnya. Ia pun melemparkan sebuah handuk ke wajah Akmal.
"Mandi lu sono." ucap Akhtar sembari mengambil paper bag berisi pakaian santai yang sudah ia pesan melalui online.
"Gak usah ngomong apa-apa, lu cepetan mandi kita pulang sekarang. Bunda udah nungguin kita." ucap Akhtar lagi ketika Akmal hendak bicara.
Akmal pun akhirnya mengikuti perintah sang kakak. Ia segera pergi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Akhtar pun hanya bisa menghela nafas cukup berat. Awalnya ia tidak ingin bundanya mengetahui semua itu. Namun karena semalam bunda menelponnya ia pun mau tidak mau menceritakan semuanya.
Bunda Rania terus menangis ketika Akhtar memberitahukan jika Akmal tidak jadi berangkat karena mengetahui insiden kecelakaan yang Fika alami.
Hanya saja Akhtar tidak memberitahukan semua kenyataannya. Biarlah nanti Akmal sendiri yang menceritakannya ketika mereka pulang nanti.
***
Di rumah sakit,
Hari ini Fika di jadwalkan akan melakukan operasi untuk memperbaiki tangannya yang patah. Sementara kondisi Radit semakin membaik setiap harinya.
Setiap hari mama Sarah datang untuk menungguinya. Walaupun hubungan mereka sudah canggung sejak dulu, namun mama Sarah tetap memperlakukan Radit dengan baik.
Ia tahu, Radit adalah anak yang baik hanya saja kepribadiannya yang dingin dan cuek membuatnya sedikit sulit untuk mendekatinya.
Walaupun Radit sering bersikap dingin padanya, tapi ia tahu jika Radit tidak pernah membencinya. Sebagai ibu sambung, ia tetap menyayanginya.
__ADS_1
Pagi ini mama Sarah datang ke rumah sakit bersama anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA. Sejak beberapa hari lalu ia terus merengek untuk ikut karena ingin menemui kakaknya.
"Assalamualaikum." ucap mama Sarah sambil membuka pintu ruangan VVIP tersebut.
"Waalaikum salam." jawab ayah, Fika dan Radit bersamaan.
Sementara sang putri bungsunya itu mengikutinya di belakang. Begitu mereka masuk, Hana putri bungsunya langsung berlari menghampiri Radit dan memeluknya.
"Hana pelan-pelan sayang, ingat mas Radit sedang terluka." ucap mama Sarah berusaha menasihati putrinya sambil meletakkan beberapa kantung makanan di atas meja.
"Maaf, mas. Hana cuma khawatir sama keadaan mas Radit." ucap Hana sendu.
Radit pun tersenyum lembut kemudian ia pun membelai rambut sang adik yang terlihat mulai menangis.
"Tidak apa-apa. Jangan menangis, mas gak apa-apa sekarang. Mas baik-baik saja." ucap Radit mencoba menenangkan adiknya.
"Maaf Fika, karena kamu harus melihat pemandangan penuh drama sepagi ini."ucap mama Sarah menghampiri Fika dan menyapanya.
"Gak apa-apa kok tante." jawab Fika tersenyum pada mama Sarah sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Aku baik kok tante. Siang ini aku udah bisa operasi tangan aku ini." jawab Fika .
"Oh, hari ini ya? Tante doain semoga operasi kamu berjalan dengan lancar ya sayang." ujar mama Sarah tulus.
Sementara Tante Sarah sibuk berbincang berdua dengan Fika, ia begitu berharap jika hubungan Fika dan Radit akan berubah menjadi hubungan yang serius.
Karena Fika, ia bisa melihat sisi Radit yang lain yang bahkan belum pernah ia lihat selama lebih dari 10 tahun ia menjadi ibu sambungnya.
"Mas, itu siapa kok bisa 1 ruangan sih sama mas? ini kan ruangan VVIP kok bisa ada pasien lain sih?" bisik Hana ke telinga Radit membuat Radit gemas dengan sikap adiknya yang kepo itu.
"Itu teman mas, kita kecelakaan bareng waktu itu. Cantik gak de?" jawab Akmal sambil berbisik juga di telinga adiknya.
Tante Sarah yang melihat kelakuan kakak adik yang saling berbisik itu pun membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sementara Hana yang mendengar jawaban Radit hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Namun ia sedikit merasa aneh dengan pertanyaan Radit selanjutnya.
__ADS_1
Hana pun memperhatikan Fika yang sedang duduk di atas bednya sambil bercanda dan tertawa bersama mamanya.
Hana akui, Fika memang Cantik. Tubuhnya terlihat bagus dengan kulit putih berseri. Wajahnya juga sangat ramah, dan setiap kali Fika tersenyum kecantikannya semakin terpancar bersamaan dengan kedua lesung pipinya yang terlihat manis.
"Jadi mbak itu calon kakak ipar aku ?" celetuk Hana membuat Fika mengalihkan pandangannya ke arah kakak beradik itu.
Sementara Radit pun langsung membekap mulut Hana karena takut Hana berbicara lagi dan membuat Fika merasa tidak nyaman.
"Radit lepasin adek kamu, kenapa kamu bekap begitu." protes mama Sarah.
"Iyaa ma, maaf." jawab Radit sambil menjauhkan tangannya dari wajah Hana.
Namun matanya terus menatap Hana dengan isyarat permohonan agar adiknya itu tidak berbicara yang akan membuat Fika merasa tidak nyaman.
Sementara Hana dengan segudang pemikiran kekanakannya sedang menyusun strategi untuk mendekati calon kakak iparnya itu.
Ia sangat tahu orang sekaku Radit tidak akan bisa mendekati seorang gadis dengan begitu mudah. Dan untuk itu, ia berjanji pada dirinya sendiri jika akan membuat Radit dan Fika menjadi lebih dekat.
Sejak Akmal datang kemarin dan mereka berdua bicara, Radit menjadi sedikit takut. Apa ia akan benar-benar kehilangan Fika bahkan sebelum ia mendapatkannya.
Radit tidak tahu apa saja yang mereka berdua bicarakan karena Akmal membawa Fika ke taman di bawah untuk berbicara secara pribadi itu pun atas ijin ayah Fika.
Namun setelah Akmal mengantarkannya kembali ke kamar, ia langsung berpamitan untuk pulang. Walaupun terlihat sangat berat Akmal memeluk Fika dengan erat sebelum ia benar-benar pulang.
Dan setelah itu, Fika tidak lagi bicara padanya. Ia hanya diam dan terus terlihat murung, sesekali ia hanya bicara pada ayahnya itupun untuk meminta bantuannya ketika ia hendak ke kamar mandi atau makan dan minum.
Hana pun merasa penasaran bagaimana pribadi Fika yang sebenarnya sampai mamanya bisa terlihat begitu dekat dan menyukainya.
Ia pun segera menghampiri Fika dan mamanya yang sedang berbincang meninggalkan Radit yang tengah dibuat gemas dengan kelakuan Hana.
Radit takut Hana akan bersikap menyebalkan dan membuat Fika semakin jauh darinya. Karena setiap ada gadis yang akan papanya kenalkan pada Radit, Hana selalu membuat mereka kesal dan pergi.
Hana selalu bersikap manja dan posesif dengan kedua kakak laki-lakinya.
"Farhanah, jangan sampai kamu bikin usaha mas tambah sulit." batin Radit pasrah memperhatikan gerak-gerik Hana.
__ADS_1