
Radit langsung di larikan ke sebuah klinik yang terletak tidak jauh dari danau.
Orang-orang yang menolongnya membantunya untuk pergi ke klinik. Beruntungnya semua luka-luka Radit tidak ada yang serius.
Hanya memar di sekujur tubuhnya. Sebenarnya ia bukan tidak bisa melawan Akmal, tapi ia memang sengaja membiarkan Akmal memukulinya dengan membabi buta.
Ia benar-benar sudah muak melihat laki-laki itu terus menerus berada di samping Fika. Bagi Radit, Akmal tidak cukup layak untuk gadis yang telah membuatnya jatuh cinta tersebut.
Apalagi sifat posesif dan pencemburunya itu benar-benar menyebalkan. Radit ingin memberikan pelajaran untuk Akmal.
Setidaknya Fika pasti merasa bersalah padanya dan itu akan menyulitkan Akmal.
Radit bukan ingin berbuat licik, hanya saja ia tidak merasa Akmal akan mampu bersama Fika lebih lama lagi.
Akmal tidak bisa membahagiakan Fikanya, ia hanya akan membuat hidup Fika penuh dengan kesulitan.
Radit sudah mengetahui perihal ayah kandung Akmal yang menolak mentah-mentah untuk merestui hubungan keduanya.
Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Fika dan ayahnya Akmal di depan lift walaupun hanya sekilas, ia cukup mengerti ketika ayah Akmal menatapnya dengan penuh kebencian.
Hatinya berdenyut sakit mendengar semua yang Fika ucapkan di depan lift kala itu. Mendengarnya saja sudah bisa membuat Fika mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
Ia tidak rela jika gadis yang begitu ia cintai tersebut harus di perlakukan seperti itu. Radit merasa jika saja ayah Akmal tidak seperti itu, mungkin ia akan berlapang dada membiarkan Fika di miliki oleh laki-laki lain.
Baginya, kebahagiaan Fika adalah yang utama. Tidak penting oleh siapa dia di miliki, bahkan jika ia sendiri harus mengorbankan hidupnya tidak masalah.
Ia sudah merasa cukup dengan melihat Fika bisa berbahagia walaupun dengan orang lain.
****
Di jalan, Akmal tengah berusaha menyusul taksi yang membawa Fika pergi. Namun dia kehilangan jejaknya di tengah perjalanan.
Akmal sangat yakin pasti Fika tidak akan pergi ke tempat lain selain pulang ke rumahnya.
Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Akmal pun melesatkan mobilnya menuju rumah Fika.
Selama perjalanan di perjalanan pikirannya sudah melayang entah kemana. Akmal terus menerus mendengar kata-kata keramat yang di ucapkan Fika itu terus menerus.
Bayangan Fika yang pergi meninggalkannya terus berkelebat di kepalanya. Hingga suara dering ponselnya menyadarkan Akmal dari khayalan buruknya.
Akmal pun segera mengambil ponsel yang di letakkan di dalam dashboard mobilnya. Ia segera mengambil ponselnya berharap jika Fika lah yang menghubunginya.
__ADS_1
Dan begitu terlihat siapa nama penelepon tersebut membuat semangat Akmal runtuh seketika. Ia pun dengan malas menjawab teleponnya itu.
"Hallo, dimana ?" tanya seseorang di ujung telepon
"Ya bang, ada apa? gue lagi di jalan." jawab Akmal dengan malas
"Cepetan pulang gue tunggu di apartemen." ucap Akhtar langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Akmal
klik,
Telpon langsung di matikan begitu saja membuat Akmal berdecak kesal. Harusnya ia sampai di rumah Fika 10 menit lagi, namun karena Akhtar ia terpaksa mengurungkan niatnya.
Segera ia memutar arah menuju apartemennya. Akmal pikir pasti Fika juga saat ini sedang kacau, mungkin akan lebih baik jika mereka berdua membicarakan hal tersebut besok kembali setelah mereka sama-sama tenang.
Tidak biasanya Akhtar bersikap seperti itu, maka dari itu Akmal tidak bisa membantahnya. Akhtar pasti memiliki sesuatu yang mendesak untuk di bicarakan dengannya.
30 menit berlalu, Akmal pun sampai di apartemennya. Akhtar sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok, ia sudah menggunakan pakaian kasual.
Akhtar terlebih dahulu membersihkan dirinya ketika sampai dan menyempatkan untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian santai ala rumahan yang sudah ia siapkan di apartemen Akmal.
Akmal pun langsung menyambar bungkus rokok yang tergeletak di meja dan mengambil 1 batang untuk ia hisap.
Beberapa saat mereka hanya di sibukkan dengan sebatang rokok yang tengah di hisap untuk meringankan sedikit beban di pikiran mereka yang saat ini sedang berada di level tertinggi.
"Ayah benar-benar sudah tidak waras." ucap Akhtar memecah hening setelah mematikan rokoknya di asbak yang terletak di atas meja di depannya.
"Kenapa lagi bang?"tanya Akmal setelah menghembuskan kepulan asap rokok dari mulutnya
"Bunda dan ayah bertengkar besar sore tadi." jawab Akhtar dengan sorot mata kosong menatap udara
"Karena masalah elu ."sambungnya lagi sedikit menoleh ke Akmal
"Gimana sih bang maksudnya? To the point aja bisa kan?" tanya Akmal tak sabar
"Ayah mau jodohin elu sama Risa mantan lu itu, yang ternyata anak om Panji rekan bisnisnya ayah." jawab Akhtar dengan nada serius
"Apa?? Kok bisa?" tanya Akmal terperanjat kaget
"Nah itu bisa, makanya mereka berantem. Bunda gak setuju dan mereka debat habis-habisan tadi sore pas gue balik dari kantor."jelas Akhtar
"Gue kan udah cabut dari rumah. Enak aja main jodoh-jodohan aja! Lagian gue udah punya fika, gak sudi gue !" ucap Akmal penuh emosi
__ADS_1
"Tapi lu sama Fika masih baik-baik aja kan?" tanya Akhtar tiba-tiba membuat Akmal mengernyit bingung
"Gue baik-baik aja sama Fika." jawab Akmal menutupi
"lu yakin?" tanya Akhtar sekali lagi
"Kok lu tanyanya kayak gitu sih bang? Ada apa sih sebenernya? Lu pasti tahu sesuatu kan? Please jelasin ke gue." jawab Akmal mencurigai kakaknya itu
"Sebenernya gue denger ini dari ayah tadi, pas berantem sama bunda. Kalau dia ketemu sama Fika di kantornya tadi. Kebetulan kantor yang si Fika kerja itu kantor rekan bisnisnya ayah. Dan ayah bilang kalau ayah udah nyuruh Fika buat ninggalin elu de." jelas Akhtar hati-hati
"Brengsek!! Pantes aja Fika jadi aneh dan minta putus sama gue! Dasar tua Bangka sialan !!" umpat Akmal penuh emosi
"Dan setelah gue tanyai si Hans tadi, ayah udah ngehina si Fika abis-abisan tadi." jelas Akhtar
Akhtar pun menceritakan semua hal yang ayahnya ucapkan kepada Fika siang itu ketika mereka bertemu secara tidak sengaja di lift.
Kebetulan Hans asisten ayah Akmal itu adalah sahabat baik Akhtar. Ia langsung menelpon Hans untuk mengetahui apa saja yang terjadi siang itu.
Mendengar penjelasan yang di ucapkan kakak laki-lakinya tersebut membuat Akmal langsung terbakar emosi.
Dadanya mendadak bergemuruh dengan hebat mendengar hinaan demi hinaan yang di ucapkan ayahnya pada gadis yang sudah menguasai hatinya tersebut.
Rahangnya terlihat mengetat dengan sorot matanya berubah menjadi tajam dan penuh amarah.
Ia benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkan seseorang yang harusnya ia panggil dengan sebutan ayah tersebut melukai hati gadis yang sangat di cintainya.
Mendadak ingatan tentang ucapan Fika padanya tadi berputar di kepalanya membuat Akmal takut sekaligus merasa bersalah telah menuduh Fika berselingkuh karena rasa cemburunya yang besar.
Tanpa berkata apa-apa lagi Akmal berlari keluar untuk menemui Fika di rumahnya dan meminta maaf.
Ia tidak akan sanggup untuk menunggu besok mengetahui yang sebenarnya terjadi.
Rasa benci dan amarahnya terhadap sang ayah semakin bertambah besar.
Ia bahkan malu untuk menyebut dan mengakuinya sebagai ayah.
Tanpa terasa air mata nya menetes dengan perlahan seiring dengan hatinya yang kembali mengingat kata putus yang di ucapkan Fika .
Akmal berusaha untuk menenangkan dirinya sementara ia mengendarai mobilnya. Ia tidak ingin celaka lagi sebelum ia bisa benar-benar sampai di rumah Fika dan bisa mendapatkan maaf dari kekasihnya.
"Maafkan aku sayang, jangan pernah pergi dari aku. tolong maafkan aku" gumam Akmal tanpa henti sambil mengendarai mobilnya menuju rumah Fika
__ADS_1