
Di Bandung,
Akmal yang sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya diluar negeri, akhirnya memilih untuk berangkat hari itu.
Keluarganya sangat mendukung keputusan Akmal tersebut karena mereka berharap setidaknya mungkin Akmal akan melupakan Fika jika ia pergi .
Mereka hanya merasa iba selama ini melihat Akmal yang begitu memaksakan dirinya tenggelam dalam pekerjaan untuk tidak terlalu merindukan Fikanya.
Di hari Fika mengalami kecelakaan, Akhtar mendapatkan informasi dari orang-orangnya yang masih mengawasi sang ayah jika Fika mengalami kecelakaan bersama seorang laki-laki.
Awalnya Akhtar yang mendapatkan informasi dari salah satu orang kepercayaannya yang ia selundupkan sebagai anak buah ayahnya tersebut untuk melindungi keluarganya.
Ia takut jika ayahnya akan merencanakan sesuatu yang jahat dan licik untuk membuat mereka kembali dan memaafkan ayahnya.
Bagaimanapun juga ia sudah sangat mengenal perangai sang ayah yang sudah terkenal dengan kelicikannya. Sebagai pebisnis besar, ia tidak peduli jika harus mengotori tangannya untuk mencetak uang.
Namun setelah menyelidiki keadaan Fika bersama laki-laki tersebut, Akhtar menjadi sedikit terkejut mengetahui jika Radit lah yang bersama Fika.
Walaupun tidak cukup dekat sekarang, namun ia cukup mengenal Radit mengingat mereka teman semasa kecil dulu.
Dan Akhtar pun sudah mendengar jika kini seluruh kerajaan bisnis milik Mahendra grup sudah beralih ke tangannya.
Ia tidak mau membuat masalah baru untuk keluarga merek dan berurusan dengan Radit. Lagipula keadaan Fika kini sudah baik-baik saja, dan jika Akmal tahu tentang ini maka ia akan kembali menggila.
Akmal harus melanjutkan hidupnya, sudah cukup selama ini ia menderita. Akmal tidak bisa kembali pada Fika, karena ayahnya tidak akan pernah berhenti menghancurkan kehidupan gadis tersebut dan juga dirinya.
Ayahnya tidak pernah membiarkan hidup Akmal berjalan dengan tenang. Mereka harus bisa menjadi lebih sukses dari ayahnya agar bisa melindungi bunda mereka.
Zahra dan suaminya sudah memutuskan untuk pindah dan menetap di Bandung. Mereka juga akan membeli rumah yang tidak jauh dari rumah bunda Rania.
Walaupun bunda sudah melarang dan meminta mereka untuk tinggal bersama namun suami Zahra beralasan jika mereka sudah menikah dan Zahra menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
Ia ingin mereka bisa hidup mandiri sebagai pasangan suami istri sekaligus calon orangtua baru. Dan ia berjanji akan membeli rumah yang tidak jauh dari rumah ibu mertuanya itu.
Karena Zahra mengalami morning sickness yang parah, hanya Akhtar yang mengantarkannya ke bandara. Sejak pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke Jakarta.
Sementara bunda di rumah menemani Zahra karena suaminya sejak kemarin pergi ke Jakarta untuk mengembalikan semua fasilitas dari ayah mertuanya untuk mereka selama di Bali.
Adrian juga sudah memutuskan untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada ayah Rendra sendiri sebagai CEO salah satu anak perusahaan yang ia kelola selama lebih dari 2 tahun.
Bahkan tanpa ayah Rendra memberinya fasilitas pun ia masih bisa hidup dengan nyaman. Ia seorang pengusaha muda yang sukses bahkan sebelum menikah dengan Zahra.
Mengurus perusahaan Rendra di Bali hanya alasan Zahra karena ia tidak ingin melihat wajah ayahnya itu. Karena itulah Adrian mengikuti kemauan sang istri.
Setelah menemui ayah Rendra, Adrian langsung terbang ke Bali untuk mengurus beberapa hal. Ia juga sudah meminta asisten pribadinya untuk mengurus kepindahannya bersama Zahra ke Bandung.
Akmal memutuskan untuk memilih Australia sebagai negara tujuannya menimba ilmu. Jauh di lubuk hatinya ia sendiri merasa berat untuk pergi, artinya ia tidak akan melihat Fika lagi untuk waktu yang lama.
"Apa kamu benar-benar yakin akan pergi ?" tanya Akhtar membuat Akmal tersadar dari lamunannya.
"Dasar bodoh ! Kalau sedih ya menangis gak usah ketawa." ucap Akhtar sarkas sembari fokus dengan layar ponselnya mengecek beberapa email yang masuk.
Kini mereka sudah sampai di bandara, dan sedang melakukan check in. Setelah Akmal menaruh barangnya ke bagasi ia pun menuju ke ruang tunggu mencari gate keberangkatan yang tertera di board pass miliknya.
Akhtar pun memutuskan untuk menemui ayahnya terlebih dahulu sebelum pergi ke Bandung. Ia harus meminta penjelasan dari ayahnya itu kenapa ia mencelakai Fika lagi.
Padahal mereka sudah berpisah, kenapa ayahnya tetap saja mengganggu hidup Fika dan berusaha mencelakainya, pikir Akhtar. Ia tidak sampai hati memberitahukan keadaan Fika pada Akmal.
Jika sampai Akmal mengetahui keadaan Fika yang sesungguhnya, sudah di pastikan Akmal pasti akan semakin meradang dan mendendam terhadap ayahnya itu.
Akmal akan kembali terpuruk dan ia akan kembali berlari menghampiri Fika dan tidak akan melepaskannya. Akmal akan melupakan masa depannya dan membuat ayahnya semakin menggila.
Dan hal tersebut benar-benar tidak akan baik untuk keduanya. Hanya akan ada kehancuran dalam hidup mereka berdua. Akhtar tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi.
__ADS_1
"Maafin gue, karena gak kasih tahu lo yang sebenarnya. Gue cuma gak pengen kalian dapet masalah yang lebih besar lagi dari ayah." gumam Akhtar sambil mengemudikan mobilnya keluar dari Bandara.
Akmal masih duduk menunggu pesawat untuk boarding, ia pun mengeluarkan ponselnya dan ia lihati satu-satunya foto dengan Fika yang tersisa.
Hatinya berdenyut sakit sekali lagi, rasanya benar-benar berat untuk melupakannya. Ia bahkan tidak pernah sanggup menghapus foto tersebut.
Itu adalah foto dimana ia pertama kali bertemu lagi dengan Fika di pesta pernikahan Nayla. Awal mula ia bisa masuk ke dalam hidup gadis tersebut.
Akhirnya untuk terakhir kalinya ia memutuskan untuk memastikan kabar Fika terlebih dulu sebelum ia benar-benar pergi dari sana dan meninggalkan tanah airnya.
Akmal memutuskan untuk menelpon Icha yang tak lain adalah adik dari Fika. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya telepon pun tersambung dan di jawab oleh Icha.
"Halo.." Icha menjawab teleponnya begitu saja tanpa memperhatikan siapa penelpon tersebut karena ia sedang sibuk di cafe.
"Halo de, ini kakak."ucap Akmal sedikit ragu.
Icha yang merasa kenal dengan suara tersebut pun terdiam sesaat dan akhirnya menjauhkan ponsel dari telinganya mencoba melihat siapa yang menelponnya.
Icha yang mengetahui jika itu Akmal pun langsung berubah antusias. Karena mereka dulu memang cukup dekat, Icha sangat rindu dengan Akmal. Tapi ia tidak berani untuk menghubunginya sejak mereka pindah ke Surabaya.
"Kak Akmal, ya ampun kakak apa kabar? Aku kangen banget sama kakak." Icha berujar dengan penuh semangat.
"Kakak baik de, bagaimana kabar kamu?" tanya Akmal .
"Aku baik kak, tapi nggak dengan mbak Fika." ucap Icha begitu saja dengan sedih, ia lupa kalau ia tidak boleh memberitahukan hal tersebut.
"Kenapa de? Fika kenapa? Dia baik-baik aja kan?" tanya Akmal begitu khawatir.
"Ah, enggak kok ka. Mbak Fika baik-baik kok." kilah Icha tersadar jika ia melakukan kesalahan.
"De, kakak mohon sama kamu. Tolong kasih tahu keadaan Fika. Sejak beberapa hari ini hati kakak gak bisa tenang. Tolong jangan tutup-tutupi apapun dari kakak." ucap Akmal dengan suara yang terdengar begitu putus asa.
__ADS_1