
Setelah malam itu hubungan Radit dan Devan sedikit demi sedikit mulai membaik. Walaupun mereka tidak menunjukkan kedekatan mereka seperti dahulu, tapi mama Sarah dan papa Randi merasa senang.
Setidaknya mereka tidak lagi saling bersikap acuh dan dingin satu sama lain ataupun saling menghindar. Setelah perkelahian mereka malam itu baik Radit maupun Devan tidak di perbolehkan untuk tidak pulang ke rumah.
Awalnya Radit merasa keberatan karena ia sudah nyaman dan terbiasa tinggal sendiri di apartemen. Namun, karena mama Sarah terus
memintanya untuk tinggal selama beberapa hari dan akhirnya Radit menyetujuinya.
Karena wajahnya penuh dengan lebam Radit tidak berani melakukan video call dengan Fika. Sudah 2 hari ia pergi ke kantor pun mengenakan masker.
Beruntungnya, tidak ada meeting yang benar-benar penting yang harus ia hadiri secara langsung. Karenanya , jika ada pekerjaan yang mengharuskannya bertemu dengan klien ia selalu menugaskan Dafa .
Dafa pun merasa kesal dibuatnya. Karena Radit, ia harus bekerja lembur selama 2 hari berturut-turut belakangan ini. Ia jadi kehilangan momen untuk bermain dengan bayinya yang lucu dan menggemaskan.
Sementara di Surabaya, kondisi Fika semakin hari semakin membaik. Fika dan Radit sering bertukar pesan semenjak Radit kembali ke Jakarta.
Setelah menyelesaikan makan malamnya Fika langsung kembali ke kamarnya untuk berisitirahat. Cukup lama ia hanya duduk di depan jendela kamarnya menatapi langit malam yang terlihat cukup mendung.
Perlahan satu tangannya meraih jendela tersebut dan membukanya membiarkan semilir angin malam berhembus masuk ke dalam kamarnya.
Selama masa istirahat ini Fika banyak merenungi banyak hal. Tidak hanya tentang kisah cintanya saja yang harus berakhir menyedihkan.
Namun tentang masa depannya yang harus ia pikirkan dengan baik. Bagaimana Fika akan kembali menjalankan kehidupannya seperti dulu dan membahagiakan keluarganya.
Ada sedikit penyesalan di hati Fika tentang perpisahannya dengan Akmal beberapa waktu silam. Bukan tidak ingin berpisah, hanya saja ia menyadari satu hal.
Jika saja ia tidak setakut itu dulu dan mau mengucapkan salam perpisahan dengan Akmal, mungkin hari ini baik hidupnya ataupun Akmal akan terasa lebih baik.
Setelah saling meminta maaf dan mengucapkan kata-kata perpisahannya, entah bagaimana ia seperti merasa lebih lega dan ringan.
Ia tidak mudah teringat dengan Akmal ataupun kenangan mereka dulu. Dan ketika ia ingat, ia sudah tidak merasakan pedih yang teramat besar di hatinya.
__ADS_1
Sesekali ia akan tersenyum mengingat kenangannya dulu. Akmal tidak akan pernah ia lupakan, bagaimanapun ia hari ini adalah karenanya.
Akmal akan menjadi salah satu kenangan indah di dalam hatinya. Laki-laki pertama yang membuatnya merasakan apa itu jatuh cinta dan apa itu patah hati.
Fika sangat yakin, suatu hari nanti ia dan Akmal akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih indah, yang lebih besar bahkan ketika mereka bersama.
Gadis itu pikir, ia akan mengikuti setiap alur cerita yang Tuhan siapkan dalam hidupnya. Jodoh tidak akan tertukar, ataupun daya terlambat.
Dia akan datang tepat pada waktunya. Ia akan indah pada akhirnya. Rencana Tuhan adalah yang paling baik, bahkan ketika kita tidak ingin mengakuinya.
Karena tidak semua hal yang kita pikirkan dan kita inginkan, adalah yang terbaik dari semua yang baik. Karena tuhan telah rencanakan sesuatu yang tak terduga untuk hidup kita.
Jalan terbaik yang harus ia pilih saat ini hanya melanjutkan hidupnya dengan baik dan mulai untuk menata hatinya agar bisa menerima orang lain.
Ia tidak boleh dan tidak bisa berlama-lama untuk patah hati. Karena ia tidak ingin bersikap egois dengan memikirkan tentang dirinya sendiri.
Jika ia tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain maka bukan hanya dirinya sendiri yang tidak akan bisa melanjutkan hidupnya. Akan tetapi dengan Icha adik satu-satunya yang kini sudah beranjak dewasa.
Icha sangat keras kepala, ia tidak akan mau menikah jika Fika tidak menikah terlebih dahulu. Itulah yang menjadi motivasi terbesarnya saat ini untuk move on.
Tidak bisa hidupnya akan selalu bahagia, dan tidak bisa juga hidupnya akan selalu menderita. Semua itu akan datang secara bergantian untuk menempa hati kita menjadi dewasa.
Tidak semua hal yang kita inginkan, itulah yang terbaik untuk kita.
Suara dering ponsel yang begitu nyaring memutuskan lamunannya yang membawa separuh dari dirinya berkelana jauh.
Kembali ke realita, ia harus bisa menata hatinya kembali dan tidak berlarut dengan patah hatinya yang jika ia biarkan mungkin juga akan menjadi patah hati milik adiknya.
Dan Fika tidak bisa membiarkan hal itu. Icha sudah menemukan calon pendamping sebaik Reihan. Fika bisa merasakan jika Reihan benar-benar tulus mencintai adiknya itu.
Fika pun menghubungi Radit, setidaknya ia harus maju satu langkah untuk membuat kemajuan dalam hidup adiknya.Tidak sampai deringan kedua Radit langsung menjawab.
__ADS_1
"Malam." ucapnya terdengar riang di telingaku.
"Malam, mas." jawab ku lembut.
"Kebetulan banget aku mau telpon, eh kamu duluan yang telpon. Kangen aku ya?" ucapnya menggoda seperti biasa.
Entah sejak kapan Radit yang kaku dan menyebalkan itu berubah menjadi laki-laki yang hangat dan lembut.
"Mas, ada yang mau aku bicarain." serius Fika tidak menanggapi ucapan Radit sebelumnya.
"Iya, iya ada apa?" tanya Radit mulai mencoba menyimak setiap kata yang akan Fika ucapkan.
"Ini tentang kita." ucap Fika membuat senyum di wajah Radit memudar.
Entah kenapa setiap hal yang ingin Fika bahas dengannya menyangkut hubungan mereka selalu membuatnya begitu takut.
Ia bahkan tidak cukup percaya diri untuk memikirkan hal-hal yang baik. Jika sampai sejauh ini Fika masih juga menolak kehadirannya, entah apa Radit masih sanggup atau tidak.
Radit pun mulai menghembuskan nafas berat sebelum mendengarkan dengan baik apa yang akan Fika sampaikan. Dari suaranya saja, ia bisa mengetahui jika Fika saat ini sedang begitu serius.
"Katakanlah." ucap Radit setelah ia cukup siap mendengar apa yang harus ia dengar.
"Mas, aku ingin mengakhiri hubungan kita sekarang." ucapnya membuat dada Radit di hantam rasa sakit yang begitu besar.
Hubungan mereka saja belum dimulai, dan Fika ingin mengakhirinya dengan begitu cepat.
"Kita memulai hubungan kita dulu sebagai rekan kerja. Sama seperti mas Dafa, bagiku kamu seperti kakak yang selalu membantu dan melindungi ku." ucapnya membuat jantung Radit semakin berdenyut nyeri.
"Walaupun dulu kita selalu bertengkar, tapi di balik itu aku tahu mas Radit sangat peduli. Aku tahu jika mas Radit selalu membantuku diam-diam ketika aku sedang kesulitan dalam pekerjaanku." tuturnya yang sudah membuat separuh dari jiwanya Radit bagai melayang terbang.
"Kakak? kamu hanya menganggap aku kakak selama ini?" tanya Radit dalam hati.
__ADS_1
"Untuk itu aku ingin mengakhirinya sekarang." sambung Fika yang sejak tadi menunggu reaksi Radit yang hanya diam mendengarkan.
"Baiklah jika itu memang mau kamu." Jawab Radit setelah cukup lama terdiam.