My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Pagi hari yang mendebarkan


__ADS_3

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang sangat bahagia dan semangat luar biasa. Walaupun semalam kami tidur hampir jam 2 dini hari nyatanya aku tetap bisa bangun lebih awal. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhku sebelum akhirnya melaksanakan ibadah shalat subuh.


Setelah selesai shalat aku bergegas turun ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk semua orang sebagai salah satu bentuk terimakasih ku. Ah, rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat hadiah spesial yang Akmal berikan padaku tadi malam.


Flashback,


Setelah ayah dan ibu juga Icha keluar dari kamarku, Akmal menggiringku untuk menuju balkon kamarku yang sudah di tata seindah mungkin dengan banyaknya hiasan bunga mawar yang bertebaran di mana-mana. Kami pun duduk di sana dengan meja yang sudah di set dengan sangat romantis .


Akmal menyiapkan sebuah tiramisu cake kesukaan ku dimeja dengan secangkir hot Moccacino di sana . Aku pun menikmati apa yang telah di siapkan oleh Akmal hingga pada suapan kedua aku merasa aneh dengan cake yang sedang ku makan yang terasa seperti ada sesuatu benda keras sedang ku kunyah.


Akmal pun dengan sigap memberikan selembar tisu untukku mengeluarkan benda asing yang tak sengaja ku gigit di dalam mulutku.


Dan ketika kulihat ternyata itu sebuah cincin berhiaskan batu permata yang sangat indah. Aku sangat terkejut mendapatkan sebuah kejutan sebuah cincin yang sangat indah ini.


Tiba-tiba saja Akmal berlutut di depanku memegang satu tanganku menciumnya lembut. Dan akhirnya kalimat keramat yang sudah sangat ibuku nantikan terucap dari bibir seksinya itu.


"Afika sasy Kirana , Will you marry me?" tanyanya dengan suara sangat halus terdengar di telingaku


Membuatku sedikit tak percaya dengan yang ia ucapkan itu. Di usiaku yang baru menginjak 25 tahun dia melamar ku untuk menjadi istrinya. Bahkan belum ada 1 tahun kami menjalin hubungan, membuatku sedikit bingung untuk bagaimana harusnya aku menjawabnya. Usia ku mungkin memang sudah pas untuk menikah, tapi bagaimana dengan Akmal yang masih berusia 3 tahun di bawahku.


Seakan mengerti dengan kekhawatiran yang aku rasakan, Akmal pun kemudian memanggilku pelan yang tengah terjatuh dalam lamunan kebingungan.


"Sayang..." panggil Akmal


"ah..iyaa.." jawabku dengan sangat gugup

__ADS_1


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, pasti kamu masih bingung kan? karena kita belum lama pacaran, dan karena usia kita selisih 3 tahun? Apa kamu ragu karena menganggap aku masih terlalu muda sayang?" tanyanya dengan lembut


Aku pun mengangguk ragu, takut jika jawabanku akan membuatnya tersinggung.


"Maaf yank, a.. aku bukan meragukan kamu tapi .. tapi.." ucapan ku terpotong begitu saja


"sayang, aku memang sedang melamar kamu karena aku ingin menunjukan seberapa serius aku menjalani hubungan ini sama kamu. Aku tahu ibu kamu udah nunggu banget momen ini, aku gamau kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang bisa di percaya sama orangtua kamu sayang.."


"Tapi, aku juga ngerti kalau kamu ngerasa belum siap nikah sama aku. Kita bisa tunangan lebih dulu, dan kamu bisa dengan bebas nentuin kapan waktunya kamu siap buat nikah sama aku nanti. Aku akan selalu nunggu kamu sayang, apapun yang kamu pikir lebih baik aku bakal dukung itu." sambungnya kembali menjelaskan dengan meyakinkan ku


Melihat tatapannya yang seolah sedang menyembunyikan sedikit kekecewaan di matanya, membuatku sedikit gamang. Rasanya sebagian dari hatiku tak rela melihat kekecewaan tergambar di wajahnya dan sebagian lainnya merasa takut akan apa yang akan terjadi kedepannya. Apalagi, ini adalah pengalaman pertamaku dalam hal asmara.


Tiba-tiba saja tepukan di bahuku membuat ku tersadar dari lamunan tentang kejadian semalam, ku lihat wajah ibuku yang cerah ceria. Ia nampak sangat bersemangat hari ini, tentu saja karena tahu jika Akmal telah melamarku. Ia adalah orang yang paling bersemangat mengenai pernikahanku ketika bahkan hal itu tidak ada dalam bayanganku dulu. Apalagi ketika mengetahui satu-satunya sahabat yang ku punya yaitu nayla akan menikah, ibuku mulai berobsesi untuk membuatku segera menikah juga.


Ah, yaa bicara tentang nayla sudah sejak lama aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Kami hanya baru sempat berkomunikasi beberapa kali melalui pesan whatsapp. Semenjak menikah suami nayla yang seorang dokter di tugaskan di daerah terpencil di Sulawesi. Dan sebagai istri yang baik nayla mengikuti kemanapun suaminya di pindah tugaskan saat ini.


"Fika.. heyy.. fikaa.. " panggil ibuku yang membuatku sedikit tersentak karena terkejut


“apa sih bu..?" tanyaku sambil terkekeh pelan


"Kamu tuh dari tadi ngelamun mulu, ibu sampe pegal bangunin kamu dari lamunan. Kamu mau bikin sarapan atau ngelamun sih di dapur.. " gerutu ibuku sambil merapikan semua bahan-bahan masakan yang sedang ku siapkan


"Maaf Bu, fika lagi keinget sesuatu.. jadi agak ngelamun dikit. " jawabku sekenanya tak ingin menyembunyikan sesuatu dari ibuku


"Ciee ciee yang habis dilamar, coba mana ibu lihat cincinnya?" tanya ibu sedikit menggodaku

__ADS_1


"ish, ibu apaan sih.. " jawabku menunduk malu


Bagaimanapun juga Akmal adalah yang pertama dalam hidupku dan dengan mudahnya ia memikat hati kedua orangtuaku yang jelas-jelas sangat pemilih. Bahkan segala sesuatunya tak pernah ada yang Akmal tutup-tutupi dari kedua orangtuaku bahkan tentang keluarganya yang sesungguhnya sejak awal. Ketika aku tidak tahu apapun tentang keluarganya, Ayah dan Ibuku bahkan sudah mengetahui segalanya.


Akmal sangat dekat dengan keluargaku, terutama dengan kedua orangtuaku. Hingga kedua orangtuaku pun selalu membanggakan nya sebagai calon menantu idaman mereka di hadapan keluarga besar kami. Akmal itu sangat posesif terhadapku tapi di balik sikap posesifnya dia begitu menyayangiku dan selalu mencoba membuatku bahagia dengan caranya.


Terkadang dia terlihat sangat kekanak-kanakan ketika sedang cemburu, tapi jika di hadapkan dengan suatu permasalahan yang cukup rumit ia bisa bersikap jauh lebih dewasa dari pada biasanya. Dengan kemandiriannya bahkan dia sudah mulai bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bayang-bayang nama besar ayahnya yang notabene adalah salah satu pengusaha besar di Indonesia.


Aku sangat percaya jika ia bisa menunjukkan dengan bangga kepada orangtuanya bahwa apapun yang menjadi pilihannya saat ini bisa ia jalani dengan sangat baik. Walaupun sampai saat ini hanya mamanya yang selalu memberikan respon positif terhadapnya namun tak membuat Akmal berkecil hati.


Setelah menyelesaikan membuat sarapan pagi yang turut di bantu oleh ibu, aku bergegas pergi ke kamar tamu dimana Akmal beristirahat. Ku ketuk perlahan pintu kamarnya namun tak ada jawaban hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencoba masuk ke kamarnya untuk membangunkannya. Dan begitu pintu terbuka kulihat Akmal baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggang.


Pahatan roti sobek di perutnya lah yang menjadi fokus pertamaku ketika melihatnya. Aku pun menelan saliva ku dengan kasar karena melihat pemandangan seindah itu di pagi hari ini. Astaga, kenapa bisa otak ku berpikir kotor seperti itu. Dengan segera ku alihkan pandanganku ke arah lain agar bisa menetralisir debaran jantungku yang seperti sedang bergemuruh di dalam sana. Sementara sangat empunya hanya tersenyum tipis melihat kegugupan yang tercetak jelas di wajah ku.


Entah sejak kapan tiba-tiba saja Akmal sudah berdiri tepat di hadapanku dengan hanya tersisa 2 langkah jarak di antara kami. Ia pun berjalan semakin mendekat dan dengan gerakan cepat menberikan sebuah kecupan di pipiku.


Cupp,


"Good morning honey.. “ ucapnya dengan tersenyum lebar terlihat gigi putihnya berjajar dengan rapih membuatnya terlihat semakin menawan


“Ish, kamu tuh pagi-pagi udah godain aku aja.. cepet gih ganti bajunya terus ke ruang makan kita sarapan. Ayah ibu sama icha udah nungguin kamu di meja makan" jawabku dengan santai sebisa mungkin menyembunyikan kegugupan ku yang sesungguhnya


"Okee, aku mau ganti baju. Kamu mau ikut? " tawarnya kembali menggodaku


"A.. Apaan sih enggak , cepetan sana ganti baju.. " kilahku sambil mendorong tubuhnya perlahan menjauh

__ADS_1


Sementara dia hanya terkekeh geli melihat wajahku yang bersemu merah setiap kali Akmal berusaha menggodaku. Akhirnya ia berjalan perlahan ke arah tempat tidur mengambil paper bagian berisi pakaian gantinya yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Aku pun langsung tergesa-gesa meninggalkan kamarnya menuju ruang makan kembali karena takut Akmal akan semakin menggodaku jika aku tetap berada disana.


__ADS_2