
Author POV
Hari yang paling di tunggu pun akhirnya tiba, yaitu pesta pernikahan Afika dengan Radit. Radit dan juga keluarga sudah tidak sabar untuk memperkenalkan Fika sebagai menantu pertama keluarga Mahendra.
Acara di adakan sebuah hotel bintang 5 milik yang juga masih milik papa Randi. Mama Sarah menyewa sebuah event organizer paling terkenal di Jakarta yang memang sudah biasa menangani pernikahan para pejabat, pengusaha besar, sampai kalangan artis.
Karena ini adalah acara pernikahan putra pertama dari keluarga Mahendra, semua persiapan pernikahan benar-benar di perhatikan.
Namun sesuai janji yang telah di sepakati antara Radit dan papanya, keluarga Mahendra hanya menyebar tidak lebih dari 1000 undangan. Termasuk kerabat, kolega, dan juga beberapa orang penting dari perusahaan dan keluarganya.
Walaupun demikian, para tamu terlihat begitu antusias untuk melihat bagaimana rupa dari menantu pertama keluarga Mahendra tersebut.
Fika dan Radit belum memasuki gedung pernikahan, mereka masih berada di salah satu kamar VIP hotel tersebut yang mereka gunakan sebagai tempat untuk bersiap.
Para tim MUA profesional yang sengaja mama Sarah datangkan baru saja keluar dari kamar tersebut setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Radit dan Fika akan berganti pakaian 2 kali, karena tamu akan di bagi menjadi 2 sesi. 500 undangan untuk sore hari yang akan di mulai pada pukul 14.00 s/d pukul 17.00 WIB. 500 undangan lainnya akan datang pada malam hari yaitu di mulai pukul 19.00 WIB.
Radit sengaja meminta papa Randi untuk membuat pengaturan seperti itu karena ia ingin memastikan keamanan dan kenyamanan untuk istrinya. Radit tidak ingin Fika kelelahan jika terlalu banyak tamu pada waktu yang singkat.
Malam hari Radit ingin suasana pesta terasa lebih intim dengan membagi undangan hanya untuk keluarga, kerabat, sahabat, dan juga beberapa rekan bisnis yang sudah lama berhubungan dengan keluarga mereka.
Radit menempatkan banyak penjaga di sekitar hotel maupun gedung tempat dimana pesta pernikahan tersebut di laksanakan. Ia tidak ingin lengah menjaga istrinya seperti saat kecelakaan beberapa bulan lalu.
Apalagi kini ia tahu jika Rendra sudah di buat hancur oleh papanya. Maka dendamnya akan semakin besar terhadap Fika. Ia tidak ingin jika Rendra bisa mencelakai Fika sekali lagi.
Siang hari Fika mengenakan gaun pengantin yang sangat cantik berwarna broken white. Dengan model kerah Sabrina yang memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Di hiasi sebuah kalung berlian yang di desain khusus oleh desainer perhiasan paling terkenal di Indonesia.
__ADS_1
Gaun mewah tersebut terlihat sangat pas di tubuh Fika yang memang berpostur tinggi dan ramping. Karena gaun tersebut terlihat begitu panjang hingga menyapu lantai, Icha pun membantu kakaknya tersebut berjalan dengan memegangi ekor gaunnya.
Rambutnya di tata dengan rapi dan juga cantik, di tambah dengan Kilauan berlian asli yang terpasang pada Tiara yang di kenakan oleh Fika.
Begitu pula dengan Radit, ia mengenakan setelan tuxedo berwarna senada dengan Fika di siang hari. Dengan dasi kupu-kupu, dan juga kemeja berwarna putih cerah juga sepatu pentofel berwarna hitam.
Keluarga Mahendra benar-benar memberikan semua hal terbaik untuk pesta pernikahan tersebut. Fika pun hanya bisa pasrah menerima pengaturan mama Sarah untuknya yang ia anggap sebagai bentuk kasih sayang dari ibu mertuanya itu.
Untuk pesta di malam hari, Fika menggunakan sebuah gaun pengantin tanpa lengan berwarna sky blue dengan cutting A line sederhana, bagian roknya berlapis renda bermotif floral yang sangat elegan.
Rambut panjangnya di buat Curly dengan model half up half down yang di berikan hiasan rambut berbentuk rangkaian bunga yang cantik membuat rambut panjangnya terlihat indah dan berkilau.
Radit membawa Fika untuk berbaur dengan beberapa tamu penting untuk sekedar menyapa dan memperkenalkan istrinya. Sepanjang pesta yang begitu melelahkan tersebut Radit dan Fika tidak berhenti menampilkan senyum bahagianya di depan semua orang.
Sampai seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, Fika begitu terkejut dan tanpa sadar langsung memeluknya dengan air mata yang mulai menetes.
Radit yang melihatnya pun turut senang, karena Fika terlihat sangat merindukan wanita yang nyaris saja akan menjadi mertuanya dulu.
Akhtar pun menghampiri Radit untuk menyapa dan memberikan ucapan selamat padanya. Radit memang memberikannya undangan pernikahan mereka, karena bagaimanapun keluarga mereka dulu pernah sangat dekat.
Dan Akhtar adalah salah satu teman baiknya juga. Ia tidak ingin memutuskan hubungan baik mereka hanya karena apa yang terjadi di masa lalu.
"Selamat bro, gue turut bahagia buat Lo. Akhirnya, lo yang beruntung dapetin calon adek ipar gue ini." ucap Akhtar dengan melempar sedikit candaan sambil terkekeh.
"Thanks bro, sorry kalau gitu udah rebut mantan calon adek ipar Lo." jawab Radit membuat keduanya tertawa bersamaan sambil berjabat tangan dan berpelukan.
"Dimana adek lo? dia gak dateng?" tanya Radit kemudian.
__ADS_1
"Enggak lah, tega banget gue kalau ngajak dia juga. Dia tuh patah hati banget tahu gak, cewek yang dia cinta setengah mati ternyata malah di nikahin sama orang lain." ujar Akhtar santai sambil menyesap minuman di tangannya.
"Jadi dia masih berharap sama istri gue?" tanya Radit tertawa kecil.
"Ya, enggak berharap juga. Cuma gue tahu banget adek gue segimana cintanya sama istri lo." jelas Akhtar sambil memandangi bundanya yang begitu terlihat berpelukan dengan Fika sambil berurai air mata.
"Iya sih, gue juga tahu banget dulu." ujar Radit mengingat kisah mereka dulu.
Rasanya begitu aneh membicarakan tentang kisah cinta istrinya dulu dengan kakak dari mantan kekasihnya. Tapi bagaimana pun juga, itu sudah menjadi masa lalu dan Radit tidak ingin bersikap kekanak-kanakan tentang hal itu.
Sementara tidak jauh dari mereka Fika mengajak bunda Rania untuk duduk berdua. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak bertemu, dan Fika begitu merindukan wanita paruh baya itu yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
Setelah duduk, beberapa saat mereka hanya bisa terdiam. Fika terus menundukkan wajahnya di hadapan bunda Rania, tidak bisa di pungkiri hatinya merasa sedikit bersalah terhadap bunda Rania.
"Kamu cantik sekali sayang." ucap bunda tersenyum dengan air mata tertahan.
Sejak tadi ia sudah berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh walaupun sulit. Fika merasa tidak enak hati dan juga malu pada bunda Rania karena dulu ia sudah berjanji jika ia akan menjadi menantu dari bunda Rania.
Mereka benar-benar dekat, bahkan lebih dari kedekatannya sendiri dengan mama Sarah sekarang. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya melihat bunda Rania berada di hadapannya sekarang.
"Bagi bunda, kamu tetap akan menjadi anak bunda. Bunda sangat menyayangi kamu, dan bunda harap kamu akan selalu di berkahi dengan kebahagiaan. Bunda akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu." ujar bunda membelai pipinya dengan lembut.
Mendapatkan kasih sayang yang begitu besarnya dari bunda Rania seperti itu membuat tangis Fika pecah. Ia pun kembali memeluk bunda Rania untuk menumpahkan segala perasaannya.
Mama Sarah yang melihat interaksi Fika dengan bunda Rania sedikit terkejut. Ia pun bertanya-tanya di dalam hatinya, bagaimana bunda Rania bisa mengenal calon menantunya itu.
Karena sejak awal ia tidak pernah tahu jika Fika adalah mantan kekasih Akmal, anak dari sahabatnya sendiri. Sementara ibu dan ayah yang melihat adanya bunda Rania memutuskan untuk menghampirinya dan menyapanya.
__ADS_1