
FIKA POV
Lega rasanya telah membicarakan semuanya secara terbuka. Selama masa break ini aku akan berpikir dengan matang tentang perlu atau tidaknya melanjutkan hubungan kami.
Aku sangat sadar, jika ingin melanjutkan hubungan kami jalan yang akan ku tempuh ke depannya cukup terjal. Namun jika pada akhirnya hubungan kami ini harus di akhiri anggap saja mungkin kami tidak berjodoh.
Aku bangun pukul 7 pagi langsung bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah selesai aku turun ke bawah untuk sarapan pagi.
Karena ini hari Sabtu semua orang tampak santai menikmati sarapannya. Hanya Icha yang terlihat terburu-buru bahkan ia memilih untuk membawa bekal untuk sarapannya.
Ia berangkat ke kampus menggunakan ojek online , karena baik aku maupun ayahku tidak pergi bekerja di hari sabtu. Sedangkan pacarnya masih sibuk menyusun skripsi yang sebentar lagi akan rampung.
"Fik, akhir-akhir ini kamu sama Akmal sering berantem ya?" tanya ayah
"hm, gimana ya yah aku sih sebenernya biasa aja. Cuma emang sekarang Akmal lagi ada problem gitu, jadi lagi sibuk banget." jawabku hati-hati
"Jangan sampe putus yaa Fik, ibu sudah sayang banget loh sama calon mantu ibu." ucap ibu tiba-tiba
"Eh, enggak kok bu. Kita baik-baik aja." kilah ku
Kami melanjutkan perbincangan kami sebentar sambil menikmati secangkir teh melati di pagi hari.
Setelah itu aku memilih untuk kembali ke kamarku di lantai atas. Bagaimanapun juga aku tidak boleh membuat ayah dan ibu curiga tentang hubungan kami yang sedang seperti ini.
Biasanya setiap weekend aku selalu menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dengan Akmal atau sekedar nonton dan nongkrong di suatu tempat.
Ah, aku terlalu terbiasa melihat wajahnya hampir setiap hari. Tiba-tiba hatiku sedikit merasa rindu begitu mengingatnya.
Aku pun berusaha untuk tak memikirkannya, bagaimana mungkin baru 1 hari aku meminta jeda dalam hubungan kami tapi aku sudah merasa rindu.
Sangat tidak lucu, pikirku. Aku memutuskan untuk mengalihkan pikiran ku dengan membuka laptopku.
Sepertinya aku akan menonton drakor secara maraton hari ini agar aku tak terus menerus memikirkannya.
Belum sampai 10 menit tiba-tiba sebuah chat masuk di ponselku. Ku lirik sebentar ponselku untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan di pagi hari.
"Kamu, baik-baik aja?" tulis Radit
"astaga, aku sampai melupakan si manusia kulkas. Bagaimana ini, Akmal benar-benar memukulinya habis-habisan semalam." gumam Fika sambil mengigit ujung kukunya secara tak sadar
Tanpa pikir panjang aku pun langsung menghubunginya dengan panggilan telepon.
"Halo, Fik."sapanya
"eh, Hai mas Radit. Ya ampun mas, maafin aku ya soal semalem. Aku juga gak langsung ngehubungin mas Radit." ucapku meminta maaf dengan tulus
__ADS_1
"Iya, gak apa-apa kok." jawab Radit lembut
"Terus mas Radit dimana sekarang? Mas Radit udah ke rumah sakit belom?" tanya ku
"Aku di apartemen sekarang. Semalam warga langsung membawaku ke klinik terdekat untuk di obati. Sekarang udah gak apa-apa." jelas Radit
"Aku jenguk gak ya? masa iya aku gak jenguk, bagaimanapun juga mas Radit sampe babak belur gitu gara-gara aku juga." pikirku
"Hallo, Fik." panggil mas Radit
" Eh, iya mas? kenapa?" sahutku langsung melanjutkan perbincangan kami
Setelah Selesai berbincang, aku pun langsung menutup telponnya. Aku memutuskan untuk menjenguk mas Radit di apartemennya.
Ketika berbincang tadi, aku sudah memutuskan untuk menjenguknya dan menanyakan alamat apartemennya.
Mas Radit pun mengirimkan alamat apartemennya tak lama setelah telepon di matikan.
Aku segera menelpon mbak Alana dan mas Dafa untuk mengajak mereka menjenguk Radit di apartemennya.
Namun ternyata mereka sudah acara dengan keluarganya untuk membicarakan masalah pernikahan mereka.
Ya, sebentar lagi mbak Alana dan mas Dafa akan menikah. Setelah beberapa tahun berpacaran dan bertunangan sekitar 1 tahun yang lalu akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Aku hanya memakai riasan tipis, dan mengenakan liptint berwarna pink hanya untuk tidak terlihat pucat.
Karena sebenarnya aku tidak suka bepergian dengan make up selain untuk bekerja dan berkencan. Bahkan ketika kencan Akmal lebih sering memintaku untuk tidak memakai make up dan memakai masker.
Ia selalu beralasan jika ia tidak ingin ada laki-laki lain yang melihat kecantikan ku.
"Tuh kan, Akmal lagi. Kenapa semua hal selalu mengingatkan ku padanya." gumamku kecil
Aku pun berpamitan kepada ayah dan ibuku untuk menjenguk teman kantorku yang sedang sakit.
Setelah berpamitan aku langsung mengemudikan mobilku ke sebuah toko kue untuk membeli cheese cake sebagai buah tangan.
Aku tidak pernah terlalu memperhatikan mas Radit karena dia selalu bersikap dingin padaku selama ini. Jadi, aku tidak pernah tahu apa yang ia sukai.
Setelah membeli kue, aku juga membeli buah-buahan. Sebenarnya rasa bersalah ku tidak akan hilang begitu saja hanya dengan membawa semua itu tapi setidaknya itu membuatku merasa sedikit lebih baik .
Setelah membawa semua itu aku kembali melanjutkan perjalanan ke apartemen mas Radit yang ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahku.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai disana menggunakan mobil. Karena ini masih Sabtu pagi, suasana di jalanan ibukota masih cukup lengang.
Sambil mengemudi aku terus memikirkan tentang kalimat apa yang mungkin pantas untuk ku ucapkan saat ini.
__ADS_1
Ah, rasanya benar-benar buntu. Ini semua gara-gara si tukang cemburu itu. Andai saja dia tidak bersikap seenaknya dan lebih bisa menahan diri pasti aku tidak perlu melakukan hal seperti ini.
Semoga saja luka-lukanya tidak parah dan Radit tidak berniat menuntut Akmal. Bagaimana jika Radit memilih untuk membawa masalah ini ke jalur hukum.
Apa yang harus ku lakukan, pikirku.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, aku sudah tiba di depan gedung apartemen dimana Radit tinggal.
Jika ku perhatikan, bahkan gedung apartemen ini memiliki fasilitas yang lebih baik dari pada apartemen Akmal.
"Apa mungkin Radit adalah anak dari keluarga kaya? Bagaimana ini? Dia pasti tidak akan melupakan kejadian kemarin begitu saja." gumam Fika sambil berjalan menuju lift membawa banyak paper bag berisi beberapa kue dan bingkisan buah.
Radit tinggal di lantai 27, dan ketika sampai di lantai tersebut aku langsung mencari satu persatu unit yang Radit tulis di pesan singkatnya tadi.
"ketemu !" seruku senang
Aku pun langsung memencet bel, tak berapa lama terlihat Radit sendiri yang membukakan pintu apartemennya.
"sepertinya dia benar-benar kaya. Apartemen ini terlalu mewah untuk ukuran karyawan biasa." batinku
"Silahkan, masuklah." ucap Radit membuyarkan lamunan ku
"Eh, iya mas." ucapku tersenyum selebar mungkin
Radit langsung menuntunku ke ruang tamu yang menghadap ke jendela besar menunjukkan pemandangan kota Jakarta yang sangat indah.
Pasti akan sangat indah di malam hari. Aku sangat menyukai pemandangan tersebut. Benar-benar menakjubkan, bahkan desain apartemennya sangat mewah.
"Siapa kamu sebenarnya mas Radit? kenapa kamu menyimpan banyak sekali kejutan bagiku." batinku
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers, author gak akan bosen buat bilang jangn lupa di favoritkan yaa novelnya. Jangan bosen-bosen juga buat tinggalin jejak kalian melalui like dan komen . Lebih bagus lagi kalau vote yaa setiap karya yang udah author publish . Biar author tambah semangat buat up 🙏 hatur thankyouu 😘😘😘
__ADS_1