My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Sedikit perhatian


__ADS_3

Sudah 1 jam sejak Radit pulang namun jantung Fika belum bisa berdetak dengan normal sejak tadi. Ia benar-benar dibuat gugup dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Radit.


Bagaimana mungkin gunung es yang ia kenal selama bertahun-tahun bisa tiba-tiba meleleh begitu saja apalagi karena dirinya. Rasanya Fika benar-benar tidak percaya.


Mengingat hubungan mereka dulu yang tidak terlalu baik dan banyak berselisih dalam segala hal, Fika kembali mematahkan prasangkanya terhadap Radit.


"Tidak, tidak, tidak. Radit enggak mungkin suka sama gue."ucap Fika mencoba menyadarkan dirinya sendiri yang hampir tersugesti.


"Mungkin dia cuma kangen gue karena gak ada temen berantem di kantor. pasti itu, gue gak boleh mikir macem-macem."ucap Fika lagi sejak tadi terus berbicara sendiri sambil berbaring di atas ranjangnya.


Berbeda dengan Fika yang tampak salah tingkah, Radit malah tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kejadian yang baru saja ia alami.


Ia tidak pernah menyangka akhirnya bisa semudah itu mengungkapkan isi hatinya. Rasanya sangat melegakan setelah ia mengucapkan kalimat yang selalu ia pendam selama ini.


Radit hanya berguling di atas ranjang king size miliknya di apartemen sambil terus tersenyum sendiri. Ia sangat bahagia karena setidaknya Fika tidak mengusirnya ataupun mencaci makinya.


Radit bertekad mulai malam itu, ia akan selalu menunjukkan perasaannya pada Fika. Ia tidak akan lagi menyembunyikan perasaannya pada Fika.


Ia tidak punya banyak waktu lagi yang tersisa. Ia sudah meminta papanya menghandle perusahaan sampai 10 hari ke depan. Setelah itu, butuh waktu lama lagi jika ia ingin kembali ke kota ini.


Setidaknya ia harus pulang dengan membawa kepastian jika Fika bisa menerimanya. Maka ia akan bisa pulang ke Jakarta dengan tenang.


Ia tidak akan menunggu waktu lama, setelah Fika menerimanya ia akan langsung menikahinya. Radit tidak mau sesuatu lebih dulu terjadi dan membuat Fika pergi darinya.


Apalagi Jakarta-Surabaya bukan jarak yang sedikit yang bisa ia tempuh hanya dengan menggunakan mobil.


Laki-laki lain bisa saja berusaha mendekati Fika dan merebutnya ketika ia tidak ada. Apalagi ketika hari-hari lalu ia melihat sendiri Akmal mengawasi kebersamaannya dan Fika dimana pun.


Radit menjadi semakin takut jika Akmal akan kembali dan merebut Fika darinya. Beruntungnya Akmal tidak pernah benar-benar menunjukkan dirinya di depan Fika.


Jika tidak, bisa saja semua usaha yang ia lakukan saat ini akan menjadi sia-sia. Akmal tidak boleh menunjukkan dirinya sebelum Fika bisa benar-benar menerimanya.


Radit langsung memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Ia sudah tidak sabar untuk terbangun dan menyapa pagi yang akan datang.


**


Pagi hari,

__ADS_1


Sejak pukul 8 pagi, Radit sudah langsung bersemangat untuk segera pergi ke cafe milik Fika.


Ia membawa sebuah paper bag berisi sesuatu untuk dia berikan pada Fika. Wajahnya sangat cerah menunjukkan binar kebahagiaan dengan sangat jelas.


Semua karyawan Fika sudah terbiasa dan sudah tidak merasa penasaran lagi terhadap Radit karena setiap hari Radit selalu datang kesana.


Mereka sudah berasumsi sendiri jika Radit adalah pacar dari bosnya karena mereka selalu keluar bersama setiap hari untuk jalan-jalan.


Mereka juga sudah terlihat akrab dengan Radit karena ia sudah tidak bersikap sedingin dulu.


Radit selalu memesan segelas jus buah sambil menunggu Fika memiliki waktu luang. Fika tidak pernah menyapa Radit lebih dulu ketika ia datang sampai pekerjaannya benar-benar selesai.


Sambil menunggu Fika, Radit memantau perusahaannya melalui Dafa dan sekretarisnya. Walaupun ia sedang mengambil cuti, namun keduanya selalu memberikan laporan pekerjaan mereka setiap hari.


Jika ada rapat penting yang harus ia hadiri, maka papanya akan datang ke perusahaan untuk menghandle rapat tersebut.


Beruntung ia memiliki papa yang sangat pengertian. Bahkan tuan Randi sebenarnya bisa memberikan waktu lebih lama untuk Radit di Surabaya.


Namun Radit menolaknya karena ia tidak bisa terlalu lama meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan karena urusan pribadinya.


Kebetulan pukul 10 pagi, Radit ada rapat melalui video confrence yang biasa ia lakukan setiap bulan dengan beberapa kepala cabang anak perusahaannya di berbagai kota di Indonesia.


15 menit lagi rapat akan segera di mulai, Radit berpindah ke ruangan yang lebih private yang berada di pojokan. Agar tidak terganggu dengan pengunjung cafe yang datang.


Fika pun menghampiri Radit yang terlihat sibuk dengan layar laptopnya. Tidak seperti biasanya Radit membawa pekerjaannya ke cafe Fika.


"Mas, kamu ada kerjaan?" tanya Fika langsung duduk di depan Radit.


"Ia Fika, aku ada meeting sama semua kepala cabang. Biasa laporan bulanan sekalian evaluasi hasil kerja." jelas Radit masih tidak berpaling dari layar.


"Loh, kamu mau confrence video? Kenapa disini mas? nanti ke ganggu loh, bentar lagi cafe mulai rame." jelas Fika.


"Gak apa-apa, makanya aku pindah kesini, biar gak ke ganggu sama pengunjung lain." jelas Radit tersenyum lembut pada Fika.


"Kalau kamu mau meeting dulu kan bisa di hotel mas, nanti kalau udah selesai baru kesini." ucap Fika lagi masih khawatir.


"Justru itu, aku gak bisa.. Selama aku disini, aku mau puas-puasin liat kamu dan deket kamu." ujar Radit menatap Fika penuh cinta.

__ADS_1


"Tuh kan, mas Radit jadi aneh. Mulai lagi kan?" gumam Fika.


"Ya sudah mas lebih baik mas meeting nya di ruangan ku saja biar tidak ada yang ganggu kamu. Lagian tidak akan ada suara apa-apa juga kalau di dalam." ucap Fika tidak menanggapi dan menawarkan Radit pindah ke ruangannya.


"Boleh emang?" tanya Radit .


"Kalau gak boleh, buat apa aku tawarin mas?" jawab Fika acuh menuju ruangannya di ikuti Radit.


Dan benar saja sampai waktu jam makan siang Radit belum juga keluar dari ruangan Fika. Sepertinya meeting nya berjalan cukup lama.


Fika sedang sibuk-sibuknya mencatat pesanan yang masuk melalui delivery online. Ia terlihat sangat kerepotan karena Icha sedang pergi menemui keluarga pacarnya.


Ia meminta ijin pada Fika untuk tidak datang membantu karena di keluarga pacarnya tersebut sedang ada acara pernikahan.


Walaupun Fika tampak fokus dengan pekerjaannya, namun hatinya sedikit tidak tenang. Sesekali ia melirik ke arah pintu ruangannya yang masih tertutup rapat.


Sudah lebih dari 2 jam Radit melangsungkan meeting dengan para kepala cabang, namun belum selesai juga. Perutnya terasa sedikit perih karena ia belum sarapan sejak pagi dan hanya meminum segelas jus buah di cafe Fika.


Karena khawatir Fika pun mengirimkan pesan melalui ponselnya pada Radit.


"Mas Radit, belum selesai?" tanya Fika .


Radit yang sedang berbicara serius dengan salah satu kepala cabang sambil memberikan arahan, melihat notifikasi pesan singkat yang Fika kirimkan.


Walaupun ia tetap fokus pada jalannya meeting tersebut, ia juga menyempatkan waktu untuk membalas pesan Fika.


"20 menit lagi aku selesai. Sabar ya😘." balas Radit


Fika yang melihat isi balasan yang Radit kirimkan pun dibuat melongo kaget sampai ia menjatuhkan ponselnya.


"Duh, mas Radit jadi semakin aneh begini sih! Bikin aku gak nyaman saja, apa maksudnya ini dia tulis pesan begitu." gumam Fika sambil mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.


"Untung handphone baru aku gak rusak." ucapnya sambil mengelus dan mengecek segala pengoperasian ponselnya karena takut ada kerusakan.


Setelah ia menyelesaikan membuat note pesanan untuk segera di siapkan karyawannya, Fika memutuskan pergi keluar sebentar menuju restoran yang tidak jauh dari cafenya.


Ia memutuskan untuk membeli makan siang untuk Radit, karena semua menu di cafenya tidak akan ada yang cocok dengan lidah Radit yang sangat tidak menyukai makanan pedas.

__ADS_1


__ADS_2