
Ketika Fika kembali ke cafenya setelah membeli makan siang untuknya dan Radit, ia masih melihat pintu ruang kerjanya tertutup rapat.
"Indah, mas Radit belum keluar dari ruang kerja saya?" tanya Fika sambil meletakkan paper bag berisi makanan di meja.
"Sepertinya belum mbak Ki, dari tadi saya belum lihat pintu itu terbuka sekalipun." jawab indah.
"Ya sudah, kamu lanjutkan pekerjaan kamu."jl ucap Fika sambil mendudukan dirinya di kursi kayu.
"Katanya sebentar juga selesai, ini sudah lebih dari 20 menit aku pergi dia masih belum selesai." gumam Fika sambil membuka setiap kotak makanan.
Fika pun mengambil piring dan memindahkan makanan yang sudah ia beli untuk di makan. Ketika Fika kembali ke meja Radit terlihat baru keluar dari ruang kerjanya tersenyum lembut pada Fika.
"Sudah selesai mas Radit?" tanya Fika lalu menuangkan semua makanan ke piring yang ia bawa.
"Ia Fik, kerjaan aku baru selesai. Maaf kamu pasti sudah lama menunggu."ucap Radit sambil menarik kursi di sebelah Fika untuk duduk.
"Gak juga sih, ya udah kita makan siang dulu ya? Aku udah laper banget soalnya." jelas Fika sambil memberikan piring yang sudah terisi nasi pada Radit.
"Terimakasih." ucap Radit yang di balas senyuman lembut oleh Fika.
Rasanya ini adalah momen paling indah di antara mereka selama saling mengenal. Kedua sudut bibir Radit terangkat sempurna menampilkan senyuman yang menawan.
Radit merasa sangat bahagia dengan sikap Fika yang semakin hari semakin baik padanya. Ia mulai sedikit menyimpan keyakinan jika usahanya kali ini tidaklah akan berakhir sia-sia.
Semua karyawan Fika terus memperhatikan Fika dan Radit yang sedang makan siang bersama. Mereka membicarakan Radit dan mulai bergosip tentang bosnya yang super cuek itu.
"Mas Andi, kayaknya mas Radit beneran pacarnya mbak Kirana deh. Liat tuh kan mereka tuh sweet banget, kalau lagi sama mas Radit mbak Kirana tuh gak pernah keliatan cuek dan diem banget gitu." Celoteh indah sambil menopang dagu menatap ke arah Fika dan Radit.
"Kamu tuh disini kerja, bukan buat gosip. Kalaupun laki-laki itu pacarnya mbak bos emang kenapa? Aku sih malah seneng lihatnya, mbak bos jadi banyak senyum sekarang." jawab Andi sambil mengeringkan piring dan gelas dengan lap di tangannya.
"Tahu, kamu Indah. Kerjaan kita masih banyak, dari pada kamu cuma bengong liatin bos sama pacarnya, mending kamu layanin tuh tamu yang baru dateng." ucap Risma menyerahkan buku dan pulpen untuk mencatat pesanan.
"Iya, ih iya aku kerja nih."jawabnya sambil mencebik sebal meninggalkan kedua rekannya.
Setelah selesai makan siang, Fika mengajak Radit untuk pindah ke area outdoor yang lebih santai.
Mereka memutuskan hari itu untuk tidak bepergian karena tidak tahu lagi harus menentukan tujuan kemana.
__ADS_1
"Fik, Kamu kangen kan sama Alana?" tanya Radit sambil matanya fokus menatap layar laptopnya.
"Kangen lah mas, udah lama juga kan kita gak ketemu." jawab Fika sambil merengut sedih mengingat momen kebersamaan mereka dulu.
Radit pun tidak menanggapi lagi ucapan Fika dan kembali fokus dengan layarnya sambil tersenyum penuh arti. Dan tiba-tiba saja Radit menepuk tempat di sebelahnya agar Fika duduk di sampingnya.
"Ngapain?" tanya Fika dengan malas.
"Sini dulu, aku ada kejutan." jawab Radit sambil menarik lembut Fika ke sisinya.
"Aaarrrrgggghh, Dafaaaa liat siapa yang di sebelah Radit. ya ampuuun." teriak heboh seorang ibu hamil yang terlihat di layar laptop Radit tengah memukul gemas lengan suaminya.
"Mbak Alana, mas Dafa." panggil Fika setengah percaya melihat kedua sahabat yang ia rindukan.
Memang setelah pergi dari Jakarta, Fika memutuskan untuk mengganti nomornya dan tidak pernah berhubungan dengan siapapun dari kota tersebut.
Bahkan ia sangat menyesali karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan Alana dan Dafa bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun sebagai ungkapan selamat.
Mereka berempat pun berbincang-bincang dengan seru melepas rindu masing-masing setelah cukup lama tidak bertemu.
Seperti biasa Alana selalu terlihat paling bersemangat. Tidak banyak yang Fika ucapkan karena dengan bisa melihat mereka berdua lagi pun hatinya sudah sangat senang.
Hampir setengah jam, mereka berbicara melalui panggilan video sampai akhirnya Dafa meminta untuk mengakhirinya. Ia sudah pusing dengan istrinya yang tidak berhenti mencecar Fika dan Radit dengan banyak pertanyaan konyol.
Tentu saja Dafa merasa sedikit tidak enak, walaupun mereka bersahabat cukup baik namun bagaimanapun Radit kini adalah atasannya.
Dan siang ini Radit sengaja menyuruh Dafa untuk pulang ke rumah setelah jam makan siang karena ia berencana untuk melakukan panggilan video bersama Fika.
Dafa sudah mengetahui sebelumnya jika Radit tengah berada di kota Surabaya untuk menemui Fika. Hanya saja ia tidak mengatakan apapun kepada Alana karena ia pasti akan banyak bertanya.
Bahkan Alana yang cerewet bertambah 2 kali lipat lebih cerewet setelah ia hamil. Terkadang Dafa dibuat pusing dengan semua pertanyaan Alana yang seolah tidak ada habisnya.
Alana berubah menjadi sosok ibu-ibu yang sangat cerewet dan penuh rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain.
Dafa sampai pusing dibuatnya, belum lagi permintaan ngidamnya yang aneh. Pernah di awal kehamilan Alana merengek padanya untuk menelpon Radit dan mengundangnya ke rumah untuk mengucapkan selamat.
Karena saat itu Radit baru di angkat sebagai CEO baru di perusahaan tersebut dan Alana sudah resign ketika ia tahu ia sedang hamil.
__ADS_1
Maka ia ingin suaminya memanggil Radit ke rumah mereka malam itu juga, padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Dafa yang sudah tidak tega melihat istrinya merengek dan menangis tak kunjung berhenti akhirnya memberanikan diri untuk menelpon Radit.
Radit terus tersenyum mengingat keinginan konyol ibu hamil tersebut membuat Fika bertanya-tanya.
"Mas Radit, kenapa senyum-senyum gitu ih ?" tanya Fika memecah lamunannya.
"Hanya ingat sesuatu."Jawab Radit sambil menopang dagunya menatap ke arah Fika dengan intens.
Fika pun dibuat salah tingkah dengan tingkah Radit yang menurutnya aneh itu. Radit terus menatap Fika dengan tatapan aneh sambil tersenyum-senyum sendirian.
"Mas ih, kenapa liatin aku nya gitu banget sih." ucap Fika sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku cuma ingat tingkah konyol Alana waktu aku baru di angkat jadi CEO." jelas Radit terus tersenyum lucu.
Ia jadi membayangkan sendiri, bagaimana jika suatu hari nanti Fika menjadi istrinya kemudian hamil. Apakah ia kan berubah sedrastis Alana? Sepertinya sangat menggemaskan, pikirnya.
"Emang mbak Alana ngapain?" tanya Fika penasaran.
"Dia nyuruh Dafa telpon aku di jam 2 pagi, biar aku ke rumah mereka karena Alana pengen ucapin selamat buat aku. Tadinya aku gak mau, karena paginya aku ada meeting penting sama klien. Aku takut nanti gak bisa konsen karena kita tidur, tapi Alana gak berhenti nangis sampe aku dateng." jelas Radit kembali mengingatnya.
"Terus, terus kamu ke rumah mereka?" tanya Fika semakin penasaran.
"Tentu saja, dia terus menelpon ku sambil menangis." jelas Radit terkekeh geli.
"Terus ngapain doang disana?" tanya Fika lagi.
"Tahu gak sebenarnya malem itu aku sedikit di buat emosi. Setelah aku datang, Alana cuma menjabat tanganku mengucapkan selamat dan ia langsung kembali ke kamarnya tanpa permisi dan peduli aku yang sudah dia repotkan." jelas Radit membuat Fika tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa kesalnya wajah Radit saat itu.
"Terus kamu langsung pulang?" tanya Fika setelah ia puas tertawa.
"Enggak, aku bener-bener kesel sama Alana. Sementara dia bikin aku bangun di tengah malam jauh-jauh dateng ke rumahnya dan dia pergi gitu aja gak sampe 3 menit aku ada di depan dia. Sebagai balasannya, aku menyuruh Dafa untuk mengantarkan aku pulang sampai ke rumah." jelas Radit tersenyum menyeringai.
"Ah, mas Radit tuh kesel sama mbak Alana kok jadi pelampiasan ke mas Dafa? kan kasihan dia juga harus ke kantor pagi-pagi." jawab Fika sedikit merasa kasihan pada nasib Dafa.
"Terus kamu gak kasihan sama aku yang di kerjai sama istrinya itu. Beruntungnya dia sedang hamil dan kami dekat. Jika tidak, aku pasti akan memotong bonus bulanan Dafa sampai habis." Ucap Radit dengan cuek.
__ADS_1