My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Saudara tiri


__ADS_3

Hampir tengah hari ketika Radit sampai di Jakarta. Ia bergegas pulang ke apartemennya untuk berganti pakaian karena harus menghadiri meeting bersama klien penting saat jam makan siang.


Selama 1 bulan Radit absen dari pekerjaannya walau ia baru saja di angkat menjadi CEO. Dan papa Randi lah yang kembali menggantikan posisi dirinya sementara di kantor.


Di bantu oleh Devan sang saudara tiri, papa Randi memegang kendali perusahaan. Setelah beberapa tahun ia menetap di Bali seorang diri.


Ia adalah seorang yang cerdas dan bisa di andalkan. Karena itu, papa Randi meminta bantuannya ketika kebetulan Devan baru saja memutuskan untuk pulang dan menetap di Jakarta.


Devan mempunyai hubungan yang sangat buruk dengan Radit. Sejak mereka menjadi saudara tiri, mereka selalu bertengkar dan tidak jarang berkelahi karena suatu hal.


Padahal sebelumnya, mereka merupakan sahabat baik. Namun ketika mama Sarah dan papa Randi memutuskan untuk menikah hubungan mereka menjadi semakin memburuk dari hari ke hari.


Radit begitu terkejut melihat Devan yang sedang duduk sambil meneguk segelas wine di tangan kanannya. Pasalnya, sudah lama sekali sejak mereka bertemu.


"Ngapain Lo disini ?" tanya Radit berusaha menyembunyikan keterkejutannya melihat Devan di apartemennya.


Radit pun berjalan masuk melewati Devan begitu saja menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Dan sampai Radit keluar dari kamarnya, Devan tetap tidak tergeming dan hanya duduk dan melanjutkan acara minumnya tanpa berucap apapun kepada sang pemilik rumah.


"Gue mau keluar sekarang, jadi gue minta lo keluar sekarang." ujar Radit dengan menahan geram mencoba menjaga moodnya tetap baik karena ia masih harus bertemu klien.


Namun seperti anjing menggonggong kafilah berlalu, Devan tidak menanggapi sama sekali apa yang Radit perintahkan sejak tadi.


Radit pun berusaha menahan kesal dan amarahnya, memilih untuk menghubungi Sandy sang asisten yang juga merupakan sahabat baik keduanya sejak dulu.


"San tolong masuk ke apartemen saya sekarang." perintah Radit langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Sandy.


Dan tentu saja Sandy di seberang sana hanya bisa menggerutu sebal dengan tingkah atasan yang tak lain adalah sahabatnya sejak mereka kuliah.


Tak menunggu lama Sandy langsung masuk ke apartemen Radit karena ia mengetahui kode apartemen Radit sejak dulu.


"Ada apa tuan muda?" tanya Sandy setelah bergegas masuk ke apartemen Radit tanpa menyadari kehadiran Devan yang kini berpindah duduk di mini bar apartemen Radit.

__ADS_1


"Tolong kamu bawa sampah masyarakat satu ini keluar dari sini. Kalau perlu kamu bisa buang dia di jalan nanti atau di hutan." ujar Radit dingin membuat Sandy melirik ke arah mini bar dimana Devan sedang menikmati wine yang entah sudah botol ke berapa.


Radit adalah orang yang begitu menghargai kesehatan. Karenanya ia tidak merokok ataupun minum. Tentu saja, Devan bisa minum disana karena dia yang membawanya.


"Tuan muda, mari saya antar pulang ke rumah utama." ajak Sandy yang mendapat penolakan keras dari Devan.


"San, lo itu masih aja ya nurut sama si tuan muda pengecut itu. Lo tuh di bayar berapa si hah ? kenapa lo mau aja jadi kacung nya dia." racau Devan di selingi tawa getir di akhir kalimatnya.


"Tuan muda, tolong jangan seperti ini. Tuan Radit meminta anda untuk keluar sekarang, mari saya antar." bujuk Sandy masih mencoba bersikap sopan terhadap Devan.


"Ah, shit!! *n"ing emang ! Bangkek lo berdua ganggu aja! " marahnya sambil melemparkan gelas berisi wine favoritnya ke lantai membuat Radit semakin kesal.


Radit tidak mau menanggapi ulah saudara tirinya tersebut memilih untuk pergi dan meninggalkan Devan bersama Sandy di apartemen.


Sandy pun yang sudah begitu hafal dengan 2 bersaudara ini pun langsung menghubungi anak buahnya di bawah untuk segera bersiap dan melakukan pengawalan seperti bayangan.


Radit tidak akan merasa tidak nyaman karena di ikuti atau semacamnya, karena bodyguard yang ia miliki sudah di latih untuk mengawasi tanpa di sadari orang lain bahkan target sekalipun.


Setelah memastikan keamanan untuk Radit, Sandy pun dengan terpaksa menghampiri Devan kembali yang sudah mulai kehilangan akal sehatnya karena minum terlalu banyak.


"Aww." pekik Devan meringis merasakan sakit di kepalanya karena telah di pukul oleh Sandy.


"Astaga, bangkek emang lo sekalinya balik kesini malah bikin gue susah aja lo ! Bangun lo ikut gue !" umpat Sandy yang sudah kesal dengan tingkah sahabatnya itu yang selalu mengacau.


Sandy pun langsung membopong Devan yang sudah sempoyongan berjalan. Entah sejak kapan ia masuk ke apartemen Radit dan minum-minum disana.


Tidak lupa juga, Sandy memerintahkan anak buahnya untuk memanggil asisten rumah tangga yang biasa bekerja untuk membersihkan apartemen Radit.


Setelah menyelesaikan kekacauan yang di timbulkan oleh Devan, Sandy pun membawa Devan untuk ke apartemennya yang hanya berbeda beberapa unit dengan milik Radit.


Karena Sandy tidak mungkin mengantar Devan ke rumahnya dalam keadaan mabuk di siang hari bolong.


Setelah mengurus Devan, Sandy pun menyusul Radit ke restoran di mana mereka akan bertemu dengan klien.

__ADS_1


Meeting berjalan dengan lancar, setelahnya Sandy mengantarkan Radit untuk ke kantor. Selama hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.


Begitu masuk ke ruangannya, ia di kagetkan dengan tumpukan berkas yang menggunung di mejanya yang harus ia pelajari dan tanda tangani.


Sontak saja ia pun berdecak kesal melihat hal tersebut yang membuat Sandy mengernyit heran. Pasalnya bosnya tersebut biasanya selalu gila dalam bekerja.


Ia hampir tidak pernah menggunakan waktu istirahatnya untuk bersantai. Sebelum ia di angkat menjadi CEO dia benar-benar selalu terlihat bersemangat menyelesaikan pekerjaannya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Sandy .


"Udah, gak usah formal gitu lo. Disini cuma ada kita berdua." ujarnya berdecak kesal sekali lagi.


"Kenapa lo? Liat berkas doang, biasanya lo semangat-semangat aja kok sekarang bete gitu sih lo." ujar Sandy memilih duduk bersantai di sofa yang tidak jauh dari meja kerja Radit.


"Ya, Lo kira-kira aja nyiapin kerjaan buat gue segunung gini. Gak tahu gue baru sembuh apa ?" keluh Radit menggerutu sebal namun tetap memeriksa berkas tersebut satu persatu.


"Eh bangkek emang lo berdua ! gak kakak gak adeknya sama-sama ngeselin nya sumpah !" umpat Sandy memilih memejamkan matanya sambil memijat kepalanya yang mulai terasa pening.


"Eh Bacot aja lu ! si kampret itu bukan Abang gue ya! dia itu cuma saudara tiri inget itu tiri !" ujar Radit kesal sambil melemparkan sebuah map tepat di Kepala Sandy.


"Aww." teriak Sandy begitu terkejut.


"Bangkek emang lo berdua, bikin ulah doang kerjanya! Gak kasian apa sama gue yang harus selalu jadi tameng lo berdua, dan beresin kekacauan yang kalian bikin!" teriak frustasi Sandy.


Sudah 1 bulan ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, atau cukup berisitirahat. Setelah memastikan keadaan Radit membaik, ia juga harus menyelesaikan masalah yang Devan buat selama 1 bulan ini.


"Dit, Lo sampai kapan sih mau musuhin si Devan? udah lah, kalian udah sama-sama tua mau kepala 3 sebentar lagi masih aja kayak bocah ! Lagian kalian itu udah jadi saudara." nasihat Sandy terdengar tulus.


"San, siapa yang bantuin papa beresin kerjaan gue?" tanya Radit mengalihkan pembicaraan.


"Argh!" teriak frustasi Sandy yang merasa benar-benar lelah 2 bersaudara tiri itu membuat Radit sedikit terlonjak kaget.


"Kenapa lo San? kurang liburan ya? Entar deh gue kasih ko cuti 3 hari sebagai rasa terimakasih gue ya." ucap Radit santai tidak merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Menurut lo kalau bukan gue sama Devan yang beresin kerjaan lo siapa lagi? Harusnya Lo terimakasih sama dia, gitu-gitu juga dia masih peduli sama lo !" ujar Sandy sebelum akhirnya pamit keluar dari ruangan Radit.


__ADS_2