My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Malam pertama part 2


__ADS_3

Sementara mas Radit berganti pakaian aku langsung menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhku. Awalnya aku benar-benar berniat untuk tidur lebih dulu.


Sayangnya, seberapa keras pun aku berusaha memejamkan nya, mata ku tetap terbuka dengan segarnya. Ku lihati pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


Jantungku tiba-tiba terpacu untuk berdetak lebih cepat ketika aku memikirkan apa saja yang mungkin akan terjadi malam ini. Ini adalah malam pertamaku, dan siap atau tidak itu memang sudah menjadi suatu kewajiban.


Karena pikiran ku?? yang berkelana kemana-mana, tanpa sadar aku melamun. Sampai tiba-tiba mas Radit menyentuh bahu ku ingin menyadarkan ku.


"Sayang." panggil mas Radit sembari menyentuh bahu ku.


"Astaghfirullah." ucap ku sedikit terkejut.


"Mas ngagetin aku aja tahu gak?" ucapku.


"Bukan maksud sayang, tapi kamu dari tadi aku panggil malah melamun terus. Maaf ya?" ujar mas Radit menjelaskan.


"Iya, gak apa-apa. Emang salah aku juga sih, karena melamun." jawabku menunduk tak enak hati.


"Sayang, sekarang aku adalah suami kamu. Aku harap apapun yang menggangu pikiran kamu, bisa kamu bagi dengan aku. Dan tentang hubungan kita sebagai suami istri bagaimana kalau kita membicarakannya dulu sekarang?" tanyaku.


"M..maksud kamu?"


"Maksud aku, kita bicarain tentang hubungan kita sekarang. Aku gak akan pernah maksa kamu buat menjadi istri aku yang seutuhnya sampai kamu benar-benar siap." ujarnya membuatku begitu terkejut.


Rasa bersalah pun mendadak berkelebat di hatiku. Mas Radit benar-benar sangat mencintaiku, selama ini dia benar-benar selalu mencoba mengerti tentang aku.


Aku terlalu egois dan selalu mementingkan perasaan ku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa di cintai sebegitu besarnya, pikirku.


"Mas, duduklah di samping ku." ujar ku membuatnya terlihat sedikit terkejut.


Ia pun menuruti kemauan ku tanpa menjawab atau bertanya apapun. Kini kami duduk berdampingan di atas ranjang yang sama.


Suasana sedikit canggung, di antara kami berdua.


"Mulai malam ini, aku akan membiasakan diri aku sama kamu." ujar ku sambil menggapai tangan suamiku itu dan menggenggamnya.


Terlihat senyum bahagia terukir dari bibirnya. Ia mencium punggung tangan ku dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


Ku sandarkan tubuhku di bahunya yang bidang itu, aroma tubuh maskulinnya begitu kuat menguar memenuhi Indra penciuman ku.


Aku mulai menyukai bau ini, bau tubuhnya begitu menenangkan dan membuatku nyaman. Aku pun mencoba untuk memeluknya dan mengikis suasana canggung di antara kami.


"Terimakasih karena sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami kamu sayang." ucapnya lalu mencium puncak kepala ku sembari memelukku.


Kami pun menghabiskan waktu dengan membicarakan dan merencanakan kehidupan kami setelah menikah nanti.


"Oh iya, papa kasih kita tiket bulan madu ke New Zeland apa kamu mau kita pergi ke sana ?" tanyanya.

__ADS_1


"Memang kapan mas kita perginya?" tanya ku .


"1 hari setelah pesta pernikahan kita di Jakarta." jawab mas Radit.


"Hem, disana sekarang lagi musim apa?" tanya ku .


"Musim dingin kalau gak salah, berarti bersalju. Kenapa?"


"Hm, gimana ya? Aku ada alergi dingin kalau kedinginan aku bisa gatal-gatal sampai bengkak. Kayaknya aku gak bisa kalau ke sana pas musim dingin. Gimana dong mas?" jelasku dengan jujur.


Sebenarnya aku takut jika mas Radit tersinggung atau tidak percaya dengan apa yang aku jelaskan. Tapi aku memang tidak bisa kedinginan apalagi disana sedang bersalju.


"Hm, ya udah nanti aku bilang ke papa. Gimana kalau kita perginya pas musim panas aja disana?" tanya mas Radit .


"Musim panasnya kapan?" tanya ku.


"Sekitar awal tahun depan. Masih ada beberapa bulan lagi." jawabnya .


"Masih lama dong mas?" ucapku.


"Ya , gak apa-apa. Cuma setelah pesta aku ngambil aku udah ngambil cuti selama 1 Minggu. Sayang juga kalau gak kemana-mana." jelas mas Radit.


"Iya ya, hmm.. kalau misal kita liburannya ke yang deket-deket dulu gimana mas? Wisata lokal dulu gimana?" ucapku memberikan saran.


"Boleh aja sih, kamu mau nya kemana?" tanya mas Radit.


"Aku terserah mas aja." ujar ku.


"Ya kan, aku bukan orang yang suka pergi berlibur jadi aku gak tahu tempat yang bagus buat berlibur dimana?" ujar ku jujur.


"Hm, ya sudah bagaimana kita ke Lombok aja. Kebetulan papa punya villa pribadi di sana tempatnya juga bagus ada di pesisir pantai. Kamu suka pantai gak?" tanya nya.


"Aku suka kok, yaa sudah kita ke sana aja mas." ucapku .


"Ya sudah lebih baik kita tidur, sekarang sudah larut. Kamu pasti juga sudah lelah. ucapnya.


"Iya mas."


Kami pun memutuskan untuk tidur dan melewatkan malam pertama kami sebagai sepasang suami istri. Mas Radit tidak meminta atau memaksaku untuk memenuhi kewajiban ku sebagai istrinya.


***


"Sayang, bangun sudah subuh." ucap mas Radit membangunkan aku.


"Emh, jam berapa emang mas ?" ucapku sambil menarik selimut menutupi wajahku.


"Setengah 5 pagi sayang, kamu jangan tidur lagi kenapa tarik selimut lagi?" tanya mas Radit.

__ADS_1


"Aku bukan mau tidur lagi mas, kamu jangan deket-deket aku malu." jawabku jujur.


"Loh, kenapa harus malu. Hei, sini-sini kamu buka dulu selimutnya." ucap mas Radit sambil menarik selimut yang menutupi wajahku.


Aku pun berlari ke kamar mandi untuk menghindarinya. Rasanya benar-benar aneh ketika aku terbangun dengan seseorang di sampingku.


Setelah membersihkan tubuhku, aku pun teringat jika aku tidak membawa apapun bahkan selembar handuk. Aku tidak mungkin keluar tanpa memakai apapun.


"Argh, kenapa bodoh sekali sih. Kenapa bisa lupa bawa baju ganti dan handuk." ucapku sambil memukul kepalaku pelan.


"Sayang, cepet dong aku mau mandi. Aku sama ayah mau shalat berjamaah di mesjid depan nih." ucap mas Radit dari balik pintu.


"I..iya mas aku udah selesai kok." jawabku masih kebingungan.


Ceklek, pintu terbuka.


"Mas." panggilku .


"Kamu ngapain ? Kenapa gak keluar?" tanyanya heran melihat hanya kepalaku yang berada di antara pintu.


"Mas minta tolong bisa gak?" tanya ku memberanikan diri.


"Ada apa?"


"Ambilin handuk dan baju ganti aku di lemari." ujar ku sambil tersenyum berunjuk gigi.


"Kamu tuh, pagi-pagi mau mancing aku ya?" tanya nya sengaja menggodaku.


"Ish, apaan sih mas. Please dong ambilin yah yah yah?" ucapku dengan wajah memelas.


"Kalau aku gak mau gimana?" tanya nya lagi.b


"Mas tega ya, aku bisa masuk angin kalau gini terus. Aku udah kedinginan ini." ujar ku


"Iya deh iya buat istriku, apa sih yang enggak kan? Ya udah aku bantuin nih." ucap nya.


Ia pun bergegas menuju lemari untuk mengambil baju dan juga handuk untuk ku.


"Sayang, aku ambil baju kamu yang mana?" teriaknya.


"Yang mana aja mas, yang penting cepetan." jawabku dari dalam kamar mandi.


Tok tok tok,


Ceklek,


"Nih, sayang cepetan kamu pakai. Nanti kamu masuk angin lagi terus sakit." ujar mas Radit.

__ADS_1


Ku ambil baju yang mas Radit ambilkan . Ah ya tuhan ini benar-benar memalukan. Bahkan mas Radit mengambilkan pakaian dalam ku juga tanpa ku minta.


"Rasanya aku benar-benar malu dan tidak punya muka lagi untuk melihatnya." batinku merutuki kebodohan ku itu.


__ADS_2