My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Kembalinya Zahra part 1


__ADS_3

Di sebuah bar mewah dan elite yang ada di pusat kota metropolitan, nampak seorang pria paruh baya yang sedang menggoyangkan segelas Vodka di tangannya ke kanan dan kiri sesekali dengan gerakan memutar.


Walaupun usianya sudah memasuki kepala 5 namun paras tampan serta postur tubuh tinggi dan tegapnya tidak menunjukkan usianya yang sesungguhnya.


Di tambah dengan penampilan yang menunjang sebagai salah satu pengusaha besar di tanah air membuatnya tidak tampak tua.


Beberapa wanita yang berprofesi menjajakan dirinya di tempat hiburan malam itu silih berganti mendekatinya. Beberapa mencoba merayunya dengan bergelayut manja dan menggoda.


Namun, belum ada satupun yang membuatnya tertarik. Entah sudah botol ke berapa yang ia tuangkan di gelasnya namun kesadarannya terasa tidak berkurang sedikitpun.


Sudah 1 tahun belakangan ini, hampir setiap hari sepulang dari kantor Rendra selalu menghabiskan waktunya di salah satu tempat hiburan malam terbesar di Jakarta itu.


Terkadang hanya untuk mabuk-mabukan dan menghabiskan uangnya disana mencicipi para gadis yang tengah menjajakan diri di tempat tersebut.


Ia melampiaskan semua rasa frustasinya dengan mabuk dan bersenang-senang dengan para gadis yang lebih pantas menjadi putrinya dari pada pemuas ranjangnya saja.


Tidak ada 1 pun hal yang ia rencanakan bisa berjalan dengan baik. Akhirnya setelah lebih dari 20 tahun hidup bersama istrinya memilih untuk pergi meninggalkannya.


Awalnya ia merasa baik-baik saja, walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga agar perceraian mereka bisa di batalkan ketika persidangan.


Namun setelah melalui beberapa kali persidangan, istrinya berhasil mengalahkannya dengan memenangi gugatan untuk perceraian mereka.


Rendra sadar, ia tidak bisa kehilangan istrinya begitu saja. Karena Kedua putranya yang begitu keras kepala itu akan ikut meninggalkannya.


Mereka tidak akan pernah mau datang lagi padanya jika istrinya berhasil menceraikannya. Dan dari semua yang paling takutkan adalah putri tunggalnya yang tinggal jauh di luar kota.


Bahkan Zahra belum bisa benar-benar memaafkannya tentang kenyataan bahwa ia lahir dari perempuan simpanan ayahnya sendiri. Zahra begitu mencintai ibu yang telah merawat dan membesarkannya sejak kecil.


Zahra bahkan tidak pernah mengetahui bagaimana wajah ibu kandungnya karena ia masih sangat kecil ketika itu.

__ADS_1


Malam ini Rendra benar-benar merasa kacau. Setelah berusaha sebaik mungkin menutupi masalah perceraiannya dengan istrinya itu, akhirnya semua terbongkar begitu saja.


Zahra sangat marah padanya karena sekali lagi Rendra telah menyakiti Rania lagi. Bahkan hingga ibu sambungnya tersebut memilih untuk melanjutkan hidup dan berpisah dengan ayahnya.


"Ini semua karena gadis miskin sialan itu. Kita lihat saja, sebentar lagi aku akan mengirim kamu ke neraka!" Gumam ayah Rendra penuh emosi sambil melemparkan dengan keras gelasnya ke dinding.


Beberapa pelanggan di bar langsung melirik ke arahnya dan ia pun pergi meninggalkan bar tersebut setelah meletakkan beberapa puluh lembar uang di atas meja.


***


Untuk pertama kalinya Zahra menginjakkan kakinya kembali ke Jakarta setelah menikah. Awalnya ia ingin mencoba memaafkan ayahnya tersebut, namun yang terjadi malah sebaliknya.


Nyatanya, ayahnya itu kembali mengecewakannya dengan sangat. Zahra pergi begitu saja bersama suaminya meninggalkan rumah utama keluarga Hutama.


Zahra langsung menghubungi bundanya yang kini sudah menetap dan tinggal di kota Bandung. Segera setelah ia mengetahui keberadaan bundanya ia pun langsung pergi kesana.


Zahra menangis sepanjang perjalanan, walaupun ia sudah berusaha menenangkannya. Walaupun mereka menikah karena perjodohan sebelumnya namun seiring berjalannya waktu mereka bisa saling mencintai.


Karena itu Adrian mengajak Zahra untuk menetap jauh dari keluarganya. Selama ini Zahra selalu menyimpan rasa bersalah yang sangat dalam.


Terkadang ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua hal yang terjadi. Adrian yang tidak tega melihat istrinya seperti itu memutuskan untuk tinggal di kota yang baru untuk memulai kehidupan mereka yang baru.


Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam akhirnya mereka berdua sampai di rumah bunda Rania.


Tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tengah duduk menunggunya di sebuah kursi kayu yang berada di halaman rumahnya.


Begitu melihat sebuah mobil asing memasuki pekarangan rumahnya bunda Rania langsung berdiri dan menghampiri mobil tersebut.


Benar saja, Zahra dan suaminya yang datang berkunjung di penghujung petang itu. Bunda Rania melihat jika Airmata sudah membanjiri wajah putrinya yang cantik itu.

__ADS_1


Seorang anak perempuan yang ketika dulu masih kecil ia akui sebagai putri kandungnya sendiri. Bunda Rania sangat menyayangi Zahra seperti ia menyayangi kedua putranya.


Zahra seketika berlari menghampiri bundanya kemudian memeluknya erat dengan tangisan yang mulai pecah.


Seperti Zahra, bunda Rania hanya bisa mengusap punggung putrinya tersebut untuk memberikan ketenangan tanpa bisa berkata-kata.


Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan apapun. Suaranya tercekat di tenggorokannya dan hanya bisa tersimpan di hatinya.


Zahra menagis kencang dengan sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan dari bibirnya yang terus bergetar menahan Isak tangis.


"Maafin Zahra bunda, ini semua karena Zahra. Maaf, bunda. Maafin aku." Racau Zahra sambil menangis terisak hingga akhirnya terkulai lemas di pelukan sang ibu.


Adrian yang melihat istrinya jatuh pingsan pun segera menghampiri dan menggendongnya. Bunda Rania pun langsung mempersilahkannya menantunya untuk masuk membawa Zahra ke dalam.


"Langsung bawa ke dalam saja nak Adrian. Ya Allah, sayang. Kenapa kamu bisa seperti ini, maafkan bunda nak." ucap bunda penuh kepanikan menuntun Adrian ke dalam rumah.


Adrian pun langsung membaringkan tubuh Zahra di sofa sementara bunda memanggil asisten rumah tangga di rumahnya untuk mengambilkan air putih dan juga minyak angin.


Akhtar dan Akmal baru saja sampai di rumah setelah kembali dari pabrik untuk melakukan pengawasan dalam produksi, mengernyit heran melihat sebuah mobil BMW berwarna hitam terparkir di halaman rumah mereka.


Ketika mereka memasuki rumah, mereka pun sedikit terkejut dengan keberadaan Zahra dan suaminya di rumah mereka. Terlebih lagi, Zahra dalam kondisi pingsan sehingga Akhtar berinisiatif untuk menelpon dokter keluarga mereka di Bandung.


Walaupun sedikit canggung, Akhtar dan Akmal menghampiri Adrian yang merupakan saudara ipar mereka. Adrian hanya bisa tersenyum sekilas, tanpa menyapa keduanya.


Ia terus berusaha menyadarkan istrinya yang masih memejamkan matanya dengan rapat sejak beberapa menit lalu.


"Adrian, bawa Zahra ke kamar tamu yang ada di sebelah sana. Sebentar lagi dokter akan datang, saya sudah menelponnya." ucap Akhtar sambil menunjukkan letak kamarnya.


Sementara Akmal sejak tadi hanya diam dan memeluk bundanya agar bisa tenang. Entah sudah berapa lama bundanya menangis, karena matanya sudah mulai terlihat membengkak.

__ADS_1


"Baik kak, terimakasih." ucap Adrian kemudian membawa istrinya ke kamar yang telah disiapkan.


__ADS_2