
3 hari aku bertahan di kota Surabaya melihat kedekatan di antara mereka semakin berkembang.
Entah aku harus senang atau sedih saat ini, aku tidak tahu. Melihatnya di samping laki-laki lain membuat hatiku terasa sangat pedih.
Namun, bukankah ini yang selama ini aku inginkan? Jika suatu hari nanti aku tak bisa bersamanya lagi, aku berharap dia akan bersama dengan laki-laki yang lebih baik.
Dan hari itu aku memilih untuk terbang ke Jakarta untuk menemui om Randi ayah dari Radit. Walaupun aku tidak cukup baik mengenalnya tapi kami pernah beberapa kali bertemu.
Dari Bandara Aku langsung bergegas memesan taksi untuk mengantarkan aku ke kediaman keluarga Mahendra.
Setelah sampai di rumah yang megah bak istana itu, aku segera menjelaskan kedatangan ku pada kepala keamanan yang berjaga di pos dekat gerbang rumahnya.
Butuh persetujuan pemilik rumah tersebut terlebih dahulu untuk bisa masuk. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya para penjaga keamanan rumah mewah tersebut membiarkan aku untuk masuk.
Seorang kepala pelayan langsung menyambut ku ketika aku sampai di depan pintu utama. Dia langsung memandu ku menuju sebuah ruangan dimana om Randi tengah duduk menungguku.
"Assalamualaikum om." sapa ku sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam, Akmal apa kabar ? Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu." ucap om Randi dengan tenang.
Sejak dulu, ketenangan om Randi menjadi salah satu hal yang paling aku sukai. Dia hampir tidak pernah berekspresi berlebihan ketika berbicara dengan orang lain.
"Duduklah dulu." ucap om Randi mempersilahkan.
Aku pun langsung duduk di sofa yang ada di sebelahnya. Tak berselang lama, beberapa pelayan datang membawakan teh dan camilan.
"Bagaimana kabar mama kamu dan kakak kamu Akhtar?" tanya om Randi sambil menyesap teh di tangannya.
"Alhamdulillah om, kami semua baik-baik saja dan mama kembali sibuk melukis semenjak kami tinggal di Bandung." jelasku.
"Ada hal penting apa nak, sampai kamu jauh-jauh datang kemari?" tanya om Randi to the point.
__ADS_1
"Iya, om. Saya kesini karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan." jelasku.
"Apa itu?" tanya om Randi sedikit penasaran.
"Ini tentang Radit om." ucapku membuat kening om Randi seketika mengkerut heran.
"Ada apa dengan Radit?" tanyanya kemudian.
"Om tahu, dulu berpacaran dengan seorang perempuan yang bekerja di kantor om?" tanyaku.
"Tentu, Ayah kamu selalu sibuk datang ke kantor om untuk meminta om memecat gadis tersebut." jelas om Randi yang membuat darahku kembali mendidih.
Ternyata tua bangka itu benar-benar berusaha menyingkirkan Fika dengan segala cara.
"Dan om setuju?" tanya ku mencoba untuk tetap tenang.
"Tentu saja tidak. Om tidak akan memecat siapapun karyawan di perusahaan om begitu saja tanpa kesalahan apapun. Lagi pula, Radit selalu menjaganya mati-matian." jelas om Randi dengan santai.
"Iya, dan om tidak pernah melarangnya seperti yang ayah kamu lakukan." jawab om Randi menohok hatiku.
"Kenapa om tidak pernah melarang Radit dan berusaha menjauhkannya dari Fika? Bukankah Fika bukan siapa-siapa yang tidak akan bisa sebanding dengan pewaris grup Mahendra?" tanyaku mencoba memprovokasi.
"Nak, di mata tuhan kita ini semua sama dan tidak ada yang berbeda. Om sudah melihat contoh dari keangkuhan dan keserakahan dari ayah kamu. Dan kita lihat sekarang bagaimana hasilnya?" tanya om Randi membuatku tersenyum getir.
"Om tidak mau menyesal dan kehilangan putra sulung om hanya karena keegoisan om sendiri. Lagi pula, om juga sudah menyelidiki latar belakang dari Afika dan dia adalah gadis baik-baik. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Jika Radit memang benar-benar mencintainya dan suatu hari mereka bersama, maka om akan menerimanya dengan tangan terbuka." Ucap om Randi membuat hatiku berdenyut ngilu.
Seandainya dia bisa seperti om Randi yang berpikiran terbuka dan bisa menerima Fika sejak dulu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
"Apa om bisa memegang kata-kata om barusan? Om tidak akan berbuat sesuatu yang bisa menyakiti Fika, jika mereka bersama suatu hari nanti?" tanyaku dengan sungguh-sungguh.
"Om tahu kamu masih sangat mencintainya, kenapa kamu bertanya seperti ini? Apa kamu tidak akan mencoba untuk membuatnya kembali?" tanya om Randi terdengar tulus.
__ADS_1
"Saya tidak punya keberanian lagi untuk berdiri di hadapan Fika setelah semua yang telah terjadi kepadanya. Dan saya juga takut, jika saya kembali padanya, maka sahabat om itu akan mencoba untuk menyakiti Afika kembali." jelasku dengan jujur.
"Nak, kamu sangat baik dan berlapang dada demi gadis itu. Om sangat bangga dengan kamu, tapi om juga tidak bisa memberikan kamu dukungan untuk kembali padanya. Karena putra om sendiri menginginkan Afika untuk menjadi pendamping hidupnya. Maafkan om nak Akmal." ucap om Randi membuat ku terharu.
Mendengar penuturan om Randi hatiku menjadi lega sekaligus sakit secara bersamaan. Aku tidak tahu, apakah melepaskannya seperti ini adalah hal yang tepat untuk aku lakukan?
Airmata ku luruh bersamaan dengan tangan hangatnya seorang ayah yang menggenggam tanganku memberikan kekuatan.
Aku menangis terisak selama beberapa saat, setidaknya aku tidak perlu menyesal untuk membiarkan laki-laki lain memilikinya.
Om Randi pun menghampiri ku dan memberikan pelukan dari seorang ayah untuk ku. Tidak banyak yang ia katakan, namun dari sikapnya itu aku sadar jika Radit begitu beruntung mempunyai sosok ayah sepertinya.
Dulu sekali, bahkan aku hampir lupa sejak terakhir kali hubungan kami berjalan dengan baik sebagai seorang ayah dan anak.
Mereka adalah keluarga yang baik, semoga saja Afika bisa benar-benar bahagia bersama Radit. Akmal akan mencoba untuk berjiwa besar dan melepaskannya.
Setelah berbicara panjang lebar dengan om Randi, aku memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung menggunakan taksi yang sama.
Mulai hari aku tidak akan pernah menemui dan melihatnya diam-diam. Aku juga tidak akan lagi menyuruh seseorang untuk mengikuti dan menjaga Afika diam-diam.
"Gue iri banget sama lo dit. Lo punya semua yang gue pengen. Jaga Afika baik-baik, kalau lo sampai bikin dia terluka gue orang pertama yang akan bunuh lo." batinku
Di perjalanan aku segera menghubungi bang Akhtar, aku pun menceritakan semua keputusan yang akan aku ambil.
Aku meminta bang Akhtar untuk menarik seseorang yang selama ini kami tugaskan untuk mengawasi Fika di Surabaya.
Aku hanya bisa melihati semua foto yang masih tersimpan apik di ponselku. Menghapusnya satu persatu, semua foto yang menjadi kenangan indah selama kami bersama.
Selamat tinggal Afika,
Selamat tinggal sayang.
__ADS_1
Semoga kamu selalu di penuhi kebahagiaan.