
Sore harinya Radit menerima telpon dari ayahnya yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah utama. Karena mereka akan makan malam bersama, walaupun sebenarnya Radit sangat malas.
Pukul 7 malam, Radit tiba di rumah utama, ketika semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga kecuali Hana. Setelah mengucapkan salam, Radit menghampiri papa dan mamanya mencium punggung tangan keduanya.
Setelah itu Radit duduk di sofa yang berseberangan dengan Devan tanpa berniat menyapanya. Keduanya selalu di selimuti hawa dingin di setiap kali bertemu.
Suasana yang semula terasa hangat berubah menjadi sangat hening dan canggung. Dan tentu saja baik papa dan mama Sarah sudah pernah mencoba mendamaikan mereka berdua.
Namun semua yang mereka lakukan selalu menemui jalan buntu. Terlebih sifat Radit yang teramat dingin dan pendiam membuat mereka sendiri mempunyai jarak yang cukup besar sebagai orangtua dan anak.
"Lo gak mau nyapa gue ?" celetuk Devan yang selalu bersikap konyol dan begitu santai.
Namun tidak di tanggapi dengan satu kata pun keluar dari mulutnya. Radit benar-benar menganggap dan memperlakukan Devan seakan ia tidak ada di sana.
Sifat mereka berdua sangat bertentangan dan berbanding terbalik. Jika Radit sangat serius dan tidak mudah di ajak bicara, lain dengan Devan yang selalu merasa bibirnya gatal jika tak bersuara.
Devan yang ramah dan supel menjadikannya mudah untuk dekat dengan siapapun. Dia bukan orang yang mudah marah dan tersinggung, dan sangat senang melontarkan candaan untuk membuat orang lain tertawa.
Sikap acuh Radit tentu saja menyulut emosi Devan yang sudah benar-benar hilang akal menanggapi sikap Radit sejak dulu. Ini bahkan sudah bertahun-tahun dan mereka sudah dewasa tapi Radit masih seperti itu.
"Lo bener-bener gak anggep gue ada disini !" teriak Devan menyentak perhatian papa dan mama mereka.
"Devan, kamu jangan seperti itu." pesan mama Sarah menghampiri putranya mencoba menenangkan.
"Radit, kenapa kamu terus bersikap seperti itu. Kalian sekarang sudah menjadi saudara, kenapa kamu terus memusuhi Devan? Tolong dit, papa benar-benar mohon sama kamu, berdamailah dengan Devan." pinta papa Randi sambil memijat kepalanya yang mulai terasa pening.
"Iya dit, apa kamu tidak bisa memaafkan Devan? Mau sampai kapan kalian seperti ini? Apa karena mama menikah dengan papa kamu, sampai saat ini kamu masih menyimpan kebencian untuk Devan?" tanya mama Sarah terlihat kesedihan di wajahnya.
Sejenak tidak ada yang berani bersuara lagi setelah papa dan mama Sarah berbicara. Radit dan Devan sama-sama terdiam dengan isi kepala yang entah bagaimana.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam dit? Jawab Papa sama Mama? Mau sampai kapan kamu memusuhi Devan? Kenapa kamu masih bersikap seperti itu pada Devan?" tanya papa Randi sekali lagi memecah hening di antara mereka.
Mama Sarah pun tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya memilih untuk pergi dari sana meninggalkan ketiga laki-laki disana.
"Ma? mau kemana ma? Puas kan kalian berdua sudah membuat mama sedih seperti itu? Papa gak mau tahu, begitu mama dan papa kembali kalian harus sudah berdamai. Bicarakan semuanya baik-baik dan selesaikan sekarang juga!" ujar papa menahan kesal lalu pergi menyusul mama Sarah ke kamar mereka.
Baik Radit maupun Devan hanya bisa menghela nafas berat mendengar penuturan papanya tersebut sebelum meninggalkan mereka berdua di sana.
Devan pun dengan emosi menarik jas Radit dan membawanya ke taman belakang untuk bicara berdua.
"Apa-apaan sih lo? lepasin gue gak! lepasin!" teriak Radit mencoba memberontak dan menepis tangan Devan dengan kasar.
Dan begitu sampai di taman belakang langsung saja Radit menghadiahkan bogem mentah di wajah Devan hingga membuatnya tersungkur di tanah.
Devan pun langsung bangkit berdiri dan membalas Radit dengan pukulan yang tak kalah kuat hingga membuat hidung Radit mengeluarkan darah.
Devan pun tertawa kencang menyadari tindakan kekanakan mereka saat itu. Kepala pelayan yang tidak sengaja lewat dan menyaksikan perkelahian mereka pun langsung melapor pada tuan besarnya.
Tok, tok, tok.
"Siapa?" tanya papa Randi.
"Ini saya tuan, Danang." jawab salah seorang pelayan yang sudah cukup lama bekerja disana.
"Masuklah." perintah papa Randi.
"Maaf tuan, nyonya saya mengganggu." ujar pelayan terlihat panik
"Iya, gak apa-apa pak Danang. Ada apa sebenarnya sampai bapak datang ke sini dengan wajah cemas seperti itu?" tanya mama Sarah terheran.
__ADS_1
"Anu nyonya, tuan muda Radit dan tuan muda Devan." ucapnya terbata.
"Kenapa Radit sama Devan? Yang jelas pak bicaranya?" tanya mama Sarah mulai ikut panik.
"kamu kalau bicara yang jelas, ada apa dengan anak-anak saya?" tanya papa Randi tak kalah cemas.
"Mereka berkelahi tuan, nyonya." jelas pak Danang membuat mama Sarah semakin terkejut.
"Apa? mereka berkelahi? dimana mereka sekarang?" tanya mama Sarah bergegas turun dari ranjangnya dan memakai sandal.
"Oh, saya kira kenapa. Sudah sana kamu pergi aja biarkan mereka jangan di ganggu." jawab santai papa Randi membuat mama Sarah mendelik tajam ke arahnya.
"Apa sih ma? Jangan sok seram gitu, melototi papa." tanya papa Randi seolah tidak ada yang terjadi membuat mama Sarah semakin kesal.
"Papa gimana sih? Anak-anak lagi berantem kok sikapnya cuek gitu sih? Gimana kalau mereka luka dan kenapa-napa? Apalagi Radit baru sembuh pa, dia baru habis kecelakaan." tegas mama Sarah dengan kekesalan yang sudah mendidih di puncak kepalanya.
"Mama, tenang saja. Mama percaya sama papa mereka akan baik-baik saja. Lagipula Devan sudah mengetahui keadaan Radit, ia juga pasti akan memukul Radit di tempat yang vital." jelas papa Randi dengan santai yang tentu membuat istrinya berdecak sebal tanpa henti.
"Ya tapi tetap saja mama khawatir dengan mereka berdua, ayo kita lihat pa." ajak mama Sarah.
"Jangan ma, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jangan mengganggunya, papa yakin sekali setelah ini hubungan mereka akan membaik." jelas papa tersenyum mengambil buku yang tergeletak di atas nakas untuk ia baca.
"Baik-baik apanya pa? Kalau mereka berkelahi, mereka tidak akan baik-baik saja " protes mama Sarah tidak setuju dengan suaminya.
"Laki-laki menyelesaikan masalah dengan berkelahi itu biasa. Mulai sekarang mama harus terbiasa, dan papa yakin kedua putra kita akan segera membaik dan berdamai."jelas papa dengan mata yang fokus menatap buku bacaannya.
"Mana ada papa?! Ayo lihat mereka sekarang." ajak mama Sarah mengajak suaminya.
"Percaya sama papa deh ma."
__ADS_1