
Setelah melalui perdebatan yang panjang antara 2 keluarga mengenai rencana pernikahan Radit dan Fika akhirnya mereka pun bisa mencapai kesepakatan.
Keluarga Radit ingin agar pernikahan putra sulungnya tersebut bisa di publikasikan. Bagaimanapun juga Fika akan menjadi bagian dari keluarga Mahendra.
Dan papa Randi dan mama Sarah ingin acara pernikahan mereka di ketahui oleh publik. Sementara ayah Fika merasa hal tersebut terlalu berlebih-lebihan mengingat mereka bukanlah dari kalangan atas.
Ayah hanya ingin menikahkan putrinya dengan acara yang sederhana dan hikmat. Pernikahan hanya akan di hadiri oleh keluarga dan kerabat masing-masing saja.
Fika dan Radit yang sudah di buat pusing dengan keinginan kedua orangtua mereka yang sama-sama keras kepala akhirnya memberikan 1 solusi.
Akad nikah akan di adakan di Surabaya dan hanya akan di hadiri oleh keluarga, kerabat z dan sahabat dekat sesuai keinginan ayah Angga.
Sementara resepsi pernikahan akan di gelar di Jakarta sesuai keinginan kedua orangtua Radit. Mereka boleh mengundang siapa saja namun tidak lebih dari 1000 undangan saja karena Radit tidak ingin Fika terlalu lelah.
Awalnya papa Randi merasa keberatan karena banyak yang ingin ia undang. Semua relasi bisnisnya dan beberapa kalangan pengusaha dan pejabat yang ia kenal.
Namun akhirnya ia pun setuju karena Radit tetap bersikeras tidak akan mau mengadakan resepsi jika papanya tetap bersikeras.
Dan tidak ada wartawan yang boleh meliput acara resepsi mereka, karena Radit sendiri sangat tidak menyukai kehidupan pribadinya di ekspos untuk konsumsi publik.
Namun begitu, Radit tetap mengijinkan papanya untuk mengeluarkan berita pernikahan mereka di surat kabar. Walaupun papa Randi sedikit keberatan namun mau tidak mau ia pun menerimanya.
Kedua keluarga begitu bersemangat untuk mengurus semua acara pernikahan Radit dan Fika. Akad nikah akan di adakan sekitar 1 bulan dari acara pertunangan.
Sementara resepsi akan di adakan sekitar 5 hari setelah akad nikah. Semua orang tengah di sibukkan dengan persiapan pernikahan.
Setelah pertemuan siang hari itu, semua keluarga Radit langsung kembali ke Jakarta malam harinya.
Hanya Radit dan Hana yang tinggal karena Hana beralasan ingin menghabiskan sedikit waktu lebih banyak bersama Fika untuk berjalan-jalan di Surabaya.
Karena itu Radit akan pulang bersama Hana ke Jakarta satu hari setelahnya. Setelah mengantar keluarga Radit ke Bandara, Hana dan Icha memutuskan untuk pergi berdua berjalan-jalan ke sebuah mall.
__ADS_1
Sementara Radit dan Fika akan pergi berjalan-jalan di taman kota sambil menyicipi berbagai jenis jajanan di pinggir jalan malam hari.
Hana dan Icha ingin memberikan kesempatan untuk mereka berkencan sebelum Radit kembali ke Jakarta. Apalagi mereka juga tahu, jika Radit dan Hana akan menikah tanpa proses berpacaran lebih dulu.
"Mas Radit, mbak Fika aku sama Hana mau jalan-jalan ke mall dulu ya, ada yang pengen kita beli soalnya." ujar Icha .
"Loh, kalian gak jadi ikut kita ke taman kota? Katanya mau nyobain kuliner pinggir jalan disini de?" tanya Radit.
"Enggak deh, mas gampang lain kali aja. Kebetulan ada film yang pengen kita liat juga di bioskop. Mas Radit sama mbak Fika, berdua aja kalau mau jalan. Gak apa-apa kan?" kilah Hana memberikan alasan.
"Iya bener mas, mbak lagian aku pengen banget cari sesuatu buat mbak sama Radit sebagai kado pertunangan kalian. Masa iya kalian nya juga ikut, gak surprise lagi dong." timpal Icha.
"Udah lah mas, biarin aja mereka pergi. Hana pasti aman kok pergi Ama Icha. Dia itu jago bela diri juga, jadi pasti bisa jagain Hana dengan baik." jelas Fika mencoba membantu kedua gadis itu .
"Iya mas, boleh ya?" bujuk Hana lagi.
"Ya sudah, tapi ingat kalian harus kabari mas kalau terjadi sesuatu. Dan mas akan menempatkan penjaga untuk mengikuti dan mengawasi kalian dari kejauhan. Jadi kalian bisa pergi dengan nyaman." ucap Radit membuat keduanya berjingkrak senang.
Sementara Icha dan Hana akan pergi menggunakan sepeda motor Icha yang ada di cafe. Radit dan Fika mengantarkan kedua gadis tersebut untuk ke cafe terlebih dahulu.
**
Di taman, suasana malam hari itu cukup ramai karena memang malam itu adalah malam Minggu. Dimana banyak orang pergi keluar untuk sekedar nongkrong atau pun mencari makan diluar.
Radit menghentikan mobilnya di dekat sebuah gerobak sate taichan. Fika pun segera turun dari mobil untuk memesan 2 porsi sate taichan.
Keadaan kedai cukup ramai dengan para pengunjung taman yang terlihat begitu menikmati makanan tersebut.
Setelah selesai menikmati sate taichan , Fika mengajak Radit pergi ke kedai kopi angkringan. Mereka benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka dengan sangat bersemangat.
Setelah cukup kenyang setelah mencicipi berbagai jenis jajanan malam yang di jajakan di sepanjang jalan taman tersebut, mereka pun memutuskan untuk mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
__ADS_1
Udara malam terasa semakin menusuk ketika jarum jam telah memasuki angka 10. Radit yang melihat Fika tampak mulai kedinginan berinisiatif melepas jasnya untuk di pakaikan di tubuh tunangannya itu.
"Terimakasih." ucap Radit yang tiba-tiba mengambil posisi berlutut di depan Fika.
"Apa sih mas? Kamu tuh terimakasih terus. Aku tuh kasih apa sih emang sama kamu?" jawab Fika sedikit tertawa.
"Kamu sudah memberikan kebahagiaan terbesar di hidup aku untuk memiliki kamu." jawab Radit menatap dalam kedua bola mata berwarna kecoklatan tersebut.
Untuk beberapa saat pandangan mata keduanya bertemu, memantik sebuah perasaan sedikit canggung satu sama lain.
"Sini." Fika menepuk tempat kosong di sisinya.
Radit tersenyum lalu mengubah posisi tubuhnya yang tadinya berlutut di depan Fika kemudian berpindah duduk di samping Fika.
"Aku janji, aku bakal berusaha membahagiakan kamu seumur hidup aku." ucap Radit lagi.
"Aku sayang banget sama kamu." ucap Radit membelai lembut kedua sisi wajah Fika yang mulai berubah merona merah.
Fika pun menyelusupkan wajahnya di dada bidang Radit untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Fika mencari posisi ternyaman di pelukan Radit yang terasa begitu hangat. Dan dengan posisi seperti itu pula Fika bisa mendengar jelas bagaimana detak jantung Radit yang begitu kencang.
Beberapa saat mereka hanya diam tanpa bicara. mereka hanya mencoba menikmati waktu mereka yang sedikit untuk menikmati suasana malam hari itu yang begitu indah.
Langit malam begitu terlihat indah dengan taburan bintang yang berkilauan. Radit semakin mempererat dekapannya untuk membuat tubuh Fika tetap hangat.
Mencintai seseorang ibarat memahat sebuah patung. Perlu kesabaran, ketekunan dan ketelitian. Jika 3 hal tersebut bisa kita lakukan, sudah pasti jika patung yang akan di hasilkan pun akan sangat bagus.
Begitu pula ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang seumur hidup kita. Butuh kesabaran, pengertian dan kekuatan untuk tetap mencintai meskipun waktu terus berlalu membawakan badai dalam hubungan.
Radit dan Fika saling berjanji bahwa mereka akan berusaha untuk bisa selalu saling mengerti dan mengasihi satu sama lain. Mereka tidak akan mudah menyerah untuk tetap saling memperjuangkan.
__ADS_1
Mereka akan tumbuh dan menua bersama, mereka akan selalu bahagia.