My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Jodoh Idaman


__ADS_3

Akmal bergegas pulang setelah melihat keadaan Hana baik-baik saja dan sudah sadar. Sedangkan Hana meminta tolong pada perawat untuk menelpon temannya.


Sontak saja teman Hana yang mendapatkan kabar jika Hana berada di sebuah klinik, langsung memberitahukan pada guru mereka.


Setelah menginformasikan kepada semua siswa-siswi untuk berhenti mencari karena Hana sudah di temukan, semuanya di pulangkan menggunakan sebuah bis yang membawa mereka kemarin.


Kegiatan terpaksa di hentikan dan mereka di pulangkan 1 hari lebih cepat dari yang di rencanakan. Sementara 2 orang guru dan sahabat Hana yang menerima informasi tersebut pergi ke klinik mencari Hana.


Bu intan, selaku wali kelas Hana bisa bernafas lega setelah melihat sendiri jika Hana baik-baik saja dan tidak mengalami luka serius. Hanya beberapa goresan dan kakinya hanya sedikit terkilir tidak sampai patah.


"Hana, syukurlah lo gak apa-apa? tanya Vanya sahabat baik Hana.


"Gak apa-apa kok, cuma lecet-lecet dikit doang sih." jelas Hana tidak ingin membuat Vanya khawatir.


"Hana, semua orang sangat khawatir sama kamu. Syukurlah kamu baik-baik saja." ucap Bu Intan wali kelas Hana.


"Iya Hana, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? kenapa bisa ada disini?" tanya pak Bagas salah satu guru Hana yang mengantar bu Intan dan Vanya ke klinik.


"Saya tadi ke pisah sama tim Pak, Bu. Terus pas nyari jalan pulang malah ke perosok masuk jurang karena jalannya licin. Untung aja saya bisa bertahan di akar pohon. Setelah hampir 4 jam ada seseorang yang nolongin saya dan langsung bawa saya kesini." jelas Hana kembali mengingat Akmal yang menolongnya.


"Loh terus mana orangnya?" tanya Vanya menjadi penasaran.


"Udah pulang, tadi. Tapi dia nungguin sampe saya bangun sih, baru pamit pulang." kenang Hana mengingat wajah Akmal membuat jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.


"Dih, senyum-senyum lagi. Kenapa lo Han? ke sambet ya?" cibir Vanya .


"Eh enggak kok. Sembarangan aja nih kalau ngomong." ucap Hana.

__ADS_1


"Sudah-sudah gak usah ribut sekarang bapak sama ibu mau nemuin dokter dulu ya kalian tunggu."jelas pak Bagas.


Mereka pun langsung meminta ijin pada dokter untuk membawa Hana pulang ke Jakarta. Dan dokter pun mengijinkan karena Hana memang tidak perlu di rawat di klinik karena hanya termasuk luka ringan.


Pak Bagas pun membantu menggendong Hana ke mobil karena kakinya masih terlalu sakit untuk dibawa berjalan.


Bapak dan ibu guru Hana terlebih dahulu mengantarkan Hana pulang ke rumahnya. Mereka belum memberi tahu mama Sarah tentang kondisi Hana atas permintaan Hana sendiri.


Biarkanlah ia sendiri yang menjelaskannya nanti, pikirnya. Setelah 3 jam melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman utama keluarga Mahendra yang sangat megah.


Tidak hanya megah dan mewah, rumah tersebut di lengkapi dengan teknologi terkini dan sistem keamanan yang paling bagus. Tuan Mahendra bahkan menyiapkan sekitar 20 orang bodyguard yang bertugas menjaga di sekitar rumahnya.


Ia sangat mengedepankan keamanan bagi keluarganya, karena itulah ia menjaga ketat kediaman pribadinya untuk berjaga-jaga jika sesuatu hal yang kurang baik terjadi.


Mama sarah yang mendapatkan kabar dari salah satu pembantu rumah tangga yang bekerja disana, bahwa Hana sudah pulang di antar oleh gurunya pun sedikit terkejut.


Karena sepengetahuan nya Hana baru akan pulang besok sore. Ia pun segera bergegas menemui Hana yang sedang duduk berisitirahat di ruang tamu bersama Vanya dan gurunya.


"Sore pak, Bu." sapa mama Sarah kembali.


"Loh Hana sayang, kamu kenapa? Kenapa kamu luka-luka gini?" tanya mama Sarah panik melihat keadaan Hana.


"Gak apa-apa ma, Hana baik-baik aja kok." jelas Hana tidak mau membuat mamanya khawatir.


"Gak apa-apa gimana sayang? ini muka kamu aja banyak goresannya terus kaki kamu ini kenapa? Tolong pak, Bu jelaskan kenapa anak saya bisa pulang dengan keadaan terluka seperti ini?" tanya mama Sarah menuntut penjelasan.


Pak Bagas dan Bu intan hanya bisa saling memandang sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang hendak menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


Sebagai orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan tersebut pak Bagas dan Bu Intan pun meminta maaf pada mama Sarah karena telah lalai menjaga Hana.


Beruntung mama Sarah adalah seorang ibu yang bijaksana. Ia pun mengucapkan terimakasih karena telah mengantarkan Hana pulang.


Mama Sarah bisa memaklumi kejadian tersebut merupakan sebuah kecelakaan yang tidak di inginkan oleh siapapun. Ia sangat bersyukur putrinya bisa kembali ke sisinya tanpa kekurangan suatu apapun.


Setelah pak Bagas dan Bu Intan pamit untuk pulang, mama Sarah pun mengantarkan mereka sampai di pintu masuk utama. Sedangkan Vanya membantu Hana untuk pergi ke kamarnya agar bisa berisitirahat.


"Han, gue masih penasaran deh sama orang yang nolongin lo? Cewek apa cowok?" tanya Vanya antusias ketika mereka sudah berada di kamar Hana.


"Hem, ya kali cewek bisa ngeluarin gue dari jurang. Dia itu cowok, masih muda Van. Asli, ganteng parah." ujar Hana sambil kembali mengingat wajah rupawan sang super Hero.


"Terus, terus, terus lu kenalan dong? Aaah, gue juga mau kalau di tolongin sama cogan gitu." kelakar Vanya membayangkan setampan apa laki-laki yang menolong Hana.


"Nah, itu dia masalahnya. Begitu gue sadar, dia langsung cabut gitu aja Van. Boro-boro bisa ngajak kenalan, mau basa-basi bilang makasih aja susah." jelas Hana dengan bibir mengerucut sebal.


"Sumpah ya Van, dia tuh mirip banget sama mas Radit sikapnya. Beuhh, mirip gunung es yang ada di kutub Utara." sambungnya mengingat sikap dingin dan cuek Akmal padanya.


"Sumpah Han, gue jadi penasaran banget seganteng apa sih itu cowok sampe bisa bikin lo baper begini." ujar Vanya terkekeh geli.


"Dia itu tipe gue banget. Pokoknya kalau suatu hari nanti gue ketemu lagi sama dia, fix Van dia ituh jodoh yang Allah kirimkan buat gue Vanya." kelakar Hana yang sudah begitu terpesona oleh Akmal.


Farhanah sangat terkenal selektif dalam memilih teman ataupun pacar. Hana sangat sulit untuk di dekati, bahkan oleh anak laki-laki yang terpopuler sekalipun, yang ada di sekolahnya.


Memuji seseorang adalah hal yang langka dari seorang Hana mengingat kepribadiannya yang super jutek dan cuek. Ia selalu menjadikan kedua kakak laki-lakinya sebagai standar laki-laki idamannya.


Memiliki kakak sedingin Radit pun Hana menganggapnya sebagai salah satu poin spesial. Karena menurutnya, laki-laki seperti itulah yang akan setia dan tidak mudah tergoda oleh orang ketiga.

__ADS_1


Walaupun mereka tidak lahir dari ibu yang sama, tapi Hana sangat menyayangi kakaknya tersebut. Dan sejak kecil mama Sarah selalu menekankan jika Radit dan Devan adalah sama.


Mereka berdua adalah kakak laki-laki Hana yang juga menyayangi Hana dengan tulus. Dan tentu saja keduanya yang akan menjaga Hana sampai Hana dewasa nanti.


__ADS_2