My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Rasa yang masih sama


__ADS_3

Selama 1 Minggu ini Fika kembali menyibukkan dirinya di cafe. Ia berangkat pagi-pagi sekali dan sering pulang hampir tengah malam.


Semenjak pembicaraannya dengan kedua orangtuanya Minggu lalu, Fika tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak ataupun makan dengan tenang.


Hatinya terus merasa gelisah, entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia sebenarnya tidak merasa keberatan jika adiknya bisa menikah lebih dulu.


Tapi jika ia bicara seperti itu, sudah barang tentu orangtuanya yang akan merasa kecewa dengan keputusan tersebut.


Fika pun wanita yang mudah untuk jatuh hati pada seorang laki-laki. Jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Akmal.


Walaupun entah mungkin kini dia sudah menikah dengan gadis yang telah di pilihkan oleh papanya ketika itu.


Fika bahkan tidak pernah berani untuk mencari tahu bagaimana kabarnya karena ia takut mendengar kabar yang akan membuat hatinya kecewa.


Sudah 1,5 tahun ia tidak pernah melihat wajah dari laki-laki yang ada di hatinya itu. Hanya foto-foto kebersamaan mereka yang dulu masih tersimpan di ponselnya sebagai pengobat rindu.


Fika menghabiskan waktunya dengan menatapi satu persatu foto yang masih tersimpan dengan baik di handphonenya.


Tok tok tok,


"Masuk." ucap Fika dari dalam sambil menaruh handphonenya digas kembali.


Ceklek, pintu terbuka menampilkan sang adik Icha tengah tersenyum lebar padanya.


"Mbak, lagi gak sibuk kan?" tanya Icha


"Enggak kok de, ada apa ?" tanya Fika berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya.


Icha pun langsung berhambur menghampiri Fika yang kini sudah berpindah duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"sini de." ucap Fika menepuk tempat yang kosong di sebelahnya.


Icha pun menurut langsung duduk di samping kakaknya satu-satunya itu.


"Mbak, aku mau ngomongin soal aku dan Reihan ." ucap Icha terlihat sedikit ragu-ragu.


Fika pun tersenyum mengambil satu tangan Icha untuk ia genggam dengan hangat .


"Ayah sudah cerita sama mbak soal itu Minggu lalu. Dek, mbak tuh seneng banget. Mbak ngerasa bahagia buat kamu karena Reihan melamar kamu." jelas Fika dengan lembut

__ADS_1


"Jangan di tunda, karena mbak tidak mau melarang kamu untuk menikah lebih dulu . Mbak gak bisa seegois itu, Reihan adalah laki-laki yang baik jangan sia-siakan seseorang yang seperti dia." tambahnya lagi meyakinkan sang adik.


"Tapi mbak, aku tuh gak mau melangkahi mbak Fika."ucap Icha dengan menundukkan kepalanya.


"Seandainya kak Akmal masih,"belum sempat menyelesaikan kalimatnya Fika langsung menyelanya.


"Dek, tidak baik mengharapkan sesuatu yang sudah berlalu. Mbak gak mau kita membahas masalah itu lagi." ucap Fika sambil beranjak berdiri.


"Tapi, mbak." Icha masih membantah.


"Mbak harap kamu bisa menghargai keputusan mbak. Kalau Allah ngasih mbak kesempatan untuk berjodoh dengan laki-laki lain mbak pasti akan menikahinya. Tapi tolong jangan pernah lagi menyebut masa lalu mbak dalam pembicaraan kita." jelas Fika yang akhirnya pergi meninggalkan cafe dengan sepeda motornya.


Suasana hatinya cukup buruk, dan akhirnya setelah beberapa ratus meter berkendara Fika pun berhenti. Air mata yang sejak tadi ia tahan luruh berjatuhan tanpa bisa tutupi.


Aku tidak tahu arah mana yang harus aku tuju.


Karena setiap arah selalu berakhir dengan dirimu yang ada disana.


Aku tidak pernah berhasil menemukan cara untuk melupakanmu.


Karena setiap ingatanku terisi penuh dengan kenangan indah bersamamu.


Dalam nyata, kamu tidak pernah ada dimana pun ketika aku ingin melihatmu.


Sakitnya terlalu besar, ketika setiap waktu aku selalu merindukanmu.


***


Di Bandung,


Akmal kini tinggal dengan bunda Rania dan kakaknya Akhtar. Kedua orangtuanya resmi bercerai 1 tahun lalu walaupun dengan susah payah.


Namun kehidupan mereka lebih baik kini tanpa bayang-bayang nama besar keluarga Hutama. Akmal dan Akhtar kini fokus mengurus perusahaan juga pabrik dan perkebunan teh peninggalan kakeknya di Bandung.


Mereka tidak pernah kembali ke Jakarta, semenjak itu kecuali untuk urusan pekerjaan. Akmal sudah berhenti menjadi seorang komikus maupun sebagai penulis.


Ia lebih menyibukkan dirinya dengan urusan kantor agar ia bisa menahan rindunya pada Fika. Akmal tidak pernah melupakan Afika, baginya Fika tetap menjadi wanita yang paling spesial dalam hidupnya.


Sebelum kedua orangtuanya bercerai ayah Rendra selalu memaksanya untuk menyetujui perjodohan antara dirinya dan Risa .

__ADS_1


Namun Akmal dengan tegas menolak perjodohan tersebut bahkan ia menemui Risa secara pribadi untuk meminta Risa membatalkan perjodohan tersebut.


Awalnya Risa menolak mentah-mentah permintaan Akmal karena memang ia sungguh masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya itu.


Bahkan walaupun Akmal berhasil lepas dari perjodohan tersebut Risa tidak pernah menyerah. Ia seringkali datang ke Bandung untuk menemui Akmal.


Namun Akmal tidak pernah menghiraukannya. Hingga akhirnya setahun lalu Risa menyatakan dirinya menyerah dan memilih untuk kembali ke luar negeri.


Ia sadar seberapa keras pun ia berusaha, Akmal tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Walaupun hatinya sangat kecewa menerima setiap penolakan dari Akmal namun Risa tidak pernah membencinya.


Ia merasa bersalah karena pernah meminta Fika untuk meninggalkan Akmal. Harusnya ia sadar sejak dulu, jika cinta memang tidak akan pernah bisa di paksakan.


Ia ingin menemui dan meminta maaf pada Fika namun ia tidak mengetahui keberadaannya. Akmal bahkan tidak pernah memberitahukan dimana keberadaan Fika yang sebenarnya.


Akmal selalu menyempatkan waktunya untuk melihat Fika setiap beberapa bulan. Ia selalu mengawasi Fika walaupun ketika ia berada di Bandung.


Dan tak terasa 1,5 tahun berlalu dengan cepat. Ia benar-benar bersyukur walaupun sudah cukup lama namun Fika belum mencari orang lain untuk menggantikan posisinya.


Akmal sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika ia tidak akan pernah melupakan Fika walaupun suatu saat nanti Fika telah menemukan pengganti dirinya.


Akmal sudah benar-benar menguatkan dirinya tentang hal itu. Ia bahkan tidak berani untuk menemui Fika secara langsung karena takut menyakitinya.


Ia sangat tahu bagaimana perjuangan Fika untuk memulai kehidupannya yang baru di kota tersebut. Dan untuk itu, ia tidak akan pernah memaafkan ayahnya.


Jika bukan karena keegoisannya, mungkin kini ia sudah menikah dengan gadis yang begitu ia cintai.


Fika dan Akmal masih saling mencintai walaupun mereka tidak pernah saling bertemu.


Mereka tidak pernah saling melupakan meski akhirnya tidak akan bisa bersatu. Berbeda dengan Akmal yang mengetahui setiap detail bagaimana kehidupan Fika di Surabaya.


Fika tidak pernah mengetahui apapun tentang Akmal. Bahkan ia sempat berpikir mungkin kini Akmal sudah menikah dengan Risa.


Fika pun tidak pernah mengetahui jika bunda Rania dan ayah Rendra telah bercerai sejak tahun lalu.


Fika mencoba untuk tidak mencari tahu apapun tentang masa lalunya karena hanya akan membuat luka di hatinya kembali basah.


Hari itu Akmal memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Sudah 3 bulan sejak terakhir ia melihat gadis pujaan hatinya itu dari jauh.


Biasanya Akmal akan mengambil cuti selama 1 Minggu berada disana dan mengikuti kegiatan Fika sehari-hari selama ia disana.

__ADS_1


"Sayang, tunggulah aku sebentar lagi.. aku sangat merindukanmu." gumam Akmal dalam hati sembari menarik kopernya di bandara.


__ADS_2