My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Menceritakan yang sesungguhnya


__ADS_3

Sudah lebih seminggu sejak insiden kecelakaan Akmal waktu itu, keadaannya sudah semakin baik. Ia sudah bisa berjalan dengan benar, dan tangannya pun sudah lepas di gips siang itu.


Selama 1 Minggu terakhir, aku terus datang ke apartemen Akmal ketika pagi dan sore setelah pulang kerja untuk membawakan makanan.


Pada siang hari, bundanya akan datang setiap hari. Suatu hari ibu memutuskan untuk datang dan menjenguk Akmal di apartemennya.


Selama beberapa hari ia hanya bisa mengirimkan makanan melalui Fika ketika pagi hari ataupun meminta kurir untuk mengantarkannya di sore hari.


Siang hari ibu harus menjaga toko kue tradisionalnya yang sudah sejak beberapa tahun ini ia rintis. Ia memiliki 2 orang karyawan.


Ketika ibu datang, bunda Rania sedang ada disana dan kesempatan itu pun tidak Akmal lewatkan agar keduanya bisa saling memperkenalkan diri dan menjadi akrab.


Ibuku yang memiliki pembawaan yang humoris, sangat mudah mengambil hati bunda yang selalu terlihat tenang dan anggun.


Bahkan bunda Rania dan ibuku sudah merencanakan banyak hal tentang masa depan kami, yang bahkan masih belum kami putuskan.


Setiap malam bang Akhtar menginap di apartemen Akmal. Bunda sudah membujuk Akmal dengan segala cara agar ia mau pulang ke rumah utama, namun Akmal dengan tegas menolak. Ia bersikukuh walau aku sekalipun yang ikut turut membujuknya.


Karena gips nya sudah bisa di lepas, Akmal akhirnya meminta kakaknya untuk tak lagi datang lagi untuk menemani dan membantunya.


Akmal merasa tidak nyaman merepotkan kakaknya yang jelas-jelas sangat sibuk mengurus perusahaan bersama ayahnya.


Bang Akhtar sangat dingin terhadap wanita, bahkan ketika Akmal mengenalkan aku padanya ia tampak sangat datar.


Tidak ada ekspresi yang tergambar di wajahnya, akan sangat sulit untuk menebak apa yang ia pikirkan jika hanya melihat dair bagaimana ekspresi wajahnya.


Sikap dan sifatnya berbanding terbalik dengan Akmal yang pecicilan dan terlihat supel, mudah berbaur dengan orang lain.


Walaupun usianya sudah menginjak hampir kepala 3 tapi ia belum tertarik untuk menikah. Bahkan Akmal pernah bercerita jika pacar pun ia tidak punya.


Sedangkan kakak perempuannya sudah menikah tinggal diluar kota, tapi entah kenapa Akmal seperti enggan dan sangat malas jika menceritakan tentangnya. Ia bahkan seperti menghindar jika aku bertanya tentang kakak perempuannya itu.


"Kamu tahu, ini adalah kali pertama bunda datang kesini. Bahkan semenjak aku pergi dari rumah, aku tidak pernah sekalipun menemuinya. Aku hanya menelpon bunda sesekali ketika aku benar-benar rindu." Akmal tiba-tiba menceritakan tentang keluarganya tanpa aku bertanya.


"Ayah melarang aku dengan keras agar jangan pernah lagi menemui bunda kecuali jika memang aku akan kembali ke keluargaku." lanjutnya lagi dan aku hanya diam mendengarkan tanpa berniat untuk menyela.

__ADS_1


"Kamu mau tahu alasan kenapa aku memilih pergi dari rumah?" tanyanya yang ku berikan anggukan kecil sebagai jawaban.


Akmal tampak menghela nafas cukup dalam sebelum akhirnya kembali bercerita . Ia menautkan tangannya di sela-sela jari jemari ku dan menggenggamnya erat.


Rasanya hangat dan nyaman ketika kami bersama seperti itu. Walaupun sikapnya sedikit posesif dan kadang kekanakan tapi entah kenapa, hanya Akmal yang bisa membuatku nyaman.


"Ayah menikah lagi ketika bang Akhtar masih kecil tanpa sepengetahuan bunda. Dan ayah mempunyai satu anak dari istrinya itu, usianya 1 tahun lebih tua dariku. Dan saat ia berumur 1 tahun ibunya meninggal karena kecelakaan. Setelah itu, ayah membawanya tinggal bersama kami. Dan yang lebih menyakitkan, ayah mengakui jika anak perempuannya tersebut juga adalah anak bunda. Ayah menyuruh bunda untuk merawat dan membesarkan anak dari wanita lain sebagai anak kandungnya sendiri." ceritanya sesaat menjeda kalimat yang akan ia ucapkan lagi


"Bahkan ayah tidak pernah sekalipun meminta maaf kepada bunda karena telah berbohong dan mengkhianati kepercayaannya. Saat itu bunda baru saja melahirkanku, kesedihan terus berdatangan silih berganti. Tahun demi tahun terlewati sampai akhirnya kami dewasa." jelasnya lagi


"Awalnya keluarga kami terlihat harmonis seperti keluarga yang lainnya, namun suatu hari akhirnya aku mengetahui jika seseorang yang ku anggap sebagai kakak perempuan ku satu-satunya itu ternyata anak dari wanita lain ."


"Karena perbedaan usia kami yang hanya selisih 1 tahun, kami seperti anak kembar. Kami sangat dekat, aku sangat menyayangi dan melindunginya. Ketika aku mengetahui yang sebenarnya akhirnya aku mengerti kenapa bang Akhtar tidak pernah bisa menyayangi Zahra seperti dia menyayangi dan memanjakanku."


"Tapi setelah mengetahui semuanya hubungan keluarga kami memburuk, bukan hanya aku yang pergi. Jauh sebelum itu bang Akhtar sudah lebih dulu pergi dengan berbagai alasan. Baru 1 tahun belakangan ini bang Akhtar benar-benar kembali, itupun hanya karena Zahra sudah lama pergi dari kota ini dan menetap dengan suaminya di luar kota." jelasnya lagi dengan raut wajah yang sendu.


"Dia menikah muda?" tanyaku hati-hati


"Ya, tahun lalu dia menikah dengan anak dari sahabat ayah. Suaminya seorang pengusaha muda yang sukses." jawabnya datar


"Apa kalian tidak pernah bertemu? apa dia mengetahui segalanya?" tanyaku lagi


"Tapi apa? " tanyaku penasaran


"Ayah tidak pernah berubah sayang, dia tidak pernah menyesal atau meminta maaf pada bunda. Aku malu menyebutnya sebagai ayahku." jelasnya lagi yang tiba-tiba raut wajahnya di penuhi dengan amarah


"Sudahlah, aku bahkan sangat malu menceritakannya padamu. Dia bukan seseorang yang pantas untuk menjadi seorang ayah." tegasnya lagi dengan rahang yang terlihat mengetat.


"Sebaiknya aku tidak bertanya macam-macam lagi, biar dia yang menceritakan itu dengan sendirinya." batinku.p


"Baiklah, kalau gitu ayo kita pergi. Aku pengen nikmatin hari ini cuma sama kamu." ucapku sambil memeluk lengannya dengan antusias


"Hari ini aku akan menghiburmu..selalu bersamamu" yakinku dalam hati


Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya ku


"I love you. " bisiknya di telingaku membuatku geli dan malu secara bersamaan


"I love you too." ucapku malu-malu karena dia terus menatapku sejak tadi


Di tatap dalam jarak sedekat ini, sungguh membuat jantungku nyaris berlompatan. Entah kenapa, aku selalu gugup jika dalam posisi yang sedekat ini dengannya.


"A.ayo sayang." ajak ku sambil menarik tangannya menuntunnya keluar dari apartemennya


"Karena kamu baru sembuh, biar aku aja yang nyetir hari ini. no complain okay? deal?" seru ku dengan wajah setegas mungkin


Wajahnya nampak akan protes, namun diam sesaat akhirnya ia pun setuju akhirnya.


"Aaahhhh akhirnya aku dapat menyetir mobilku setelah sekian lama." senangku dalam hati


Aku memutuskan untuk menikmati hari ini dengan menonton film di bioskop terlebih dahulu. Dan Akmal pun menyetujuinya. setelah 45 menit kami pun sampai di salah satu mall terbesar di Jakarta. Ketika hendak masuk bioskop, Akmal pun merusak suasana hatiku yang sedang bahagia.


"Sayang, hapus dulu make up kamu." ucapnya tiba-tiba bak Guntur di siang hari yang menggelegar.


 


.


.


.


.


.


.


**Thanks reader yang udah jadi pembaca setiaku, jangan lupa vote, like and comment yaa biar tambah semangat up nya..

__ADS_1


Happy reading😘😘**


 


__ADS_2