My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Berpamitan


__ADS_3

Setelah berdiskusi dengan sang adik satu-satunya itu akhirnya Fika dan Icha memutuskan untuk ikut bersama kedua orangtuanya.


Icha akan mulai memilih universitas terbaik di Surabaya untuknya melanjutkan kuliah disana. Ia juga sudah menceritakan semua rencana keluarganya tersebut pada pacarnya.


Dan pacarnya sangat mendukung semua yang orangtuanya rencanakan. Karena ia tahu persis bagaimana pengaruh keluarga pebisnis besar seperti keluarga Hutama di kota ini.


Setelah wisuda pacar Icha akan menyusul mereka ke Surabaya dan ikut menetap disana. Karena memang mereka berasal dari kota tersebut sebelum akhirnya merantau di Jakarta.


Sedangkan Fika kini sudah mengganti nomor ponselnya. Hari itu ia bergegas pergi ke kantornya untuk mengajukan surat pengunduran dirinya dan berpamitan dengan semua rekan-rekan kerjanya.


Sejak pagi Fika sudah berangkat ke kantor, ia pun membelikan beberapa cup hot cappucino untuk rekan-rekannya di kantor.


Ketika ia sampai di ruangannya, Radit, Alana dan Dafa sudah ada disana. Mereka baru saja datang ketika Fika pergi ke cafe di seberang kantor untuk membeli minuman tersebut.


"Pagi semua." sapa Fika dengan ceria.


"Pagi." jawab mereka serempak.


"Mas Radit udah sembuh?" tanya Fika sembari menyajikan 1 cup hot cappucino yang ia bawa.


"Terimakasih. Sudah, sekarang aku sudah lebih baik." jawab Radit tersenyum lembut.


Lalu ia pun meletakkan masing-masing satu cup di setiap meja. Dafa dan Alana saling pandang merasakan ada hal berbeda antara Fika dan Radit yang tak terlihat seperti biasanya.


"Sayang, apa aku sedang bermimpi?" tanya Alana mulai heboh.


"Tidak sayang, ini memang nyata. Sekarang Tom and Jerry sudah berkawan baik dan tidak lagi bermusuhan." jawab Dafa mengejek keduanya.


"Apa kami melewatkan sesuatu tentang kalian?" tanya Alana curiga.


"Apaan sih mbak, bukannya bagus kalau aku sama mas Radit udah gak berantem lagi?" tanya Fika mengerucutkan bibirnya sebal.


"Ya enggak sih, bagus-bagus aja. Bagus banget malah. Cuma ya, sedikit aneh aja gak sih kalau biasanya kita lihat kalian itu seperti kutub Utara dan kutub selatan yang berlawanan." jawab Dafa


"Eh, tapi dit itu muka kamu banyak bekas memarnya gitu kenapa?" tanya Alana tersadar.


"Gak apa-apa kok mbak cuma kecelakaan kecil aja." ucap Radit berkilah.


"Oh, seperti itu." ucap Alana yang sebenarnya sedikit tidak percaya.

__ADS_1


"Udah lah mas Radit, tidak ada yang perlu di tutupi lagi." ucap Fika tersenyum tipis.


Alana kembali melirik Dafa seakan bertanya sebenarnya apa yang terjadi dengan Fika dan Radit.


"Ini semua karena Akmal. Dia yang bikin mas Radit babak belur kayak gitu." ucap Fika menatap Radit intens.


"Apa?" jawab Alana dan Dafa serempak.


"Kok bisa sih Fik? Kenapa Akmal bisa mukulin Radit gitu aja?" tanya Alana penasaran.


"Iya Fik, atau jangan-jangan kalian di belakang kita sebenarnya?" ucap Dafa menggantung.


"Enggak kok mas, mbak. Akmal tuh salah paham aja, kalian tahu sendiri gimana dia cemburuannya." jawab Fika lalu menghela nafas cukup berat.


"Tapi sekarang kita udah selesai." ucap Fika kembali duduk di kursinya.


Degg,


Radit yang mendengarnya pun tiba-tiba menghentikan jarinya yang sedang bergerak lincah di atas keyboard mengerjakan laporannya.


"Seriusan ini Fik?" tanya Alana langsung menghampiri meja Fika begitu juga dengan Dafa.


Fika hanya mengangguk kecil sembari melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia harus menyelesaikan semuanya hari ini.


"Ah, gila! Belom lama kemaren kita semua denger Fika dilamar eh sekarang udah putus aja." ucap Alana yang masih terkejut dengan berita itu.


"Berarti itu namanya belum jodoh sayang." ucap Dafa menimpali.


Fika hanya tersenyum pedih mendengar kata-kata tersebut. Ada sebagian dari hatinya yang masih merasa sakit mendengar hal tersebut.


Ia benar-benar buruk untuk Akmal bahkan untuk berbicara langsung dengannya pun Fika merasa tidak sanggup.


Ia tahu seberapa kerasnya Akmal jika sudah menyangkut dirinya. Fika sangat takut jika tak bisa bersikap tegas pada Akmal jika harus menghadapi Akmal secara langsung.


Maka dari itu, ia meminta ibunya untuk menghubungi bunda Rania dan meminta bantuannya.


Bagaimanapun juga ia tidak mungkin mempertaruhkan keluarganya untuk hubungan mereka.


Bagaimana dengan masa depan adiknya kelak. Sudah cukup ayah Akmal menghancurkan orangtuanya.

__ADS_1


Siang harinya mereka berempat memutuskan untuk makan siang bersama seperti biasa. Seperti sebelum 6 bulan lalu sebelum Akmal datang di kehidupannya.


Sayangnya ini menjadi momen terakhirnya bersama mereka. Fika belum memberitahukan perihal dia dan keluarganya yang akan pindah ke luar kota.


"Hari ini kalian bebas pilih apapun yang kalian mau makan ya, aku yang traktir." ucap Fika begitu mereka berempat duduk di meja yang sudah Fika booking sebelumnya.


"Wah, beneran nih serius mau traktir kita bertiga?" tanya Dafa antusias.


"Kamu tuh yang, malu-maluin aja. Sebegitu senengnya di traktir." seru Alana menegur kekasihnya itu.


"Fik, sebenernya ada apa ?" tanya Radit dengan wajah yang serius.


"Iya, Fik. Kamu tuh gak kelihatan kayak biasanya. Mbak merasa ada yang beda sama kamu hari ini." timpal Alana yang menyetujui dugaan Radit.


Hari ini Fika terlihat berbeda, ia tidak seceria biasanya tapi tidak juga sesedih orang yang sedang putus cinta. Ada sesuatu yang sepertinya Fika sedang sembunyikan.


Fika pun tersenyum menatap satu persatu rekan-rekan kerjanya tersebut yang sudah bersamanya hampir 4 tahun belakangan ini.


Selain Nayla tidak ada lagi yang dekat dengannya sebagai teman kecuali mereka bertiga. Bagi Fika mereka bertiga seperti sosok kakak yang selalu membimbing dan melindungi adiknya.


"Fika ih, jawab dong kenapa sih?" tanya Alana yang sudah tak enak hati.


"Anggap aja ini sebagai makan siang terakhir kita. Dan ini, aku sudah menyiapkan kenang-kenangan untuk kalian masing-masing satu." ucap Fika tersenyum sambil mengambil 3 kotak berukuran kecil yang ia bagikan pada mereka bertiga.


"Apa maksud kamu dengan kenang-kenangan?" tanya Radit yang hatinya sudah begitu campur aduk dibuatnya.


"Aku dan keluargaku sudah memutuskan bahwa kami akan pindah dan menetap di luar kota. Jadi hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di kantor ini. Aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku sore nanti setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan ku." ucap Fika yang membuat mereka bertiga terkejut.


"Becandaan Lo garing tahu gak ?" cetus Alana dengan mode kesalnya.


"Aku serius mbak, dan aku mau minta maaf sama kalian bertiga kalau selama kita kerja bareng aku banyak nyusahin kalian atau gak sengaja bikin tersinggung." ucap Fika tulus menatap satu persatu mereka bertiga.


Alana langsung mendekati Fika dan mereka berpelukan untuk beberapa saat. Sedangkan Radit hanya bisa bungkam, bibirnya terasa kaku bahkan untuk sekedar bertanya kenapa?


Radit yakin ini semua ada hubungannya dengan keluarga Hutama. Tidak mungkin Fika dan keluarganya memutuskan untuk pindah secara mendadak ke luar kota.


Kedua tangannya mengepal kuat dibawah meja. Ia berusaha bersikap tenang, tapi ia akan mencari tahu secepatnya kenapa Fika harus sampai pergi dari kota ini.


"Papa pasti tahu sesuatu tentang ini. Aku harus segera mencari tahu." batin Radit.

__ADS_1


__ADS_2