
Mengetahui kebenaran jika keadaan mas Radit sampai separah ini di karenakan olehku sendiri membuatku semakin merasa sedih.
Bahkan setelah kami berpisah om Rendra tidak pernah puas untuk membuat hidupku susah. Dia bahkan menyuruh seseorang untuk melenyapkan ku dari dunia ini.
Sampai orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah kami turut jadi korban. Akmal, tiba-tiba saja nama itu kembali muncul dalam kegamangan hatiku.
Setelah perjuangan dan perjalanan panjang untuk melupakannya, nasib kembali membuat ku harus berkaitan dengan nama itu. Ada sejumput rindu tersisa di hatiku, yang sudah mulai mengering.
Kali ini, aku tidak akan bisa menghindarinya lagi. Jika Tuhan tetap berkeinginan membawa kembali dirinya dalam cerita hidupku sekali lagi, aku tidak bisa terus berlari dan bersembunyi.
Entah kemana takdir akan membawa diriku, kemanapun itu kali ini aku tidak akan mengingkarinya. Aku akan menghadapinya dan mengakhiri semua yang harus di akhiri dengan sebaik mungkin.
Setelah cukup berpikir, aku pun menerima tawaran papa Radit untuk ikut di pindahkan ke Jakarta dan melakukan perawatan di rumah sakit yang sama dengan mas Radit.
Aku juga akan melakukan operasi di rumah sakit milik keluarga Radit itu. Hari itu juga, kami semua berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat pribadi milik om Randi.
Ibu menemani Icha tinggal di Surabaya, sedangkan ayah yang akan menemani ku selama aku menjalani perawatan di rumah sakit di Jakarta.
Setelah sampai di Jakarta, kami berdua langsung dibawa ke Mahendra hospital yaitu salah satu rumah sakit terbesar yang ada di Jakarta.
"Welcome back to Jakarta." batinku .
Rumah sakit tersebut adalah milik papa Radit yaitu om Randi Mahendra. Dan om Randi pun mengatur untukku dan Radit agar di rawat di ruangan yang sama.
Sebuah ruangan VVIP yang memang di khususkan untuk keluarga Mahendra. Ruangan tersebut sangat luas dan mewah bak kamar VIP hotel bintang lima.
Tentu saja kami tidak bisa menolak kehendak dari om Randi, apalagi ketika tante Sarah sendiri memohon padaku dan ayah agar kami di rawat di ruangan yang sama.
Mereka percaya jika Radit akan cepat sadar dan pulih dari koma jika aku selalu berada di dekatnya. Dan alasan lainnya agar mereka lebih mudah menjaga kami dari orang-orang suruhan om Rendra yang jahat.
Om Randi tidak ingin lagi kecolongan seperti peristiwa kecelakaan kami beberapa waktu lalu. Walaupun merasa sedikit tidak nyaman namun aku berusaha untuk tidak menyinggung om Randi dan tante Sarah yang sudah begitu baik padaku.
"pak Angga, maaf apa kita bisa bicara dulu sebentar?" tanya om Randi yang langsung di angguki oleh ayahku.
__ADS_1
Mereka berdua pun berjalan keluar beriringan meninggalkan ruangan tempat dimana aku dan mas Radit harus menjalani masa pengobatan.
"Fika, kamu pasti sangat lelah. Sebaiknya kamu berisitirahat dulu. Tante akan tetap disini sampai om Randi dan ayah kamu kembali." ucap tante Sarah sambil tersenyum penuh kelembutan.
Sosok tante Sarah sendiri mengingatkan ku pada bunda Rania. Sudah lama kami tidak bertemu, terkadang aku merindukannya.
"Bagaimana kabarnya bunda sekarang ya."batinku.
"Fika.. hey Fikaa." panggil tante Sarah menyadarkan ku yang termenung beberapa saat.
"Maaf tante, Fika tadi lagi kepikiran sesuatu."jelasku berusaha tersenyum setulus mungkin.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Tante mau ke kamar kecil dulu." pamitnya yang kemudian menghilang seiring pintu kamar mandi yang tertutup.
Aku pun melirik ke arah samping kananku dimana mas Radit tengah berbaring di atas bed pasien yang terasa sangat nyaman itu.
Sejak kemarin keadaan mas Radit semakin membaik menurut dokter. Tapi entah kenapa ia tak juga kunjung tersadar dari mimpi panjangnya.
Entah kapan ia akan terbangun kembali. Melihatnya yang seperti ini membuat rasa bersalahku semakin memuncak.
Entah berapa lama aku tertidur, sampai akhirnya sayup-sayup ku dengar suara ayah yang terlihat sedang berbicara dan bercengkrama dengan seseorang.
Suaranya benar-benar sangat tidak asing terdengar di telingaku. Ketika aku mencoba untuk membuka mataku yang masih sedikit berat untuk terbuka, suara orang tersebut semakin memantik rasa penasaran ku.
Benar saja, ku lihat ayah sedang duduk di sebuah kursi yang ada di antara bed mas Radit dan aku. Ia duduk sambil tertawa renyah membelakangi ku.
Mas Radit sudah siuman, bahkan ia terdengar sangat bersemangat bertukar cerita dengan ayahku. Entah kapan ia tersadar, aku tak penasaran lagi.
Melihatnya yang seperti ini sudah membuat hatiku lega dan juga bahagia. Walaupun rasa bersalahku masih utuh tak berkurang seujung kuku pun untuk nya.
Melihat dan mendengar kedua orang di hadapan ku tertawa dengan bahagia seperti itu membuat ku sedikit terharu dan memancing airmata untuk keluar dari persembunyiannya.
Beberapa saat aku hanya diam menikmati pemandangan indah di malam hari ini. Jam di di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam.
__ADS_1
"Fika." panggil mas Radit tersenyum lebar.
Ayah pun sontak mengubah posisi duduknya dengan menghadapku dengan wajah yang tampak berbinar.
"Sayang, kamu sudah bangun? Kenapa diam saja dan tak memanggil ayah?" timpal ayah penuh antusias mendekatkan kursinya ke ranjang ku.
"Gimana aku gak bangun, kalau kalian berbicara dan tertawa sekeras itu? Aku bukanlah orang tuli." jawabku sedikit merajuk.
Mereka berdua pun kembali tertawa mendengar ucapan ku.
"Aku seneng banget mas, kamu udah sadar sekarang." ucapku tulus.
Aku pun berusaha bangkit untuk duduk di bantu ayahku. Setelah itu ayah menuntunku untuk duduk di kursi yang ada di samping bed pasien mas Radit.
"Kamu mau ngapain? Udah istirahat aja, Aaww." ucapnya berusaha untuk bangun dan duduk di atas ranjang.
Namun karena bekas operasi nya belum terlalu kering, sehingga ia tidak bisa banyak bergerak.
"Mas Radit tuh yang ngapain? Udah tiduran aja sih. Aku sih udah gak apa-apa." ucapku sedikit menyentak.
Ayah pun langsung membantu mas Radit untuk menaikkan ranjangnya dengan menekan remote yang terletak di atas nakas, agar mas Radit lebih merasa nyaman.
"Kamu gak apa-apa? Gimana tangan kamu?" tanya mas Radit terus menatap tanganku yang di bebat dan memakai penyangga.
"Kenapa tanya? Harusnya aku yang tanya keadaan mas Radit gimana?" ucapku hanya menjawabnya dengan pertanyaan pula.
"Hem, sebaiknya kalian bicarakan ini berdua. Ayah tunggu diluar ya sayang, kalau kamu mau kembali berisitirahat kamu hubungin ayah ya." ucap ayah yang ingin memberikan ruang untuk kami.
Setelah ayah keluar, kami terdiam cukup lama dengan suasana yang terasa kikuk. Aku tidak tahu apakah harus aku yang memulai pembicaraan di antara kami karena ia hanya terus diam memandangi ku.
"Mas Radit kenapa liatin aku kayak gitu sih?" ucapku sedikit salah tingkah.
"Aku sangat merindukan kamu. Aku hanya ingin melihat kamu lebih lama." ucapnya tersenyum dengan wajah yang begitu terlihat teduh membuat kedua pipiku bersemu.
__ADS_1
"Kenapa gunung es ini bisa secair ini?" ucapku dalam hati mencoba menetralisir kegugupanku yang terus menerus di tatapnya.