
Selama 1,5 tahun terakhir ini Radit tidak pernah berisitirahat ataupun mengambil cuti untuk membuktikan pada papanya kalau ia sudah mampu menjadi anak yang bisa di andalkan.
Radit sudah berucap pada papanya hanya ketika ia sudah bisa menggantikan posisi papanya memimpin Mahendra Corporation barulah ia akan istirahat.
Ia akan mengambil waktu untuk menemui gadis yang ia cintai. Setelah ia benar-benar pantas untuk bisa berada di sisinya dan melindunginya.
Sejak awal bahkan sebelum kepergian Fika, Radit sudah menceritakan tentang perasaannya pada sang papa. Dan beruntungnya ia memiliki seorang ayah yang baik seperti papanya.
Tuan Randi tidak pernah mempermasalahkan jika Fika berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bahwa gadis yang di cintai oleh putranya adalah gadis biasa tanpa status sosial yang tinggi.
Radit sangat bersyukur, ketika ia benar-benar ingin memperistri seseorang papanya tidak mengeluarkan alasan apapun untuk menolak pilihannya.
Hubungan Radit dan ibu dan sambungnya pun semakin membaik seiring berjalannya waktu. Begitu pun dengan saudara tirinya yang kini mulai ikut terjun mengurus perusahaan.
Sejak awal hubungan mereka tidak bisa di sebut buruk, namun tak sebaik keluarga lainnya. Karena sikap Radit yang sedingin gunung es membuatnya susah untuk di dekati bahkan oleh saudara tirinya tersebut.
Rasanya momen seperti itu menjadi momen paling sempurna dalam hidupnya ketika semua hal terasa membaik. Sikap dingin dan cueknya karena ia dibesarkan tanpa kasih sayang ibunya.
Namun setelah kepergian Fika dengan tekadnya yang sekuat baja itu ia berusaha merubah semua hal pada dirinya.
Semua hal yang selalu di keluhkan oleh Fika ketika mereka masih bersama. Itulah yang membuat akhirnya gunung es di Mahendra Corporation itu mencair.
***
Setelah Fika selesai membantu ibunya merapikan meja makan dan mencuci piring ia pun menghampiri ayahnya dan juga Radit yang tengah berbincang di halaman belakang.
"Ayah ngobrol apa sih sama mas Radit kok sampe serius banget kayanya." gumam Fika sambil membawa nampan berisi 2 cangkir teh.
Melihat kedatangan Fika menghampiri mereka, keduanya langsung terdiam sedikit canggung karena takut jika Fika mendengar pembicaraan mereka.
"Lagi ngobrol apa sih kalian kayak serius banget sih yah?" tanya Fika sambil meletakkan teh hangat tersebut di meja.
Ia pun memilih untuk duduk di samping ayahnya sambil menggelayut manja di lengan ayahnya. Untuk pertama kalinya Radit melihat sisi manja Fika terhadap ayahnya.
__ADS_1
Radit pun tersenyum melihat interaksi antara Fika dan ayahnya yang sedang bercanda sambil tertawa bersama.
"Maaf nak Radit, om jadi mengabaikan kamu karena putri om yang manja ini. Walaupun usianya sudah pantas untuk menjadi seorang ibu, dia selalu bersikap manja pada ayahnya semenjak ayahnya menjadi pengangguran." ujar ayah Fika sambil tertawa renyah.
Sementara Fika hanya mencebik sebal karena perkataan ayahnya itu. Memang ketika mereka tinggal di Jakarta, mereka selalu di sibukkan dengan waktu bekerja. Sehingga mereka tidak bisa sedekat seperti sekarang.
Sejak dulu, walaupun ia anak yang mandiri dan tegas sejak kecil namun ia selalu bersikap manja pada ayahnya. Mereka sangat dekat, sedangkan Icha lebih dekat dengan ibunya.
Namun setelah Fika memasuki dunia kerja yang sibuk dan keras ia menjadi jarang sekali menghabiskan waktu dengan ayahnya.
Jika Fika pulang cepat maka ayahnya akan pulang terlambat. Dan selalu seperti itu sampai akhirnya hubungan mereka sedikit canggung.
Namun setelah mereka memulai kehidupan mereka yang baru di kota tersebut, keluarga mulai terasa sedekat dulu. Ayah Fika tidak pernah menyesali apapun meninggalkan kehidupannya dan karirnya yang ia bangun sejak 20 tahun lalu itu.
Baginya hidup sederhana di dekat pedesaan seperti ini sudah menjadi paling sempurna selama kedua putrinya tersebut ada di sisinya dan baik-baik saja.
Tak lama setelah kedatangan Fika, ayahnya memilih pamit untuk berisitirahat. Tinggallah Fika dan Radit berdua penuh kecanggungan dan kebisuan sejak tadi.
"Bagaimana kabar mbak Alana dan mas Dafa?" tanya Fika setelah cukup lama terdiam.
"Benarkah? Syukurlah, aku ikut bahagia. Aku sangat merindukan mereka." ujar Fika sambil menatap langit malam membayangkan banyak momen yang pernah mereka lewati.
Apalagi selama ini, Alana dan Dafa sangat baik padanya. Mereka berdua adalah teman terdekatnya setelah Nayla yang pernah ia punya.
"Ah kenapa tiba-tiba rasanya aku benar-benar merindukan mereka." batin Fika dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mereka tidak pernah melupakan kamu."ucap Radit tiba-tiba membuat Fika menoleh.
"Benarkah? Apa mas Radit masih sering menghabiskan waktu dengan mereka?" tanya Fika.
"Tidak, karena aku sangat sibuk selama 1 tahun belakangan ini. Lagipula Alana sudah mengundurkan diri semenjak ia hamil." jelas Radit tersenyum mengingat momen kebersamaan mereka berempat.
"Apa mereka marah padaku karena tidak datang ke pernikahan mereka?" tanya Fika lagi.
__ADS_1
"Alana sangat marah padamu, dia bilang jika ia bertemu denganmu lagi di jalan ia akan mengikat tangan dan kakimu dan membawamu selama 1 hari penuh bersamanya." jelas Radit terkekeh geli mengingat ucapan Alana itu.
Begitu juga dengan Fika, hatinya kembali menghangat mengetahui jika kedua orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu tidak pernah melupakannya.
"Lalu, siapa yang menggantikan kami berdua di tim sekarang?" tanya Fika penasaran.
"Aku tidak mengenal mereka berempat yang menggantikan tim 1, karena aku terlalu sibuk untuk mengurusi pekerjaanku." jelas Radit jujur.
"Jadi tim 1 sekarang berjumlah 6 orang? Banyak sekali ya." gumam Fika sedikit merasa aneh.
"Siapa bilang? tim 1 tetap berjumlah 4 orang kok." ucap Radit lalu menyesap teh nya yang sudah mulai dingin.
"Lalu?" tanya Fika sambil menaikkan alisnya mulai merasa curiga.
"Papa ku sudah pensiun dan aku yang menggantikannya. Kamu tahu, aku tidak mudah menyesuaikan diri tentang pekerjaan dengan orang yang baru aku kenal. Jadi, aku meminta Dafa untuk menjadi asisten ku." jelasnya jujur membuat Fika tertegun sesaat.
"Maksud kamu?" tanya Fika masih penuh keterkejutan.
Radit hanya tersenyum sambil mengangguk kecil lalu, menikmati buah yang sudah ibu di potong yang ada di depannya.
"Terus mas Radit ngapain disini kalau mas Radit CEO nya sekarang?" tanya Fika setengah berteriak heboh.
"Aku tidak pernah mengambil libur, selama 1,5 tahun ini. Aku sudah bekerja keras untuk memajukan perusahaan tanpa bersantai atau menikmati hari libur. Jadi sekarang aku ingin menikmatinya bersama kamu." jelas Radit santai.
Sudah saatnya Radit bicara sejujurnya pada Fika. Lagi pula ia tidak punya banyak waktu yang tersisa untuk mendapatkan hati Fika.
"Maksud mas Radit?" tanya Fika sedikit ragu.
"Aku datang kesini karena aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu dan ingin menghabiskan waktu selama 10 hari yang aku miliki ini untuk bersama kamu." jelas Radit menatap mata Fika dengan sungguh-sungguh.
Kalimat demi kalimat yang Radit ucapkan membuat Fika benar-benar terkejut. Ia sampai bingung harus berkata apa dan bersikap bagaimana terhadap Radit.
Fika hanya bisa menatap Radit penuh keterkejutan dan wajah tak percaya dengan degub jantung yang tiba-tiba melonjak drastis.
__ADS_1
Rasanya jantungnya benar-benar berdetak kencang, sama rasanya dengan ketika ia sedang berlari kencang dalam pekan olahraga Nasional.