
Jantung Fika rasanya seperti sedang di remas-remas manakala ia sampai di depan ruang ICU tempat di mana Radit tengah terbaring dalam keadaan koma.
Fika duduk di sebuah kursi roda dan di antar oleh ayah dan ibunya untuk melihat Radit. Papa Randi dan mama Sarah pun langsung berdiri sedikit terkejut dengan kedatangan Fika.
Papa Randi pun tersenyum lembut menghampiri Fika yang terlihat sangat shock melihat keadaan Radit yang sebenarnya. Sementara mama Sarah hanya diam dengan penasaran dengan siapa yang datang menghampirinya.
"Ayah, mas Radit yah.." ucap Fika dengan airmata yang sudah jatuh mengalir deras di kedua pipinya.
Rasanya baru kemarin mereka pergi bersama dan harus berakhir dengan kecelakaan.
Ayah pun memegang bahu Fika mencoba menyalurkan kekuatan untuk putrinya, sontak saja tangan Fika terulur menggenggam tangan sang ayah di bahunya.
"Maafkan ayah dan ibu sayang, baru memberitahukan yang sebenarnya." ucap ayah dalam hati.
Ayah dan ibu mencoba menenangkan Fika yang sedang menangis dengan terisak menatapi Radit dari balik kaca yang menghubungkan ruang tunggu ke ruang ICU.
Ibu dan ayah pun sesekali memandang Radit yang hanya terbaring dan terpejam dengan banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya membuat mereka juga ikut prihatin.
Ibu dan ayah Fika pun hanya bisa mendoakan Radit dalam hatinya masing-masing sambil terus menenangkan putrinya itu.
"Fika, bagaimana keadaan kamu?" tanya papa Randi menghampiri Fika.
"Baik pak, tapi kenapa mas Radit seperti ini?" tanya Fika sambil menghapus airmata di pipinya dengan tangan kanannya.
"Radit mengalami pendarahan di organ dalamnya karena salah satu pembuluh darahnya ada yang robek dan sempat mengalami serangan jantung. Tapi saya yakin, Radit akan baik-baik saja dan segera sadar. Apalagi jika dia tahu kamu ada disini." jelas papa Randi dengan penuh kelembutan dan mencoba menghibur Fika yang terlihat sangat sedih.
"Pa, sebenarnya siapa mereka?" bisik mama Sarah membuat papa Randi tersenyum karena ia lupa kalau istrinya belum mengetahui apapun.
__ADS_1
"Ma, kenalkan ini Fika, lalu ini adalah pak Angga dan ibu Rena kedua orangtuanya Fika." ucap papa Randi memperkenalkan.
Mama Sarah pun berjabat tangan dengan kedua orangtua Fika. Ia pun sedikit memaksakan diri untuk tersenyum menghormati tamu mereka saat ini.
"Apa, kamu kekasihnya Radit?" tanya mama Sarah tiba-tiba menghampiri Fika dengan blak-blakan.
Semua orang pun menoleh ke arah Fika menunggu apa yang akan Fika ucapkan sebagai jawaban.
"Ah, bukan Tante. Saya temannya mas Radit di kantor dulu." jelas Fika membuat wajah mama Sarah meredup tak bersemangat.
"Oh, seperti itu." jawab mama Sarah sedikit kecewa.
Papa Randi pun kembali menghampiri Fika dan menawarkannya untuk masuk ke dalam. Jika Fika berkenan maka papa Randi sendiri yang akan mengantarnya.
Fika pun mengangguk dengan cepat menyetujui penawaran papa Randi. Ia ingin melihat Radit secara langsung dari dekat dan menyapanya.
Hatinya sedikit berdenyut sakit melihat Radit terbaring lemah seperti itu. Fika mulai menyesali semua sikapnya yang selalu berpura-pura tidak mengetahui tentang perasaan Radit padanya.
Fika pun mengingat kembali ketika Radit memberikannya sebuket besar bunga baby breath beberapa hari lalu. Hatinya menjadi semakin sakit menyadari perasaan Radit yang benar-benar tulus padanya.
Fika juga teringat samar-samar Radit yang tengah menggendongnya saat membawanya ke rumah sakit. Ia melihat samar-samar wajah Radit yang di penuhi kepanikan sampai ia meneteskan air matanya.
Fika sedikit mengingatnya ketika papa Radit membawanya masuk ke dalam. Semakin dekat ia dengan Radit hatinya semakin terasa sakit seperti ada belati yang menusuk dan mengukir luka di hatinya.
Fika pun kembali menangis tersedu-sedu ketika ia berada tepat di samping tubuh Radit. Satu tangannya mulai terulur menjangkau tangan Radit yang terasa cukup dingin di genggamannya.
Tangan kiri Fika mengalami retak dan patah tulang di beberapa bagian. Sehingga ia harus menggunakan arm sling (penyangga) di tangannya dan harus menjalani operasi ketika kondisi tubuhnya sudah benar-benar membaik.
__ADS_1
"Dit, lihatlah gadis yang sangat kamu cintai sekarang ada di sisimu dan bahkan menangis. Ia sangat sedih melihat kamu seperti ini, cepat bangunlah dan buka matamu." papa Randi berujar dalam hati menatap putranya sendu.
Papa Randi sangat mengharapkan Fika akan menemui Radit. Ia pun sudah menyampaikan keinginannya itu pada kedua orangtua Fika pada pertemuan mereka tadi.
Karena ia berharap kehadiran Fika di sisi Radit bisa membuat kondisi Radit lebih baik lagi dan segera tersadar dari koma.
"Fika, ajaklah Radit bicara. Dia bisa mendengar suara kamu dan om yakin dia sedang menunggu kamu nak. Om akan keluar sebentar." ucap papa Randi yang langsung di angguki oleh Fika.
Papa Randi pun berjalan keluar ruangan meninggalkan Fika dan Radit berdua saja. Ia sangat berharap jika Radit akan bereaksi ketika Fika mengajaknya berbicara.
Mama Sarah pun langsung menghampiri papa Randi yang baru saja keluar dan memeluknya. Walaupun Radit adalah anak tirinya, namun ia sudah menyayangi Radit seperti anaknya sendiri.
"Papa yakin ma, sebentar lagi Radit akan baik-baik saja. Fika pasti bisa membuat anak kita sadar secepatnya ma." ucap papa Radit membuat mama Sarah melepas pelukannya seketika.
"Katanya tadi dia bukan kekasih Radit pa?" tanya mama Sarah menyelidik.
"Dia memang bukan kekasih Radit ma, dia tidak berbohong. Tapi Radit mencintainya diam-diam sejak dulu. Putra kita datang ke kota ini untuk mengejarnya." jelas papa Randi membuat mama Sarah langsung menoleh ke arah pintu ruangan ICU .
"Radit tidak ingin menjadikannya kekasih, tapi Radit ingin menjadikannya sebagai menantu kita secepatnya. Hanya saja, mereka lebih dulu mengalami kecelakaan ini sebelum Radit bisa mengatakan perasaannya." sambung papa lagi membuat mama Sarah tertegun sejenak.
"Jadi mereka berdua mengalami kecelakaan saat bersama?" tanya mama Sarah yang sudah sangat penasaran sejak tadi melihat Fika memakai baju pasien dan duduk di kursi roda.
"Iya, ma. Bagaimana menurut mama?" tanya papa Randi ingin mengetahui pendapat istrinya.
"Ya, cantik sih. keluarganya juga sepertinya orang baik-baik. Biar mama mengenalnya dulu, baru mama akan memberikan restu mama." ucap mama Sarah sambil tersenyum.
"Maaf ma, papa tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Papa tidak mau mama menyalahkan Fika untuk kondisi putra kita." batin papa Randi.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik kita menemui orangtua Fika di ruang tunggu. Ga enak kalau kita lama-lama disini pa." ucap mama Sarah dengan semangat.