
Setelah istrinya pergi dari rumah bersama putranya kini ayah Rendra hanya menghabiskan waktu dengan minum-minuman beralkohol di bar.
Beberapa wanita yang bekerja menjajakan tubuhnya pun mencoba merayu dan mendekati Rendra namun berakhir dengan hanya di acuhkan.
Ia sangat tidak berselera untuk bermain dengan para wanita-wanita malam tersebut.
Walaupun hal seperti itu bukanlah sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.
Ia nampak sedikit frustasi dengan keadaan yang kini berada di luar kendalinya. Ia memikirkan gugatan cerai yang akan di layangkan oleh istrinya tersebut.
Ia tidak pernah mencintai Rania, namun jika mereka bercerai maka otomatis semua anak-anaknya akan semakin menjauhi dan membencinya.
Ia tidak akan memiliki siapapun lagi di sisinya. Karena sejak awal kedua putranya sudah sangat menjaga jarak dengannya dan juga membencinya.
Sedangkan putri satu-satunya dengan wanita yang ia cintai justru memilih pergi menikah dan menetap di luar kota dengan suaminya.
Yang sebenarnya hanya untuk menghindari dirinya. Zahra tidak pernah bisa memaafkan kesalahannya namun begitu ia sangat mencintai Rania yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Zahra tidak akan mungkin kembali padanya jika ia bercerai dengan Rania , pikir Rendra sambil terus meneguk minuman yang memabukkan tersebut.
Ia benar-benar bingung dengan langkah yang akan ia ambil ke depannya. Sepertinya keputusan Rania untuk bercerai pun bukan sesuatu yang mudah untuk ia ubah.
Karena Rania selama ini ia tahu sebagai istri yang sangat penyabar dan tidak suka mengeluh dan ketika ia mengambil keputusan tersebut itu artinya Rania sudah benar-benar membulatkan tekadnya.
Seumur hidupnya menikah dengan Rania, dia tidak pernah bisa mencintai Rania betapa pun ia pernah mencobanya. Hatinya hanya tertaut dengan wanita yang pernah melahirkan seorang putri untuknya.
Walau begitu Rendra selalu menjaga sikapnya karena bagaimanapun Rania sudah merawat dan membesarkan putrinya dengan baik. Bahkan ia selalu memperlakukan Zahra seperti putri kandungnya sendiri.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Usiamu sudah tak lagi muda ren." ucap Randi Mahendra sang sahabat
Rendra hanya mendengus kecil mendengar nasehat yang di lontarkan oleh sahabatnya itu. Ia hanya ingin menenggelamkan dirinya dalam ketenangan sesaat yang ia dapat dari minuman haram tersebut.
"Jika kamu tidak berubah juga, tidak menutup kemungkinan sampai kamu mati kamu hanya akan meratapi kesendirianmu." sindirnya lagi yang sudah gerah dengan tingkah Rendra.
"Tau apa kamu, bahkan wanita yang kamu cintai setengah mati saja lebih memilih laki-laki lain dan meninggalkanmu dan anakmu." cibir Rendra yang sengaja memancing emosi seorang Randi Mahendra
"Setidaknya, putraku tidak pernah meninggalkanku. Walaupun kini aku suda memiliki istri dan anak yang lain, dia masih bertahan di sisiku." balas Randi dengan tenang
Ia hanya duduk menemani Rendra saja yang tengah mabuk, Randi adalah orang yang sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya.
Ia tidak merokok dan minum alkohol. Ia sangat membenci tempat seperti bar dan diskotik. Ia seorang yang cukup taat dalam beribadah.
Diam-diam asisten Rendra yaitu Hans telah memberikan kabar pada Akhtar jika ayahnya sedang mabuk saat ini di bar.
__ADS_1
Namun Akhtar hanya membaca pesan yang di kirimkan oleh Hans tanpa berniat membalasnya. Baginya, sudah cukup ia memberikan ayahnya tersebut kesempatan selama ini.
Bahkan jika bundanya nanti akan goyah dengan keputusan untuk bercerai maka Akhtar akan meyakinkannya kembali.
Untuk kali ini, sudah saatnya ia memberikan pelajaran untuk orang yang serakah dan tidak punya hati seperti ayahnya tersebut.
Ia tidak akan membiarkan ibu dan adiknya berkorban lagi untuk kepentingan ayahnya itu. Sudah cukup selama ini mereka semua menderita hanya untuk menjaga keutuhan atas nama keluarga.
Akhtar memilih untuk langsung mematikan ponselnya karena jika ayahnya membuat masalah maka Hans pasti akan kembali menghubunginya.
Rendra yang sudah mabuk berat di antarkan pulang oleh Randi ke rumah utama. Setelah itu ia pun pulang ke rumahnya setelah mastikan jika Rendra sudah berisitirahat di kamarnya.
Di perjalanan pulang ia jadi kembali memikirkan keluarganya. Memang selama ini hubungan keluarganya juga tidak terlalu baik. Tapi setidaknya mereka tidak saling membenci dan bermusuhan.
Hanya saja kecanggungan di antara Radit dan ibu tirinya itu yang sulit untuk di ubah. Radit selalu membatasi dirinya untuk bisa di dekati oleh istrinya tersebut.
Namun walaupun begitu, mereka tidak pernah bertengkar dan memiliki masalah yang berarti. Sesaat pikirannya melayang memikirkan kemungkinan jika keluarganya akan hancur seperti keluarga Rendra.
Randi pun meminta supirnya untuk mengubah tujuannya ke apartemen Radit. Sudah beberapa hari ini ia belum menjumpai putra sulungnya tersebut walaupun mereka satu kantor.
Karena Radit bersikukuh tidak ingin ada orang lain yang mengetahui tentang siapa ia sebenarnya. Sebelum ia bisa dan pantas untuk menggantikan Randi sebagai pemimpin perusahaan.
Kurang dari 30 menit ia pun sampai di apartemen Radit. Setelah menekan bel berkali-kali akhirnya putranya tersebut membukakan pintu untuknya.
Belum 1 jam ia tertidur, dan ternyata papanya yang datang bertamu. Radit pun langsung mengajak sang papa untuk masuk terlebih dahulu dan mengajaknya duduk di sofa.
"Jelaskan Radit !" titah Randi tegas dengan tatapan tajamnya.
"Anu, pa. Radit gak gak sengaja jatuh." kilah Radit takut untuk berkata sejujurnya.
"Radit tolong jelaskan dengan jujur, papa tidak suka laki-laki yang suka berbohong." jelas papa Randi tak ingin di bantah
"Radit, di pukulin pa sama anak om Rendra." jujur Radit karena berbohong pada papanya akan sama saja percuma.
Randi pasti akan menyelidiki kebenarannya sekalipun ia berbohong dan mengarang cerita.
"Akhtar? Bagaimana mungkin Radit? Kalian punya masalah apa? Bukankah hubungan kalian sangat baik?" tanya Randi bertubi-tubi.
"Bukan pa, tapi adiknya Akmal yang pukul Radit." jelas Radit .
"Akmal? ya ampun Radit. Dia itu masih snagat muda jauh di bawah kamu beberapa tahun. Bagaimana mungkin dia bisa membuatmu seperti ini." ucap Randi tak percaya.
"Ya Radit bukan gak bisa ngelawan, cuma emang Radit sengaja sih gak ngelawan." jawabnya santai
__ADS_1
"Kalian ada masalah apa? Perempuan tidak mungkin. Karena pacarnya Akmal itu si Afika rekan 1 tim kamu." ucap papa Randi mengira-ngira dan berfikir tidak mungkin.
"Ya emang karena Fika pa, Akmal salah paham. Dia kira aku bawa lari pacarnya si Fika, padahal aku cuma gak sengaja ketemu aja." kilah Radit yang tidak ingin ketahuan oleh papanya tersebut.
"Eh, tapi kok papa tahu sih Fika pacaran sama si Akmal ?" tanya Radit tersadar.
"Tentu saja papa tahu, om Rendra sempat minta papa buat pecat Fika dari perusahaan." ucap Randi santai
"Apa?" tanya Radit penuh keterkejutan.
Ia benar-benar tidak menyangka jika Rendra menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Fika. Ia jadi sedikit khawatir jika Rendra lama kelamaan akan semakin berani bahkan untuk mencelakai Fika .
"Biasa aja dong, gak perlu kaget gitu dit." jawab papa Randi
"eh." Radit dibuat salah tingkah dengan tingkah papanya tersebut yang sepertinya mulai menaruh curiga.
"Kamu gak ada hati kan sama Fika?" tanya Rendra langsung membuat Radit tersedak ludahnya sendiri
Uhuk-uhuk.
"Ketahuan ." ucap Randi dengan nada menggoda
"Pa, sebenernya papa mau ngapain sih tengah malem kayak gini dateng kesini?" tanya Radit mengalihkan pembicaraan.
"Bisa banget tuh ngalihin pembicaraan." cibir Randi melirik putranya
"Ya enggak gitu pa, kan papa tengah malem gini kesini. Pasti ada sesuatu yang penting kan ?" kilah radit masih berusaha menutupi
"Aduh dit, dit. Masa kalah sama anak kemarin sore sih buat deketin cewek. Kamu sudah bertahun-tahun loh 1 kerjaan sama dia." gemas Randi pada putranya.
"Pak, kalau gak ada yang penting lagi papa pulang sekarang. Aku masih sakit jadi aku mau istirahat." ucap Radit sambil bangkit berdiri di samping papa Randi .
"Ah, ya ampun. Segitu malunya dit kamu sama papa." ucap papa Randi semakin gemas.
"Kalau papa mau tidur disini, pakai kamar sebelah. Radit mau tidur." ucap Radit cuek berlalu begitu saja memasuki kamarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.