
Mendengar Akmal yang membentakku dengan sangat keras seperti itu, membuatku sedikit kecewa. Ada perasaan tidak terima dan juga sakit hati mengusai hatiku.
Tidak seharusnya ia bersikap kasar seperti itu, kedua sudut mataku hampir meneteskan air mata yang sudah menggenang sejenak tadi di pelupuk mata.
Aku pun memilih untuk pergi, rasanya hatiku terlanjur kecewa karena sikapnya itu. Tidak ada yang ingin ku jelaskan padanya karena orang yang sedang diliputi amarah hanya akan mendengarkan kemarahannya.
Akmal berusaha mengejar ku dan memanggilku untuk menghentikan aku. Namun hatiku terlanjur sakit karenanya.
Dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipiku, dan aku terus berlari kecil sambil menghapus air mata di pipiku.
"Sayang tunggu." teriak Akmal sambil berjalan tertatih mencoba mengejarku
"Sayang please, maafkan aku. " ucapnya terdengar panik dan sangat menyesal namun aku tetap tidak menghiraukannya
Dan ketika sampai di pintu apartemen hendak keluar tiba-tiba Akmal berhasil menyusul ku dan menarik ku kedalam pelukannya .
grepp,
"Maafkan aku please, sayang. Aku benar-benar minta maaf, aku enggak bermaksud untuk melukai hati kamu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku mohon, maafkan aku." ucapnya dengan suara paraunya terdengar kesedihan di setiap kata-katanya .
Lidah ku kelu, tidak ada kata yang mampu aku ucapkan. Setelah beberapa saat air mataku mulai menyurut dan tak menetes lagi. Aku pun mencoba untuk melepaskan tangan Akmal yang sangat erat melingkar di tubuhku.
Dan begitu ku lihat, wajahnya terlihat sangat kuyu. Ada jejak air mata yang mulai mengering di pipinya. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta dan tatapan menggoda yang biasa ia tunjukan.
"Maafin aku, please. " ucapnya lagi memelas sebagai isyarat permohonan
Ku pandangi lekat seluruh wajahnya, tidak adalagi kemarahan yang menakutkan seperti tadi. Hanya ada penyesalan disana, setiap kata yang ia ucapkan penuh penyesalan.
"Lebih baik kita duduk dulu." ucapku sambil membantunya melangkah menuju sofa yang tidak jauh dari kami
"Aku ketemu ayah kamu 1 bulan lalu, dan dia minta aku buat jauhin kamu. Beliau pengen kita pisah karena ayah kamu udah pilihin jodoh yang terbaik buat kamu." ucapku penuh sesak.
"A..apa?" tanya Akmal terkejut mendengar penjelasan ku
"Iyaa, ayah kamu minta kita pisah." jawabku lagi dengan tersenyum paksa.
"Kenapa kamu gak cerita dari awal? Kapan itu? Apa itu sebelum aku lamar kamu?" tanyanya lagi.
Aku pun hanya mengangguk membenarkan apa yang Akmal tanyakan .
__ADS_1
Gurat kesedihannya telah berubah menjadi kemarahan. Inilah yang ku takutkan jika aku menceritakan pertemuan ku dengan ayahnya. Aku takut hubungan mereka semakin buruk.
Sementara bunda selalu bercerita jika dulu, Akmal itu sangat dekat dengan ayahnya. Sampai sebuah masalah datang di antara keluarga mereka dan mulai memecah mereka satu persatu.
"Aku mohon, kamu jangan nemuin ayah kamu karena masalah ini." ucapku pelan mencoba untuk mendapatkan kesepakatan dengannya
Karena sepanjang yang ku tahu, Akmal adalah tipe orang yang sangat keras kepala dan teguh pada pendiriannya .
"Tapi ayah sudah sangat keterlaluan sama kamu." ucapnya marah dan tidak terima
"Mungkin ayah kamu cuma pengen yang terbaik buat kamu." ucapku berpura-pura baik-baik saja.
"Udah, cukup ! Aku gak mau kita berdebat lagi karena hal ini. Lupain apa semua yang pernah ayah bilang sama kamu. Aku sangat mencintai kamu, jadi please jangan pernah berpikir kalau kamu bakal ninggalin aku ataupun sebaliknya."Jelasnya dengan suara parau dan menarik ku ke dalam dekapannya.
"Aku gak pernah mencintai orang lain seperti aku mencintai kamu. Please jangan pernah pergi dari aku. Berjanjilah untuk tidak pergi." sambungnya lagi penuh ketakutan.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala ku setuju. Rasanya sudah tak bertenaga bahkan untuk berbicara apapun lagi.
Semuanya benar-benar terasa sulit, di satu sisi aku ingin hubungan Akmal membaik dengan ayahnya tapi di sisi lain aku menjadi salah satu penghalang di antara mereka.
Walaupun aku tidak membantah ucapannya sejak tadi namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih bingung harus bagaimana .
Karena bagaimanapun restu orang tua adalah yang paling penting untukku dalam sebuah hubungan.
"Yang, jangan kayak gitu lagi yaa. Aku gak suka dan aku takut liat kamu marah gitu." ucapku yang saat ini duduk di ranjang sambil bersandar padanya.
"Maaf, aku janji aku gak akan kaya gitu lagi sama kamu. Tapi kamu juga harus janji jangan pernah berpikir buat ninggalin aku. Aku bisa gila!" jawabnya santai dan kembali mengulang untuk membuatku berjanji padanya
"Menyebalkan ! Aku bosan mengucapkannya berkali-kali." batinku
"Sayang, sudah malam sebaiknya aku pulang sekarang yaa. Nanti ibu sama ayah bisa ngamuk kalau tau aku bertamu malam-malam ke tempat kamu."ucapku berpamitan
"Kamu tega ninggalin aku yang kayak gini?? Kaki aku aja tambah sakit ngejar-ngejar kamu sampai ke pintu depan tadi ." jawabnya sedikit merajuk.
"Ya, kan gimana kita kan belum halal jadi gak mungkin dong nginep disini. Aku bisa di mutilasi jadi 10 bagian sama ibu kalau ibu tahu." jelas ku padanya yang masih berwajah masam.
"Besok aku ada deadline yang, aku harus pulang sekarang buat selesaiin semua kerjaan aku. Tapi janji deh, Lusa aku off dan bakal temenin kamu seharian." ucapku mencoba memberi pengertian
Seketika wajahnya langsung berubah ceria lagi tak mendung seperti tadi, matanya berbinar penuh kepuasan.
__ADS_1
"Yasudah, tapi berikan aku Vitamin C dulu sebelum pulang." ucapnya dengan antusias
"Vitamin C ? Dimana kamu taro nya?" tanyaku sedikit tak enak hati.
"Disini." ucapnya sambil mengusap lembut bibirku
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku yang masih belum mengerti kemana arah pembicaraannya.
"Maksudku , ini vitamin C aku." jawabnya kemudian
Cupp,
Akmal mengecup bibirku sekilas, lalu ia kembali menyesap bibirku dengan lembut . ?
Lidahnya mencoba menyusup menyusuri semua yang bisa ia jangkau dan tangan kanannya ia gunakan untuk menekan tengkuk leherku agar memperdalam ciuman kami .
Beberapa saat aku terbuai dengan sensasi yang luar biasa, sementara ciuman kami sudah semakin memanas.
Kedua tanganku sudah melingkar dengan nyaman di lehernya sesekali meremas rambut Akmal dengan perlahan. Untuk pertama kalinya kami seperti ini.
Akhirnya ia melepaskan pagutan bibirnya dariku setelah cukup lama yang membuatku hampir kehabisan oksigen.
Dengan nafas yang masih memburu, ia mengecup bibirku kembali sekilas dan membenturkan kening kami perlahan.
Hembusan nafas dan aroma maskulin tubuhnya benar-benar membuatku nyaman sekaligus merasa terbakar.
Ada hawa panas yang terasa menyusup ketika posisi kami sedekat itu. Ia pun mulai menjauhkan dirinya dariku setelah mencium puncak kepalaku cukup lama .
"Terimakasih sayang, pulanglah sekarang. Aku tidak ingin melahap mu sekarang jika kamu masih disini." ucapnya sambil mengusap bibirku sensual membuat gelenyar aneh yang sejak tadi ku rasakan.
Akmal pun langsung menghubungi sopir yang tadi mengantarkan kami .
"Pak siapkan mobil sekarang, Sebentar lagi Fika akan turun. Berhati-hatilah membawa mobilnya pastikan antar calon istri saya sampai rumahnya dengan selamat." ucapnya di telepon dan langsung mematikannya.
"Baiklah aku pulang dulu ya." ucapku berpamitan mengambil tasku di atas malas dan beranjak untuk berdiri.
"Hati-hati ya, sudah malam kamu jangan mampir kemana-mana lagi dan kabari aku kalau sudah sampai. Maaf aku gak bisa nganterin kamu sampai ke bawah." ucapnya kemudian menggenggam tanganku erat seolah enggan berpisah.
"Gimana aku mau pulang kalau kamu terus pegangin tanganku kayak gini." ucapku tersenyum meledek.
__ADS_1
"Hah, masih kangeeeen." ucapnya merengek seperti anak kecil.
Aku pun langsung bergegas pulang karena bicara dengannya hanya akan membuatku lebih lama lagi berada disana.