My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Extra part 1 (Akmal Story)


__ADS_3

5 tahun kemudian.


Setelah menyelesaikan kuliahnya Akmal memilih untuk tidak pulang ke Indonesia. Ia terus berpetualang ke beberapa negara di benua Eropa dan bercita-cita untuk bisa berkeliling dunia


Petualangan Akmal bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan semata melainkan untuk sebuah pekerjaan. Akmal mengabadikan begitu banyak keajaiban dan keindahan dunia sebagai bentuk cintanya yang mendalam terhadap alam semesta.


Kini hatinya tak lagi sesak oleh rindu pada seorang kekasih. Walaupun tak bisa ia pungkiri jika sesekali wanita yang kini sudah menjadi istri dan ibu dari seorang putri tersebut akan berkelebat di otaknya, mendatangkan kenangan manis yang membuat senyumnya mengembang lalu menyurut dengan perlahan.


Waktu membuatnya perlahan berdamai dengan patah hatinya yang sulit untuk terobati. Ia mengubah patah hatinya menjadi sebuah jackpot yang akhirnya membawanya sebagai fotografer terkenal di daratan Eropa.


Setiap foto hasil bidikannya, menjadi sebuah karya seni yang membuat setiap mata yang melihatnya berdecak penuh kagum. Dan banyak di antaranya yang berhasil masuk pameran internasional sebagai karya terbaik.


Karirnya seolah berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Walaupun sudah 5 tahun berlalu, ia masih belum menemukan gadis yang bisa membuatnya jatuh hati. Bukan tidak bisa melupakan sang mantan kekasih, hanya saja belum ada yang bisa menyentuh hatinya.


Bunda begitu khawatir jika Akmal akan mengikuti jejak kakak sulungnya Akhtar. Jika saja 3 tahun lalu bunda tidak ngotot menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, sudah pasti Akhtar akan tetap melajang.


Walaupun melalui banyak drama penolakan, akhirnya bunda berhasil mempersatukan mereka. Hingga kini akhirnya Akhtar sudah mempunyai seorang putri yang sangat lucu dan menggemaskan.


Dalam waktu dekat Akmal berencana untuk pulang ke tanah air, setelah menyelesaikan salah satu projectnya untuk mempromosikan sebuah pulau yang di siapkan sebagai salah satu destinasi wisata bulan madu termahal di di Eropa.


Melihat karirnya yang begitu cemerlang setelah memutuskan untuk menjadi seorang fotografer, Akmal menjadi semakin lupa dengan kehidupan pribadinya yang harus ia pikirkan.


Di usianya yang hampir menginjak 28 tahun ia belum memikirkan untuk mencari pendamping hidup. Bukan perkara gagal move on, tapi ia hanya merasa nyaman dengan kesendiriannya kini.


Akmal sudah terbiasa di sibukkan dengan pekerjaan dan jadwalnya yang padat. Hingga tidak memiliki waktu untuk berkencan dengan seorang gadis.

__ADS_1


Setelah resepsi pernikahan Fika dan Radit, Akmal tidak pernah bertemu lagi dengan Fika. Bahkan ia sudah berhenti untuk mencari tahu bagaimana kabar perempuan yang pernah begitu ia cintai.


Akmal sangat percaya jika Radit lebih dari mampu untuk membahagiakan Fika dan juga menjaganya. Jadi ia takkan perlu khawatir dan bisa menjalani hidupnya dengan tenang.


Lagipula akan lebih baik jika ia tak sekalipun mendengar kabar dari mantan kekasihnya itu pikirnya.


***


Sebelum kembali ke Indonesia, Akmal menyempatkan waktu untuk mampir ke Sidney selama 2 hari. Ada sebuah acara penting yang harus ia hadiri disana, yaitu sebuah pameran fotography dari sahabatnya yang bernama Jerry.


Pukul 5 pagi Akmal tiba dan mendarat di salah satu airport di negeri kangguru tersebut. Sudah ada Jerry yang menunggunya untuk menjemput dan menyambutnya di sana dengan wajah berbinar cerah seperti seorang gadis yang tengah menunggu kekasihnya pulang.


"Wohoo, the best fotografer in the world." sambutnya begitu bersemangat sembari memeluk tubuh Akmal dengan senyum merekah.


"Oh God, come on dud." sembari memutar bola matanya malas membuat senyum yang sejak tadi tertahan di bibir Akmal pun pecah.


Kembali ia dekap tubuh sahabatnya itu, kemudian merangkulnya sembari berjalan meninggalkan airport. Mereka berjalan sambil saling melempar candaan satu sama lain.


Dari bandara Jerry mengajaknya untuk pergi ke sebuah restoran cepat saji untuk sarapan terlebih dahulu. Jerry sudah sangat lapar karena sudah menunggui Akmal selama hampir 3 jam sejak pukul 4 pagi waktu setempat.


Menunggu benar-benar membuatnya lapar, dan tentunya Akmal pun menyetujui ajakan sahabatnya itu. Jerry sama sepertinya, ia adalah seorang fotografer asal Indonesia yang memilih berkarir di luar negeri.


Walaupun tidak seterkenal Akmal yang berhasil menaklukkan daratan Eropa, tapi karirnya terbilang cukup cemerlang di kawasan Asia. Hanya saja Jerry memilih untuk menetap di Sidney yang merupakan tempat kelahirannya dulu sekaligus kampung halaman sang ayah.


Mereka bertemu dan akhirnya menjadi sangat akrab sejak di bangku kuliah. Hanya saja takdir membawa Akmal menuju puncak lebih cepat, karirnya melejit dengan cepat seperti kembang api yang di tembakkan ke langit.

__ADS_1


Sidney pagi itu terlihat cerah dengan udara yang begitu menyegarkan. Membuat laki-laki yang kini genap berusia 28 tahun tersebut berusaha terus menerus menghirup udara dengan bersemangat seakan itu adalah hal yang langka.


Ketika hendak memasuki sebuah restoran cepat saji tanpa sengaja Akmal menabrak tubuh seorang gadis hingga membuatnya terpental dan hampir terjatuh ke lantai. Tanpa berpikir panjang, Akmal pun langsung dengan sigap menarik lengan gadis tersebut membuat tubuh mereka bertubrukan seperti sedang berpelukan.


Kedua bola mata berwarna hitam pekat dengan bulu mata yang lentik itu membuat Akmal untuk pertama kalinya bisa menatap keindahan mata seorang gadis setelah 5 tahun terakhir ini walaupun hanya beberapa saat.


Sampai akhirnya suara si pengganggu yang tengah menampilkan senyum liciknya tersebut membuyarkan semua adegan romantis yang terjadi untuk beberapa saat itu harus terhenti dengan kecanggungan dari sepasang manusia yang akhirnya di pertemukan kembali.


"ehemm." seru Jerry dengan kencang.


"Uhm, Sorry." ucap Akmal singkat sedikit menampilkan senyum canggungnya di hadapan gadis tersebut.


"It's okay." jawab gadis tersebut dengan wajah tersenyum malu penuh kegugupan.


Suara dering ponsel pun terdengar dengan keras dari balik saku jaket yang tengah Akmal kenakan saat itu. Membuatnya urung untuk kembali berbicara dengan gadis tersebut, memilih untuk menjauh guna mengangkat telpon dari seorang klien sambil memberikan isyarat permohonan maaf untuk kedua kalinya.


Gadis yang terlihat seperti seorang mahasiswi tersebut memilih berjalan keluar dari cafe meninggalkan Jerry yang bahkan belum sempat menggodanya karena merasa terabaikan keberadaannya disana oleh gadis tersebut.


Dengan langkah cepat ia menuju tepi sungai yang terletak sekitar 100 meter dari restoran tempatnya bertemu dengan laki-laki yang sudah lama ia impikan tersebut. Bahkan setelah 5 tahun berlalu, ia tidak pernah melupakan bagaimana wajah Akmal.


Jantungnya tak bisa berhenti berdetak kencang ketika ia menatap langsung ke dalam matanya seakan jantungnya terasa akan meledak. Gadis tersebut terus memegangi dadanya mencoba menenangkan debaran jantungnya yang dibuat kacau.


"Akhirnya kita bertemu." ucap gadis tersebut sembari tersenyum dengan penuh kelegaan.


Akmal tidak mengenali siapa gadis yang hampir ia buat terjatuh. Lain halnya dengan gadis tersebut yang masih mengingat jelas wajah Akmal seperti apa walaupun setelah 5 tahun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2