
Fika POV
Sejak hari itu, ia tidak pernah datang lagi menjemput ku ke rumah ataupun ke kantor.
Ia juga tidak menghubungi ku, barang sekali pun.
Aku sedikit merasa bersalah, namun dengan cepat ku teguhkan hatiku kembali agar bisa lebih tegas padanya.
Yang ku lakukan kali ini adalah untuk kebaikan kami berdua ke depannya. Aku ingin kami berhubungan dengan sehat, tidak seperti sekarang.
Akmal memang sangat memperhatikan ku namun sikapnya kadang menjadi sangat berlebihan. Aku takut jika suatu saat aku akan muak dengan tingkahnya yang seenaknya.
Aku ingin ia bisa memahami setiap batasan di antara kami. Aku tidak ingin terlalu di kekang terus-menerus.
Aku ingin dia mencintai ku dalam porsi yang wajar, tidak berlebihan dan akan memberikan dampak kurang baik untuk kami ke depannya.
Aku berusaha keras untuk tidak menghubunginya lebih dulu. Hari berganti dengan sangat cepat, hingga tanpa sadar 9 hari telah terlewati.
Namun tak terlihat tanda sama sekali jika ia akan menghubungi ku atau menemui ku.
Sore itu aku sedang bersiap pulang, karena telah terbiasa Akmal yang mengantar dan menjemput ku kemana pun aku pergi aku tidak membawa mobil hari itu.
Aku sangat malas bahkan ketika hanya melihat kemudinya saja. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin sekali melihatnya.
Sejujurnya keadaan seperti ini membuatku semakin merindukannya. Namun aku harus bisa bertahan sebentar lagi, aku tidak boleh goyah begitu saja.
Aku tidak ingin Akmal bersikap terlalu posesif seperti sebelumnya. Aku ingin hubungan kami bisa berjalan seperti orang lain pada umumnya.
Ketika aku sampai di lobby kantor tiba-tiba saja hujan turun sangat lebat. Petir terlihat saling menyambar bersahutan membuat suasana sore itu terlihat lebih mencekam.
Mbak Alana dan mas Dafa sudah pulang sejak tadi. Aku sedikit pulang terlambat karena ada pekerjaan yang belum selesai sedikit lagi.
Setelah menyelesaikannya aku langsung bergegas turun ke bawah dan siap untuk memesan taxi online. Namun melihat seberapa kuat petir menggelegar membuat nyali ku menciut seketika.
Ku masukkan kembali ponsel di tanganku ke dalam tas. Aku hanya bisa menunggu pikirku. Sebelum aku melangkah kembali ke dalam lobby, terdengar suara klakson mobil yang membuatku menoleh.
Terlihat mobil Radit terparkir rapi di depan ku, ia pun menurunkan kaca mobil penumpang di sampingnya.
"Cepat naik." serunya sedikit berteriak
"apa aku tidak salah dengar?"pikirku
"kenapa melamun? cepat naik Fika !" sahutnya lagi membuat lamunan ku buyar
__ADS_1
"i..iya sebentar." ucapku tergagap
Seorang security kantor menghampiri ku, ia pun menyapa dan membantuku untuk naik ke mobil Radit dengan membawa payung besar.
Setelah naik, aku pun mengungkapkan terimakasih dan mobil langsung berjalan.
Radit memberikan sweater hoodie yang tergeletak di bangku belakang.
"Pakai ini aja, kamu sedikit basah." ucapnya sambil menyodorkan sweater nya sambil pandangannya fokus mengemudi
"kamu? tumben banget nih orang lembut banget ngomongnya sama gue? ke sambet apa ya?"batinku
"Fik, buruan pake. kamu sakit nanti." ucapnya lagi membuatku tergeming
"ah, iyaa makasih mas Radit." ucapku sedikit kikuk
Aku langsung memakai sweater nya saat itu, karena memang tubuhku sedikit kedinginan karena lengan baju dan punggung ku yang basah.
Setelah itu tidak ada percakapan di antara kami selama beberapa saat sampai akhirnya ia mulai bicara lagi.
"Fik, aku mampir sebentar ke cafe di depan ya. Kamu mau kopi gak?"tanyanya dengan ramah
"eh, boleh deh. Aku mau hot cappucino aja 1."
Jika sedang baik seperti ini, sejujurnya Radit itu terlihat cukup tampan. Postur tubuhnya sangat atletis, sepertinya ia rajin berolahraga.
Wajah tampan, hidung mancung, rahang yang tegas, bibir tebal yang berwarna merah khas tanda ia bukan seorang perokok. Dia terlihat cukup sempurna jika dengan sikap baiknya seperti sekarang.
Sayangnya, aku telah lebih jatuh hati dengan Akmal. Walaupun usia Akmal lebih muda dariku, tapi tampang dan postur tubuhnya tidak memperlihatkannya.
Apalagi semenjak kami mulai berpacaran, sepertinya ia sedikit demi sedikit berusaha menyesuaikan penampilannya denganku.
Jika harus memilih tentu saja aku akan tetap memilih Akmal mengingat bagaimana keras usahanya mendekatiku sejak lama.
Akhirnya kami pun sampai di cafe yang di sebutkan Radit sejak tadi, ia memutuskannya turun sendiri karena hujan masih cukup lebat dan aku menunggu di mobil.
Ia pun keluar menggunakan payung yang tersimpan di bangku belakang, dan berjalan dengan langkah cukup lebar.
Setelah menunggu kurang dari 15 menit akhirnya terlihat Radit kembali dengan menenteng paper bag kecil berisi minuman .
Kami pun menyesap kopi di dalam mobil sekalian menghangatkan tubuh dari hawa dingin akibat hujan deras sore itu.
"Makasih ya mas, buat kopinya ." ucapku memecah hening
__ADS_1
"ya, tidak masalah." jawabnya singkat sambil sesekali menyesap kopi di tangannya
"kenapa gak bawa mobil?" tanyanya tiba-tiba
"eh, itu aku lagi males aja buat bawa mobil. kebiasaan di anter jemput sama Akmal." ucapku sedikit menerawang
"Kenapa pacar kamu gak jemput?"tanyanya dengan pandangan lurus ke depan
"Dia lagi sibuk, akhir-akhir ini. Jadi aku gak enak kalau dia harus antar jemput aku tiap hari."ucapku berusaha mencari alasan
Aku memang tidak bicara dengan siapapun tentang pertengkaran ku dengan Akmal sejak hari itu. Hanya mbak Alana yang tahu jika kami sedang ada masalah.
Ibu, ayah dan Icha juga setiap hari menanyakan keberadaan Akmal yang tidak pernah datang lagi. Aku hanya beralasan jika Akmal sedang pergi ke luar kota.
Karena Akmal pernah bilang jika di tanggal-tanggal itu dia akan pergi keluar kota untuk promo tour ke 5 kota besar di pulau Jawa.
Setelah beberapa saat kopi kami habis, Radit kembali melajukan mobilnya untuk mengantarku lebih dahulu. Tidak sampai setengah jam akhirnya kami sampai.
"Mas Radit thanks yaa, ini sweater nya." ucapku sambil berusaha membuka sweater yang ia pinjamkan.
"kamu pakai dulu aja, balikin nanti aja." ucapnya sedikit tersenyum
Hal yang sangat langka ku lihat, selama hampir 3 tahun ini bekerja bersamanya.
Entah kenapa sore itu Radit terlihat sangat berbeda di mataku.
Ia tidak seperti Radit si manusia es yang aku kenal selama ini. Tatapan matanya terlihat lebih hangat dan ramah. Sikapnya juga tak terlihat sedatar biasanya.
Ia seperti Radit yang lain, berbeda dengan Radit yang selama ini aku kenal.
Setelah berpamitan aku langsung turun dari mobil dan masuk ke rumahku. Aku sempat menawarkan Radit untuk mampir sebentar namun ia menolak.
Sebenarnya itu memang hanya untuk basa- basi saja. Bisa terjadi kesalahpahaman jika ayah dan ibu mengetahui aku di antar laki-laki lain selain Akmal.
Apalagi karena perangainya yang tidak cukup baik, ayah dan ibuku tidak terlalu mengenal Radit seperti mengenal mas Dafa dan mbak Alana .
**Jangan lupa Vote, like dan komennya yaa biar author lebih semangat buat up 😍
thanks readers😘**
__ADS_1