Obsession

Obsession
Extra Part (1)


__ADS_3

Hoek hoek


Sejak selesai sarapan Diandra terus muntah dia mengeluarkan semua makanan yang telah dia makan hingga tubuhnya lemas sekali. Beruntung ada sang suami yang menopang tubuhnya sambil mengusap lembut tengkuknya, dia ingin pergi ke kamar, tapi masih merasa sangat mual.


Usia kandungan Diandra sudah masuk tiga bulan dan dikehamilan yang sekarang ini Diandra memang sering sekali merasa mual bahkan hampir setiap pagi dia muntah-muntah. Pernah Gibran bertanya pada Dokter, tapi katanya itu hal biasa untuk kehamilan dan Mama nya juga mengatakan hal yang sama.


Mama nya bilang ketika mengandung Gibran dia sering sekali mual bahkan sampai di rawat, tapi ketika mengandung Ghina tidak makanya Mama nya meminta dia untuk tidak panik.


"Mass"


"Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Gibran cemas


"Sakit Mas." Rengek Diandra


"Apa yang sakit sayang?" Tanya Gibran


"Perutnya sakit terus mual dari tadi, mau ke kamar aja." Pinta Diandra


"Iya kita ke kamar ya?" Kata Gibran


Dengan sigap Gibran meggendong istrinya dan membawa ke kamar lalu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


Anak-anak mereka sedang di rumah orang tua Gibran karena menginap disana.


"Mas sakitt"


Diandra terlihat seperti ingin menangis sambil menatap mata suaminya membuat Gibran ikut kebingungan dan cemas sendiri.


"Kita ke rumah sakit mau?" Tanya Gibran


"Enggak"


"Kamu mau apa hmm?" Tanya Gibran


"Makan lagi"


"Makan apa? Biar nanti aku ambilkan." Kata Gibran sambil mengusap rambut Diandra dengan sayang


"Roti pakai selai coklat sama susu." Kata Diandra


"Susu yang biasanya?" Tanya Gibran


"Heem"


"Aku buatkan dulu." Kata Gibran


Gibran mencium kening Diandra sebelum beranjak dari ranjang dan pergi ke dapur untuk membuat susu serta mengambilkan roti. Belakangan ini Diandra sering sekali mual serta muntah hingga membuat Gibran tidak bisa meninggalkannya meskipun hanya sebentar.


Apalagi Diandra sangat manja padanya hingga Gibran harus terus berada di sisinya.


Setelah selesai menyiapkan roti serta susu Gibran bergegas kembali ke kamarnya dan duduk ditepian ranjang. Melihat suaminya datang Diandra bangun dan duduk sambil menyandar pada kepala ranjang.


Wajahnya terlihat sedikit pucat membuat Gibran menghela nafasnya pelan lalu mengusap pipinya dengan sayang.


"Mau disuapin?" Tanya Gibran


Diandra menggelengkan kepalanya pelan lalu mengambil roti yang dibawakan sang suami dan memakannya dengan perlahan. Sebenarnya dia masih sangat mual, tapi tidak mungkin juga membiarkan perutnya kosong.


"Apa yang sakit hmm?" Tanya Gibran


"Udah enggak sakit cuman masih mual." Kata Diandra


"Kamu mau apa?" Tanya Gibran lagi


"Enggak mau apa-apa Mas." Kata Diandra

__ADS_1


"Yakin?"


"Hmm anak-anak gimana Mas sama Mama? Aku jadi gak enak ngerepotin Mama terus." Kata Diandra sedih


"Mereka baik sayang Mama tadi bilang mereka bakal jalan-jalan, udah ah jangan sedih." Kata Gibran sambil mengusap pipi istrinya dengan sayang


"Aku enggak enak sama Mama ngerepotin terus." Kata Diandra


"Aku telpon Mama nih ya?" Kata Gibran


"Jangan"


"Makanya jangan bilang gitu ah Mama sama sekali gak merasa direpotin sayang kan Mama sendiri yang bilang kalau dia malah senang dan lagi kita gak setiap hari minta Mama jagaiin anak-anak kan?" Kata Gibran


Diandra tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya membuat Gibran mengusap sayang pipinya.


"Makan lagi." Kata Gibran


Menurut dengan ucapan suaminya Diandra kembali memakan roti tawar dengan selai coklat yang sudah suaminya siapkan hingga habis lalu meminum susu juga. Setelah habis Diandra menatap suaminya dengan senyuman manis dan memejamkan matanya begitu Gibran mengusap sayang pipinya.


"Merasa lebih baik?" Tanya Gibran


"Emm"


"Mau istirahat lagi?" Tanya Gibran


"Iya temenin"


"Yaudah aku taruh ini di dapur dulu nanti balik lagi." Kata Gibran


"Taruh meja dulu aja." Pinta Diandra


Tidak bisa memberikan penolakan Gibran mengangguk lalu pergi menaruh nampan yang dia bawa di atas meja dan setelahnya naik ke atas ranjang.


"Mas menurut kamu dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Diandra


"Hm tidak tau sayang, tapi aku harap itu seorang jagoan." Kata Gibran


"Aku juga, Mas Gibran mau punya anak berapa?" Tanya Diandra


"Tidak ada keinginan khusus aku hanya akan senang dan bersyukur kalau mendapat anak." Kata Gibran


"Hm aku mau punya empat." Kata Diandra


"Empat?"


"Iya aku suka anak-anak Mas pasti senang kalau di rumah kita banyak anak kecil." Kata Diandra


"Aku juga suka." Kata Gibran


"Aku merasa lucu Mas." Kata Diandra


"Lucu kenapa sayang?" Tanya Gibran bingung


"Merasa lucu karena aku yang dulu sangat membenci pernikahan sekarang merasa sangat beruntung karena memiliki kamu dan anak-anak kita." Kata Diandra


Gibran tersenyum mendengarnya lalu dia mendekat dan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Anak ini semoga dia sehat terus." Kata Diandra sambil mengusap perutnya dengan sayang


"Anak kita dan Mommy nya." Kata Gibran


Tersenyum senang Diandra menatap sang suami dengan senyuman lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir sang suami dengan penuh kelembutan.


Refleks mata Gibran tertutup dia menahan tengkuk isrtinya dan membalas ciuman itu dengan lembut cukup lama hingga Diandra hampir kehabisan nafas lalu menjauhkan wajahnya.

__ADS_1


"I love you"


Gibran tersenyum mendengarnya lalu dia mengecup sekilas bibir istrinya dan membalas ungkapan cinta itu.


"I love you too"


¤¤¤


"Mommyyyy"


Seruan itu membuat Diandra tersenyum lalu menunduk dan merentangkan tangannya ketika Gavin berlari menghampirinya lalu memeluknya dengan erat. Sekarang Diandra bersama sang suami memang menjemput anak-anak mereka di rumah orang tua Gibran.


Gavin terlihat senang sekali ketika orang tuanya datang hingga meninggalkan mainan yang tadi dia beli dan berlari ke dalam pelukan Mommy nya membuat Dara tersenyum melihatnya. Setelah puas memeluk Gavin menjauhkan tubuhnya lalu mencium kedua pipi dan kening Mommy nya hal yang memang biasa Gavin lakukan setiap hari.


"Mana adiknya sayang?" Tanya Diandra


"Ituu adiknya jalan." Kata Gavin


Diandra mengikuti arah pandang Gavin dan dapat melihat anaknya yang berjalan ke arah mereka dengan riang.


"Sini Ila sinii"


Begitu adiknya sudah dekat Gavin memeluk adiknya cukup erat membuat Danira merengek karena dia ingin menghampirinya.


"Ndak ndak au Mamaaa"


Tak kunjung dilepaskan Danira menangis dan membuat Gavin akhirnya menjauhkan tubuhnya.


Diandra menggelengkan kepalanya pelan lalu menggendong Danira dan membuat anak itu diam.


"Anak-anak tidak nakal kan Ma?" Tanya Gibran


"Tidak Gibran cucu Mama ini sangat pintar." Kata Dara dengan senyuman


"Diandra selau cemas katanya takut anak-anak nakal dan merepotkan Mama." Kata Gibran


Dara menghela nafasnya pelan lalu menatap menantunya dengan tidak suka.


"Diandra sudah Mama bilang kalau Mama tidak pernah merasa direpotkan." Kata Dara


"Iya Ma maaf." Kata Diandra


Berjalan mendekat Dara mengusap puncak kepala menantunya itu dengan sayang.


"Gimana cucu Mama di dalam sana?" Tanya Dara


"Sangat baik Ma." Kata Diandra


"Jaga kesehatan ya?" Kata Dara


Diandra mengangguk lalu mengikuti langkah kaki mertuanya yang mengajaknya masuk ke dalam.


Diandra benar-benar bahagia sekarang memiliki banyak orang yang peduli dan sayang padanya.


¤¤¤


Extra part pertama sudah datang😆


Untuk cerita Ghina nanti setelah extra part selesai yaaa😄


Ini udah mulai aku buat dengan judul Dalam Dekapannya.



Nanti isinya yang pasti tentang Ghina dan kisah cintanya sert kabar Alden yang kabur gitu aja😂

__ADS_1


__ADS_2