
Sudah tidak tau lagi harus dengan cara apa Gibran meminta maaf karena Diandra masih enggan bicara dan hanya menanggapi seadanya setiap apa yang dia katakan. Sungguh Gibran sangat bingung kemarin Diandra sangat marah ketika melihat dia dan Clarissa yang berpelukan bahkan dia tidak pernah melihat Diandra semarah itu.
Saat dengan Anetta mungkin Diandra akan menjambaknya, tapi dengan Clarissa dia tidak melakukan apapun hanya bicara sambil menatapnya denfan sangat tajam atau mendorong tubuhnya sesekali. Alasannya karena dulu Anetta yang menggoda suaminya meskipun Gibran menolak, tapi kali ini berbeda Gibran tidak menolak kehadiran Clarissa sama sekali.
Seandainya bisa Diandra akan pergi, tapi tidak dia tidak mau lari dari masalah akan lebih baik untuk menghadapi semuanya. Hanya satu hal yang sangat membuat dia marah juga kecewa, kebohongan.
Entah dia yang terlalu kekanakan atau bagaimana, tapi tidak seharusnya Gibran berbohong kan?
Apalagi Gibran sendiri yang mengatakan bahwa mereka harus saling jujur satu sama lain dan tidak boleh menyembunyikan apapun. Seperti dulu Gibran jujur masalah Anetta yang menggodanya atau menjebaknya, dia terbuka dan menceritakan semuanya.
Diandra juga tidak marah, dia sangat menghargai hal itu, tapi kemarin dia sudah kecewa.
'Apa salahku? Gibran yang tidak menolak aku dia juga selalu membalas pesan yang aku kirimkan satu minggu belakangan ini dia memang tidak mencintai kamu harusnya kamu sadar bahwa kamu hanya pelampiasan!'
Jujur kata-kata Clarissa kemarin begitu menyakitkan, ya meskipun Gibran marah lalu mengatakan bahwa itu tidak benar tetap saja Diandra merasa terluka.
'Gibran juga tidak menolak ketika kemarin aku memeluknya dan tadi juga kamu melihat sendiri!'
Sungguh Diandra tidak menangis ketika bicara bersama Clarissa dia hanya tersenyum sambil terus bicara, tapi begitu masuk ke dalam mobil bersama dengan Gibran tangisnya pecah.
Apalagi ketika mendengar pengakuan Gibran tentang pesan yang Clarissa kirimkan.
'Aku memang berkirim kabar padanya dan... aku... aku langsung menghapusnya begitu selesai berkirim pesan dengan Clarissa'
Entahlah Diandra bingung dia hanya akan menjalani kehidupannya seperti biasa, menjadi seorang istri dan ibu yang baik.
Ya, meskipun kini sikapnya pada Gibran berubah.
"Aku sudah siapkan air hangat juga baju kamu Mas nanti kalau udah langsung turun untuk sarapan"
Hanya itu yang Diandra katakan setelah membangunkan Gibran dan dia langsung pergi ke kamar anaknya tanpa mau mendengar Gibran bicara atau memberikan ciuman singkat seperti biasanya.
Di dalam kamar anak-anaknya Diandra menghela nafasnya pelan lalu tersenyum manis karena melihat Gavin yang sudah terbangun dan mengintip adiknya.
"Hey ngapain itu anak Mommy?"
Suara Diandra membuat anak itu tersenyum lalu berlari kecila menghampirinya.
"Mommyy"
"Sudah bangun dari tadi sayang?" Tanya Diandra sambil mencium pipinya
"Balucan bangun." Kata Gavin dengan raut wajah lucu
"Mandi yaaa?" Kata Diandra
"Nantii"
"Eh mandinya sekarang dong sayang udah bau asemm." Kata Diandra
__ADS_1
"Gendong"
Tertawa kecil Diandra menggendong tubuh anaknya dan membawa dia masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan anaknya. Masalah sarapan tadi Diandra serahkan semua pada Bi Diah karena dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak-anaknya.
Di lain sisi Gibran masih belum pergi ke kamar mandi dia hanya diam sambil menatap ke arah pintu dimana Diandra tadi pergi. Memijat pelan dahinya Gibran tidak akan pergi kemanapun hari ini entah butik atau studio, dia tidak akan pergi.
Beranjak dari tempat tidurnya Gibran pergi ke kamar anaknya dan tidak melihat istrinya disana, tapi begitu mendengar suara Gavin dari dalam kamar mandi dia tau dimana keduanya berada. Tidak, Gibran tidak menyusul Diandra dia hanya tersenyum singkat sambil berjalan mendekati ranjang Danira dan memperhatikan anaknya yang masih terlelap.
"Pagi cantik"
Mengusap pelan pipinya Gibran tersenyum melihat Danira yang sangat mirip dengan istrinya.
"Maaf ya sayang Daddy sudah buat Mommy kamu kecewa, tapi Daddy janji kami akan segera berbaikan dan nanti Daddy ajak kamu jalan-jalan ya?" Kata Gibran
Tidak ada sautan apapun, tapi Gibran tetap tersenyum dan memperhatikan Danira hingga pintu kamar mandi terbuka. Dengan tubuh terbalut handuk Gavin berjalan di samping Mommy nya yang tersenyum.
"Daddy ada dicinii"
Gibran menoleh lalu tersenyum senang, tapi Diandra tidak menampilkan ekspresi apapun dia hanya berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju milik anaknya.
"Sudah mandinya sayang?" Tanya Gibran
"Cudah, Daddy belum mandi ya? Daddy macih bau acam." Kata Gavin membuat Gibran tertawa kecil lalu menciumnya dengan gemas
Hatinya menghangat dan dia merasa lebih baik setelah melihat anak-anaknya.
Mengangguk patuh Gavin menghampiri Diandra yang duduk di sofa. Memperhatikan keduanya dengan senyuman Gibran beranjak dari tempatnya dan menghampiri mereka, tapi belum sempat bicara Diandra sudah lebih dulu menatapnya.
"Mandi Mas"
"Iya nanti aku akan di rumah saja hari ini." Kata Gibran
Diandra tersenyum sebentar lalu mengangguk singkat dan kembali fokus pada Gavin yang sedang memakai pakaiannya.
"Sayang"
"Hmm"
"Aku kan tidak kerja, bagaimana kalau kita ajak anak-anak keluar?" Tanya Gibran pelan
"Aku malas Mas lain kali aja." Kata Diandra
Menghela nafasnya pelan Gibran duduk di samping Diandra dan memperhatikan dia yang tengah sibuk mengancingkan baju Gavin.
"Kamu masih marah sayang?" Tanya Gibran pelan
"Aku kan sudah bilang kalau aku tidak marah." Kata Diandra sambil tersenyum tipis
"Maaf"
__ADS_1
"Mas udah ya? Jangan di bahas lagi karena kalau kamu bahas itu aku bakal kefikiran terus." Kata Diandra
"Aku..."
"Nah udah ganteng anak Mommy." Kata Diandra memotong ucapan suaminya
"Lambutnya masih belantakan." Kata Gavin membuat Diandra tersenyum mendengarnya
"Iya sini Mommy sisir ya?" Kata Diandra
Merapihkan rambut anaknya Diandra tersenyum senang sekali dan bersamaan dengan itu tangis Danira tersengar dan membuat dia bergegas menuju ranjang. Begitu Diandra pergi Gibran mengajak anaknya untuk keluar, dia akan meminta Gavin untuk membantunya mengajak Diandra keluar rumah.
Begitu keluar dari kamar Gibran mengajak anaknya duduk di sofa lalu memangkunya dan tersenyum pada Gavin yang tengah menatapnya.
"Gavin sayang mau bantuin Daddy?" Tanya Gibran
Gavin mengangguk sebagai jawaban.
"Gavin mau jalan-jalan?" Tanya Gibran lagi
"Mauuu"
"Nanti Gavin bilang Mommy kalau Gavin mau jalan-jalan ya?" Kata Gibran
"Daddyy?"
"Iya sama Daddy juga, tapi Gavin yang bilang ya? Kalau Daddy yang bilang nanti Mommy gak mau soalnya Mommy lagi marah sama Daddy." Kata Gibran pelan
"Kenapa malah?" Tanya Gavin dengan wajah lugunya
"Karena Daddy nakal." Kata Gibran
Gavin terdiam lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat Gibran ikut merasa senang sambil memeluknya dengan sayang.
"Gavin mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Gibran
"Mau mainn"
"Ke time zone?" Tanya Gibran
Dengan penuh antusias Gavin menganggukkan kepalanya membuat Gibran merasa gemas dan langsung mencium pipinya.
Akan butuh waktu untuk membuat Diandra kembali percaya bahwa hanya wanita itu yang ada di hatinya.
Tapi, tidak masalah Gibran akan membuktikannya lagi.
¤¤¤
Aku updateee hihii maaf yaa updatenya siang menuju sore😆
__ADS_1